KH. Sholeh Darat, Syarah Al-Hikam, Kartini, dan Debat Kusir Tentang Agama

sholeh darat

Panjang betul judul artikel ini. Ah, tapi biarlah. Semoga tidak mengurangi pembahasan tentang buku “Syarah Al-Hikam”, sebuah buku terbitan Januari 2016 ini. Dikatakan baru karena buku berbahasa Indonesia ini adalah penerjemahan dari karya KH. Sholeh Darat, seorang ulama Nusantara. Ditulis pada tahun 1868, karya aslinya berbahasa Jawa dengan aksara Arab-Pegon (dalam tradisi pondok yang dikenalkan pada saya, huruf adaptasi ini disebut dengan huruf Pego). Sebuah karya tulis untuk mengejawantahkan Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah.
Kerisauan RA Kartini
KH. Sholeh Darat adalah seorang ulama, yang dalam banyak riwayat dikatakan menjadi guru dari RA. Kartini. Perempuan yang disebut tokoh emansipasi wanita itu. Saya masih ingat saat seorang teman membuat status di Facebook-nya dengan seenaknya memenggal keterangan, dan mengatakan bahwa Kartini memberontak pada agamanya sendiri, yakni Islam. Padahal dalam kelanjutan sejarah, Kartini yang risau atas keinginannya untuk paham makna dari Al-Quran, selanjutnya mencari guru yang paham agama, kemudian menjadi tercerahkan oleh KH. Sholeh Darat.
Tak hanya Kartini yang tercerahkan, selepas dialog dengan istri dari Bupati Rembang itu, mbah Sholeh Darat memiliki tekad kuat untuk menerjemahkan isi kandungan Al-Quran dalam bahasa Jawa. Sesuatu yang pada masa itu belum banyak dilakukan. Demikian penjelasan penerjemah dalam bahasa Indonesia.
Debat Kusir Tentang Agama
Dalam Syarah Hikmah ke-68, KH. Sholeh Darat memberikan penjelasan panjang lebar. Penggalan yang ingin saya sampaikan adalah:

“… Terkadang orang yang taat itu disertai cobaannya seperti ujub dengan amal serta bersandar dengannya, dan MENGHINA-HINA ORANG YANG TIDAK TAAT, dimana kesemuanya menjadi sebab terhalangnya pengabulan amalnya, atau tidak diterimanya amal.” (hal. 109 – 110).

Bagian “menghina” sengaja saya tulis kapital. Untuk menjadi pengingat pada kita semua, betapa gampang kita dalam menyampaikan hujatan, hinaan, pada orang seagama namun dengan pemahaman berbeda.
Pada akhirnya saya setuju dengan kalimat bapak saya yang mengatakan lebih baik bertetangga non Muslim, daripada bertetangga dengan Muslim namun berbeda paham. Karena pada praktiknya perbedaan cara ibadah yang akan selalu dipelintir dan diperdebatkan. Wis lah! (Sudahlah!).
Sangat urgen-kah setiap hari menularkan kebencian atau trik menyerang balik di media sosial tentang agama? Ataukah yang perlu kita tularkan adalah pemahaman akan cara beragama itu sendiri? Apakah kita yang punya kewenangan menilai amal ibadah orang lain? Apakah kita sudah punya kavling di Surga, sehingga berani menuding-nuding pada orang yang berbeda paham? Ataukah sangat perlu “tiap hari” menyerang balik saat dihujat? Silakan baca buku ini. Bisa menjadi salah satu masukan yang bagus. It’s a must to referred. [Afif E.]

Informasi tentang buku:
Judul: Syarah Al-Hikam
Penulis: KH. Sholeh Darat
Penerbit: Sahifa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s