Era Digital dan Kenangan Masa Tugas Akhir

Betapa sebagian dari diri saya masih tidak setuju dengan pendapat bahwa era digital, maka semua bahan bacaan harus berada dalam format digital. Bahkan ada yang sampai mengatakan buku dalam bentuk tercetak adalah perusak hutan. #Huff…
Paling tidak itu yang saya rasakan saat membuka kembali buku Tugas Akhir (TA) saya (bernama lain Skripsi). Ngapain membuka “kisah lama” (move on dong… 😀 ). Come on babe…. Saya mah buka TA untuk keperluan lain. :p
Maka tibalah saya membalik halaman ucapan terima kasih. Saya memang menuliskan lembar ucapan terima kasih pada semua orang yang saya anggap sangat berpengaruh baik langsung terhadap TA saya, maupun pada orang yang dalam masa saya menulis sangat memotivasi.
Sampailah jari saya menuntun pada sebuah nama dari seorang teman yang tertulis dalam lembaran ucapan terima kasih. Sontak otak saya mengirimkan sinyal rasa terharu di tengah ulu hati. Kenapa saya terharu?
Karena teman inilah yang memberi kesempatan untuk nge-print berlembar-lembar TA saya, tanpa pernah mau menerima uang dari saya! Barangkali sederhana dan remeh mungkin bagi kalian. Namun tidak buat saya saat itu.
Sebagai gambaran untuk anda yang belum pernah ke daerah Gresik, harga cetak print di Gresik wilayah utara adalah 500 rupiah per lembar untuk cetak hitam putih. Bisa dibayangkan jika harus mencetak 60 lembar, direvisi oleh dua sampai tiga orang “mahaguru”? Tidak cukup sekali, tapi berkali-kali. (L.E.B.A.Y 😀 ).
Sebagai perbandingan, hingga Desember 2015, nge-print di daerah Keputih Surabaya, harga cetak tidak sampai 150 rupiah. Jelas buat saya yang memutuskan tidak kerja saat mengerjakan TA, tentu bolak-balik cetak itu sangat berat di ongkos.
Mulianya lagi, sebenarnya teman yang memberi saya kesempatan mencetak ini membuka rental cetak print. Betapa mulianya dia, dan betapa saya tidak punya malu! 😦
But at that time, I didn’t think about any feeling of shame. At all. Entah kenapa waktu itu urat malu saya seperti putus. Nyetak berkali tapi tidak bayar. Yang saya tau, saya butuh untuk mencetak.
Pada akhirnya saya bersyukur buku TA saya dalam bentuk tercetak. Bukan dalam bentuk digital. Karena betapa saya punya tumpukan banyak file digital yang tidak terbaca. Apalagi menyempatkan untuk membaca TA yang sudah lama.
NB:
Yang belakang sana teriak: ini curhat ya???
Epen: ah, nggak. Cuma curcol aja. Kan “Tuhan bersama mahasiswa Tugas Akhir” :p :p 😀 😀 😀 😀 [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s