Agama dan Kemajuan Suatu Bangsa Menurut Nurcholish Madjid

Jpeg

Nurcholish Madjid: Cita-cita Politik Islam

Menarik untuk mengikuti pemikiran Nurcholis Madjid (Alm.) terkait kemajuan suatu bangsa. Hingga tulisan ini dibuat, masih ada sebagian pihak yang berpendapat bahwa agama adalah salah satu penghambat bagi kemajuan suatu bangsa. Dalam istilah lebih ‘kuno’, agama bertentangan dengan modernitas, atau segala yang berbau modern ala bangsa Barat.
Sampai pada paragraf pertama saja, sudah banyak tulisan saya yang dipertanyakan. Bangsa Barat mana yang dimaksudkan oleh Cak Nur (catatan: panggilan akrab Nurcholish Madjid)? Apakah semua bangsa-bangsa berkulit putih? Ternyata bukan, tapi secara statistik kekinian, iya.
Cak Nur mengatakan, bahwa bangsa Barat mengalami kemajuannya dengan jalan tidak berhenti untuk melakukan inovasi. Utamanya gejala dan gairah inovasi ini terus berkembang sejak masa Renaissance bagi bangsa Barat, utamanya Eropa. Sedangkan pada umat Islam, terutama pada masa sebelum Renaissance, masa-masa inovasi itu ada!
Nurcholish menyebutkan kemunduran umat Islam, yang bersamaan dengan mulai munculnya Renaissance di Eropa, adalah karena berhentinya inovasi, yang dalam bahasa keislaman disebut dengan Ijtihad.
Sebagai percontohan, Nurcholish menyebutkan bahwa bangsa bukan Barat yang pertama kali menunjukkan keinginannya untuk menjadi modern adalah bangsa Turki, jauh semenjak Turki Utsmani masih berkuasa. Perkembangan menjadi modernnya pelan, sehingga lantas muncullah revolusi yang dipimpin oleh Mustafa Kemal. Dan atas nama modernisasi Turki menghapuskan sistem kekhalifahan.
Sampai di sini Nurcholish menyebutkan kekurangtepatan langkah yang diambil selama proses revolusi di Turki, diantaranya menghapus seluruh hal yang berbau Islam menjadi semua yang berbau Eropa agar menjadi modern (Epen: ataukah agar sekedar disebut modern?). Salah satu ‘unsur’ islam yang dihilangkan adalah penggunaan huruf Arab dalam penulisan bahasa Turki. Menurut Nurcholish ini adalah suatu kerugian besar, karena pada kenyataannya, bangsa Turki yang ada saat ini, adalah bangsa yang kehilangan dan terputus dengan masa lalunya. Karena bangsa Turki yang ada saat ini, adalah bangsa yang tidak bisa membaca khazanah dan kebijaksanaan dari masa Turki Utsmani hanya gara-gara tidak bisa membaca aksara Arab-Turki.
Berbanding terbalik dengan Jepang. Sebagai bangsa bukan Barat yang paling maju, justru tidak ada perubahan massive dengan merubah penggunaan huruf dan budaya asli dalam kehidupan Jepang modern. Nilai-nilai dan keyakinan lama oleh bangsa Jepang tidak membikinnya menjadi bangsa yang terbelakang.
Dua contoh kecil ini menurut Nurcholish menunjukkan bahwa inovasi dari dalam diri suatu bangsa lah yang membikin suatu bangsa menjadi maju. Bukan mengadopsi secara ‘kasar’ kebudayaan dan cara-cara luar agar sebuah bangsa menjadi maju. Sehingga, justru nilai-nilai yang sudah melekat dan ada pada diri tiap individu, termasuk dalam hal ini agama, bukanlah faktor penghambat dalam meraih kemajuan.
Sekali lagi menurut Nurcholish, agama sebagai bagian yang melekat pada diri pribadi haruslah dipandang sebagai sebuah nilai dengan terus melakukan inovasi (baca: ijtihad). Bukan memandang agama sebagai sesuatu yang harus dihafalkan. Karena jika beragama dipandang sebagai sebuah ‘hafalan’ saja, maka kemandegan pemikiran akan terjadi, dan ijtihad pun tidak akan terjadi.
Uraian ini adalah salah satu yang dibahas dalam buku “Cita-cita Politik Islam” karya Nurcholish Madjid. Apa dan bagaimana alur buku ini diuraikan, silakan baca lebih lanjut. Buku ini cocok untuk dibaca semua kalangan, termasuk umat non Islam. [Afif E.]

Identitas Buku:
Judul: Cita-cita Politik Islam
Penulis: Nurcholish Madjid
Penerbit: Penerbit Paramadina

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s