Aslında Gece

Facebook Bildirileri oldukça andıran bilincidir. Bu gece en az. durumunun bir hatırlatma uzun olmuştur. Mark Zuckerberg bir gölge belirdi ve dedi ki orada sanki: “Bizim dikkat size, iki yıl önce durumunuzu paylaşmak isteyebilirsiniz.

Who cares!” Dedim kendi kendime. Ama bekleyin. Ben motor tarafından döndürülen doğru durumunu fark ettim. O gece durumudur!

İki yıl önce, statü tarihli bu gece okuyun. Değil. Bu statü yazdı kim ben değildim. Ama Hatice, zaman arkadaşım, bunu kim yazdı. Facebook hesabım onun durumuna sürüklenmiş. O gece ne oldu anında zihnim dolaşmak:

Ben gecenin soğuk ihmal, bir motosiklet ile o gece dışarı gitti. amacı sadece Boğaz boğazın kenarında kebap Baba Muzaffer yiyor. Uzakta değil Boğaz Köprüsü’ne Asya ve Avrupa yakalarını birbirine bağlayacak.

Ah bekle. O teyze ve amca Hakan Ceyda değil mi?! Neden onların bisiklet ile? teyze Ceyda oldukça uzak Amca Hakan arkasında yürürken Amca Hakan, bisiklet güdümlü?

Ben sürekli teyze Ceyda yanında aldığımda “Neden, Abla?” Diye sordum.

Bir an için tek başına mücadele listem. Şeytan dedi ki: “Hatice zaten Baba kebap durak Muzaffer bekliyor,” melek inkar ederken: “… usher teyze Ceyda gerçekten soylu eylemi, Ey gençlere yardımcı olmadı”. Ben şeytan koymak ve teyzesi Ceyda teslim. Amca Hakan bana iken yakın bir otobüs durağında teyze Ceyda sunmak için ilk gitmek için. Amca Hakan bisiklet parçalayarak kalır.

Ben teyze Ceyda bırakarak süre geçti Muzaffer Baba tezgahları, fark ettim. Ben Hatice gölge gördüm. en kısa sürede Benim bisiklet yarışı, hemen Ceyda teyzesi sürdü tamamlamak ve Hatice görmek için.

Ama gerçek düşüncelerimle uyumlu değildir. Hatice zaten ev ben dükkanında Baba Muzaffer geldi. Sonra Hatice adlı kullanıcının Facebook durum geldi:

“Randevu umurumda değil kursu karşılamak için, o zaman sadece bizim ilişkiyi bitirmek!”

Yavaş yavaş o geceden beri, bizim ilişki gerçekten suya düştü. Yavaş yavaş ben yine de anladım. Hatice nedeniyle tezgahlarda Baba Muzaffer gecikme değil ilişkimizi sona erdirebilir.

Size sadece Eğer, Hatice, kızının ruh ile çok bencil değil. Ve o gece gerçek olayı biliyorum.

Ah, ama o zaten geçmedi. Yani Facebook hatırlatmaları silmek için seçin. [Afif E.]

“Google Translated” from its Indonesian Version

Yang Sebenarnya di Malam itu

Pemberitahuan dari Facebook cukup menggugah kesadaranku. Paling tidak untuk malam ini. Sebuah pengingat status yang sudah lama. seolah terdapat bayangan Mark Zuckerberg muncul sambil berkata: “Kami perhatian pada anda, mungkin anda ingin membagikan status anda dua tahun lalu”.
“Siapa yang peduli!” tukasku dalam hati. Eits, tunggu dulu. Kuperhatikan betul status yang dimunculkan oleh mesin itu. Itu adalah status pada malam itu!
Kubaca ulang status tertanggal malam ini, dua tahun lalu itu. Bukan. Bukan aku yang menulis status itu. Tapi Hatice, pacarku saat itu, yang menulisnya. Akun Facebook-ku diseret dalam statusnya. Seketika pikiranku menerawang pada kejadian malam itu:
Kuterabas dinginnya malam itu dengan sepeda motor bututku. Tujuannya hanya makan kebab Baba Muzaffer di tepi selat Bosporus. Tak jauh dari Jembatan Bosporus yang menghubungkan Asia dan Eropa itu.
Ah, tunggu. Bukankah itu bibi Ceyda dan paman Hakan?! Kenapa dengan sepeda motor mereka? Paman Hakan menuntun motornya, sedangkan bibi Ceyda berjalan cukup jauh di belakang paman Hakan?
“Kenapa, abla?” tanyaku begitu sampai di samping bibi Ceyda yang sedang berjalan.
Hatiku sejenak berperang sendiri. Si setan berkata: “Hatice sudah menunggu di warung Kebab Baba Muzaffer,” sedangkan si malaikat membantah: “Bukankah membantu mengantar bibi Ceyda sungguh perbuatan yang mulia, wahai anak muda…”. Kubantai habis si setan, dan mengantarkan bibi Ceyda. Sementara paman Hakan menyuruhku berjalan lebih dulu mengantarkan bibi Ceyda di halte bus terdekat. Paman Hakan tetap dengan motornya yang mogok.
Kuperhatikan warung Baba Muzaffer, yang kulewati sambil mengantar bibi Ceyda. Kulihat bayangan Hatice. Kupacu saja cepat motorku, agar segera tuntas mengantar bibi Ceyda, dan menemui Hatice.
Namun kenyataan tak sejalan dengan pikiranku. Hatice sudah pulang saat aku tiba di warung Baba Muzaffer. Lantas muncullah status Facebook milik Hatice itu:

Kalau janjian ketemuan saja kamu sudah tidak peduli, maka kita akhiri saja hubungan kita!

Berangsung sejak malam itu, hubungan kami benar-benar kandas. Berangsur pula aku paham. Hatice mengakhiri hubungan kami bukan karena keterlambatanku di warung Baba Muzaffer.
Seandainya saja kamu, Hatice, tidak terlalu egois dengan jiwa perempuanmu. Dan seandainya kamu tahu kejadian yang sebenarnya di malam itu.
Ah, tapi bukankah itu sudah berlalu. Maka kupilih menghapus pengingat Facebook itu. [Afif E.]

Mak, Belikan Aku Kelinci

“Halo, Malik.”
Mataku langsung takjub dengan sorot mata penyapaku. Bagaimana dia bisa mengenalku?
“Namamu Malik, kan?”
“Iya, namaku Malik,” masih tersisa rasa takjub, “kok kamu bisa tahu namaku?”
“Iya.”
Mata penyapaku mengerucut. Ketakutan. Atau mungkin malas dengan keramaian. Sama, aku juga benci dengan keramaian Pasar Malam ini. Apa pula yang dicari orang-orang ini?! Mengotori kampungku!
“Kamu mau, kan, berteman denganku?” si pemilik suara bertanya.
Retina mata miliknya membesar dan mengecil menatap tajam ke retinaku. Entahlah, kata artis dalam film yang kutonton di TV, itu bisa berarti bohong atau takut. Dari sekian persentase tebakanku, penyapaku ini ketakutan.
“Aku pulang dulu, ya,” tak bisa kutahan lagi menguap. Malam sudah larut. Pasti Emak akan marah kalau aku pulang lebih telat.
Mata penyapaku kembali mengerucut dan membesar. Ketakutan.
“Jangan pergi.”
Kutegaskan kata-kataku, “Aku harus pulang! Ibuku pasti akan marah!”
Penyapaku ragu. Terpaksa memberi simpati padaku. Telinganya yang tidak gatal ia garuk, sambil berkata, “besok ke sini lagi, ya…”
Lalu kukerlingkan mataku pada penyapaku. Mengiyakan.

***

Mardliyah tidak bisa lagi menahan kemarahannya. Matanya mendelik pada anaknya.
“Ya Allah….!” kali ini kedua tangannya berkacak pinggang. Kemarahan mulai tak tertahankan.
Tapi yang dimarahi tak terima, “Pokoknya aku mau kelinci itu!”
Ibu dan anak itu saling mendengus satu sama lain. Si ibu kesal harus menyisihkan uang belanja yang sudah merepet.
Sedangkan si anak tidak mau tahu lagi. Dia harus dibelikan Kelinci! Titik! Tidak ada tawar menawar lagi.
Ibu ndak ada uang, Nak…. Lirih Mardliyah dalam hati.
Hatinya menjadi melas. Tak sanggup melakukan kompromi pada realitas. Di satu sisi uang yang ia pegang saat ini adalah uang satu-satunya yang ia punya untuk belanja tiga hari kedepan.
Sisi dirinya sebagai ibu memanggil, memelas, betapa dirinya tidak becus menjadi ibu. Tidak bisa membahagiakan anak.
Muncul perasaan nelangsa. Perasaan apalagi yang dimiliki orang tua, saat merasa tak bisa memberi sesuatu untuk kebahagiaan anaknya.
“Gini saja,” Mardliyah membujuk anaknya, “Ikus makan dulu, besok kita beli kelincinya ya..”
“Janji, ya?” si kecil Ikus mengancam.
Tambahan kata si kecil tak kalah kejam. Bahwa setiap orang yang berbohong akan berdosa.
Mardliyah tak habis akal. Jawabnya, “Ya pasti… Setiap orang yang bohong itu dosa.”
Dan si kecil akhirnya mau makan. Perkara beres!

***

“Hei, kenapa kamu tidak makan?” sergahku.
“Malas.”
Jawaban yang tidak memuaskan hatiku. Penyapaku bisa mati jika tidak makan. Namun jawabnya hanya ‘malas’ saja.
“Kamu harus makan!” paksaku.
Perlahan kujejalkan makanan yang kubawa. Kusuapkan langsung pada mulut penyapaku.
“Kamu harus kuat.”
Penyapaku masih mengunyah. Sesekali memerima suapan makanan yang kusodorkan ke mulutnya.
Tak kami hiraukan lalu lalang pengunjung Pasar Malam.

***

Setan tidak hanya berwujud makhluk halus. Tapi juga berwujud manusia. Menggoda setiap hasrat manusia yang hendak bertaqwa.
Mardliyah mempercayai itu.
Seperti pagi ini. Entah setan cilik mana yang memulai. Tapi setan cilik berwujud anak-anak tetangganya berhasil menghasut Ikus anaknya untuk kembali merengek.
“Ardan sudah dibelikan bapaknya Kelinci!!!” lengkingan suara anaknya mengiris hati Mardliyah.
Ya Allah, setan mana yang mengganggu kini?
“Orang bohong itu dosa!!!!” kali ini teriakan Ustadz Sanusi meminjam suara anaknya.
Ya Allah, tak bisakah hujan deras mengguyur Pasar Malam di hari ini?
Lolongan kata-kata tidak ada. Berganti raungan anaknya yang menjadi-jadi.
Telinga Mardliyah perih. Hatinya pedih.
Ya Allah, mas, tega kau tinggalkan kami.
Mardliyah menghitung dalam kepala. Ini adalah Pasar Malam kelima sejak kelahiran Ikus, anaknya. Lima tahun sudah suaminya meninggalkan tanpa kata.
Bertanya pada keluarga suaminya pun percuma. Buntu. Seperti ada persekongkolan Mafia Italia dalam memecahkan alasan kepergian suaminya.
Nada tangis Ikus masih sama. Namun bertambah dengan tendangan kaki ke tembok.
Mardliyah tak kuat lagi. Ia akan beranjak ke Pasar Malam. Dilihatnya isi dompet. Tinggal jatah makan dua hari.

***

Aku merasa seperti Muhammad Al-Fatih. Pemimpin yang paling gagah sepanjang sejarah. Dunia Barat boleh bungkam. Namun sejarah mencatat, tembok Roma Timur takluk dalam genggamannya. Muhammad Al-Fatih, sang pembebas.
Meski dalam kasusku, yang kubebaskan adalah penyapaku. Namun bagaimanapun, aku sudah berbuat.
Menirukan kata-kata ilmuwan mancanegara, aku sudah berkontribusi bagi dunia.
Penyapaku tak henti-henti mengatakan terima kasih.
“Sudah, jangan diulang-ulang,” kataku.
“Kamu sangat berjasa bagiku, Malik.”
Aku tersenyum simpul. Antara bangga, bahagia, dan tak ingin membahas hal yang sama berulang kali.

Dari kejauhan Ardan, Dani, Rofikin, dan Akhwan mendekatiku.
“Wah… Ikus sudah punya kelinci…” Akhwan berdecak kagum.
Rofikin memberi persetujun.
“warnanya putih seperti kapas, ya.” kali ini Dani berkomentar.
“Tapi jelas masih lucu punyaku, kan…” yang tak mau kalah ini adalah Ardan.
“Punya Ikus lebih putih,”
“Tapi punyaku telinganya lebih lebar.”
“Ikus,”
“Ardan,”
“Ikus,”
“Ardan,”

Bukannya merasa bangga karena ada yang membela, aku justru makin kesal.
Bisakah semua orang berhenti memanggilku Ikus?! Panggil aku Malik!
Namun bibirku tetap terkatup.
Teman-teman masih meributkan soal kelinci siapa yang terlucu. Sementara kepalaku tak berhenti memikirkan nasib malang panggilanku.
Bagaimana mungkin nama secemerlang Raja Aceh Malikus Saleh, bisa berjuluk IKUS!
Tinggal kau tambahkan huruf “T” di depannya, maka jadilah aku berjuluk seperti hewan pengerat itu.
Siapa yang memulai?!
Kupandangi emakku yang sudah berjalan ke rumah, meninggalkanku dengan teman-teman.
Ah, tidak mungkin Emak yang memulai. Emak orang yang baik.
Ah, peduli amat.
Kutinggalkan teman-teman dalam debat kusir mereka. Aku sudah punya urusan sendiri dengan penyapaku. Kelinciku.

***

Uang belanja habis. Bahkan Mardliyah menanggung hutang pada tetangga. Hanya satu hari ini makan. Dan besok dia harus mengutang lagi, sebelum gaji yang belum diturunkan itu akan diperoleh.
Ditengah kebingungannya, Mardliyah teringat anaknya yang belum makan.
“Ikus, makan dulu.”
“Iya, Mak.”
“Mau ditaruh di belakang rumah. Atau bagaimana?” Mardliyah menyinggung kelinci yang baru dua hari dibeli.
Si kecil menerawang halaman belakang rumah. Halaman yang luas, yang diujungnya adalah tepi sungai Bengawan Solo. Kemudian berkata pada ibunya,
“Kalau dilepas di halaman, gimana, Mak?”
Mardliyah heran.
“Kan, enak, bisa hidup bebas kelinci ini.”
Lantas kenapa begitu merengek meminta membeli kelinci?
Dilihatnya isi dompet. Sudah habis. Mardliyah berpikir dirinya sudah bisa menyiapkan bumbu sate. Menu untuk besok.
Kebetulan sekali, besok akan ada sate kelinci. pikir Mardliyah.
[Afif E.]

Kartini Dipaksa Kawin?

Pram, panggilan Pramoedya Ananta Toer, seolah bermain tebak-tebakan dengan pembacanya. Kali ini yang saya bahas adalah Tetralogi Pulau Buru kepunyaannya, Rumah Kaca. Sama halnya saat kita membaca Bumi Manusia, kita akan bertanya-tanya, dimanakah Kabupaten “B” itu? Dimanakah peternakan di seputaran Wonokromo, Surabaya, tempat Nyai Ontosoroh berbisnis?
Kali ini konsentrasi si pegawai Pangemanann (dobel “n”) saat melihat sosok Siti Soendari, buronannya yang dikupas. Kemunculan Siti Soendari, seorang perawan pribumi yang lihai membikin tulisan. Tulisan yang membahayakan pemerintahan kolonial Belanda. Pergerakan Siti Soendari dipandang oleh Pangemanann sebagai sama dengan ide yang ditulis oleh “Gadis Jepara”. Siapa itu Gadis Jepara? Sekali lagi membuat kita bertanya-tanya.


Pram membikin jalan pikiran Pangemanann berkali-kali membahas si Gadis Jepara, tulisan-tulisannya, hubungannya dengan kalangan Belanda, berpendidikan cukup bagi seorang gadis Jawa, hingga perkawinannya. Siapakah si Gadis Jawa yang disinggung oleh Pram? Apakah Kartini?
Gambaran itu paling tidak merujuk pada catatan sejarah kelahiran Kartini di Jepara. Kartini pula yang melakukan surat menyurat dengan keluarga J.H. Abendanon, dan teman-teman Eropanya. Kartini juga yang dikawinkan oleh bapaknya dengan bupati Rembang.
Dalam rancangan Pangemanann, tulis Pram, bapak dari Siti Soendari harus mengawinkan putrinya agar Siti Soendari tidak lagi aktif menulis. Pemerintah Hindia Belanda menyertakan ancaman pada si Bapak, bahwa jika ia tidak mengawinkan anaknya, ia akan kehilangan jabatan kepegawaian. Masih tulisan Pram, cara ini pula yang diterapkan untuk membungkan si Gadis Jepara. Lantas, jika memang si Gadis Jepara adalah Kartini, apakah pernikahannya adalah sebuah intrik pemeritah kolonial terhadap bapaknya? Apakah kartini dipaksa kawin? Temukan jawabannya dalam Rumah Kaca. 🙂  [Afif E.]

 

Kutunggu di Bandara Juanda (1)

LCCT* pukul 05.45 pagi waktu Kuala Lumpur. Harap-harap cemas bahwa aku tidak menunggu di antrean yang salah. Seorang bapak baru saja ketinggalan pesawatnya menuju Bandung. Namun kuteruskan juga antrean menuju pesawat di antrean yang sama. Sesekali kulirik kanan-kiri, dimana deretan bangku penuh dengan penumpang yang lain.
Sepasang mataku bertemu dengannya, seorang gadis berjilbab. Entah refleks darimana, kuhentikan langkahku, untuk memberikan sela antrean di depanku pada gadis itu. Lantas ia pun bangkit dan menempati antrean persis di depanku.
“Terima Kaseh…” ucap gadis itu, menunjukkan senyumnya sambil menoleh ke hadapanku.
Kubalas dengan senyuman.
“Pesawat tujuan Surabaya di sebelah kiri, pesawat tujuan Medan di sebelah kanan.” ucap petugas LCCT, setelah mengembalikan tiketku.
Keluar dari gerbang kembali aku bingung. Ada dua pesawat dengan dua tujuan kota berbeda. Secara teknis kedua pesawat berada di sisi kanan pintu gerbang! Mana yang kiri, mana yang kanan??? Kembali kebingunganku merasuk di kepala. Kupercepat langkahku, memburu pesawat yang sebenarnya sudah dekat.
Ah, ada gadis berjilbab tadi! Segera saja kupanggil untuk bertanya.
“Ini pesawat yang ke Surabaya,” gadis itu menunjuk salah satu pesawat, “Saya juga menuju ke Surabaya.”
Penjelasan dari gadis berjilbab ini menenangkanku. Menenangkan seorang yang gampang bingung saat perjalanan, seperti diriku.
“Kuliah di KL?” gadis itu menanyaiku, saat antrean penumpang menaiki tangga menuju pesawat.
“Oh, tidak,” jawabku, “saya hanya plesir di sini. Kamu?”
“Saya kuliah di UKM.”
Ejaan bahasa Inggris yang tidak biasa kudengarkan merasuk dalam kepala menjadi UTM. Lantas muncullah pertanyaanku, “Universiti Teknologi Malaysia?”
”Bukan,” gadis itu kembali tersenyum, “Universiti Kebangsaan Malaysia.”
“Oh… UKM, UKM… Ya, ya…” tutur saya, mafhum dengan ejaan di negeri tetangga ini.

(bersambung)… [Afif E.]

*LCCT: Low Cost Carrier Terminal (Bandara di lingkungan KLIA untuk Pesawat murah).

Saat Agen Mossad Menjebak Diriku

Duduklah Aku di meja pemeriksaan kantor Polisi negeri ini. Tak main-main, tuduhan yang dikenakan padaku adalah distributor bom aksi Paris, dalam bulan November 2015. Aku sendiri kaget, dengan setumpuk berkas yang disodorkan di depan hidungku. Dengan muka garang para investigator, seolah mata mereka berkata, IYAKAN SAJA, bahwa kamu turut andil dalam kasus Paris!
Mulutku tertutup. Jantungku berdebar. Kenapa email-email tercetak itu berkata BENAR!!! Gusti… Apa yang telah kulakukan???
Atau, lebih tepatnya, siapa yang menggunakan emailku untuk mengirimkan semua hal ini.
Dalam bahasa Inggris yang belepotan penulisannya, masih bisa terbaca di pesan itu, percakapan tentang perencanaan pengeboman. Iya, itu cetakan transkrip dari emailku, tapi bukan aku yang menulis! Bagaimana bisa???
Percuma. Polisi yang memeriksaku malah menggertakku balik. Mengumpatiku. Mengatakan bahwa tak menyangka, seorang Indonesia adalah dalang dibalik semua peristiwa teror di dunia.
Ya Allah… Apa ini???
Senyap. Kali ini tak ada yang bersuara di ruangan pengap itu. Hanya degup jantungku yang kudengarkan. Dalam kepalaku berkelebat. Siapa yang bermain dalam pengiriman email-email palsu yang tidak pernah kukirimkan itu?!
Sret! Sejenak aku ingat. Ini pasti permainan Mossad, dinas intelijen Israel itu.
Gusti, kali ini Aku jadi korban Mossad! Ya, siapa lagi yang bisa dengan mudah meretas email dan mengatur semua jebakan kejahatan tingkat dewa ini.
***
“Mas.. Mas…” sebuah suara membangunkanku.
Aku membuka mata, menggeliat.
Mendapati aku masih diam, si empunya suara kembali bicara, “Bisnya sudah nyampek di terminal Osowilangun, Mas.”
“Ya Allah!” aku melompat dari kursi.

Ternyata aku mimpi! Sepanjang perjalanan Malang hingga Surabaya, aduh!
“Makasih, mas…..” ucapku pada Kondektur yang membangunkanku. [Afif E.]

Silakan Beri Saja Judulnya

Cordoba di Andalusia Lama,

Jakarta menjadi ganti bagi Jayakarta dan Batavia Lama,

Walaupun penampakan gedung sudah berubah,

dari yang dikatakan bersahaja,

hingga bangunan yang mulai berulah

karena hendak mencakar langit segala,

kata bibiku semua itu tidak akan merubah kisah manusia,

yang terjadi tetaplah tentang kelakuan manusia.

ada kisah Zulaikha dari Mesir Kuna,

hingga kisah petinggi KPK, 

kisahnya tetap sama, kan? tentang seputar selangkangan juga.

ups, maaf, sampai muncul kata selangkangan segala.

tentang apa tulisan saya?

silakan beri saja judulnya… [Afif E.]

Ayah dan Ibu Tidak Bertengkar Seperti Aku dan Kakakku! (bagian satu)

Sore itu senyap kurasakan. Liburan tahun ini sebagaimana liburan pada tahun yang sudah-sudah, sepi dan senyap di rumah ibuku.

“Makan, dik..” Ibuku berseru dari meja makan. Membuatku segera beranjak dari ruang duduk dimana aku menonton TV dari sejam yang lalu.

Dentingan piring dan sendok kami lebih banyak bicara ketimbang percakapan kami berdua yang kurasakan hanya basa-basi saja.

“Andai kakakmu masih bersama kita.” sesekali ucapan itu keluar dari mulut ibuku.

Kembali kami berdua diam. pikirku tak usahlah aku memberi tanggapan pada ucapan ibuku itu. karena kan sudah kesekian kali ibuku berujar yang demikian. tak lama setelah aku menghabiskan makanku aku kembali menuju ruang keluarga, menekuni berita di TV.

***

“Kenapa ngga besok saja?” bujuk ibuku untuk kesekian kalinya hari itu.

Sejenak aku berhenti mengemasi pakaian dalam tasku, kemudian berujar pada ibuku, “Aku harus berangkat, Bu.”

Kami berdua kembali diam. menekuni pikiran masing-masing. meski berusaha menahanku agar aku tidak kembali ke Jogja, tangan ibuku tidak berhenti membantuku mengemasi barang-barang yang hendak kubawa serta.

“Jangan lupa kirim kabar ya, Nak.” kembali ibuku berujar, “mbok ya sesekali telpon gitu…”

siang itu juga di tempat tunggu kereta stasiun. dengan membawa serta barang bawaan yang sebenarnya tidak perlu aku bawa, namun ibu memaksakan aku untuk membawanya. Ikan asin, trasi, serta beberapa makanan kecil buatannya. Pikirku barang-barang itu bisa aku beli di Jogja. tapi berhubung ibuku sangat memaksakan kehendak, aku bawa serta sajalah, biar menyenangkan hatinya.

kereta pun tiba waktunya untuk berangkat. salam terakhirku menyertai kembalinya aku ke Jogja. dan ibuku akan kembali sendiri di rumahnya. aku cium tangannya untuk kemudian aku masuk ke dalam kereta.

***

Stasiun kereta api yang lain di Kota Madiun di sore yang panas itu.

aku tidak begitu mengamati berapa lama perjalanan dari surabaya hingga akhirnya aku berhenti di tempat tujuanku di Kota Madiun. kulihat ayahku sudah melambaikan tangan, menyambut kedatanganku.

Piye Kabare Le?” tanya ayahku.

“Baik, Pak” jawabku, menyertai kecupanku pada tangan ayahku.

“Ayo ke rumah. Mobil ayah ada di sana.” maka tidak lama kami sudah sampai di rumah ayahku. Rumah yang lain dari orang tuaku.

sehari di Madiun kurasakan tidak betah. entah apa yang membawa perasaan tidak betah itu. rasa sungkan dan tidak nyaman ternyata masih ikut dalam hatiku. aku merasa bagai orang asing di rumah orang tuaku sendiri.

belum lagi tanggapan penyambutan, Bu Mestini,  istri ayahku yang terlalu berlebihan. Dua tahun terakhir ini saja aku dapat dengan mudah mengucap kata “ibu” untuk wanita yang lebih muda dua tahun dari kakak perempuanku itu.

“Kalau saja Aini masih bisa ikut ke Madiun ya… pasti sangat menyenangkan.” sial! umpatku dalam hati. Mestini menyebut nama kakak perempuanku lagi.

“Tapi jelas tidak bisa kan, BU..” ucapanku kutekankan pada kata IBU. untuk sedikit menunjukkan kesalnya aku pada ucapan basa-basinya itu.

“eh, iya..” Mestini merasakan hawa ketidaksukaanku.

ayahku yang juga turut makan di meja yang sama kemudian memecah kakunya suasana dengan berkata, “Ayo tambah nasi, Le.”

Bungah, 4 Juni 2011.

Afif E.

MIMPI KAWIN

Sudah jadi kebiasaanku ketika tidur adalah pintu kamar pasti kututup, lampu kumatikan, dan tidur dengan hanya mengenakan celana pendek. Bukan karena takut diintip orang sehingga kututup pintu kamarku. Ini lebih pada karena kebiasaan, sehingga kalo pintu kamar tidak kututup ketika tidur, seolah ada orang atau sesuatu yang terus mengawasiku selama tidur dari celah pintu yang terbuka itu. Dan itu membuatku tidak bisa tidur.
Yang tidak mengenakkan dari tidurku malam ini adalah aku mimpi, dan dalam mimpiku itu pintu kamarku terbuka! Bukan mimpi menakutkan sih sebetulnya, tapi cukup mengagetkan sehingga membuatku terbangun.
Dalam mimpiku, aku merasa sudah bangun tidur di pagi hari. Kutemukan dari pintu kamarku yang sudah terbuka itu, orang-orang—termasuk emak dan saudaraku—sibuk lalu lalang di seputar rumah. Suasana pagi dalam mimpiku itu pun lumayan banyak orang.
Dalam kemalasanku untuk bangun aku bertanya pada diri sendiri, ada apa orang-orang begitu ribut? Seperti mempersiapkan sesuatu. Kemudian muncul bayangan emak dalam mimpiku. Masuk dalam kamar, mengambil tempat dan duduk di pinggir kasurku.
“ayo, Nak. Bangun terus siap-siap…” tutur emak.
“ada apa, Mak?” tanyaku, masih belum mengerti.
“kan kamu mau nikah hari ini.” Mendengar jawaban emak, aku langsung bangun. Nikah?! Kawin?!
Bukan main kaget dan herannya aku. Sambil bangun mengikuti emak dan terus bertanya dalam hati, nikah?! Kawin?! Kapan persiapan dan kapan lamarannya kok tiba-tiba bangun tidur langsung dibilang mau kawin?
Dalam jejakku menuju ruang tamu, di mana pintu kamarku menghadap, aku belum sempat melihat perempuan berkerudung putih yang sejatinya adalah orang yang ‘mau aku nikahi.’ Karena belum sempat aku melihat, mataku sudah melek duluan karena kaget akan mimpiku sendiri, selain juga karena suara emak yang menggedor pintu kamar, membangunkanku.
“ada apa, Mak?” tanyaku, setengah berteriak.
“cepet bangun I… anterin emak ke rumah ning-mu Sarifa.” Jawab emak, juga setengah berteriak.
Huff, musti bangun lebih awal nih, hatiku sedikit menggerutu karena aku baru saja bisa tidur pulas usai pulang kerja shift dua tadi malam. Tapi aku juga belum bisa ngerti, kenapa aku bisa punya mimpi kayak gitu? Nikah dan kawin tanpa aku sadar dan ingat sebelumnya.

“ckakaka…!!” tawa Slamet meledak tak terkontrol ketika kuceritakan mimpiku semalam.
“hush! Jangan ngakak kenapa sih.” Tukasku.
“sori-sori,..” ucap Slamet, masih berusaha menguasai tawa ngakaknya. “tapi sampeyan emang ngga kebelet kawin beneran kan? kok sampek dibawa ke tidur segala.”
“gila loe! Waktunya sih waktunya, tapi ngga sampek kebelet lah, Met.” Sewotku keluar, tapi senyum konyolku juga keluar, memikirkan kembali ucapan Slamet. Apa iya aku kebelet kawin? Hahaha… teori aja ah.

Bungah, 9 Desember 2009 (+- pukul 2.50 AM)

Muhammad Afif Effendi

DITINGGAL KAWIN

Pak Maarif, malam abis kuliah, ngajakin ngopi di warung kopi wak Darmo. Slamet ngga bisa ikut, ada urusan katanya. Aku ngga ngerasa ada sesuatu yang penting untuk disampaikan, tapi ternyata ada hal yang penting. Sambil nyeruput kopi, Kami bicara panjang lebar. Malam ini pembicaraan Kami agaknya berputar tentang Pak Ma’arif. Ya, emang tentang dia melulu. Tentang orang tuanya, tentang ‘nasibnya’ sebagai anak bungsu(sama halnya denganku), tentang pacarnya. Dan mendekati malam rupanya Pak Ma’arif lebih banyak cerita tentang pacarnya. Seperti pernah ia ceritakan sendiri, Pak Maarif ngga bakalan kawin sebelum lulus dari pascasarjana, maka karena sekarang udah lulus, target nikah rupanya kudu dikejarnya. Dengan berbekal ijasah S2-nya sebagai mas kawin(waduh! Berat banget mas kawinnya!), ia sudah mau mengambil langkah untuk berumah tangga.

“kemaren malem Aku ada lamaran.” Ujar Pak Maarif.

“lamaran apa, Pak?” tanyaku polos.

“lamaran, lamaran… nikah.” Walah! Aku baru nyambung.

“wah, berarti Aku udah boleh tau dong Pak, calon nyonya maarif nya ini siapa…” godaku, mengingat Pak Maarif hingga hari ini merahasiakan pacar yang kini bakal jadi calon istrinya itu.

“Kamu udah pasti kenal kok, Din.” Loh, siapa ya… “siapa Pak?” Aku agak bersemangat. Setelah lumayan lama informasi ini disimpan Pak Maarif dalam-dalam. Dan ekspresi penasaranku keliatannya ngga bisa ditutupi lagi.

“Anita.” Glek! Benarkah telingaku malam ini?

“siapa Pak?” tanyaku, memastikan nama yang kudengar.

“Anita… Anita Mayani anak informatika itu loh…” penjelasan Pak Maarif tampaknya ngga usah diulangi lagi.

* * *

Telingaku masih panas. Dan masih terasa benar nama yang disebut Pak Maarif. ANITA MAYANI ANAK INFORMATIKA …. KAMU PASTI KENAL KOK, DIN…. Jelas aja Aku mengenalnya. Dia… dia …. Dua bulan terakhir JALAN DENGANKU!!!! Apa ada Anita Mayani yang lain di Teknik Informatika STTK? Barangkali bukan angkatan 2006. 2007 atau 2008 mungkin…. Ah! Apa ini?! Apa?! Betapa munafiknya Aku ngomong ke Pak Maarif saat ia memberi tau kalo Anita adalah calon istrinya dengan perkataan, ‘wah, selamat ya Pak… Anita emang calon istri yang pas dan ….’ Bla bla bla. Bull shit! Omong kosong! Munafik!

“mau masuk apa ngga, Pak Bos?” suara Slamet menyadarkanku kalo barusan Aku mengetuk pintu rumahnya. Segera sesudah ‘deklarasi’ Pak Maarif di warung kopi wak Darmo. Aku masuk, dan segera duduk. Terasa lemas, entah pada kakiku, tubuhku, atau hatiku. Aku ngga tau lagi.

Slamet membawa dua mug minuman dari dalam rumahnya. Diletakkannya di meja di hadapanku. Ia bertanya, apa Aku barusan dari ngopi bareng Pak Maarif. Kuiyakan pertanyaannya itu. Kusandarkan kepalaku, barangkali Aku cuma sakit kepala.

“ada apa sih, Pak Bos? Kok kayak lemes banget gitu.” Tanya Slamet. Sejenak Aku diam, lalu kujawab NGGA PAPA. Dalam kondisi gini Aku ngga tau harus ngomong apa.

“tapi keliatan banget kalo Sampeyan ada apa-apa.” Terka si Slamet. Sejenak Aku diam.

“Met, Aku pernah cerita ngga kalo Aku sama Anita udah jadian?” tanyaku, dengan kepala masih bersandar. Slamet sama sekali ngga kulihat.

“pernah. Emang kenapa?” Tanya Slamet. Aku diam dan Slamet yang ngga ngerti sedang kenapa Aku, berkata,”Ada apa sih, Pak Bos? Kalo ada apa-apa cerita dong… Kan pernah Aku bilangin, kalo sampeyan bisa cerita apa aja ke Aku.”

Aku masih diam. Harus mulai dari mana Aku cerita? Sejenak Slamet nunggu Aku ngomong. Dia mengambil mug-nya dan minum.

“Anita mau kawin.” BRRR!!! Slamet kaget mendengar ucapanku, menyemburkan sebagian minuman yang udah masuk ke mulutnya.

“MAKSUDNYA?!!!!” Slamet kembali bertanya. Seolah belum mendengar perkataanku tadi.

“Ya. Anita mau kawin.” Jawabku pendek.

“trus, sampeyannya bagaimana?”

“bagaimana? apaan maksudnya…?”

“ya… sikap sampeyan gimana diajakin kawin sama si Anita?” duh! Slamet belum nyambung. Kepalaku kutegakkan, kali ini menghadapi Slamet.

“Anita ngga kawin sama Aku, Met…” Slamet bengong.

“loh, trus kawin sama siapa, Pak Bos?”

“Pak Maarif.”

“sampeyan serius, kan?” Slamet berusaha memastikan. Aku cuma mengangguk.

“barusan saat ngopi Pak Maarif ngomong ke Aku.” Tuturku, dan kuceritakan bahwa Aku baru saja dari warung kopi bareng Pak Maarif dan belum pulang, mampir ke rumah Slamet.

Ngga lama kemudian meluncur dari mulutku, kumpulan cerita yang bisa kuucapkan pada Slamet. Tiga bulan terakhir, Pak Maarif mulai menjalani hubungan serius dengan Anita. Bungkamnya Pak Maarif dan Anita mengenai hubungan mereka adalah kesepakatan keduanya.

Yang bikin Aku ngga abis pikir adalah, kenapa Anita mengiyakan saat kutembak belum genap dua bulan yang lalu? Sebelum meninggalnya Pak Sumardi, ayah Anita, pertunangan itu sudah dalam tahap positif ada. Dan sudah bisa dipastiin kalo pernikahan ada di depan mata. Seolah menjawab pertanyaanku, itulah kenapa beberapa kali Anita ngga ada di kampus, dan di saat itu Pak Maarif ngga masuk ngajar pula. Barangkali waktu itu mereka gunakan untuk keluar bareng.

Sebuah undangan kukeluarkan dari dalam tasku. Kuberikan pada Slamet, itu undangan untuknya. Sebelum sampai ke tangan Slamet, sempat terlihat nama kedua mempelai, Agus Maarif & Anita Mayani. Sret! Aku teringat sesuatu. Buku harian Anita, yang waktu itu sempat kubuka. Di sana terdapat sebuah kaligrafi latin, tulisan AM AM bertumpukan. Semula kuanggap itu adalah singkatan namanya sendiri, Anita Mayani. Tapi ternyata juga singkatan nama dari bakal suaminya, Agus Maarif yang ngga lain adalah Pak Maarif dosenku.

Ya Allah… Apa ini…. Kenapa, kenapa jadi kayak gini? Anita, Aku masih berat mengingatnya. Kenapa dia mengiyakan waktu kutembak kemaren? Kenapa, Nit?

“sabar ya, Din….” Ucapan Slamet kembali menyadarkanku kalo Aku sedang bersamanya. Dan untuk kali pertama sejak dua tahun setengah terakhir, kudengar Slamet memanggilku dengan namaku, bukan dengan sebutan Pak Bos. Tapi disaat gini masa bodoh dia mau manggil Aku dengan sebutan apa.

“Aku pulang dulu, Met.” Tukasku. Ngga pengen lama-lama di rumah Slamet dengan kondisi yang ogah banget gini. Ngga tahan menerima berita pernikahan itu. Aku, ditinggal kawin pacarku. Pacar yang belum genap dua bulan berjalan. Baiknya Anita menolakku waktu itu. Apa sebenernya yang ada di pikiran Anita waktu itu sehingga menerimaku waktu ditembak. Kenapa, Nit? Dan sekarang Aku mesti gimana? Ah, ngga tau. Hei, apa ini?! Kurasakan air mataku meleleh di pipi. Hei! Stop! Tapi tak juga berhenti meleleh. Aku… ah, sudahlah.

Bungah, 14 Mei 2009 M. Afif Effendi