Nasi Lauk Kecap

“Ah, ayam bakarnya rasanya terlalu manis,” keluhku, “terlalu banyak kecapnya.”

Tak kukira ibuku yang tiduran tak jauh dari tempatku makan, berbicara: “padahal waktu kamu kecil sangat suka dengan nasi pakai lauk kecap, loh.”

Sejenak saya tertegun. Mungkin memang iya, ibu saya tau betul selera saya saat kecil begitu doyan makan nasi dengan lauk kecap. Namun bukan saya bermaksud “menghina”, ataupun tidak bersyukur pada makanan yang dihadirkan-Nya di hadapan saya.

Tapi, benar, ayam bakar yang ada di harapan saya kecapnya terlalu banyak. Terlalu manis, buat ukuran lidah saya.

Sama halnya dengan ayam goreng, yang akhir-akhir ini agak saya kurangi, namun tetap juga saya mau untuk menyantapnya. Karena ya itu tadi, rejeki. Alasan saya mengurangi makan ayam pun bukan karena alasan yang macam-macam. Mungkin lebih karena terlalu sering ditraktir makan lauk ayam goreng. Plus, ayam yang dijadikan lauk adalah ayam ternak yang cara beternaknya diberi berbagai jenis obat mulai dari si ayam menetas sampai disembelih. Faktor (baca: dugaan) penggunaan obat pada ayam ini terbukti. Saat saya memakan masakan olahan ayam buatan ibu saya, saya tidak merasa mual saat memakannya. Karena ayam yang diolah oleh ibu saya adalah ayam peliharaan sendiri di pekarangan belakang rumah.

Kembali lagi ke urusan kecap. Sebagaimana halnya ayam goreng, saya tidak membenci kecap. Terlebih jika yang saya dapati dihadapan adalah rejeki saya. Hanya saja, dalam kadarnya yang berlebihan saya kurang begitu suka. Terlalu manis, pun saya kurang begitu suka. Sederhana, kan? 🙂

Kata pembaca: Terus, tulisan ini tentang apa????

Epen: Ya, itu tadi. Tentang nasi lauk kecap. 😀 😀 😀 😀 [Afif E.]

The Philippine Girls I Met

chris and anna: The Philippnine Girls met

Blur Picture of Chris (in white dress and pony tail hair) and Anna (in black dress, brought silver bag). The only picture I had complete both of them 😦 😦 😦

I lost in Singapore! I asked several people surrounding the Bugis Station about my destination did not helped at all. It seems they also blind about the map of Singapore I brought. Okay, let’s just walk the street!
We, I and my cousin, crossing the streets not far away from Bugis Station. At that time, it was fine if we were not found any way to go to our hostel we booked yet. We want to get around Masjid Sultan, and Kampong Glam, not too far from Bugis Station, according to the map. Stuck with average answer of several Singaporean: “I don’t know”, finally I could read map of Singapore, immediately. It was easy, we just need to compared the road and the surrounding building written in the map. Voila! I got it. Then we headed to Kampong Glam.
During walked into Kampong Glam, I saw two girls seems confused read Singapore map. Just like what happened to me. I recognized them as Indonesian. But later I knew I was wrong. Both are the Philippine girls. They are Chris and Anna.
If I was thought both of them as Indonesian, similarly (or oppositely?) they recognized me and my cousin as Philippines! 😀 I don’t know, is there any similarities between Philippine and Indonesian face?
Chris and Anna want to drop in Haji Lane and Arab Street, same destination of ours. So, we headed there together.
Unfortunately, I did not ask for their contact, email, phone number etc. How come… 😦 😦 😦
What if someday I could go to the Philippine? 😦 😦 [Afif E.]

Agama dan Kemajuan Suatu Bangsa Menurut Nurcholish Madjid

Jpeg

Nurcholish Madjid: Cita-cita Politik Islam

Menarik untuk mengikuti pemikiran Nurcholis Madjid (Alm.) terkait kemajuan suatu bangsa. Hingga tulisan ini dibuat, masih ada sebagian pihak yang berpendapat bahwa agama adalah salah satu penghambat bagi kemajuan suatu bangsa. Dalam istilah lebih ‘kuno’, agama bertentangan dengan modernitas, atau segala yang berbau modern ala bangsa Barat.
Sampai pada paragraf pertama saja, sudah banyak tulisan saya yang dipertanyakan. Bangsa Barat mana yang dimaksudkan oleh Cak Nur (catatan: panggilan akrab Nurcholish Madjid)? Apakah semua bangsa-bangsa berkulit putih? Ternyata bukan, tapi secara statistik kekinian, iya.
Cak Nur mengatakan, bahwa bangsa Barat mengalami kemajuannya dengan jalan tidak berhenti untuk melakukan inovasi. Utamanya gejala dan gairah inovasi ini terus berkembang sejak masa Renaissance bagi bangsa Barat, utamanya Eropa. Sedangkan pada umat Islam, terutama pada masa sebelum Renaissance, masa-masa inovasi itu ada!
Nurcholish menyebutkan kemunduran umat Islam, yang bersamaan dengan mulai munculnya Renaissance di Eropa, adalah karena berhentinya inovasi, yang dalam bahasa keislaman disebut dengan Ijtihad.
Sebagai percontohan, Nurcholish menyebutkan bahwa bangsa bukan Barat yang pertama kali menunjukkan keinginannya untuk menjadi modern adalah bangsa Turki, jauh semenjak Turki Utsmani masih berkuasa. Perkembangan menjadi modernnya pelan, sehingga lantas muncullah revolusi yang dipimpin oleh Mustafa Kemal. Dan atas nama modernisasi Turki menghapuskan sistem kekhalifahan.
Sampai di sini Nurcholish menyebutkan kekurangtepatan langkah yang diambil selama proses revolusi di Turki, diantaranya menghapus seluruh hal yang berbau Islam menjadi semua yang berbau Eropa agar menjadi modern (Epen: ataukah agar sekedar disebut modern?). Salah satu ‘unsur’ islam yang dihilangkan adalah penggunaan huruf Arab dalam penulisan bahasa Turki. Menurut Nurcholish ini adalah suatu kerugian besar, karena pada kenyataannya, bangsa Turki yang ada saat ini, adalah bangsa yang kehilangan dan terputus dengan masa lalunya. Karena bangsa Turki yang ada saat ini, adalah bangsa yang tidak bisa membaca khazanah dan kebijaksanaan dari masa Turki Utsmani hanya gara-gara tidak bisa membaca aksara Arab-Turki.
Berbanding terbalik dengan Jepang. Sebagai bangsa bukan Barat yang paling maju, justru tidak ada perubahan massive dengan merubah penggunaan huruf dan budaya asli dalam kehidupan Jepang modern. Nilai-nilai dan keyakinan lama oleh bangsa Jepang tidak membikinnya menjadi bangsa yang terbelakang.
Dua contoh kecil ini menurut Nurcholish menunjukkan bahwa inovasi dari dalam diri suatu bangsa lah yang membikin suatu bangsa menjadi maju. Bukan mengadopsi secara ‘kasar’ kebudayaan dan cara-cara luar agar sebuah bangsa menjadi maju. Sehingga, justru nilai-nilai yang sudah melekat dan ada pada diri tiap individu, termasuk dalam hal ini agama, bukanlah faktor penghambat dalam meraih kemajuan.
Sekali lagi menurut Nurcholish, agama sebagai bagian yang melekat pada diri pribadi haruslah dipandang sebagai sebuah nilai dengan terus melakukan inovasi (baca: ijtihad). Bukan memandang agama sebagai sesuatu yang harus dihafalkan. Karena jika beragama dipandang sebagai sebuah ‘hafalan’ saja, maka kemandegan pemikiran akan terjadi, dan ijtihad pun tidak akan terjadi.
Uraian ini adalah salah satu yang dibahas dalam buku “Cita-cita Politik Islam” karya Nurcholish Madjid. Apa dan bagaimana alur buku ini diuraikan, silakan baca lebih lanjut. Buku ini cocok untuk dibaca semua kalangan, termasuk umat non Islam. [Afif E.]

Identitas Buku:
Judul: Cita-cita Politik Islam
Penulis: Nurcholish Madjid
Penerbit: Penerbit Paramadina

Lebaran: Hari-hari Bergelimang Angpau dan Pertanyaan

Okay. Saya tidak bisa lagi menahan jari saya untuk tidak mengetik artikel ini. Diluar subyektivitas bahwa diri saya sendiri akan tersangkut dalam bahasan tulisan ini. Isitilah kerennya, conflict of interest. Tapi yo wis lah. Maka jadilah artikel ini berusaha objektif, namun tetap satir. 😀 😀 😀
Lebaran, hari raya, atau istilah ‘keren’ yang dipakai di sosmed teman-teman Eid Mubarak (biar ala-ala Turki), akhirnya datang juga. Pada tahun 1437 Hijriah, 1 Syawal bertepatan dengan 6 Juli 2016, untuk di Indonesia. Hari dimana kita saling memohon maaf. Hari menggairahkan bagi anak kecil, karena amplop-amplop berisi uang (mengadopsi istilah Tionghoa, baca: Angpau). Serta hari berjuta pertanyaan. Pertanyaan bagi sebagian pihak.
Sebut saja bagi para bujang dan perawan, alias jomblowan dan jomblowati. Pertanyaan: Kapan Nikah? Akan menjadi “sedikit” bagaimana begitu rasanya. 😀
Kedua, pertanyaan bagi yang sudah menikah: Kapan punya momongan? Yakin, pertanyaan kedua ini dari pengamatan secara pribadi “agak menyengat” dan membuat beberapa orang sangat sesak di dada. Terutama bagi pasangan suami-istri yang baru maupun lama telah menikah.
Jika ada teman yang mendapat pertanyaan pertama (baca: kapan nikah?), kemudian curcol di media sosial, masih sekian banyak yang tidak segan mem-bully.
Agak berkebalikan dengan teman yang mendapat pertanyaan kedua (baca: kapan punya momongan?), asli, saya sudah tidak bisa komentar lagi. Antara belum bisa berkomentar, tidak berani berkomentar, hingga kasihan.
Ah, lebaran, penanda usainya bulan Ramadhan. Bagaimanapun tetap tiba. Dan sebagaimana ajaran yang juga saya yakini: semoga tahun depan masih mendapati bulan Ramadhan. Dan… Kembali mendapati lebaran. Hari-hari bergelimang angpau dan pertanyaan. Pertanyaan: Kapan Nikah? 😀 😀 😀 😀 [Afif E.]

Sentosa Island Tidak Lagi Gratis

pintu Sentosa Island

Pintu Masuk-Keluar Sentosa Island (Jalur Pejalan Kaki) – abaikan tas plastik 😀 😀 😀

Bagi para pelancong barangkali sudah paham betul apa itu Sentosa Island. Atau mungkin pembaca pernah mendengar nama Sentosa Island disebut-sebut dalam media.
Ya, Sentosa Island adalah salah satu andalan pariwisata Singapura. Berlokasi di salah satu pulau kecil di selatan negara kecil tersebut, Sentosa Island menawarkan beragam jenis wahana permainan. Konsepnya barangkali sama dengan Dunia Fantasi atau Taman Mini Indonesia Indah.
Yang agak beda, di Sentosa Island terdapat banyak wahana, salah satunya adalah Universal Studio. Kita bisa masuk bebas dan gratis! Tentu yang gratis itu masuknya. Kan seneng kan kalo dengar yang serba gratis. 😀
Memang masuk ke Sentosa gratis. Kecuali kalau kita mau masuk ke wahana tertentu. Baru di situ kita bayar.
Untuk menuju ke Sentosa setidaknya ada 4 jalan. Pertama menggunakan LRT atau MRT, kedua menggunakan bus, ketiga dengan kereta gantung, keempat adalah dengan jalan kaki. Dan… Yang paling murah dari keempat cara tersebut adalah dengan berjalan kaki! Gratis pula! 😀 😀 😀
Kurang lebih berjalan kaki menyebrangi jembatan yang melintas di atas sebuah selat, bukan berarti kita berpanas ria. Jembatan lebih dari 500 meter ini sudah didesain sangat nyaman bagi pejalan kaki. Bahkan ditulis dalam papan: Paling nyaman ke Sentosa dengan jalan kaki.
Tapi, berdasarkan peta panduan yang disediakan, per tahun 2017 besok masuk ke Sentosa tidak lagi gratis bagi pejalan kaki. Akan ada fee untuk masuk. Tidak dituliskan di brosur biayanya nanti berapa.
Kalau melihat ongkos yang ada sekarang, bisa saja masih dibawah 4 dollar Singapura (anggap saja senilai dengan 40 ribu rupiah). Angka 4 dollar darimana? Dari ongkos naik kereta gantung. 🙂 Masih murah lah. Daripada harga tiket masuk kolam renang di Gresik yang di atas itu, hanya untuk masuk ke area kolam saja.
Bagus ya di Sentosa? Mmm… Bagus sih, tapi kok ya 11-12 sama Dufan ataupun TMII. Tapi, kayaknya perlu belajar memberikan yang murah (tapi tidak murahan), agar banyak wisatawan yang tertarik melancong, macam di Sentosa. [Afif E.]

Ucapan Doa dari Warga Kota Singa

Saya dan sepupu saya sedikit berdebat di bawah tanah Singapura. Ah, mungkin kurang tepat kalau dibilang berdebat. Kami hanya sedikit bingung dengan rute perjalanan MRT Singapura. Salah naik MRT bisa salah jalur, dan jauh.

Kami juga hendak bertanya tentang ongkos yang dibutuhkan. Kuberanikan untuk bertanya pada seorang ibu berjilbab. Dari wajahnya ibu tersebut seorang Melayu-Singapura.

Benar, ibu berilbab itu seorang Melayu. Pertanyaan seputar rute dan ongkos sudah terjawab. Ibu itu juga sempat bertanya tujuan kami datang ke kota Singa, serta percakapan ringan lainnya. Kalimat pamungkas ibu itu atas rencana perjalanan kami adalah: Insyaallah dimudahkan. Kami amini, dan mengucap terima kasih.

Apakah lepas itu kami sudah paham dengan rute MRT? Belum! Kami kembali bingung dengan rute MRT. Kali ini dalam perjalanan menuju Johor Bahru, Malaysia.

Tak gampang juga mencari orang yang mau ditanyai, mungkin karena tergesa takut ketinggalan kereta. Sedikit lega saat dua orang bapak mau kami tanyai. Dan… Saat kami mengatakan asal penerbangan kami dari Surabaya, keduanya serempak berseru:
Oww…. SUROBOYO…” dengan berusaha membikin logat medok, tapi bagi saya beliau berdua tetap gagal. 😀 😀 😀

Kebetulan sekali kami menggunakan kereta yang searah. Kami berdua menuju ke Kranji Station, sedangkan kedua bapak itu menuju stasiun sebelumnya. Perjalanan kami masih satu jam lebih.

Selama perjalanan MRT bersama bapak itu, kami bercakap banyak. Dan sekali lagi, sebelum kedua bapak itu turun dari MRT, salah satu bapak berdoa untuk perjalanan kami dengan kalimat: Insyallah dimudahkan. Jadi tenteram mendapat doa untuk perjalanan kami.

Mungkin dengan ucapan doa dari warga kota Singa ini juga yang memperlancar urusan saya saat ditangkap dan dicekal oleh Imigrasi Singapura di Woodland Checkpoint. #BaPeR 😦 😦 😦 😀 😀 😀
Bisa jadi juga doa dari keluarga dan orang tua. Betapa doanya sangat penting bagi seorang yang menempuh perjalanan. Ah, Singapura… Dan ucapan doa dari warga kota Singa. [Afif E.]

Sikap Backpacker yang Kurang Baik

loket MRT

Mesin tiket MRT di Terminal 2 Changi. Tempat saya mengacuhkan orang. 😦 😦 😦

Bandara Changi, April 2016. Pesawat “Macan” yang saya tumpangi mengantarkan sampai di Terminal 2. Pikir saya akan sangat mudah untuk menuju pusat kota Singapura, karena informasi dari berbagai blog yang saya baca, stasiun MRT ada di Terminal 2. #Singapura… Saya datang….!!!! *NORAK! 😀
Masalah muncul. Cara beli tiketnya bagaimana? Saya lihat tidak ada banyak calo yang menjajakan tiket. #PLakKk! (baca tulisan saya tentang calo).
Maka saya mulai mengawasi orang yang beli tiket di mesin tiket. Adalah bapak-bapak India dengan gengnya yang saya awasi cara menggunakan mesin tiket.
“Kamu mau beli tiket juga?” tutur salah seorang bapak pada saya.
Karena hanya sedikit paham, bapak-bapak India yang ternyata bisa bahasa Jawa itu akhirnya menawari untuk membantu. Malah kami diberi tambahan 80 sen! Yayyy! Asyik dong, sudah dibantu menunjukkan cara pembelian tiketnya, diberi uang tambahan pula. *dasar backpacker cari gratisan. Hehehe
Okay. Akhirnya tiket terbeli. Usai ngobrol sedikit dan berterima kasih pada bapak-bapak India tadi, kami saling berpamitan. (tapi nggak pakek cipika-cipiki… 😀 ).
Masih di depan mesin tiket, saya kemasi tas ransel yang sempat amburadul saat mengeluarkan uang.
Di saat itu seseorang menyapa, “dari Indonesia?”
“Oh, iya, mas. Dari Indonesia juga?”
“Iya, dari Bandung,” dan tanpa ba bi bu lagi mas-mas dari Bandung itu menawarkan bantuan.
“Oh, udah beres kok mas.” kalimat pamungkas yang saya sesalkan dalam beberapa menit kemudian.
Yang membuat saya menyesal adalah saat sadar “salah” membeli tiket. Saya dari Surabaya kan sudah membawa kartu EZLink. Kenapa harus beli tiket sekali pakai! Aduh!
Harusnya Kartu EZLink itu yang diisi! Tapi dimana? Apa lewat mesin yang sama? Aaarghhh… Mana mas-mas dari Bandung tadi???!! Huff…
Yah, begini ini backpacker amatiran. Ditawari bantuan oleh sesama orang Indonesia malah diacuhkan. Tidak sempat berkenalan pula! Aduh! Sungguh sikap backpacker yang kurang baik. Punten ya kang… *sambil nada orang Sunda. 😦 [Afif E.]

Mandi Jinabat Bersama

Perasaan lega membuncah di dada saya sepulangnya ke hostel. Apa yang saya cari? WC! 😀
Pertama kali masuk area toilet, suasana begitu sepi. Baik tiga kubikel WC maupun tiga kubikel shower kosong melompong (baca: Kubikel = sekat-sekat). Maka jadilah saya menikmati syahdunya berada di kubikel WC saya sendiri. *Kenapa posting ini malah jadi jorok begini ya! 😀
Keasyikan saya tiba-tiba terusik. Saat was wus bunyi lelaki dan perempuan bule bercakap di luar kubikel WC saya berada. Ah, bisa jadi sudah full ruang toilet. Sehingga mereka berdua pun ngantri di luar. Terlebih memang di tengah saya berada di WC, sudah mulai berbunyi shower, yang artinya kubikel shower sudah ada yang menempati.
Antara sudah tuntas dengan urusan saya, dan juga berpikir pengertian memberikan ruang bagi dua bule yang ngantri di luar kubikel, saya sudahi aktivitas saya di kubikel. Biar mereka bisa gantian memakai kubikel yang barusan saya pakai.
Tapi saya malah melongo saat pintu seret kubikel saya buka. Tak ada siapapun di luar kubikel. Saya garuk-garuk kepala sendiri.
Tapi kok masih ada orang yang bercakap-cakap? Loh, cuma ada satu kubikel shower yang pintu seretnya tertutup! Sementara kubikel yang lain melompong.
Saya perhatikan dan dengarkan betul-betul percakapan yang masih belum berakhir sampai saya di wastafel, masih di ruang toilet yang sama. Sumber suara percakapan lelaki dan perempuan itu dari satu-satunya kubikel shower yang pintuya tertutup itu! Hee??? Jadi shower yang nyala disamping kubikel tempat saya eek tadi pasangan bule itu mandi bareng! Wakwaw…
Tak lama bunyi shower semakin deras. Tapi tidak ada percakapan. Lalu ada bunyi-bunyian. Apa yang kalian lakukan dalam kubikel itu wahai saudara-saudari??? Hemmm…
Eh, tapi mungkin mereka pasangan suami-istri yang lagi mandi jinabat bersama. Mandi yang dilakukan oleh muslim jika memiliki hadats besar, salah satunya sehabis hubungan suami istri. Kan perlu tuh transfer ilmu di antara suami istri.
Emangnya kamu tahu kalo mereka suami istri? Emangnya kamu tau mereka muslim apa, nggak? Eh, nggak tahu juga ding! Sok tahu. Haha 😀
Lalu, apa yang mereka berdua lakukan??? Oh, tidak! Benar kata orang, pikiran bujang memang berefek ngeres begini!
Maka saya pun kembali ke kamar saya. Meninggalkan suara shower yang membasahi mereka berdua. Sedang apa mereka? #PLakkk!!!! *nampar keras [Afif E.]

Harga Tas Plastik di Singapura

tas kresek singapura

Tas Plastik asli Singapura 😀 😀 😀 😀

Jawaban resepsionis hostel tempat saya menginap mengecewakan saya. Katanya, hostel hanya menyediakan air mineral berbayar, tak ada air minum isi ulang. Dan harganya 1,20 dollar Singapura ukuran botol kecil! Apaaaa?! *sambil mulut menganga kaget.
Gila, masak harga air minum botol paling kucrit lebih dari sepuluh ribu. Lama-lama bisa tekor berat. Mengingat saya tidak bisa menahan untuk tidak minum. Apalagi usai bangun tidur.
Namun sedikit agak lega saat rumah makan di lantai bawah hostel jualan air mineral. Sebotol besar seharga 2 dollar Singapura. Ya… Masih mahal sih, tapi lebih mending daripada yang dijual di hostel. Botolnya jauh lebih besar, bisa buat isi ulang beberapa kali.
Tibalah saat membayar. Karena dari tadi saya dengarkan pelayan restoran hanya bercakap bahasa China, saya bertanya dalam bahasa Inggris, “How much is it?” sambil menunjukkan sebotol besar air mineral.
“Tu dolla… Tu dolla…” two dollartwo dollar… Sambil mengacungkan dua jari.
Mata saya langsung mendelik. Ya Allah… Pelayan perempuan di depan saya tidak bisa banyak cakap bahasa Inggris! Sisanya dia tetap was wus ngomong China walau jelas-jelas saya tidak bisa (baca: belum bisa 🙂 ).
Adegan mengkhawatirkan tiba saat kasir bertanya, lagi-lagi tidak dalam bahasa Inggris penuh. Yang jelas dia bertanya, “Plastic?
Ingatan saya langsung menuju ke adegan kasir minimarket di Indonesia: “pakai tas plastik mas?… Kalau iya, nambah 200 rupiah ya…
Saya menelan ludah. Ini berapa dollar harga tas kresek (baca: tas plastik)???
Uang saku bakal amblas kalo sampek harga nih plastik 2 dollar!
Eh, tapi syukur ternyata gratis ding! Asyikkk… 😀 😀 😀
Maka, buat kamu yang bakal ke Singapura, catat baik-baik: harga tas plastik di Singapura nol dollar alias gratis! 😀 [Afif E.]

Situs Giri Kedaton

Banyak yang bertanya, termasuk saya, bagaimana rute menuju situs Giri Kedaton. Situs Giri Kedaton menurut beberapa penelitian merupakan pusat lokasi kediaman Sunan Giri. Agak berbeda dengan makam Sunan Giri, untuk menuju situs Giri Kedaton tak banyak penanda untuk menuju ke tempat tersebut.
Saya harap tulisan ini membantu memberikan informasi mengenai penanda rute untuk menuju ke lokasi situt Giri Kedaton.
Situt ini berada di puncak sebuah bukit, di kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik. Jika anda berasal dari perempatan Kebomas ke arah makam Sunan Giri, maka jalan menuju situs ini di sebelah kiri jalan, sebelum sampai di parkir makam Sunan Giri.
Sebaliknya, jika anda dari arah parkir makam Sunan Giri menuju ke arah kota Gresik, maka jalan masuk menuju situs ini adalah di sebelah kanan jalan.
Saat artikel ini dibuat, terdapat gapura masuk kelurahan sidomukti. Berdiri di samping sebuah minimarket. Masuklah ke jalan dengan gapura itu.
Jalan ini lumayan sempit. Saya sendiri kurang paham apakah mobil bisa masuk dan parkir di jalanan ini.
Sekitar 300 meter dari gapura, akan anda dapati gapura masuk situs Giri Kedaton. Berwarna putih dengan tulisan “Situs Giri Kedaton dan Makam Raden Supeno (Putra Sunan Giri)”.
Gapura bercat putih dengan bubuhan logo Kabupaten Gresik ini menuntun kita pada jalan menanjak. Jika anda membawa sepeda motor, bawa saja naik ke atas. Tak jauh dari gapura putih terdapat parkir. Biaya parkir bisa kita masukkan ke kotak donasi yang disediakan. Ada baiknya pastikan kunci dobel kendaraan, untuk berjaga-jaga.
Dan… Dari lokasi parkir sepeda motor sudah dapat kita lihat deretan anak tangga yang menanjak ke atas. Di puncak anak tangga itulah Situs Giri Kedaton berada. 🙂 [Afif E.]

giri kedaton - dari jalan raya giri-afif1

Gapura Kelurahan Sidomukti. Jalan masuk awal.

 

giri kedaton - gerbang-afif 1

Gapura Kedua – Jalanan menanjak. Sepeda motor bisa masuk.

 

giri kedaton - parkir-afif1

Parkir Sepeda Motor. Sebelah Kanan terlihat anak tangga menanjak menuju situs. (Note: Ojok Lali Ngisi Celengan = Jangan Lupa Mengisi Kotak Donasi Parkir)

 

giri kedaton - naik tangga-afif1

Tangga menanjak.

giri kedaton - kekinian-afif1

Foto Jejak Langkah. Sangat Kekinian. 🙂 😀 😀 😀

giri kedaton - totangga-afif1

Pemandangan dari atas tangga.

 

giri kedaton - kaki 2-afif1

Salah Satu Kaki Bangunan.

giri kedaton view ke bawah 1-afif1

giri kedaton - prasasti-afif1

giri kedaton - view makam giri2-afif1

Pemandangan ke makam Sunan Giri di seberang bukit. Di bawah kaki tower BTS tertinggi adalah tempat tersebut.