Tak Sekedar Emoticon Semata

Mengirim pesan (Sumber gambar: Wiki)

 

Entah bagaimana teknis penjelasan dan rumusannya. Apakah mungkin kalkulus dan aljabar linier bisa menerangkan pola perambatan sinyal telekomunikasi yang membawa data-data cinta.
Jika saja dinalar, maka dari genggaman tangan, telepon genggam akan mengirimkan barisan kalimat mesra dari setiap pecinta. Bersamanya ditambahkan emoticon penuh kasih dan mesra. Eits, tapi dulu. Jangan cepat menyimpulkan saja.
Ternyata yang dikirim oleh pengirim pesan bukan hanya sekedar barisan teks dan emoticon semata.
Buktinya, si penerima sampai tersenyum sendiri membaca barisan kalimat dan emoticon yang diterima. Saya curiga para pakar telekomunikasi salah dalam melakukan kalkulasi. Ada rumus yang belum dimasukkan dalam muatan data yang dapat dibawa oleh sinyal. Tak sekedar emoticon semata. Ada data cinta di sana.
Ah, lantas bagaimana teorinya ya?

OSI Layer (Sumber: Wiki)

Jika lamanya sebuah pesan masuk diperhitungkan dari besaran data yang dibawa oleh carrier atau pembawa data dan derasnya data yang masuk suatu perangkat pembawa data, maka bagaimana cara memasukkan rumus cinta yang dibawa oleh carrier?
Apakah rumus dan barisan angka berbasis biner cukup memberi ilustrasi? Atau… Mungkin perlu gebrakan baru dalam ilmu telekomunikasi. Yang jelas para pakar belum memasukkan hitungan. Lihat saja, si penerima bisa tertawa terpingkal-pingkal. Pasti ada hitungan yang belum masuk rumus telekomunikasi. Karena pesan yang masuk tak sekedar emoticon semata. Ah!
Menarik. Topik penelitian yang perlu digali lebih mendalam. #PLaKkkkk! *tampar keras. [Afif E.]

Iklan

Harga Tas Plastik di Singapura

tas kresek singapura

Tas Plastik asli Singapura πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Jawaban resepsionis hostel tempat saya menginap mengecewakan saya. Katanya, hostel hanya menyediakan air mineral berbayar, tak ada air minum isi ulang. Dan harganya 1,20 dollar Singapura ukuran botol kecil! Apaaaa?! *sambil mulut menganga kaget.
Gila, masak harga air minum botol paling kucrit lebih dari sepuluh ribu. Lama-lama bisa tekor berat. Mengingat saya tidak bisa menahan untuk tidak minum. Apalagi usai bangun tidur.
Namun sedikit agak lega saat rumah makan di lantai bawah hostel jualan air mineral. Sebotol besar seharga 2 dollar Singapura. Ya… Masih mahal sih, tapi lebih mending daripada yang dijual di hostel. Botolnya jauh lebih besar, bisa buat isi ulang beberapa kali.
Tibalah saat membayar. Karena dari tadi saya dengarkan pelayan restoran hanya bercakap bahasa China, saya bertanya dalam bahasa Inggris, β€œHow much is it?” sambil menunjukkan sebotol besar air mineral.
β€œTu dolla… Tu dolla…” two dollartwo dollar… Sambil mengacungkan dua jari.
Mata saya langsung mendelik. Ya Allah… Pelayan perempuan di depan saya tidak bisa banyak cakap bahasa Inggris! Sisanya dia tetap was wus ngomong China walau jelas-jelas saya tidak bisa (baca: belum bisa πŸ™‚ ).
Adegan mengkhawatirkan tiba saat kasir bertanya, lagi-lagi tidak dalam bahasa Inggris penuh. Yang jelas dia bertanya, β€œPlastic?”
Ingatan saya langsung menuju ke adegan kasir minimarket di Indonesia: β€œpakai tas plastik mas?… Kalau iya, nambah 200 rupiah ya…”
Saya menelan ludah. Ini berapa dollar harga tas kresek (baca: tas plastik)???
Uang saku bakal amblas kalo sampek harga nih plastik 2 dollar!
Eh, tapi syukur ternyata gratis ding! Asyikkk… πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€
Maka, buat kamu yang bakal ke Singapura, catat baik-baik: harga tas plastik di Singapura nol dollar alias gratis! πŸ˜€ [Afif E.]

Dicurigai Membuntuti Mahasiswi

Gontai langkahku saat menuruni shelter bus Trans Jogja di dekat Kampus UIN Sunan Kalijaga, 5 Desember 2015. Rasa kantuk dan lelah setelah berjalan kaki di sepanjang Malioboro, Gedung Agung, Benteng Vredeburg, Alun-alun Kidul Kraton Jogja, hingga Plengkungan Nirboyo. Inginku segera tepar dan tidur di kosan teman-teman IKBAL (Ikatan Keluarga Besar Alumni) Qomaruddin di daerah Sapen, Yogyakarta.
Kususuri trotoar sisi barat jalan dimana kampus UIN bersisian. Malam itu pukul 9, sudah lumayan gelap. Kupercepat jalanku, karena memang mata ini sudah mengantuk sekali, ingin segera sampai. Tak kuhiraukan betul, ada dua mahasiswi di depanku.
Barangkali karena terkejut dengan seorang lelaki berjalan di belakang mereka di gelapnya trotoar, mereka malah ikut berjalan semakin cepat. Kali ini sesekali mereka tengok ke belakang, ke arahku. Suasana paranoid menyergap di gelapnya trotoar malam itu.
Alih-alih hanya dua mahasiswi itu yang takut karena curiga dibuntuti, aku sendiri juga paranoid dengan semakin takutnya mereka. Jangan-jangan mereka teriak β€œmaling” padaku, dikeroyok orang mampuslah aku!

β€œMbak… Permisi, saya duluan saja, supaya mbak berdua tidak takut…” kataku.
Keduanya terdiam, lalu memberikan jalan padaku.

Tapi tunggu dulu, jangan bayangkan adegan saya memanggil kedua mahasiswi itu benar-benar ada. Itu hanya hayalan saya saja! Hahaha πŸ˜€
Alih-alih bertindak β€˜heroik’ seperti dalam hayalan saya itu, pikiran usil saya muncul. Semakin mereka berjalan cepat, saya percepat juga langkah saya. Dan gandengan tangan mereka juga semakin erat! Alamak… Macam di sinetron Turki saja. πŸ˜€
Adegan kejar-kejaran ini berakhir begitu mereka berdua sampai di depan gerbang kampus sisi barat yang memang benderang dengan lampu di gerbangnya. Banyak orang juga di situ. Sehingga saya tak jadi menculik mereka. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€
Aduh… Ada-ada saja. Orang manis macam saya kok sampeyan curigai mbuntuti toh mbak… Mbak… πŸ˜€ [Afif E.]

Yang Tidak Benar dari Upin dan Ipin

Serial animasi dari Negeri Jiran, Malaysia, iaitu Upin dan Ipin adalah ihwal animasi yang patot disebut terkenal di Indonesia. Memulai siarannya di tahun 2008, dan mulai terkenal di Indonesia pada tahun 2009, merupakan masa dimulakan kejayaan Upin dan Ipin.

Akan tetapi saya pikir ada yang tidak betul dengan animasi tersebut! Dan sebagai ihwal penonton yang baik, patotlah saya maksudkan beberapa cakapan yang memiliki had berikot.

Di tahun 2009, Upin dan Ipin keluar dengan serialnya di sekolah TADIKA (Taman Didik Kanak-Kanak). Tapi lihatlah, di tahun 2014 ini, dimana SBY sudah pada tahun terakhir jabatan, masih saja mereka duduk di TADIKA??? Apa pasal! Tak patotlah mereka tetap duduk di TADIKA. Jika mereka sudah duduk di bangku nol besar pada tahun 2009, maka tahun 2014β€”yang berarti lima tahun kemudianβ€”Upin dan Ipin harusnya sudah duduk di bangku kelas 5 Elementary School alias SD. Macem mane nih… *dengan nada Upin dan Ipin.

Dengan kata lain, Upin, Ipin, Ehsan, Mei Mei, Fizi dan teman-temannya satu kelas tidak naik kelas! Dan selama lima tahun mereka tinggal kelas teros???? Tidakkah ini hal yang tidak adil???? Betapa kasihan mereka, budak-budak sekelas tinggal kelas. Kasihan kasihan kasihan….. *dengan nada Upin dan Ipin

Kasihan Opa, kasihan Bapak dan Emak mereka. Sudah membayar SPP tiap tahun, tapi tak juga diluluskan oleh Cik Gu Jasmin. Kasihan Opa… *dengan nada Upin dan Ipin [Afif E.]