Berita Berlebih Tentang Mirna dan Jessica: Apa yang Tengah Disembunyikan Media Massa?

Sebuah peristiwa akan menjadi berita hanya jika bernilai bombastis. Itu adalah kalimat yang saya tangkap saat mengikuti pelatihan jurnalistik, bertahun yang lalu. Yang ingin saya soroti dalam artikel ini adalah pemberitaan bombastis dan berlebih pada kasus pembunuhan Wayan Mirna.
Sebelum lanjut, saya ingin menegaskan bahwa tulisan ini tidak bermaksud mengurangi rasa duka cita saya pada keluarga yang ditinggalkan. Saya menembak pada sisi yang berbeda: pemberitaan yang berlebih.
Hingga tengah bulan Agustus 2016 ini saja, sudah kelewat sering berita seputar sidang pembunuhan Wayan Mirna Salihin itu diputar media. Catat: kelewat sering, berlebihan.
Pernah saya menuliskan artikel tentang betapa scope pemberitaan media massa berlabel “nasional” yang terlalu menyorot soal Jakarta. Padahal Indonesia membentang begitu luasnya. Saya yakin, tanpa mengecilkan makna sebuah ibukota, label “media massa nasional” haruslah mengambil sudut pandang lebih luas.
Kali ini saya semakin salah duga. Dalam kasus Mirna dan Jessica, media massa begitu memberondong “hanya” sebuah tragedi satu keluarga kecil di tengah hiruk pikuk Jakarta. Betapa tidak sensitifnya media massa, sehingga mengecilkan kebutuhan sekian juta pemirsa akan kebutuhan informasi. Ataukah saya yang kurang peka? Apa bedanya racun di kopi Mirna dengan racun sianida pejuang HAM, Munir?
Saya malah jadi bertanya sendiri: isu apa yang tengah disembunyikan oleh media massa itu? Sehingga selalu mengulang berita Mirna dan Jessica dengan begitu intens. Mengalahkan jam siaran sinetron kejar tayang.
Siapa Mirna dan Jessica? Pertanyaan pribadi saya itu tak juga menggerakkan saya untuk mencari lebih jauh di Google.
Apa implikasi bagi bangsa ini saat sidang Mirna dan Jessica sudah selesai? Sedangkan kasus pembunuhan seorang pejuang HAM saja terbengkalai. Disamping konteks kebenaran memang harus diungkap. Apa yang tengah disembunyikan oleh media massa? [Afif E.]

Kartini Dipaksa Kawin?

Pram, panggilan Pramoedya Ananta Toer, seolah bermain tebak-tebakan dengan pembacanya. Kali ini yang saya bahas adalah Tetralogi Pulau Buru kepunyaannya, Rumah Kaca. Sama halnya saat kita membaca Bumi Manusia, kita akan bertanya-tanya, dimanakah Kabupaten “B” itu? Dimanakah peternakan di seputaran Wonokromo, Surabaya, tempat Nyai Ontosoroh berbisnis?
Kali ini konsentrasi si pegawai Pangemanann (dobel “n”) saat melihat sosok Siti Soendari, buronannya yang dikupas. Kemunculan Siti Soendari, seorang perawan pribumi yang lihai membikin tulisan. Tulisan yang membahayakan pemerintahan kolonial Belanda. Pergerakan Siti Soendari dipandang oleh Pangemanann sebagai sama dengan ide yang ditulis oleh “Gadis Jepara”. Siapa itu Gadis Jepara? Sekali lagi membuat kita bertanya-tanya.


Pram membikin jalan pikiran Pangemanann berkali-kali membahas si Gadis Jepara, tulisan-tulisannya, hubungannya dengan kalangan Belanda, berpendidikan cukup bagi seorang gadis Jawa, hingga perkawinannya. Siapakah si Gadis Jawa yang disinggung oleh Pram? Apakah Kartini?
Gambaran itu paling tidak merujuk pada catatan sejarah kelahiran Kartini di Jepara. Kartini pula yang melakukan surat menyurat dengan keluarga J.H. Abendanon, dan teman-teman Eropanya. Kartini juga yang dikawinkan oleh bapaknya dengan bupati Rembang.
Dalam rancangan Pangemanann, tulis Pram, bapak dari Siti Soendari harus mengawinkan putrinya agar Siti Soendari tidak lagi aktif menulis. Pemerintah Hindia Belanda menyertakan ancaman pada si Bapak, bahwa jika ia tidak mengawinkan anaknya, ia akan kehilangan jabatan kepegawaian. Masih tulisan Pram, cara ini pula yang diterapkan untuk membungkan si Gadis Jepara. Lantas, jika memang si Gadis Jepara adalah Kartini, apakah pernikahannya adalah sebuah intrik pemeritah kolonial terhadap bapaknya? Apakah kartini dipaksa kawin? Temukan jawabannya dalam Rumah Kaca. 🙂  [Afif E.]

 

Bau Hujan

12273063_10207239358016471_843245195_n

Bisa bayangkan, bagaimana segarnya setelah diguyur hujan? 🙂

Tak ada yang lebih saya sukai dari sekian hal tentang hujan selain baunya, bau hujan. Ya, baunya. Emang hujan ada baunya, ya? Bau pesing, bau harum, bau amis… 😀
Tentu tidak demikian. Bayangkan dan rasakan, saat jalanan ditempa terik beberapa waktu, panas, berdebu, kemudian diguyur hujan. Rasa segar, bau hangus akan begitu menyeruak saat jalanan yang panas langsung disiram air. Itulah maksud saya. Dan saya begitu menyukainya. ****LEBAY… 😀 😀 😀
Sangat saya suka.
Lantas, apa yang tidak disuka dari hujan?
Yang tidak saya suka saat hujan adalah, saat saya pulang dari kampus ITS Sukolilo, Surabaya, udah makek jas hujan kelelawar, eh… Pas nyampek jalan Gubeng di situ nggak ada hujan. Tengok kanan-kiri nggak ada yang makek jas selain saya. Udah gitu ternyata cuaca di seputaran Jalan Gubeng ternyata panas! Ugh, malu nggak tuh? Ah, nggak! Kan mereka nggak bisa lihat saya. 😀
But, overall, hujan kan rahmat Gusti Pengeran. Jadi selalu disyukuri saja. 🙂 [Afif E.]

Rumus Kecepatan dan Kenyataan

Dalam ilmu Fisika, kita kenal adanya rumus kecepatan yang disimbolkan dengan “v”. Untuk menghitung “v”, maka kita kita bagi jarak yang disimbolkan dengan “s” dengan waktu, yang disimbolkan dengan “t”.
Sebagai permisalan, untuk mengetahui berapa kecepatan seseorang yang menempuh perjalanan dari Gresik ke Surabaya, maka kita tinggal membagi 100 KM dibagi dengan 2 Jam. Maka kita dapati, kecepatan yang dilakukan selama perjalanan adalah 50 KM/Jam. Akan tetapi… Tentu ada akan tetapinya.
Rumus “v = S/t” seharusnya tidak dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dengan kenyataan. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Ibu Prof. Siti M. Amin, dari UNESA. Bahwa realitanya tidak demikian.
Dalam benak saya, seharusnya rumus “v = S/t” diubah menjadi “v = (S/t) + tn1 + … tnn”.
Simbol “tn” adalah simbol untuk “Waktu Noise” atau waktu gangguan. Coba saja kita perhatikan. Perjalanan dari Gresik ke Surabaya tentu akan melewati beberapa titik kemacetan. Yang itu berarti, jika tanpa ada macet, harusnya seseorang bisa menempuh perjalanan kurang dari 2 Jam!
Banyak contoh lain adalah tentang penyerapan anggaran dari Pemerintah. Banyak pihak yang menyatakan bahwa Pemerintah begitu lambat dalam penyerapan anggaran. Kok nggak dipakek-pakek? Emangnya buat apa?
Dalam rumus kecepatan, harusnya anggaran itu tinggal dikeluarkan, dibelanjakan, dan dituliskan pelaporannya. Sudah. Namun, come on… ini soal birokrasi juga bro… Huff. Barangkali dalam kamus reformasi ada pemangkasan pola birokrasi. Itu kan yang ada di atasan sono. Lah, yang di bawah kan orang lama masih begitu banyak.
Nulis apa sih saya? 😀 Entahlah saya ini nulis apa. Tapi yang jelas, saya nulis bahwa noise harus diperhitungkan. Kalau satu noise saja menghambat kecepatan suatu pekerjaan, maka harusnya noise nya jangan ditambahkan. [Afif E.]

Maaf, Kembaliannya Boleh Disumbangkan? Nggak, Kembalian Saja!

Jawaban “Kembalian saja” akhir-akhir ini selalu saya katakan (dan akan selalu) pada kasir di minimarket dengan modus serupa, walaupun seringnya si kasir cemberut. Modus meningkatkan keuntungan dengan berdalih sumbangan. Beberapa penulis artikel dengan ide serupa telah mendahului saya. Salah satunya dengan alasan bahwa “uang sumbangan” itu akan diberikan pada beberapa lembaga agama yang berbeda. Tapi saya melihatnya dari segi yang berbeda. Saya melihatnya dari segi CSR (Corporate Social Responsibility).
Tulisan saya ini akan mengandung sedikit (atau bahkan tidak ada sama sekali) referensi dan rujukan. Jadi harap jangan percaya sama sekali dengan tulisan ini. Silakan riset lebih mendalam! 🙂
Baik, kita kembali lagi pada urusan kembalian recehan yang selalu diminta oleh beberapa minimarket. Uang sumbangan recehan ini mengganggu saya. Pertama, sebenarnya harga barang yang ada di minimarket tidak kalah mahal dibandingkan kelontongan kecil di sekitar kita. Malahan sebenarnya toko-toko kecil menyediakan harga yang jauh lebih murah! Buktikan sendiri! Dari sini, tentu dapat kita bandingkan keuntungan yang didapat. Meski, tentu saja, kita akui mereka pintar dengan menciptakan toko yang adem, ber-AC, sehingga membuat kita nyaman untuk ngadem di tengah cuaca panas akibat El-Nino seperti hari-hari ini. 🙂
Kedua, yang agak mengganggu saya adalah uang sumbangan itu disumbangkan atas nama minimarket tersebut. Maka saudara-saudara, tidakkah mereka memakai uang “sumbangan” itu dengan bungkus CSR!
Sepaham saya yang orang awam ini, CSR kan seharusnya bersumber dari keuntungan sebuah institusi bisnis, dan bukan dari sumbangan kemudian diberi nama “kepedulian perusahaan” (baca: CSR) (?) mari kita pelajari lebih jauh soal ini. Dan beri masukan via komentar di bawah tulisan ini. 🙂
Mungkin pembaca sekalian akan bilang saya pelit dan sebagainya. Terserah. Saya sendiri sudah memperhatikan beberapa komentar “bully” yang diberikan pada netizen yang mengungkapkan ide serupa dengan saya. Ada yang bilang “pelit” lah, “nggak ikhlas” lah. Dan lain sebagainya.
Baik. Mengenai pendapat yang berbeda dengan pendapat saya, monggo. Silakan. Saya tidak akan menyerang balik. Ini adalah ide saya. Dan orang yang berbeda tidak akan saya serang balik. Tidakkah adil dan “demokratis jika kita saling menghormati pendapat.
Oiya, mengenai yang suka komentar “bully” ikhlas atas “uang recehan sumbangan” itu, sini sini… Inbox ke email saya (cak.afif@gmail.com). Akan saya beri alamat Panti Asuhan di sekitar rumah saya. Insyaallah “Keikhlasan” anda akan kami salurkan dengan amanah. Tertarik? 🙂 [Afif E.]

Terlalu Percaya Diri

Dalam berbagai jargon, orang Indonesia dikatakan sebagai orang yang ramah. Apa iya? Kadang saya sendiri sangsi. Tentu kita tidak bisa seenaknya membikin pukul rata begitu saja. Saya yakin, ada juga kok orang Indonesia yang jutek, judes, dan acuh pada lingkungannya. Maka dari itu anjuran agar tidak men-generalisir muncul.
Begitu juga satu anjuran lain yang seolah-olah kita mengaku punya kita sendiri. Salah satunya adalah patuh pada guru. Pernah suatu kali, saya ‘didebat’ oleh seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi yang berbasis pesantren. Sebagai sebuah perguruan tinggi yang berbasis pesantren, tentu ajaran tentang patuh pada guru adalah suatu hal yang lumrah dikenal. Namun ada yang mengusik hati saya dari kalimat mahasiswa tersebut.
Saya sebut mengusik, kenapa? Karena mahasiswa tersebut dengan jelas mengatakan bahwa ia sadar karena berada di sebuah lingkungan pesantren, ia harus tawadlu’ atau patuh pada guru. (dosen juga guru, kan?) 🙂
See, dalam kalimatnya tersirat bahwa kepatuhan adalah kepunyaan orang pesantren. Waktu itu saya mau bantah dia dengan mengatakan, bahwa kepatuhan adalah sebuah nilai. Bukan kepunyaan orang pesantren. Nilai-nilai dasar ini diakui oleh semua umat beragama. Tidaklah monopoli suatu agama atau golongan.
Waktu itu sempat juga ingin saya katakan bahwa rekan saya yang seorang Hindu juga pernah berujar, bahwa ia tidak akan membantah apa yang dikatakan guru, sebagai rasa kepatuhan. Lihatlah, ia juga bukan orang pesantren, tapi nilai kepatuhan juga ia miliki!
Dalam satu sesi kuliah yang saya ikuti di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, seorang profesor juga berujar kurang lebih sama. Beliau mengatakan bahwa beliau ditawari untuk memimpin suatu jabatan. Namun sebagai bentuk kesopanan, beliau mendahulukan seniornya. Menurut beliau hal ini bukanlah tipikal kesopanan yang hanya dimiliki oleh Indonesia. Dimanapun negara, hal seperti ini juga dijunjung. See, contoh lain bahwa kita kadang terlalu percaya diri mengaku sebagai pemilik kesopanan, keramahan, dan kepatuhan.
Karena tentu saja kesopanan, keramahan, kepatuhan dan sikap lainnya, adalah sebuah nilai. Bukan tentang siapa yang memiliki nilai itu. Maka misal kita sopan atau patuh, tidak harus menunggu kita jadi orang pesantren, menjadi orang Indonesia, dan lainnya. It’s about the value, not about who own it. [Afif E.]

Mata Uang itu Bernama “Permen”

Paling kesal jika kita pergi ke minimarket, kemudian si kasir mengatakan, “Maaf ya Mas, kembaliannya yang 300 perak diganti permen.”

Pernah kalian mengalami hal serupa? Herrrgggghhhhgg… nggak cuma bikin gigit jari, tapi juga bikin kesal. Barangkali akan ada yang menyanggah, kenapa saya sampek harus menulis soal uang recehan rupiah yang diganti dengan permen. Bukan masalah mata duitan, bukan pula masalah tidak mau merelakan uang ratusan rupiah.

Kata adek saya saat mencoba permen kembalian tersebut, “enak Mas permennya.” Hadew… itu kan adek saya yang masih Madrasah Ibtidaiyah (sederajat SD). Tapi konsumen kan bukan cuma anak Madrasah Ibtidaiyah yang dapat dengan mudah—bahkan gembira—menerima uang kembalian berupa permen! Coba deh kita pakek suatu logika terbalik.

Logikanya sederhana saja, tapi silakan dipikirkan. Jika seringkali kita diberi kembalian berupa permen, maka apakah kasir (baca; minimarket) akan rela barang-barangnya dibayar dengan permen? Tidakkah hal seperti ini sekedar modus untuk mengeruk keuntungan dari segala sisi?

Dan saya pikir saya bukanlah orang pertama yang komplain soal ini. Saya masih ingat betul salah satu TV swasta nasional pernah membuat liputan soal mata uang permen ini.

Hal terbaru yang menjadi syu’udzon atau pikiran buruk saya adalah “modus sumbangan” oleh beberapa minimarket. Pertanyaannya adalah apakah sumbangan tersebut diberikan pada yang berhak menerima? Apakah ada transparansi keuangan yang diminta sebagai sumbangan itu? Sekali dua kali sih oke. Tapi coba bayangkan berapa orang yang akan membeli di minimarket dan diperlakukan demikian? Maka dapat dipastikan berapa uang “sampingan” yang terkumpul dari kegiatan demikian? Kok jadi syu’udzon melulu ya jadinya pikiranku. Gara-gara uang kembalian permen nih. 😀

Hemm…. Perlu diteliti nih. Meneliti uang minimarket. Wkwkwkwkw 😀 [Afif E.]

//