I’m in Top of The World!!!!

Judul di atas adalah ‘ritual’ teriakan pertama yang saya lakukan ketika pertama kali sampai di puncak Arjuno. Walau bagaimanapun kita tahu titik tertinggi di muka Planet Bumi adalah Gauri Sangkar, tapi saya tidak peduli itu 🙂 . Yang saya mau hanya ingin berteriak sekencangnya, sambil membayangkan saya adalah Jack Dawson (Leonardo DiCaprio) dalam Film Titanic yang berteriak di ujung kapal dengan temannya kala berhasil memenangkan tiket kapal Titanic melalui permainan judi. (Lebay…. | Epen: biarin! Gak ngurus! Yang penting berhasil muncak! :p ).

DSC02509

Berfoto di Kokopan, persiapan menuju Pondokan, still in Gunung Arjuno

Berangkat hari Jumat 5 April 2013, saya mengikuti kelompok MAPALA STTQ Gresik (Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik). dan sebagai pemula, saya termasuk golongan orang yang mengabaikan terlalu banyak hal (jangan ditiru 😀  ). Seorang teman mengatakan pada saya bawa ini, bawa itu, bawa bla bla bla… dan saya abaikan itu. Walhasil saya sendiri yang tersiksa di atas tubuh Arjuno. Ketika saya tidak membawa coklat dan camilan yang cukup, maka dingin menggigil yang saya rasakan. Ketika saya tidak latihan fisik minimal seminggu sebelumnya, walhasil napas tersengal dan ngos-ngosan yang saya dapati. Ketika saya tidak membawa pakaian yang memadai, dingin menusuk yang saya rasakan. Huff Lebay, don’t try this at home. Hahaha 😀

DSC_1587

I’m in Top of The World…..!!!!

Tapi diluar rasa sakit yang disebabkan oleh saya sendiri, pada akhirnya ada kelegaan yang tidak dapat terbayarkan, tak terharga(tak ternilai dengan harga berapapun. Bukan tidak BERHARGA loh ya…), dan tak dapat digantikan dengan apapun. Apa itu? Yaitu keinginan saya untuk dapat naik ke gunung, walau sekali saja sebelum menikah (loh…. Maksudnya apaan nih… hahahaha 😀).

Yup, sudah lama kebelet pengen naik gunung. Sejak jaman SMA, baru terpenuhi bulan April 2013. Kebelet yang cukup lama. Hahahaha :D.

Apa sih yang dicari di puncak gunung ? wah, jangan tanya saya saja ya… coba tanya sana tuh sama para senior. Namun bagi saya, hal tersebut adalah pemuas. Bagaimana tidak puas, keinginan yang sangat lama terpendam baru dapat terpenuhi. Sekali lagi, walau sumpah serapah dan desah kesakitan akibat demam, sakit kepala, puyeng, meriang, lutut yang tidak bisa ditekuk saya alami (apa nggak kurang lengkap sakitnya? Hehehehe), tapi tetap kepuasan itu sepadan. Maka seperti yang saya tulis di atas, pengalaman ini tak ternilai. Karena bagaimanapun pengalaman adalah tentang mengalami sendiri, bukan sekedar cerita dari orang lain.

Dan ketika turun gunung pada 8 April 2013 dinihari, berbarengan dengan rasa sakit dan badan pegal, dalam hati saya tersenyum dan bersyukur Alhamdulillah, saya sudah pernah mencapai puncak itu! Saya pernah mengalami momen, « I’m in top of the world ». Thanks buat teman-teman MAPALA Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik, untuk membuat hal ini terlaksana. [Afif E.]

The Photos

06042013(012)

Henry Dunant. Bapak Kepanduan Dunia. 😀 😀 😀 😀

DSC03835

MAPALA STTQ in Action

DSC_1483

Taman Hutan Raya R. Soerjo (TAHURA)

DSC03776

Mount Culinary: yang mana yang lapar, dan yang mana yang jadi chef. 😀 😀

DSC_1486

Berjalan di sela-sela kabut gunung

DSC02604

Istirahat di sela perjalanan

DSC_1599

Pos perijinan

DSC02713

Usai berdoa, berfoto di depan makam (ataukah memorial?)

DSC03737

Kendaraan di atas gunung, kendaraan ini digunakan untuk mengangkut belerang milik penambang. Rupa-rupanya ia juga dijadikan alat transportasi bagi pelancong yang ogah jalan kaki. (dimana nikmatnya? 🙂 )

DSC03710

Kiri Kanan Kulihat Saja, Hanya Pohon Cemara…

DSC02861

And finally, Bocah Gunung Merenung. 😀 😀 😀

Gunung Kita Bisa Jadi Tempat Sampah ?

Berangkat tanggal 5 April 2013, saya mbuntut mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik untuk naik ke puncak Gunung Arjuno, Jawa Timur.

Sebenarnya agak lama saya ingin menulis artikel dengan topik sampah gunung ini, tapi belum pernah lihat langsung. Dan baru kali ini saya melihat sendiri betapa banyaknya sampah gunung. Bukan sampah alam, tapi sampah manusia. Manusia pendaki gunung, yang beberapa diantara mereka menggunakan simbol-simbol kelompok pecinta alam.

Tidak mungkin kan para monyet gunung makan mie instan sebanyak itu? Gak mungkin juga kan para nyamuk dan serangga menghangatkan diri dengan berbotol-botol minuman penambah tenaga dan penghangat tubuh? Dan memang nyata-nyata manusia lah yang membawa sampah plastik, mulai dari bungkus permen, punting rokok (yang lumayan lama tidak terurai. Apa emang sulit diuraikan alam?), ada juga botol-botol plastik, tali rafia, sisa jas hujan yang sudah sobek-sobek, sampai sisa sampah yang dibakar dengan tidak sempurna. Dan hasil dari pembakaran tetap saja akan menghasilkan sampah.

DSC03623

Yang menjadi perbandingan saya adalah, ketika saya mengikuti kemah di sebuah lapangan selama dua hari, sampah yang dihasilkan oleh peserta mencapai dua bak besar. Lah, tuh gunung kan gak disinggahi satu dua orang, atau disinggahi dalam satu-dua tahun terakhir saja kan? Maka bisa dibayangkan jadi berapa ton tuh sampah yang menutupi?

Saya masih ingat ucapan seorang teman yang mengatakan bahwa sampah gunung akan menjadi jejak bagi pendaki berikutnya. Dengan adanya sampah-sampah seperti plastik dan botol-botol menjadi pertanda bahwa suatu area di gunung sudah pernah dilewati atau dijamah oleh pendaki sebelumnya. Dan memang bagi pendaki amatir memang efektif. Kami serombongan bisa menjejak arah puncak dengan beberapa tanda dari plastik.

Tapi apa iya harus sebanyak itu ? dan berceceran macam itu ? rasa-rasanya kok hanya pembetulan dari sikap kita saja yang terlalu cuek dengan kebersihan gunung kita(kata anak Alay: gunung kita ? Loe aja kalee gue nggak.. 😀).

Gunung dan hutan bisa mereduksi dan mendaur sampah mereka sendiri, tapi manusia tidak boleh mengandalkan kemampuan hutan yang memang jelas tidak dapat mendaur ulang sampah non-organik milik kita (manusia).

Mengutip pedoman cantik yang dijadikan stiker dan tertempel di pos jaga pendakian gunung Arjuno (saya lupa stiker dari kelompok mana), kurang lebih sebagai berikut :

Jangan meninggalkan apapun selain jejak,

jangan mengambil apapun selain foto,

jangan memburu apapun selain waktu.

DSC02831

Di belakang saya adalah papan yang berisi stiker, dimana saya ngambil kutipan. NB: foto orang hilang… 😀 😀 😀 😀

Cakep kan pedomannya? Tinggal kita bertanya dalam hati dan mempraktekkan pertanyaan ini, apakah gunung kita bisa jadi tempat sampah kita? [Afif E.]