KH. Sholeh Darat, Syarah Al-Hikam, Kartini, dan Debat Kusir Tentang Agama

sholeh darat

Panjang betul judul artikel ini. Ah, tapi biarlah. Semoga tidak mengurangi pembahasan tentang buku “Syarah Al-Hikam”, sebuah buku terbitan Januari 2016 ini. Dikatakan baru karena buku berbahasa Indonesia ini adalah penerjemahan dari karya KH. Sholeh Darat, seorang ulama Nusantara. Ditulis pada tahun 1868, karya aslinya berbahasa Jawa dengan aksara Arab-Pegon (dalam tradisi pondok yang dikenalkan pada saya, huruf adaptasi ini disebut dengan huruf Pego). Sebuah karya tulis untuk mengejawantahkan Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah.
Kerisauan RA Kartini
KH. Sholeh Darat adalah seorang ulama, yang dalam banyak riwayat dikatakan menjadi guru dari RA. Kartini. Perempuan yang disebut tokoh emansipasi wanita itu. Saya masih ingat saat seorang teman membuat status di Facebook-nya dengan seenaknya memenggal keterangan, dan mengatakan bahwa Kartini memberontak pada agamanya sendiri, yakni Islam. Padahal dalam kelanjutan sejarah, Kartini yang risau atas keinginannya untuk paham makna dari Al-Quran, selanjutnya mencari guru yang paham agama, kemudian menjadi tercerahkan oleh KH. Sholeh Darat.
Tak hanya Kartini yang tercerahkan, selepas dialog dengan istri dari Bupati Rembang itu, mbah Sholeh Darat memiliki tekad kuat untuk menerjemahkan isi kandungan Al-Quran dalam bahasa Jawa. Sesuatu yang pada masa itu belum banyak dilakukan. Demikian penjelasan penerjemah dalam bahasa Indonesia.
Debat Kusir Tentang Agama
Dalam Syarah Hikmah ke-68, KH. Sholeh Darat memberikan penjelasan panjang lebar. Penggalan yang ingin saya sampaikan adalah:

“… Terkadang orang yang taat itu disertai cobaannya seperti ujub dengan amal serta bersandar dengannya, dan MENGHINA-HINA ORANG YANG TIDAK TAAT, dimana kesemuanya menjadi sebab terhalangnya pengabulan amalnya, atau tidak diterimanya amal.” (hal. 109 – 110).

Bagian “menghina” sengaja saya tulis kapital. Untuk menjadi pengingat pada kita semua, betapa gampang kita dalam menyampaikan hujatan, hinaan, pada orang seagama namun dengan pemahaman berbeda.
Pada akhirnya saya setuju dengan kalimat bapak saya yang mengatakan lebih baik bertetangga non Muslim, daripada bertetangga dengan Muslim namun berbeda paham. Karena pada praktiknya perbedaan cara ibadah yang akan selalu dipelintir dan diperdebatkan. Wis lah! (Sudahlah!).
Sangat urgen-kah setiap hari menularkan kebencian atau trik menyerang balik di media sosial tentang agama? Ataukah yang perlu kita tularkan adalah pemahaman akan cara beragama itu sendiri? Apakah kita yang punya kewenangan menilai amal ibadah orang lain? Apakah kita sudah punya kavling di Surga, sehingga berani menuding-nuding pada orang yang berbeda paham? Ataukah sangat perlu “tiap hari” menyerang balik saat dihujat? Silakan baca buku ini. Bisa menjadi salah satu masukan yang bagus. It’s a must to referred. [Afif E.]

Informasi tentang buku:
Judul: Syarah Al-Hikam
Penulis: KH. Sholeh Darat
Penerbit: Sahifa

Maaf, Kembaliannya Boleh Disumbangkan? Nggak, Kembalian Saja!

Jawaban “Kembalian saja” akhir-akhir ini selalu saya katakan (dan akan selalu) pada kasir di minimarket dengan modus serupa, walaupun seringnya si kasir cemberut. Modus meningkatkan keuntungan dengan berdalih sumbangan. Beberapa penulis artikel dengan ide serupa telah mendahului saya. Salah satunya dengan alasan bahwa “uang sumbangan” itu akan diberikan pada beberapa lembaga agama yang berbeda. Tapi saya melihatnya dari segi yang berbeda. Saya melihatnya dari segi CSR (Corporate Social Responsibility).
Tulisan saya ini akan mengandung sedikit (atau bahkan tidak ada sama sekali) referensi dan rujukan. Jadi harap jangan percaya sama sekali dengan tulisan ini. Silakan riset lebih mendalam! 🙂
Baik, kita kembali lagi pada urusan kembalian recehan yang selalu diminta oleh beberapa minimarket. Uang sumbangan recehan ini mengganggu saya. Pertama, sebenarnya harga barang yang ada di minimarket tidak kalah mahal dibandingkan kelontongan kecil di sekitar kita. Malahan sebenarnya toko-toko kecil menyediakan harga yang jauh lebih murah! Buktikan sendiri! Dari sini, tentu dapat kita bandingkan keuntungan yang didapat. Meski, tentu saja, kita akui mereka pintar dengan menciptakan toko yang adem, ber-AC, sehingga membuat kita nyaman untuk ngadem di tengah cuaca panas akibat El-Nino seperti hari-hari ini. 🙂
Kedua, yang agak mengganggu saya adalah uang sumbangan itu disumbangkan atas nama minimarket tersebut. Maka saudara-saudara, tidakkah mereka memakai uang “sumbangan” itu dengan bungkus CSR!
Sepaham saya yang orang awam ini, CSR kan seharusnya bersumber dari keuntungan sebuah institusi bisnis, dan bukan dari sumbangan kemudian diberi nama “kepedulian perusahaan” (baca: CSR) (?) mari kita pelajari lebih jauh soal ini. Dan beri masukan via komentar di bawah tulisan ini. 🙂
Mungkin pembaca sekalian akan bilang saya pelit dan sebagainya. Terserah. Saya sendiri sudah memperhatikan beberapa komentar “bully” yang diberikan pada netizen yang mengungkapkan ide serupa dengan saya. Ada yang bilang “pelit” lah, “nggak ikhlas” lah. Dan lain sebagainya.
Baik. Mengenai pendapat yang berbeda dengan pendapat saya, monggo. Silakan. Saya tidak akan menyerang balik. Ini adalah ide saya. Dan orang yang berbeda tidak akan saya serang balik. Tidakkah adil dan “demokratis jika kita saling menghormati pendapat.
Oiya, mengenai yang suka komentar “bully” ikhlas atas “uang recehan sumbangan” itu, sini sini… Inbox ke email saya (cak.afif@gmail.com). Akan saya beri alamat Panti Asuhan di sekitar rumah saya. Insyaallah “Keikhlasan” anda akan kami salurkan dengan amanah. Tertarik? 🙂 [Afif E.]

Surat-surat dan Sikap Anggun Cipta Sasmi: Apa Dia Punya Solusi?

Salah satu sikap kontroversial dimunculkan oleh penyanyi berkewarganegaraan Perancis, Anggun Cipta Sasmi. Bermodal kelahiran dan berdarah Indonesia (baca: Jawa), ia menyatakan sikap terbukanya atas putusan hukuman mati di Indonesia. Sikap yang ia tunjukkan berupa surat online pada Jokowi dan warga Indonesia secara umum.
Beberapa kali dalam suratnya ia menekankan haknya selaku berdarah Indonesia, untuk bersuara menyatakan pendapatnya tentang betapa tidak adil adanya hukuman mati di Indonesia. Karena tidak sesuai dengan deklarasi kemanusiaan. Tidak hanya itu, Anggun juga berusaha memberi tahu bahwa dirinya juga seorang ambassador dari lembaga dunia. Sehingga mungkin dengan modal tersebut dia merasa suaranya harus ia sampaikan.
Beragam tanggapan kontra dengan Anggun disampaikan oleh banyak netizen. Barangkali tulisan saya ini menjadi tulisan kesekian yang menambah daftar panjang yang kontra dengan opini dan perasaan Anggun. Mari kita kuliti satu persatu kenapa argumen Anggun begitu lemah.
Pertama, Anggun berkali-kali menekankan pemilikan darah Indonesianya. Mohon maaf, masihkah anda Indonesia? Ratusan ribu orang Jawa di Suriname dan Belanda, mereka bukan Indonesia! Mereka memang berdarah etnis yang ada di Indonesia, tapi tetap saja, mereka bukan warganegara Indonesia. Lantas Anggun siapa? Anggun adalah warganegara Perancis. Dan dia bicara dengan lantang untuk membela temannya sesama “ukhuwah-Perancisiyah”-nya. Serge Atlaoui, warga Perancis, adalah pesakitan gembong narkoba dengan status hukuman mati. Maka Anggun berbicara sebagai seorang Perancis, seseorang dari pihak diluar Indonesia.
Kedua, dia menekankan betapa hukuman mati tidak manusiawi. Lantas, yang manusiawi itu bagaimana? Is it selling drugs to kids are humanity enough? mari berpikir menyeluruh, tidak menjadi orang yang menilai dengan cara setengah-setengah. Walaupun berkali-kali ia menandaskan bahwa itu bukan cara yang tepat untuk mengurangi peredaran narkoba, mungkin Anggun harus membaca koran terbaru.
Apa yang terbaru? bahwa gembong narkoba jika hanya dipenjara, mereka tetap bisa berbisnis secara leluasa! Catat itu. Betapa manusia Indonesia masih banyak korupnya. Sipir penjara kita (bahkan mungkin KALAPASnya, maaf pak!) masih gampang disogok untuk memfasilitasi para gembong itu! Barangkali inilah lantas menjadi pertanyaan baru bagi Anggun. Apa peran Anggun sebagai seorang Ambassador alias duta besar dari lembaga dunia? Sebagaimana klaim dia dalam suratnya.
Apa peran dia dengan status itu untuk menekan peredaran narkoba di Indonesia (bahkan mungkin dunia) dengan status duta besarnya itu? Belum nyata, kan? Bikin itu dulu menjadi nyata, mbak…
Anggun boleh-boleh saja menyatakan pendapatnya untuk protes hukuman mati. Tapi dalam surat-suratnya, apa solusi dia? Tidak ada. Hanya mengungkit-ungkit status duta besarnya, darah Indonesianya, dan “rasa kemanusiaan”-nya. Tapi apa usulan solusi dari dia?
Ah, lantas saya tau, Anggun Cipta Sasmi adalah seorang selebriti. Status dan ketenarannya harus tetap dipertahankan. Maka dengan menumpang isu yang ramai pemberitaan, adalah upaya yang bagus untuk mempertahankan ketenaran dan order manggungnya. Iya, kan?
Apakah saya seorang Anggun-Haters? Silakan tanya orang yang dekat dengan saya untuk status itu. Karena saya cukup mengerti untuk membedakan masalah dan pembahasan. Kalau Anggun boleh berbicara lantang menyampaikan pendapatnya, maka saya juga dong.
Saya yakin Anggun yang seorang Perancis dan mengakui kebebasan berpendapat, tentu tidak akan tersungging dan tersinggung dengan pendapat saya. She has freedom to speak, me too. Kalo Anggun sampek hari ini masih tersungging dengan berbagai pendapat kontra terhadapnya, maka jangan jadi orang Perancis lagi, mbak. Pulang saja ke Jawa. 🙂 [Afif E.]

Link untuk surat Anggun ke Jokowi (1), dan suratnya ke warga Indonesia (2)
1.http://www.tempo.co/read/news/2015/04/23/219660247/Anggun-C-Sasmi-Bikin-Surat-Terbuka-ke-Jokowi-Apa-Isinya
2.http://www.tribunnews.com/seleb/2015/05/04/anggun-c-sasmi-tulis-surat-kedua-tetap-menolak-hukuman-mati?page=3

Tak Ada Salahnya Jokowi Berbahasa Indonesia dalam KAA

Helatan Konferensi Asia Afrika (KAA) mungkin sudah usai saat saya menulis artikel ini. Namun kegelisahan saya muncul ketika ada satu “postingan opini dangkal” di media sosial dari salah seorang pengguna, yang mengatakan bahwa betapa Joko Widodo memiliki kemampuan dangkal dalam berbahasa Inggris, walaupun itu hanya dalam berpidato di forum internasional setingkat KAA. Saya pikir, apa salahnya berbahasa Indonesia?
Perlu dicermati, ketika dibuka pertama kali pada tahun 1955, Sukarno membuka forum KAA secara resmi menggunakan bahasa Inggris. Tapi apa tanggapan media barat waktu itu? Mereka menulis bahwa pidato bahasa Inggris Sukarno memiliki rasa (baca: logat) khas Jawa! (kisah lengkap mengenai KAA tahun 1955, baca “Tonggak-tonggak di Perjalananku” karya Ali Sastroamidjojo). Maka ketika muncul opini berbungkus postingan di media sosial tersebut muncul, saya malah tertawa tergelak dan tergulung-gulung. 😀 loh, kenapa? Ya iyalah, itu menandakan, sampai kapanpun Presiden Indonesia, siapapun penjabatnya, akan selalu di-bully kemampuan bahasanya saat berpidato di forum KAA.
But come on baby, it is a politic stage! Forum KAA yang baru dihelat adalah panggung politik. Maka pilihan penggunaan bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa pengantar dalam tiap pidatonya adalah juga bagian dari strategi politik, minimal dari segi penggunaan bahasa pengantar.
Kenapa tidak boleh menggunakan bahasa Indonesia, toh setiap delegasi negara memiliki fasilitas interpreter. Fasilitas Interpreter ini sejak tahun 1955 sudah selalu ada dalam forum ini.
Malah menurut saya pribadi, pidato bahasa Indonesia milik Jokowi lebih Ok ketimbang pidato bahasa Inggrisnya Nurhayati Ali Assegaf, anggota DPR, di forum antar parlemen di forum KAA pula, yang banyak ‘gratul-gratul’nya (baca: kurang fasih dan lancar).
Mungkin bahasa Inggris penting, namun mari kita lihat konteks acaranya. Tidakkah kita juga perlu mengenalkan bahasa Indonesia. Mari kita tanyakan pada Pak Ompi Soedjarwo. Loh, siapa Pak Ompi Soejarwo? Sudah, cari di Google sana! 😀 [Afif E.]

A Weird and Terrified Thinking About Islam

Todays perhaps still the most spoken topic is about Islam and muslim itself. Yeah, I will write in this article mostly about that. Perhaps I am muslim, so some of you will have skeptis thinking about this article.
It is Charlie Hebdo office assassination that once again bring Islam in international worst news about. Once again, another muslim did it!
I introduce you all to a profession called ‘Marbot’. A profession that clean and keep mosque ready for praying every day for another muslim. In my Kampung, marbot usually done all-day-all-hours job. Imagine, muslim pray five times a day. And each time, Marbot must ensure that the floor of the mosque keep clean along that time. Along that time brother… A little bit difference with an office boy of supermarket or kind of that. BUT, they were paid cheaply, since they work till today. Did not same like the office boy who has less work time than a Marbot.
During my surfing di Google, I found a sceptical opinion that Charlie Hebdo assassination was done by ALL muslim around the world. My question is, ARE YOU SURE? Have you done a survey? Or you are a kind of frog inside of a dark box? With no knowledge of how so big the world than your box is?
Please, be open minded. Don’t too judge that a particular muslim doing assassination doesn’t mean all muslim around the world do that! See that Marbot that I wrote above? Are they even understand where is Paris? Where is Charlie Hebdo’s office? I don’t think that they knew it. So, please, don’t generalized that all muslim do that. Let’s see it as terrorism matter itself, and not bring a bigger part of muslim. [Afif E.]

MMM Jos!: Bagaimana Hukum Mengikutinya?

Suatu sore seorang rekan saya yang cantik bertanya pada saya tentang hukum MMM. Saya jawab, saya tidak tahu bagaimana hukum MMM, baik secara hukum tata kenegaraan maupun hukum agama. Saya sendiri saja tidak tau apa kepanjangan dari MMM.

Saya jawab pada rekan saya yang cantik itu, bahwa saya kurang begitu setuju dengan MMM. Berangkat dari situ saya tidak turut dengan program MMM yang katanya dari Rusia itu. Paling tidak hingga saya menulis artikel ini. (Wow???? Berarti besok-besok bisa jadi ikut???? Saya jawab, siapa yang tau jalan tuhan.) 😀

Saya sendiri diyakinkan oleh seorang teman yang lain. Kata teman saya, “ikutlah MMM, uang kita akan berlipat ganda.” Kurang lebih demikian kata teman saya itu. Agar tidak membingungkan, teman saya yang kedua ini kita sebut sebagai B.

Teman saya si B ini meyakinkan saya bahwa MMM memiliki sistem yang otomatis dan diacak oleh sistem komputer. Sebagai contoh, dihari ini oleh sistem kita diminta untuk transfer sejumlah uang ke fulan. Keesokan harinya, kita dikirimi oleh another fulan sejumlah uang. Demikian “transaksi” MMM ini terus berjalan. Dan dalam waktu tertentu uang kita akan kembali dengan lebih banyak.

Saya katakan pada teman saya si B, “Lalu apa bedanya dengan arisan? Kan sistem yang kamu ceritakan kita hanya saling ‘bertukar’ uang…”

Jawab teman saya si B, “Sistemnya saling membantu. Kita membantu orang, kita akan dibantu.”

Tanya saya lagi, “Lalu katamu uang kita akan bertambah, dari mana sumber tambahan itu? Toh kita hanya saling ‘bertukar’ uang…”

Sampai disitu teman saya si B hanya menjawab, “Itulah yang saya tidak tau.” Aduh! Hehehe…

Tulisan saya ini awalnya saya stop sampai paragraf di atas. Namun, tiba-tiba seorang guru saya menanyakan topik diskusi antara saya dan rekan saya yang cantik. Saya jawab, bahwa kami berdiskusi tentang MMM. Maka nyeletuklah uraian dari guru saya tersebut tentang MMM. Dan saya tambahkan saja untuk melengkapi informasi dalam tulisan ini.

Guru saya tersebut bercerita, bahwa beliau mengetahui betul nasib malang seorang yang ikut MMM. Dengan kata kasar, korban dari MMM. Sampai jatuh miskin.

Sampai di sini saya terbelalak. Loh? Bukannya MMM barusan saja ada, kok sudah ada korban???? Ternyata saya salah, MMM sudah ada beberapa tahun terakhir. Guru saya sendiri juga heran, kok MMM kembali berkibar di dunia pertemanan biru (baca: Facebook). Guru saya juga mengatakan, ia juga dulunya dibujuk orang yang menjadi korban tersebut agar ikut MMM, dengan berbagai iming-iming. Tapi sekarang kenyataannya??? Kok malah ia jatuh miskin. Benar-benar miskin teman-teman, tandas guru saya itu.

Sebagai penutup tulisan ini, saya sekali lagi tidak bermaksud apa-apa. Tidak bermaksud membenci, tidak ada niatan menggurui, tidak ada niatan menghalang-halangi orang untuk mencari rejeki. Saya hanya teringat kisah para korban MLM, korban Amalilah (untuk yang ini saya kurang tau ejaannya, Amalilah atau Amalillah, anda bisa searching), begitu menggebu-gebu mereka mengikuti program, meyakinkan orang agar turut pula, tapi mereka menjadi korban jua. Mungkin di belakang sana ada yang menyanggah, “Loh, MMM itu gak sama dengan MLM… benar-benar beda….” Jawaban saya, iya, monggo. Whatever you say, apapun katamu, saya iyakan saja. Akan tetapi, tuh, buktinya cerita dari guru saya.

Apakah saya terlalu tidak butuh duit? Sehingga kayaknya saya sok suci dan sok gak mau ikut MMM? Saya jawab, saya butuh. Tapi sekali lagi, saya ragu dengan cara yang demikian itu (MMM, red). Dan dalam satu nasihat yang pernah saya pelajari di bangku sekolah, “YANG MENIMBULKAN RAGU WAJIB DITINGGALKAN.” Bukankah demikian? [Afif E.]

Menggugat Konsep Pengembangan Organisasi

Tiba-tiba ingin menuliskan ‘gugatan’ terkait istilah dan dengungan orang-orang terkait dengan kata-kata semacam ‘pengabdian.’ Tentu teman-teman pembaca sering mendengarkan kata ini. Sebuah kata yang kurang lebih berarti organisasi di atas kepentingan pribadi. Sebuah konsep mulia, saya yakin jika konsep ini akan benar-benar mengikat semua orang yang memiliki keanggotaan di dalamnya.

Namun dalam tulisan ini saya ingin menggugatnya. Sebuah gugatan ringan, saya pikir. Kenapa saya bilang ringan? Karena pada dasarnya konsep pengabdian kepada sebuah organisasi tentu sangat baik, mohon dicatat, SANGAT BAIK. Akan tetapi organisasi apakah yang dikatakan benar-benar berhasil? Apakah organisasi yang banyak saldo-nya di tiap-tiap akhir masa kepemimpinan? Ataukah organisasi yang memiliki banyak cabang? Atau barangkali organisasi yang punya banyak kader dan anggota?

Saya pikir semua definisi yang diajukan dalam konsep-konsep di atas mengenai organisasi yang baik sudah betul, dan BAIK. Namun apakah ukuran saldo, banyaknya cabang, serta anggota menjadi pertanda yang benar-benar hakiki, sementara anggotanya banyak yang miskin dan tidak berkembang?

Temuan menarik dituliskan oleh A. Fuadi, penulis trilogi Lima Menara, dalam bukunya Ranah 3 Warna. Dalam buku serial kedua tersebut, Fuadi mengungkapkan pengalamannya selama mengikuti program pertukaran pemuda di Kanada. Fuadi, melalui tokoh Alif, mengungkapkan bahwa rumah-rumah yang ada di kota kecil di Kanada, mayoritas penduduknya tidak pernah mengunci pintu rumahnya. Kok bisa? Kenapa tidak dikunci? Apakah tidak takut kemalingan? Rupanya di kota kecil tersebut angka kriminalitas adalah mendekati nol persen. Hal ini terjadi karena penduduknya tercukupi. Dalam bahasa keseharian mungkin kondisi tersebut di Indonesia disebut sebagai gemah ripah loh jinawi, dimana semua kebutuhan warganya tercukupi. Saking meratanya kecukupan itu, hingga semua warganya merasa tidak perlu lagi mengunci rumahnya. Atau mungkin malah tidak perlu lagi mencuri, wong semua sudah tercukupi.

Lalu kenapa konsep itu ‘terlaksana’ di Kanada? Kenapa Indonesia yang punya jargon itu malah di ujung lain dunia yang terlaksana konsep mulia itu? Ah, bakal ceritanya.

Lain cerita namun masih dalam bingkai pengabdian. Ungkapan ini berasal dari dosen saya di Teknik Elektro ITS. Beliau mengungkapkan kenapa dirinya begitu getol dalam meneliti dan melakukan kegiatan pengabdian pada masyarakat. Dalam ungkapannya, konsep sederhananya adalah beliau harus mengembangkan potensi dirinya dengan begitu institusinya (ITS) akan menjadi meningkat pula nilainya. Baginya, peningkatan daya jual institusinya adalah berbanding lurus dengan peningkatan karier pribadinya. Mmmmm, masuk akal.

Maka marilah kita meraba sejenak. Kita sering dicekoki istilah pengabdian, pengabdian, dan pengabdian. Namun apa timbal baliknya bagi kita anggota sebuah organisasi? Non sense, kadangkala konsep mulia itu dipermainkan oleh beberapa oknum demi kepentingannya sendiri. Konsep mulia yang dipermainkan itu seolah membuat mereka lupa bahwa anggota mereka menjadi lapar dan tidak memiliki masa depan pribadi yang jelas. Konsep dosen saya tersebut cukup sederhana, dengan peningkatan karier pribadinya akan meningkat pula nilai jual institusinya. Maka bisa kita analogikan, harusnya organisasi (dan pemimpin) meningkatkan kemakmuran anggotanya terlebih dahulu sebelum meminta pengabdian apalagi kecintaan total dari anggota. Dalam hal apa kemakmuran ini diukur? Secara spesifik ukuran ini harus dibuat per tempat, dan setiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda.

Sekali lagi dengan manusia yang termasuk dalam keanggotaan sebuah organisasi harus ‘dimakmurkan’ terlebih dahulu. Barulah konsep ‘pengabdian’ dan nasionalisme dengan kecintaan total akan berjalan dengan sendirinya. Bukan dengan pencekokan istilah dan retorika.

Ah, kenapa saya jadi nulis bahasan yang berat kayak gini??? Au ah gelap. Walaupun saya bukan organisatoris yang baik, bukan aktivis yang baik, bukan pula seorang humoris yang baik, namun satu hal yang penting, pengurus yang kadaluarsa harus segera diganti. Kalau tidak, lama-lama baunya kurang sedap. 😀 [Afif E.]