Sentosa Island Tidak Lagi Gratis

pintu Sentosa Island

Pintu Masuk-Keluar Sentosa Island (Jalur Pejalan Kaki) – abaikan tas plastik 😀 😀 😀

Bagi para pelancong barangkali sudah paham betul apa itu Sentosa Island. Atau mungkin pembaca pernah mendengar nama Sentosa Island disebut-sebut dalam media.
Ya, Sentosa Island adalah salah satu andalan pariwisata Singapura. Berlokasi di salah satu pulau kecil di selatan negara kecil tersebut, Sentosa Island menawarkan beragam jenis wahana permainan. Konsepnya barangkali sama dengan Dunia Fantasi atau Taman Mini Indonesia Indah.
Yang agak beda, di Sentosa Island terdapat banyak wahana, salah satunya adalah Universal Studio. Kita bisa masuk bebas dan gratis! Tentu yang gratis itu masuknya. Kan seneng kan kalo dengar yang serba gratis. 😀
Memang masuk ke Sentosa gratis. Kecuali kalau kita mau masuk ke wahana tertentu. Baru di situ kita bayar.
Untuk menuju ke Sentosa setidaknya ada 4 jalan. Pertama menggunakan LRT atau MRT, kedua menggunakan bus, ketiga dengan kereta gantung, keempat adalah dengan jalan kaki. Dan… Yang paling murah dari keempat cara tersebut adalah dengan berjalan kaki! Gratis pula! 😀 😀 😀
Kurang lebih berjalan kaki menyebrangi jembatan yang melintas di atas sebuah selat, bukan berarti kita berpanas ria. Jembatan lebih dari 500 meter ini sudah didesain sangat nyaman bagi pejalan kaki. Bahkan ditulis dalam papan: Paling nyaman ke Sentosa dengan jalan kaki.
Tapi, berdasarkan peta panduan yang disediakan, per tahun 2017 besok masuk ke Sentosa tidak lagi gratis bagi pejalan kaki. Akan ada fee untuk masuk. Tidak dituliskan di brosur biayanya nanti berapa.
Kalau melihat ongkos yang ada sekarang, bisa saja masih dibawah 4 dollar Singapura (anggap saja senilai dengan 40 ribu rupiah). Angka 4 dollar darimana? Dari ongkos naik kereta gantung. 🙂 Masih murah lah. Daripada harga tiket masuk kolam renang di Gresik yang di atas itu, hanya untuk masuk ke area kolam saja.
Bagus ya di Sentosa? Mmm… Bagus sih, tapi kok ya 11-12 sama Dufan ataupun TMII. Tapi, kayaknya perlu belajar memberikan yang murah (tapi tidak murahan), agar banyak wisatawan yang tertarik melancong, macam di Sentosa. [Afif E.]

Iklan

Situs Giri Kedaton

Banyak yang bertanya, termasuk saya, bagaimana rute menuju situs Giri Kedaton. Situs Giri Kedaton menurut beberapa penelitian merupakan pusat lokasi kediaman Sunan Giri. Agak berbeda dengan makam Sunan Giri, untuk menuju situs Giri Kedaton tak banyak penanda untuk menuju ke tempat tersebut.
Saya harap tulisan ini membantu memberikan informasi mengenai penanda rute untuk menuju ke lokasi situt Giri Kedaton.
Situt ini berada di puncak sebuah bukit, di kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik. Jika anda berasal dari perempatan Kebomas ke arah makam Sunan Giri, maka jalan menuju situs ini di sebelah kiri jalan, sebelum sampai di parkir makam Sunan Giri.
Sebaliknya, jika anda dari arah parkir makam Sunan Giri menuju ke arah kota Gresik, maka jalan masuk menuju situs ini adalah di sebelah kanan jalan.
Saat artikel ini dibuat, terdapat gapura masuk kelurahan sidomukti. Berdiri di samping sebuah minimarket. Masuklah ke jalan dengan gapura itu.
Jalan ini lumayan sempit. Saya sendiri kurang paham apakah mobil bisa masuk dan parkir di jalanan ini.
Sekitar 300 meter dari gapura, akan anda dapati gapura masuk situs Giri Kedaton. Berwarna putih dengan tulisan “Situs Giri Kedaton dan Makam Raden Supeno (Putra Sunan Giri)”.
Gapura bercat putih dengan bubuhan logo Kabupaten Gresik ini menuntun kita pada jalan menanjak. Jika anda membawa sepeda motor, bawa saja naik ke atas. Tak jauh dari gapura putih terdapat parkir. Biaya parkir bisa kita masukkan ke kotak donasi yang disediakan. Ada baiknya pastikan kunci dobel kendaraan, untuk berjaga-jaga.
Dan… Dari lokasi parkir sepeda motor sudah dapat kita lihat deretan anak tangga yang menanjak ke atas. Di puncak anak tangga itulah Situs Giri Kedaton berada. 🙂 [Afif E.]

giri kedaton - dari jalan raya giri-afif1

Gapura Kelurahan Sidomukti. Jalan masuk awal.

 

giri kedaton - gerbang-afif 1

Gapura Kedua – Jalanan menanjak. Sepeda motor bisa masuk.

 

giri kedaton - parkir-afif1

Parkir Sepeda Motor. Sebelah Kanan terlihat anak tangga menanjak menuju situs. (Note: Ojok Lali Ngisi Celengan = Jangan Lupa Mengisi Kotak Donasi Parkir)

 

giri kedaton - naik tangga-afif1

Tangga menanjak.

giri kedaton - kekinian-afif1

Foto Jejak Langkah. Sangat Kekinian. 🙂 😀 😀 😀

giri kedaton - totangga-afif1

Pemandangan dari atas tangga.

 

giri kedaton - kaki 2-afif1

Salah Satu Kaki Bangunan.

giri kedaton view ke bawah 1-afif1

giri kedaton - prasasti-afif1

giri kedaton - view makam giri2-afif1

Pemandangan ke makam Sunan Giri di seberang bukit. Di bawah kaki tower BTS tertinggi adalah tempat tersebut.

Transportasi dari Gresik ke Malang

Jika anda ingin bepergian ke Malang, dari Gresik jalur Pantura, mungkin pilihan cara menuju ke sana dengan moda berikut bisa anda pilih. Alternatif yang saya tuliskan berikut ini adalah saat anda bepergian saat pagi hari. Karena saat siang hari, sangat jarang ada kendaraan umum.
Jika anda berada dari jalur Pantura sepanjang Paciran, Lamongan, hingga Manyar Gresik (sebelum gerbang Tol Gresik-Surabaya) anda dapat menggunakan bis Armada Sakti. Kendaraan ini berwarna hijau, dengan tulisan “Armada Sakti” di jidat depan bis. Seperti yang saya tuliskan, bis ini beroperasi dengan rute awal kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
Jika anda sudah melihat bis ini, segera saja anda naik, walaupun penuh. Karena bis selanjutnya bisa berjarak satu jam!
Mengenai tarif, kisaran 5.000 – 10.000 rupiah. Pada tanggal 25 November 2015, saya bertiga, dengan teman saya, ditarik oleh kernet (baca: kondektur bis) dengan tarif sebesar 28.000 rupiah. Nah loh, berapa tuh? Kalo kita hitung betul, per orang dikenakan tarif 9.333,33 rupiah. 😀
Tarif yang dikenakan pada saya dan teman-teman itu dengan rute Kecamatan Bungah-Terminal Tambakosowilangun.
Oiya, saya belum cerita rute bis ini ya? 😀 baik, rute bis ini adalah Paciran Lamongan, dengan tujuan akhir Terminal Tambakosowilangun di Surabaya, melewati tol, tidak sampai masuk kota Gresik.
Pilihan kedua, jika anda berada di jalur antara Kecamatan Dukun-Pantura Bungah- Pantura Manyar-Jalur Gresik-Lamongan Tengah, anda juga bisa menggunakan colt berwarna coklat agak marun agak luntur (?). Tarif kurang lebih sama. Colt coklat ini juga akan turun di Terminal Tambakosowilangun, dengan rute melewati kota. Namun untuk colt coklat ini juga agak jarang,
Okay. Begitu kita sampai di Terminal Tambakosowilangun, segera cari bis dengan tujuan akhir Malang. Saat saya bepergian pada tanggal 24 November 2015, saya menumpang bis Dali Prima. Bis ini nantinya akan turun di Terminal Arjosari, Malang. Soal tarif, saya bertiga dengan teman, dikenakan tarif 51.000 rupiah. Atau per orang kena biaya 17.000 rupiah.
Baiklah, semoga bermanfaat. Oiya, jika pembaca mendapati ada yang salah dengan info ini, mohon diberi masukan di komentar. 🙂 [Afif E.]

Memasak Hidangan untuk Hajatan Khidziran

Kalian pernah mendengar hajatan yang bernama Khidziran? (yang belakang sana berteriak, saya pernah, saya pernah… 😀 ).

Yang akan saya bahas di sini adalah acara khidziran yang secara khusus diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Qomaruddin, Sampurnan Bungah Gresik. Acara ini diselenggarakan menjelang Haul (peringatan wafatnya) KH. Sholih Tsani. Pada tahun 2013 (1434 H.) ini, peringatan haul ini masuk ke 114 tahun. Setiap tahunnya acara ini diselenggarakan sebelum Haul tersebut. Dari keterangan Bapak Ibrahim Hamim, salah satu keluarga Pondok Pesantren Qomaruddin, acara ini sedianya diselenggarakan setiap malam Rabu dalam pekan menjelang Haul KH. Sholih Tsani. Beliau juga menambahkan bahwa begitu banyak simbol dan doa yang ada dalam seputar pelaksanaan Khidziran.

Nama Khidziran sendiri merujuk pada Nabi Khidzir AS, salah satu nabi yang diriwayatkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an hidup semasa dan berinteraksi dengan Nabi Musa AS. Acara ini ditujukan untuk tawasul atau kirim doa melalui perantara Nabi Khidzir. Sepanjang acara ini dilakukan pembacaan Sabi’atul Asyaroh, atau sepuluh Bacaan yang masing-masing dibaca tujuh kali.

proses memasak

Proses memasak. Selama proses ini, si pemasak membaca doa-doa

Tidak hanya doa yang menjadi simbol dalam acara ini, cara memasak hidangannya pun dapat kita golongkan unik dan penuh dengan simbol-simbol. Keterangan yang saya dapatkan merupakan hasil dari wawancara yang dilakukan oleh Elektro TV STTQ Gresik (televisi komunitas kampus Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik) dengan dibantu adik-adik dari Majalah Prospek (SMA Assaadah) sebagai reporter. Dan saya sendiri selaku pembantu teman-teman tersebut. 🙂

wawancara dengan pemasak

Ibu pemasak diwawancarai Elektro TV STTQ Gresik, dengan reporter dari adik-adik Majalah Prospek SMA Assaadah

Saya menyaksikan betapa ‘ribet’ acara memasak hidangan untuk acara tersebut. Pertama pemasak haruslah perempuan yang sudah tidak haid alias menopause, dan berasal dari keluarga Pondok Pesantren Qomaruddin. Tidak cukup itu, pemasak haruslah bersuci kemudian puasa tidak berbicara mulai sejak dia bersuci hingga masakan tuntas dimasak. Satu-satunya hal yang diucapkan oleh pemasak adalah doa-doa yang terus menerus selama memasak berlangsung.

Masakannya sendiri bagaimana? Masakan yang menjadi sajian dalam acara ini juga unik. Masakan yang menjadi khas sebenarnya cukup sederhana dan biasa kita temui pada hajatan lain. Masakan atau sajian atau makanan (halllah! Ribet! :D) yang disajikan terdiri dari bubur beras berwarna merah dan putih, ketan berwarna kuning dan putih, kelapa yang dicampur dengan gula merah (gula jawa), plus dadar yang ditangkupkan pada ketan, sebelum di atas telur ditaburi dengan kelapa yang dicampur gula merah. Namun di sini letak uniknya kalau biasanya kita makan bubur berasa ada asinnya (karena diberi garam), atau telur yang juga biasanya maknyus (juga karena diberi garam), maka makanan tersebut benar-benar berasa hambar karena tidak boleh diberi garam. Yang manis tetep diberi gula, namun yang biasanya asin khusus pada sajian acara ini tidak diberi garam. So meaningful, penuh dengan simbol-simbol.

Rasanya gimana? Ya… bener-bener tawar, gak ada rasa asin (ya iyalah…).

Ada yang unik saudara-saudara. Saya nggak tau, apakah saya harus ketawa atau bagaimana. Tapi yang jelas saya geli sendiri melihatnya. Kok bisa? Iya, gimana nggak, karena ibu pemasaknya tidak boleh bicara, saat si ibu pemasak dan yang diajak “bicara” kebingungan mencari sesuatu. Ternyata yang dicari adalah dua butir telur. (kenapa gak via SMS aja ya… 😀 . ups, ngapunten Bu… hehehe ).

kebingungan mencari telur

Kondisi saat Ibu pemasaknya bingung mencari telur. 🙂

Nice, tradisi yang penuh makna dan sarat akan simbol. Menarik dan pertama kalinya saya sendiri tau ada tradisi unik macam ini dibalik keramaian Haul KH. Sholih Tsani. 🙂 [Afif E.]

hidangan siap saji

Masakan yang siap disajikan

Facebook; Media dan Saluran

Pernah suatu kali saya dikritik oleh salah seorang mahasiswa karena terlalu sering memberikan pengumuman akademi kampus lewat sebuah grup Facebook. Kurang lebih kritik tersebut berbunyi, “informasi kok lewat Facebook.”

Tidak saya jawab—karena perangai mahasiswa ‘tuwir’ tersebut tidak mau kalah dalam debat, dan saya tidak mau mendebatkan apa-apa yang saya pikir ngga begitu menggigit macam soal ini—maka saya tekankan lewat tulisan ini. Pikir saya, saya harus memilih saluran dalam menyampaikan informasi! Saya harus bisa mencari saluran mana yang bisa menyampaikan informasi akademi secara luas, dan banyak cara dan wadah yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi, entah itu lewat papan pengumuman, Koran dan yang lainnya, bahkan Facebook pun. Dan melihat traffic pengguna Facebook hingga tulisan ini saya buat masih tinggi, maka Facebook menjadi salah satu pilihan bagi saya.

Apa salahnya memilih Facebook (atau media sosial lain)? Toh, yang terpenting bagi masyarakat informasi adalah informasinya sampai. Rasa-rasanya kalau kita terlalu menutup diri pada kemungkinan penggunaan berbagai macam media informasi, kita akan terkungkung dengan media itu-itu saja (baca; papan dan media konvensional lain).

Salah satu pengumuman saya di dinding grup Facebook "Areg STTQ"

Dan, yap, hasilnya lumayan. Walau tidak dapat meng-cover 100% mahasiswa, paling tidak informasi dapat sampai di antara mahasiswa. Itu adalah satu poin! Karena se-keren apapun media yang digunakan, tidak akan dapat menjangkau 100% masyarakatnya. Pilihan yang membuat kita menang dan bebas menyampaikan informasi kita! [Afif E.]

Mencintai Lagu Kebangsaan Negeri

Baru saja pulang dari acara pelantikan pengurus OSIS, IPNU dan IPPNU MA Mambaul Ulum di Bedanten Kecamatan Bungah, Gresik. Satu hal yang menjadi titik perhatian saya. Saat sesi acara koor menyanyikan lagu Indonesia Raya, TIDAK ADA SATU MURID PUN YANG BERIDRI!!!!!

Barangkali dirijen lupa memberi isyarat agar hadirin berdiri, tapi kan minimal kita harus menghormati.

Ini adalah kali kedua saya menghadiri acara dimana lagu Indonesia Raya dinyanyikan, tapi hadirin banyak yang tidak berdiri. Dengan sedih saya harus mengatakan peristiwa pertama adalah saat saya mengikuti acara OSPEK di kampus saya sendiri. Hemm, 😦

What!!!!!

Analogi pikiran saya langsung menuju ke ajang Piala Dunia yang baru saja dihajat oleh Afrika Selatan.

Suporter Italia dengan bangga menyanyikan lagu kebangsaan mereka. Lah barusan?!!!! bull shit.

Tidakkah kita melihat puluhan ribu suporter berdiri demi menghormati lagu kebangsaan mereka masing-masing!!!! Sementara murid-murid itu duduk (bahkan ketawa-ketiwi ngakak!) hemmm,,,

Barangkali jaman Orde Baru dengan Suharto sudah berakhir, tapi bukan berarti rasa memiliki kita luntur seluntur kultur orde lama.

Sikap hormat Kim Jung-Woo saat lagu kebangsaan Korea Selatan

Apa pelajaran Kewarganegaraan kita sudah sedemikian luntur? Apa memang masih dapat dipertimbangkan kewaganegaraan dihapus dari anak-anak? Hemm, big question.

See, bahkan suporter yang di belakang sono berdiri (kecuali yang reumatik! hahaha 😀 )

Dalam hati kecil dengan agak miris saya berdoa (entah terkabul apa tidak, hehehe) SEMOGA TIMNAS INDONESIA TIDAK AKAN PERNAH MASUK PIALA DUNIA, SEBELUM ANAK-ANAKNYA MENGHARGAI DAN MERASA MEMILIKI NEGERI MEREKA SENDIRI.

Kejem bener bikin doa. Hahahaha 😀

saking keselnya, Bos! 🙂

Merawat Aset Masjid

Tanggal 28 September 2011 yang lalu sempat ikut rapat Ta’mir Masjid “KG”, sebagai observer (waduh, kayak yes banget… hahahaha 😀 ). Materi dalam rapat tersebut antara lain adalah mendengarkan hasil kerja dari bidang-bidang di bawah pengurusan ta’mir, selama dua tahun terakhir.

Yang paling mencengangkan bagi saya adalah pada bagian ASET MASJID. Masjid KG merupakan masjid yang berada di tengah-tengah masyarakat di sebuah ibukota kecamatan. Aset yang dimiliki banyak dan beragam, mulai dari sebidang tanah di daerah perbukitan hingga persawahan dan ladang, serta akses jalan.

Aset-aset tersebut didapatkan oleh Ta’mir Masjid dari wakaf para jamaah yang digunakan untuk kemakmuran masjid. Bagaimana pemanfaatan aset tersebut? Selama beberapa dekade terakhir, aset tersebut dimanfaatkan dengan cara disewakan. Seperti ladang, dan sawah, akan disewakan pada penduduk yang memerlukan, dengan angka sewa yang disepakati bersama.

Bahkan, ada tanah wakaf yang oleh pengurus masjid disewakan kepada penduduk untuk didirikan bangunan permanen macam rumah tinggal. Untuk jenis sewa dengan mendirikan bangunan seperti ini memiliki jangka waktu yang cukup lama, sekitar 20 tahun.

Permasalahnnya dimana? Permasalahan muncul dari kurangnya kesadaran pemahaman masyarakat akan pentingnya HITAM DI ATAS PUTIH! ternyata dari banyak aset yang ada, bukti berupa surat ataupun perjanjian masih banyak yang perlu untuk dibenahi. Hal ini menjadi catatan pengurus Ta’mir Masjid “KG” untuk membenahi pencatatan aset wakaf, agar tidak menjadi masalah dikemudian hari.

Sebagai pamungkas rapat malam itu, sekretaris Ta’mir mengatakan bahwa merawat aset masjid begitu pentingnya. Bisa dilihat bagaimana Pemkot Surabaya kesulitan merawat aset-asetnya. Bahkan orang NU sampai kehilangan aset berupa masjid dan tanah.

Semoga hal ini dapat dibenahi sejak dini! [Afif E.]