Simsalabim! Heboh Reklamasi di Jakarta Pun Menghilang

Indonesia adalah Jakarta. Kalimat itu masih belum bisa dihapus betul. Meski sudah ada otonomi daerah, pembagian pusat kekuasaan dan sejenisnya. Terbukti, salah satunya adalah pemberitaan heboh oleh media terkait pro dan kontra reklamasi pantai di Teluk Jakarta. Mungkin, iya, Jakarta adalah ibukota Indonesia. Pusat dari pemerintahan dijalankan. Tapi tidak semendesak itu juga bagi daerah untuk tiap hari mengkonsumsi isu dengan kemasan sedemikian menggemparkan. Hampir mengalahkan berita reklamasi di Teluk Benoa, Bali.
Para komentator pun diundang bicara, para legislator tiba-tiba aktif mencari yang bisa disalahkan. Hampir kesemuanya mengabarkan bahwa dunia akan kiamat akibat adanya reklamasi, sebagai perumpamaan dari saya sendiri, karena saking hebohnya pemberitaan.
Dan hari ini… Simsalabim! Setelah dikunjungi para menteri, dan bisa jadi berbagai proses lobi yang tidak diberitakan, pemasaran pulau hasil reklamasi itu kembali gencar.
Saya tidak begitu sering menonton televisi. Terlebih semenjak Pilpres 2014. Namun begitu saya menyalakan televisi pagi ini, mbak-mbak artis itu kembali beraksi. Menjajakan kompleks hunian dengan menghadirkan DUA PULAU hasil reklamasi sebagai komoditas jualan. Ajaib, ya?! Lalu heboh kemarin itu apa? Ah, lucu.
Kok tulisan saya kali ini begitu mengumbar kebencian, ya? Hemmmm… Entah ya. Tapi saya merasa igit-igit. Igit-igit dalam bahasa Jawa di tempat saya berarti gabungan antara geram, heran, dan campurannya. Media… Oh media… Begitu ‘hebatnya’ dirimu, sehingga kena sekali simsalabim, membikin dan menghilangkan berita kehebohan reklamasi di Jakarta. Ataukah kehebohan berita itu untuk mengecoh? Entahlah. Kini, masih percaya media? [Afif E.]

Situs Giri Kedaton

Banyak yang bertanya, termasuk saya, bagaimana rute menuju situs Giri Kedaton. Situs Giri Kedaton menurut beberapa penelitian merupakan pusat lokasi kediaman Sunan Giri. Agak berbeda dengan makam Sunan Giri, untuk menuju situs Giri Kedaton tak banyak penanda untuk menuju ke tempat tersebut.
Saya harap tulisan ini membantu memberikan informasi mengenai penanda rute untuk menuju ke lokasi situt Giri Kedaton.
Situt ini berada di puncak sebuah bukit, di kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik. Jika anda berasal dari perempatan Kebomas ke arah makam Sunan Giri, maka jalan menuju situs ini di sebelah kiri jalan, sebelum sampai di parkir makam Sunan Giri.
Sebaliknya, jika anda dari arah parkir makam Sunan Giri menuju ke arah kota Gresik, maka jalan masuk menuju situs ini adalah di sebelah kanan jalan.
Saat artikel ini dibuat, terdapat gapura masuk kelurahan sidomukti. Berdiri di samping sebuah minimarket. Masuklah ke jalan dengan gapura itu.
Jalan ini lumayan sempit. Saya sendiri kurang paham apakah mobil bisa masuk dan parkir di jalanan ini.
Sekitar 300 meter dari gapura, akan anda dapati gapura masuk situs Giri Kedaton. Berwarna putih dengan tulisan “Situs Giri Kedaton dan Makam Raden Supeno (Putra Sunan Giri)”.
Gapura bercat putih dengan bubuhan logo Kabupaten Gresik ini menuntun kita pada jalan menanjak. Jika anda membawa sepeda motor, bawa saja naik ke atas. Tak jauh dari gapura putih terdapat parkir. Biaya parkir bisa kita masukkan ke kotak donasi yang disediakan. Ada baiknya pastikan kunci dobel kendaraan, untuk berjaga-jaga.
Dan… Dari lokasi parkir sepeda motor sudah dapat kita lihat deretan anak tangga yang menanjak ke atas. Di puncak anak tangga itulah Situs Giri Kedaton berada. 🙂 [Afif E.]

giri kedaton - dari jalan raya giri-afif1

Gapura Kelurahan Sidomukti. Jalan masuk awal.

 

giri kedaton - gerbang-afif 1

Gapura Kedua – Jalanan menanjak. Sepeda motor bisa masuk.

 

giri kedaton - parkir-afif1

Parkir Sepeda Motor. Sebelah Kanan terlihat anak tangga menanjak menuju situs. (Note: Ojok Lali Ngisi Celengan = Jangan Lupa Mengisi Kotak Donasi Parkir)

 

giri kedaton - naik tangga-afif1

Tangga menanjak.

giri kedaton - kekinian-afif1

Foto Jejak Langkah. Sangat Kekinian. 🙂 😀 😀 😀

giri kedaton - totangga-afif1

Pemandangan dari atas tangga.

 

giri kedaton - kaki 2-afif1

Salah Satu Kaki Bangunan.

giri kedaton view ke bawah 1-afif1

giri kedaton - prasasti-afif1

giri kedaton - view makam giri2-afif1

Pemandangan ke makam Sunan Giri di seberang bukit. Di bawah kaki tower BTS tertinggi adalah tempat tersebut.

Kartini Dipaksa Kawin?

Pram, panggilan Pramoedya Ananta Toer, seolah bermain tebak-tebakan dengan pembacanya. Kali ini yang saya bahas adalah Tetralogi Pulau Buru kepunyaannya, Rumah Kaca. Sama halnya saat kita membaca Bumi Manusia, kita akan bertanya-tanya, dimanakah Kabupaten “B” itu? Dimanakah peternakan di seputaran Wonokromo, Surabaya, tempat Nyai Ontosoroh berbisnis?
Kali ini konsentrasi si pegawai Pangemanann (dobel “n”) saat melihat sosok Siti Soendari, buronannya yang dikupas. Kemunculan Siti Soendari, seorang perawan pribumi yang lihai membikin tulisan. Tulisan yang membahayakan pemerintahan kolonial Belanda. Pergerakan Siti Soendari dipandang oleh Pangemanann sebagai sama dengan ide yang ditulis oleh “Gadis Jepara”. Siapa itu Gadis Jepara? Sekali lagi membuat kita bertanya-tanya.


Pram membikin jalan pikiran Pangemanann berkali-kali membahas si Gadis Jepara, tulisan-tulisannya, hubungannya dengan kalangan Belanda, berpendidikan cukup bagi seorang gadis Jawa, hingga perkawinannya. Siapakah si Gadis Jawa yang disinggung oleh Pram? Apakah Kartini?
Gambaran itu paling tidak merujuk pada catatan sejarah kelahiran Kartini di Jepara. Kartini pula yang melakukan surat menyurat dengan keluarga J.H. Abendanon, dan teman-teman Eropanya. Kartini juga yang dikawinkan oleh bapaknya dengan bupati Rembang.
Dalam rancangan Pangemanann, tulis Pram, bapak dari Siti Soendari harus mengawinkan putrinya agar Siti Soendari tidak lagi aktif menulis. Pemerintah Hindia Belanda menyertakan ancaman pada si Bapak, bahwa jika ia tidak mengawinkan anaknya, ia akan kehilangan jabatan kepegawaian. Masih tulisan Pram, cara ini pula yang diterapkan untuk membungkan si Gadis Jepara. Lantas, jika memang si Gadis Jepara adalah Kartini, apakah pernikahannya adalah sebuah intrik pemeritah kolonial terhadap bapaknya? Apakah kartini dipaksa kawin? Temukan jawabannya dalam Rumah Kaca. 🙂  [Afif E.]

 

Polygamy and a Simple Untold Story About Paradise

Stories about polygamy still became hits till recent days. There are pros and cons. For the pros one, they gave a reasoning that religion gave a permission on that through a strict rule. Especially in Islam law or shariah. Even though actually Islam is not the pioneer in polygamy. Several nation do this, far before Muhammad born.
For the cons, polygamy is a harrashment for women. It is something that did not reflecting gender equity at all.
Borrowing from Quraish Shihab explanations in his books, I gather several understanding, and try to reason about it. For example about gender equity which is a reason for the cons to refuse polygamy. Lets having assumption that polygamy is refused. Then, what next? What about the need of lots of women about marriage? Do we after refusing polygamy mean that the women does not need marriage? Or, sorry, do women does not need men? Once we could not gather a product of livestock, we will looking for another alternatives. I think it will be the same about marriage. Once a women could not get a men as a husband, they could possibly having affair with another woman’s husband. Is it the “best” alternatives? Let’s think about it passing the basic need, not only in the surface.
This story, about polygamy, also being screened in the 2015 Indonesian movie entitled “Surga yang Tak Dirindukan” (Unwanted Paradise). A very simple story about marriage conflict of polygamy. The conflict getting arose when Meirose (played by actress Raline Shah) became the second wife of Prasetya (played by actor Fedi Nuril). The marriage is something broken Arini’s heart (played by actress Laudya Cinthia Bella). In my opinion, the story of this movie is a really simple story, but with a strong stressing on our questions about polygamy.
Several scene left questions for the viewer. Such as in the final scene, when Meirose left Prasetya and Arini’s life. What will be done by Meirose? In what status she left Prasetya? Is she still a wife of him, or she will be divorced by Prasetya? “Surga yang Tak Dirindukan”, polygamy and a simple untold story about paradise. [Afif E.]

Link to the movie (http://www.mdpictures.co/film/surga-yang-tak-dirindukan)

The Balinese Name

In 2014, I had written an article about Balinese Naming system. But the article was written in Indonesian language. This time, I want to write in English. Hopefully will be enlighten you all. 🙂
The story begin when I had a chance to visited Singaraja, in northern of Bali island, to a home of Pak Komang. One of thousands of Balinese’s Komang. 🙂
At that days, I just realized that it must be lot of Balinese who had similar name. At least at the front of their name. For example Ni Wayan XYZ, I Ketut XYZ, or Ni Komang XYZ. Among several ethnics of Indonesia, Balinese name is some name that is easily unique to recognize. At least in my opinion.
When I had a chance to speak with Kadek, Pak Komang’s oldest daughter, in a breakfast I ask my curiosity to her. About how the Balinese forming their name. She said, actually the Balinese name is simple. It was a mark of child birth queue.
For the first kids, the children named “Wayan” (Wah-yan), “Putu” (Poo-too), and “Gede” (Gde). Wayan and Putu is male or female name. But Gede use only for male.
The second kids in Balinese family named “Made” (Mah-de) or “Kadek” (Kah-dek). These two names given to either male or female. What about the third kids?
The third kids named “Nyoman” (Nyoh-man) or “Komang” (Koh-mang), which is Komang has a dear calling such as “Koming” (Koh-ming) or “Omang” (Oh-mang). This two name also could be given to both male or female. The same rule also included for the fourth kids, which is named “Ketut” (Keh-toot).
Kadek also said that there is name “Nengah” (Ne-ngaah) which is used to the fifth kids.
“then what about the sixth kids?” I ask to Kadek.
Kadek laughing, and explain, “Balinese family have no kids too much.”
Followed by my laugh.
But Kadek explain again, if the Balinese family has the six and so on kids, the naming system back to Wayan, Made, Nyoman, and Ketut.
Is it naming rule only for Balinese Hindus? From the telling of Pak Komang’s wife, there are also Balinese Muslim who used this naming system. Since they were actually indigenous of Bali island. So there are name like Wayan Muhammad, and other name in similar combination.
Also, to differentiate between male and female name, we could see from their very first (Balinese) name, i.e “I” (e) or “Ni” (nee). “I” is for male, and “Ni” is for female.
This description also written by Elizabeth Gilberth in her book Eat, Pray, Love. You also could gather several information that more valid than mine. Matur Suksma. Thanks for reading. 🙂 [Afif E.]

A Simple Special Gift

the old photograph of the gate of the Tomb of Sunan Giri

Sopo sing juara, mene tak ajak nang ngGresik (Javanese in Gresik-Surabaya accent, in English: whom will be the best rank in the class, I will took into a trip to Gresik).” that was a saying of one of my female cousin. My dear cousin that I will difficulty forget.
I didn’t realize exactly was that statement which was made me motivated, or any other else, but by the end of that Caturwulan, I became the second place in the class. That was happened when I was in the fifth grade of Madrasah Ibtidaiyah (equal to Elementary School), and those years Indonesian school used a Caturwulan Curriculum. The caturwulan curriculum held exam in every four months every academic year.
Shortly, finally my cousin took us into Gresik City. Fulfilled her statement. She took I myself and two other of my cousins of the same age of me. The other destination of the trip was the Tomb of Sunan Giri. It was a tomb of Muslim from early Islamic era of nowadays Indonesia.
Actually Gresik city, East Java, Indonesia, is only took a half of hour using motorcycle from our neighborhood. But for a boy of fifth grade, it was a very special trip. Since my parents are rarely took me to those kind of trip at that time.
I hardly could forget that trip. A very special trip, from my cousin. Somehow, I want to ask her again today, is she want to take me to another trip? 🙂 [Afif E.]

Hadiah Sederhana yang Istimewa

Sopo sing juara, mene tak ajak nang ngGresik (Bahasa Jawa logat Gresik-Surabaya: siapa yang juara, besok saya ajak ke Gresik).” kurang lebih demikian kalimat sepupu saya, yang diberikan pada kami adik-adik sepupunya.
Saya tidak tau, apakah benar karena dorongan kalimat sepupu saya yang terpaut jauh umurnya dengan saya itu ataukah ada faktor semangat yang lain, namun akhirnya saya pada caturwulan kedua mendapat juara kelas peringkat dua. Waktu itu saya masih kelas lima Madrasah Ibtidaiyah, dan masih menggunakan kurikulum sistem caturwulan.
Singkat kata kemudian sepupu saya itu memenuhi ucapannya. Diajaklah kami bertiga ke Gresik, kemudian ke Makam Sunan Giri.
Saya masih sangat mengingat hadiah jalan-jalan itu. Sebuah hadiah yang teringat hingga masa-masa kemudian. Betapa saya sangat berterima kasih pada sepupu saya tersayang itu. Sungguh bukan hadiah yang istimewa. Walau sebenarnya kemudian di tahun-tahun selanjutnya saya tau bahwa Gresik ‘hanyalah sejengkal’ perjalanan dari rumah, namun bagi seorang anak kelas lima Madrasah Ibtidaiyah, hal tersebut sangat membahagiakan. Sangat.
Saya tidak ingat detil yang lain, misalnya apakah waktu itu kami dibelikan kaos atau barang lainnya. Namun perjalanan itu saja buat saya pribadi sangat menyenangkan. Diluar kenyataan bahwa saya sejak kecil hingga menjelang usia dewasa sangat mudah mabuk saat naik kendaraan.
Hari-hari belakangan saya mau bertanya lagi kepada sepupu saya itu, apakah ia pengen ngajak saya jalan-jalan lagi. 😀 [Afif E.]