Dua Hal Paling Inspiratif di Dunia

Pernah mendengarkan wawancara JK Rowling dengan Oprah Winfrey? Dalam videonya di YouTube, Rowling sampai harus menyewa sebuah kamar hotel hanya untuk inspirasi dalam menyelesaikan Harry Potter-nya. Atau serupa dengan Ian Flemming dalam menyelesaikan James Bond-nya. Ian menyewa sebuah rumah khusus untuk menuliskan inspirasi cerita James Bond. Sedangkan di Indonesia sendiri, ada musisi Dewiq, yang menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa ia harus melihat laut untuk dapat inspirasi menuliskan sebuah lagu. Rasanya otaknya mati jika tidak melihat laut, begitu ungkapnya.

Lalu bagaimana dengan kita? Kaum jelata nan papa (lebay dikit, hehehe). Untuk saat ini saya cukup memiliki dua hal ini. Dua hal yang membuat inspirasi saya, mungkin anda juga meledak-ledak. (lebay lagi. Hehehehe).

Apakah dua hal itu? Here it is. Silakan dibaca. (lebay, lagi. Hehehehe ).

Nomor wahid adalah kamar kecil. Loh, kok kamar kecil? Iya, yang saya maksudkan adalah ketika di kamar kecil sambil (maaf) buang air besar. Tidakkah saat itu adalah saat-saat paling menginspirasi kita? 🙂

Sambil melakukan aktivitas (maaf) membuang “buangan tubuh”, seolah inspirasi, imajinasi, motivasi, harmonisasi (Vicky Prasetyo 😀 ), keluar semua dan merasuki kepala kita.

Maaf-maaf saja, mungkin bagi sebagian anda akan membaca tulisan ini sambil bilang, “nih orang gebleg atau gimana ya… beginian kok ditulis.” 😀

Biarin. Tapi kenapa sampai saya menuliskan ini adalah karena pengalaman ini tidak saya alami sendiri. Paling tidak ada teman-teman di sekitar saya yang juga mengalami serupa.

Ok. Selanjutnya adalah yang nomor dua. Apakah itu? Yang kedua adalah saat saya sholat. Klise memang, karena saya muslim. Atau mungkin bagi anda pembaca yang bukan muslim bisa berbagi cerita apakah hal serupa akan terjadi ketika anda beribadah? Mohon maaf, mungkin ada pembaca yang atheis, tentu anda tidak akan bisa merasakan hal serupa. (menirukan Dhonny Dirgantoro dalam 5 cm-nya).

Saat-saat sholat, semua muncul. Mulai dari ide, inspirasi, motivasi, kegundahan. Ya, kan? Dan kenapa saya menuliskan pula bagian ini sebagai nomor dua? Sekali lagi, ternyata hal ini juga dialami teman-teman saya.

Guru saya pun berkata demikian. Saat kita sholat, semua hal akan merasuk dalam ingatan kita. Mungkin sholat yang demikian perlu dipertanyakan kekhusyu’annya. Tapi toh belajar menjadi khusyu’ adalah sebuah perjalanan waktu, dan usaha yang lebih keras. 🙂

Lalu bagaimana dengan anda? Apa yang mengispirasi bagi anda? Apakah sama dengan saya?

NB: ini ngomong apaan sih????? 😀 😀 😀 [Afif E.]

Tantangan Film Novel

Beberapa film tanah air saat ini sudah banyak yang mendasarkan ceritanya dari novel laris karya anak negeri sendiri. Sebut saja beberapa judul film seperti Eiffel… I’m In Love, Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2, Negeri 5 Menara, hingga 5 cm. Dari beberapa judul yang saya sebutkan tersebut, beberapa diantaranya berhasil menerjemahkan imajinasi pembaca novelnya ke dalam bentuk gambar bergerak.

Eiffel_I'm_in_Love

Namun demikian tidak lepas juga terdapat beberapa film tersebut yang kurang greget dan kurang begitu berhasil dalam menerjemahkan imajinasi pembaca novelnya dalam bentuk film. Hal ini bisa dikatakan tantangan tersendiri bagi sineas. Bagaimanapun pembaca novel yang difilmkan—dan umumnya best seller—merupakan konsumen pertama yang mengilhami cerita dalam bukunya. Membaca dan berimajinasi dari guratan khayali penulisnya. Berikut adalah beberapa pandangan terkait tantangan dalam memfilmkan novel.

428px-PosterFilmKCB

Mari kita bicarakan Eiffel… I’m in Love terlebih dahulu. Buku yang ditulis Rachmania Arunita ini begitu booming di jamannya. Aroma AADC (Ada Apa dengan Cinta?) masih terasa kental di dalamnya, masih satu genre, ABG. Bukunya dibedah habis-habisan oleh MTV dan media massa remaja kala itu. Namun begitu difilmkan? Ribuan penonton merasakan kecewa yang mendalam karena banyak cerita didalamnya begitu banyak yang dipotong secara kasar. Mungkin saja produsernya takut jika film tersebut dibuat sangat panjang, tiket nggak akan laku. Tapi toh kenyataan berkata lain. Hingga akhirnya mucullah versi film Eiffel.. I’m In Love (Extended). Tambahan Extended di belakang judulnya bukan berarti tuh film ada sambungannya, bukan. Justru film tersebut sebenarnya versi asli yang tidak dipotong sama sekali.

Ayat-Ayat_Cinta

Cerita sedikit berbeda dengan film Ayat-ayat Cinta (AAC). Berangkat dari buku dengan judul serupa, karya Habiburrahman El-Shirazy tersebut dirasakan kurang mengena atmosfernya. Kenapa? Ekspektasi penonton sudah menagih ingin merasakan nuansa Mesir di dalam film tersebut. Namun yang ada hanya Scene Semarang dan beberapa kota tua yang disulap secara digital. Cukup menggantikan, namun atmosfer tidak didapatkan. Terlebih cerita dalam film tersebut juga agak berbeda dari bukunya.

200px-Menara_5_Negara

Beda AAC, beda pula Ketika CInta Bertasbih, baik sekuel pertamanya dan sekuel keduanya. Diciptakan dari buku yang penulisnya sama (Habiburrahman El-Shirazy), ketiga film ini jauh berbeda. Pada KCB 1 penonton diberi suguhan Mesir dan Al-Azhar. Sedangkan pada KCB 2 cerita yang disuguhkan begitu kuat walaupun seperti KCB 1, pemainnya tidak banyak yang dikenal sebelumnya. Namun dua film yang terakhir ini cukup sukses menerjemahkan bukunya. Pemotongan scene masih ada di kedua film ini, namun cukup halus dilakukan oleh sang sutradara. Tidak seperti Eiffel… I’m in Love yang cukup kasar dalam pemotongan scene.

Pemotongan scene secara kasar juga ditunjukkan dalam film Negeri 5 Menara. Cerita khayali yang dibangun apik oleh A. Fuadi dalam novelnya, menjadi adegan-adegan garing dalam layar film. Kalau mau dibilang, sangat kasar dan amat disayangkan, novel yang demikian indah dipotong sekasar itu. Pemotongan yang dilakukan dalam film ini sejurus dengan yang dilakukan dalam film Eiffel… I’m In Love.

Cerita sedikit berbeda ada di Film 5 CM. Film besutan Rizal Mantovani ini secara baik memotong scene-scene yang dirasa memboroskan budget film. Walaupun dipotong dan agak berbeda dengan novelnya, film ini cukup memberi obat bagi khayalan pembaca novel karya Donny Dhirgantoro itu, yakni alam Mahameru. 

Dari beberapa film tersebut, mungkin perlu dipertimbangkan pemotongan yang dilakukan. Sekali lagi buku-buku yang sudah laris di pasar, sudah memiliki ranah khayali dari semua pembacanya. Pemotongan adegan secara kasar akan membuat filmnya jadi garing. Penyesuaian cerita seperti yang dilakukan dalam KCB 1 dan 2 serta 5 cm mungkin dapat dijadikan pertimbangan.

Ah…. Jadi pentonton film kok rewel banget. Kenapa gak ditonton aja! Tinggal nonton kok repot amat! Hehehehe ….. asal gak bikin garing ya ditonton dong…. Semoga semakin maju perfilman Indonesiaku [Afif E.]

SABRA DAN SHATILA SEPERTI LEBIH RENDAH DARI RUMAH JAGAL SAPI SAJA

Membaca ‘Bumi Cinta’ Habiburrahman El Shirazy, membukakan mata saya tentang adanya peristiwa pembataian bernama Sabra dan Shatila. Sebuah peristiwa yang bahkan saya baru tau, padahal peristiwanya terjadi tahun 1982! Betapa saya memang sangat buta dan gelap.

Saat membaca bagian Sabra dan Shatila pada ‘Bumi Cinta’-nya Kang Abik, saya tidak tau bagaimana rupa kejadian itu sebenarnya. Sebatas kejadian mengerikan yang Kang Abik ceritakan dalam deskripsinya.

Baru pagi ini (30/11/13) saya cari di Google apa itu Sabra dan Shatila. Satu kata saya, seperti rumah jagal saja. Tapi yang digorok dan darah yang berceceran di jalanan satu area itu bukanlah dari hewan ternak, itu adalah MANUSIA!

Massacre_of_palestinians_in_shatila

Korban Pembantaian Sabra dan Shatila (Sumber: Wikipedia)

Saya jadi mikir-mikir, dari kejadian pembantaian yang begini kejam dan yang melakukan seperti kerasukan setan, kok bisa-bisanya di belahan dunia lain ada orang dungu yang selalu protes atas nama pecinta binatang! Bisa-bisanya mereka memprotes umat islam menggorok ratusan ribu binatang ternak saat Idul Adha, atas nama PEMBUNUHAN BESAR-BESARAN. Apa mereka tidak melek, di depan mata mereka ada peristiwa SABRA dan SHATILA yang kegilaan pelakunya tak ada bandingan dan apa-apanya dibanding dengan menggorok binatang ternak yang juga dilakukan oleh bangsa mereka sendiri.

Saat saya membaca Wikipedia, kasus pembantaian ini masih belum berujung (entah apakah kasus ini benar-benar akan berujung dengan sikap tak mau tau pihak Barat?). Israel yang dilihat dunia internasional sebagai pelakunya tetap melenggang.

Bayangkan, darah dan isi otak berceceran, mayat anak-anak dan orang tua bergelimpangan, para wanitanya semua dibunuh setelah diperkosa beramai-ramai oleh setan-setan berwujud manusia itu. Mana dunia Internasional? Mana PBB? Ah, ternyata teori PBB tentang penjaga keamana dunia hanya omong kosong belaka. Mulut pejabat-pejabatnya ternyata tersumpal celana dalam kaum Zionis.

Rupanya bagi mereka SABRA DAN SHATILA SEPERTI LEBIH RENDAH DARI RUMAH JAGAL SAPI SAJA!  [Afif E.]

Referensi:

Wikipedia tentang Sabra dan Shatila

Tayangan terkait Sabra dan Shatila

Mata Uang itu Bernama “Permen”

Paling kesal jika kita pergi ke minimarket, kemudian si kasir mengatakan, “Maaf ya Mas, kembaliannya yang 300 perak diganti permen.”

Pernah kalian mengalami hal serupa? Herrrgggghhhhgg… nggak cuma bikin gigit jari, tapi juga bikin kesal. Barangkali akan ada yang menyanggah, kenapa saya sampek harus menulis soal uang recehan rupiah yang diganti dengan permen. Bukan masalah mata duitan, bukan pula masalah tidak mau merelakan uang ratusan rupiah.

Kata adek saya saat mencoba permen kembalian tersebut, “enak Mas permennya.” Hadew… itu kan adek saya yang masih Madrasah Ibtidaiyah (sederajat SD). Tapi konsumen kan bukan cuma anak Madrasah Ibtidaiyah yang dapat dengan mudah—bahkan gembira—menerima uang kembalian berupa permen! Coba deh kita pakek suatu logika terbalik.

Logikanya sederhana saja, tapi silakan dipikirkan. Jika seringkali kita diberi kembalian berupa permen, maka apakah kasir (baca; minimarket) akan rela barang-barangnya dibayar dengan permen? Tidakkah hal seperti ini sekedar modus untuk mengeruk keuntungan dari segala sisi?

Dan saya pikir saya bukanlah orang pertama yang komplain soal ini. Saya masih ingat betul salah satu TV swasta nasional pernah membuat liputan soal mata uang permen ini.

Hal terbaru yang menjadi syu’udzon atau pikiran buruk saya adalah “modus sumbangan” oleh beberapa minimarket. Pertanyaannya adalah apakah sumbangan tersebut diberikan pada yang berhak menerima? Apakah ada transparansi keuangan yang diminta sebagai sumbangan itu? Sekali dua kali sih oke. Tapi coba bayangkan berapa orang yang akan membeli di minimarket dan diperlakukan demikian? Maka dapat dipastikan berapa uang “sampingan” yang terkumpul dari kegiatan demikian? Kok jadi syu’udzon melulu ya jadinya pikiranku. Gara-gara uang kembalian permen nih. 😀

Hemm…. Perlu diteliti nih. Meneliti uang minimarket. Wkwkwkwkw 😀 [Afif E.]

//

Buat Apa Mahasiswa STTQ Membuat PKM?

Saya perkenalkan pada anda pembaca blog saya yang kurang familiar dengan kampus bernama STTQ. Adalah sebuah kampus yang berada di Kabupaten Gresik, dengan nama panjang Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik. Kampus yang masih kecil. (catat: masih kecil!). saya beri prolog pada tulisan ini biar tidak membingungkan. 🙂

Program Kreativitas Mahasiswa atau yang lumrah disebut PKM merupakan program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIRJEN DIKTI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sebuah program dimana kampus ITS Surabaya menjadi juara umum, mulai dari tingkat perolehan pemenang PKM yang mencapai  500 proposal, dan juara umum PIMNAS 2013 di Mataram.

Kenapa ITS mampu menjadi kampus yang paling banyak memenangkan jumlah PKM hingga 500 proposal? Bukan terlalu memuji, tapi rupanya semua elemen sivitasnya begitu “menggila”. Sangat bersemangat dalam membuat PKM. Mulai dari unsur pimpinan di tiap lini, dosen, hingga mahasiswanya. Saya sampek ‘ngiler’ dengan semangat setiap unsur yang ada di tiap elemen di kampus itu. Maka 500 proposal lolos pendanaan, serta menjadi juara PIMNAS 2013 di Mataram sudah sewajarnya didapatkan ITS.

Kembali ke kampus STTQ. Sebagai salah satu kampus di Indonesia, tentu STTQ Gresik pun tak ingin ketinggalan dengan wadah kegiatan yang positif tersebut. Saya kadang-kadang mikir, apakah PKM ini menjadi jawaban atas 20 persen dana APBN yang diperuntukkan bagi pendiidkan? Kalau memang iya, maka semua mahasiswa harus merebutnya. Kenapa harus direbut? Namanya saja alokasi dana, sebesar apapun, kalo tidak direbut ya gak kebagian, wong rakyat Indonesia ini jumlahnya 250 juta. 🙂

PKM saya sendiri menganggapnya ajang belajar yang sangat bagus buat mahasiswa. Dari segi penulisan ilmiah, jelas sekali menantang. Dari segi keilmuan, masuk juga dengan bidang penelitian, penerapan teknologi, hingga karsa cipta. Pengabdian pada masyarakat, jelas sekali ada di PKMM. Sedangkan kewirausahaan juga masuk dalam PKM Kewirausahaan.

Dari sudut pandang kampus? Jelas sangat signifikan, semakin banyak mahasiswa yang menang dalam PKM, maka kampus tersebut memiliki mahasiswa yang kompeten dan penuh semangat. Maka itu pula yang membakar mahasiswa ITS sehingga dapat menang di ajang PKM.

Ada stigma yang ditangkap oleh beberapa teman mahasiswa, bahwa teman mereka sesama mahasiswa tidak mau membuat PKM karena tidak mampu dan mereka berasal dari sebuah kampus swasta kecil. Jawaban singkat atas pikiran-pikiran ini adalah, BUKAN ITU! Tapi karena dia kurang bersemangat!

Al-Azhar, Harvard, MIT, hingga Monash University, adalah kampus-kampus tidak dibangun dalam keadaan besar. Kampus-kampus tua tersebut berasal dari kampus-kampus kecil yang ada di berbagai pelosok, dan juga bukan kampus PTN, tapi KAMPUS SWASTA! Namun semangat para sivitas akademika nya lah yang menumbuhkembangkan kampus tersebut. STTQ “masih” kecil, tapi akan besar sebagaimana kampus-kampus tersebut! Dengan syarat adanya semangat akademik dari semua elemen sivitas akademikanya.

Dalam pergerakan menuju PKM 5 Bidang 2013 (didanai 2014), saya turut membantu memberi semangat pada mahasiswa STTQ agar turut serta dan aktif menulis PKM. Namun demikian, ternyata ada saja mahasiswa yang bersifat “Bully”. Merendah-rendahkan temannya yang membuat PKM. Tak kurang dari itu—dalam isitilah saya, mereka BERDAKWAH.

Apa yang saya maksud “berdakwah”? maksud saya, mereka berkicau di berbagai media Facebook, terutama grup Facebook, berkomentar miring mengenai PKM. Mulai dari istilah yang kampus menindas mahasiswa lah, PKM harus dari “hati”lah. Omong kosong semua! Nyatanya mereka dari awal kuliah tidak pernah ikut PKM!

Baru kali ini saya nyadar, kaum JAHILIYAH yang diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW bukanlah orang bodoh. Tapi para orang pintar yang berbuat kebodohan dengan “berdakwah” yang bersifat destruktif. Tindakan koar-koar agar mahasiswa tidak berprestasi juga destruktif, kan… 😀

Tidak ada masalah nyata jika mahasiswa tersebut tidak membuat PKM. Tidak ada efek walau mereka tetap berkoar “jangan membuat PKM” pada mahasiswa yang lain.

Whatever you all said, gak ada pengaruh pada kami dan semua mahasiswa yang menulis PKM. Tak pula menyurutkan membuat PKM, karena niat sudah kenceng dan terbukti sudah ada mahasiswa STTQ yang bisa menang PKM tingkat Nasional (untuk tahun 2013 saja, STTQ pada PKM 5 Bidang 2012 menang 2 proposal, dan pada PKM KT menang 2 karya Artikel Ilmiah). Namun kalian “para Jahiliyah” tetap mlongo dari tahun ke tahun dengan status Facebook atau twit Twitter, “Buat apa sih ikut PKM segala?”. Jawabannya, supaya kalian para jahil tetap dongo dan mlongo pas ada mahasiswa STTQ yang menang tiap tahunnya! 😀 [Afif E.]

//

RATU MAJAPAHIT PUN BUTUH PENDAMPING: PEMIMPIN DUNIA DAN PASANGAN HIDUPNYA

Tiba-tiba malam ini ikut nonton TV. Lumayan lama ndak nonton sinetron. 😀

Di salah satu stasiun TV nasional tengah disiarkan kisah kolosal pada masa Majapahit. Kisah tentang Ratu Majapahit dan Damarwulan. Saya tidak mau membahas urusan scene dan adegan dalam sinetron tersebut. Saya ingin membahas dari sisi cerita cinta sang ratu dan Damarwulan. (cie, cie…. 😀 😀 😀 ).

Hingga saya menulis artikel ini, saya tidak tau apakah kisah cinta sang ratu pada sinetron tersebut benar-benar didasarkan pada kisah aslinya. Saya cuma menganalogikan angan saya pada beberapa pemimpin dunia yang benar-benar menjadi satu dengan pasangan mereka. Melebur jadi satu dalam urusan saling membantu menunaikan urusan negara. Kisah cinta mereka membentuk kisah, melukiskan sejarah, begitu Bunga Citra Lestari melantunkan Soundtrack film Habibie dan Ainun.

Balik ke urusan sinetron kolosal tadi, terdapat salah satu adegan galau yang dipasang oleh sang sutradara. Adegan galau itu dialami oleh sang Ratu karena kisah cintanya bertepuk sebelah tangan, karena Damarwulan ternyata mencintai gadis lain. Sang Ratu menyampaikan keluh kesahnya pada dayang-dayang kepercayaannya. Ia menyampaikan betapa berat tugas menjadi ratu, namun di satu sisi kekuasaannya sebagai ratu tidak dapat menyentuh cintanya, cinta Damarwulan. Ah, benar-benar mellow.. 😀 😀 😀

Saya sendiri sempat membaca dan menonton di berita dunia maya, mengenai beberapa pemimpin dunia dan pendamping mereka. Ainun dan Habibie, Abdullah Gul dan Hayrunnisa, Bu Ani dan Pak SBY, Gus Dur dan Shinta Nuriyah, Pasangan Bill dan Hillary Rodham, hingga sekilas pengamatan cerita tentang Bu Tien dan Pak Harto.

Mengenai Ainun dan Habibie barangkali bisa kita lihat kisahnya di film. Kisah Abdullah Gul dan Hayrunnisa yang bersama menantang sekularis Turki, sedangkan mereka berada di tengah arus sekularisme Turki. Kisah Bu Ani dan Pak SBY … mmm… saya kurang referensi. Hehehehe…

Lanjut ke kisah Gus Dur dan Shinta Nuriyah, dapat pula kita baca dan saksikan di banyak referensi di dunia maya. Kemudian ada juga kisah Bu Tien dan Pak Harto, penguasa Orde Baru yang berhasil berkuasa selama tiga dekade. Mewarnai kehidupan Indonesia. Namun begitu Bu Tien meninggal, cerita berubah total.

Kata guru saya, begitu Bu Tien meninggal, bisa apa Pak Harto? Begitu guru saya menggambarkan betapa pentingnya sosok pendamping bagi para pemimpin dunia. Kisah ini tergambar jelas saat Bill Clinton diguncang skandal perselingkuhannya dengan Monica Lewinski. Media Barat bahkan menyebutkan goncangan skandal tersebut membuat Bill Clinton terancam dimakzulkan sebagai presiden AS oleh Parlemen. Namun Hillary begitu gigih dalam masa itu, sehingga pemakzulan pun tidak terjadi.

That’s why I said, pendamping begitu penting bagi pemimpin dunia. (atau mungkin semua orang kali ya… hehehehe).

Yang sedikit membuat saya bertanya-tanya adalah beberapa pemimpin dunia yang memutuskan tidak menikah (UNMARRIED STATUS). Kadang-kadang mikir, lalu di tengah goncangan politik di sekeliling mereka, pada tangan siapa mereka akan menggenggam? Siapa teman curhat mereka di balik sorot mata dunia? Teman curhat yang memberikan berita kabar buruk sebagai berita yang jujur untuk dirinya? Bukan pemberi kabar baik sebagai pemanis bibir belaka. Entahlah. [Afif E.]

The Stories you can access here:

1. Abdullah Gul and Khayrunnisa

2. Habibie and Ainun

3. Soeharto and Bu Tien

 

//

Lipstik Media di Panggung Politik Indonesia

Malam hari pertama Idul Fitri 1434 H/ 2013 M, saya dan adik saya melihat siaran berita TV-A, salah satu stasiun TV swasta nasional. Headline berita, “OPEN HOUSE BAPAK XYZ,” salah satu politikus di Indonesia. Sambil tersenyum saya berujar sendiri, “Kenapa Lebarannya Pak XYZ diliput TV-A?” karena TV-A kepunyaan Pak XYZ. 😀

Dalam pengamatan sekilas, sebagian besar pemilik media (yang juga pemain politik) semakin tahun berlomba-lomba agar TV-nya meliput acara ataupun cerita seputar dirinya. Ah, ‘Lipstik’ banget… 😀

Jadi mikir-mikir, apakah masih ada media massa yang netral dari urusan ‘lipstik’ politik? Katakan saja satu atau dua ada lah yang masih netral. Tapi bagaimana dengan kemungkinan pengaruh TV netral tersebut di masyarakat, sedangkan media berlipstik yang beroperasi kebanyakan adalah media besar dan berpengaruh luas. Maka Media Lipstik macam ini menjadi alat yang ampuh untuk menebar pengaruh pada opini masyarakat.

Urusan lipstik media ini barangkali tidak akan begitu menjadi permasalahan (permasalahan di tulisan ini 😀 ) jika media-media tersebut berimbang dalam melaporkan ‘kelakuan’ para pemain politik itu. Masalahnya adalah mereka mulai tidak imbang dalam melaporkan beritanya. Di satu sisi mereka menyanjung-nyanjung si pemilik media, tapi di sisi lain menghujat habis-habisan pemain atau partai politik yang tidak punya media. Bahkan saat satu partai politik mengalami masalah internal, sampai-sampai akun Twitter para pemainnya menjadi sorotan. Begitu sih #PesanAyah….. (loh, kok muncul #PesanAyah… 😀 ).

Maka simpulan sementara, sebagai orang awam, masyarakat harus pandai-pandai menjaga opini dan sikap. Apapun pemberitaan yang ada di media, tentu tidak terlepas dari kepentingan si pemilik media. Waspadalahwaspadalah… 😀

NB:

Bapak yang belakang sana teriak pada saya: “Ngapain ngurusin politik segala! Yang penting kan bisa makan, TITIK!”

Epen: “Bapak, daging sapi yang dihidangkan di piring anda juga tidak lepas dari urusan politik loh…. 🙂  “

Bapak tadi: “kok bisa daging sapi disambung ke urusan politik?

Epen: “Hahaha, iya dong… itu tuh… dagingnya Darin Mumtazah.. eh, keliru… daging sapi-nya Tante Darin Mumtazah… 😀 “[Afif E.]

Beberapa Hal yang Ditanyakan dalam Perempuan Berkalung Sorban

Sebenarnya film bertajuk “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS) ini bukanlah film baru sehingga pada artikel kali ini saya tulis. Kemasan dan keuletan Hanung Bramantyo sebagai sutradara lagi-lagi diuji. Seperti film sebelum dan sesudahnya, PBS termasuk film Hanung dengan kemasan yang cukup ciamik mulai dari gambar dan ilustrasi musiknya (dari perspektif orang awam macam saya… 😀 ). Tapi dari segi konten, film yang bersumber dari novel yang berjudul sama ini, banyak hal yang perlu dicermati secara seksama—secara memang ketika debut pemutarannya banyak kritik yang melayang untuk film ini. Terlebih hal ini terkait dengan dunia pesantren.

Perempuanberkalungsorban

Kadang terbersit pertanyaan dalam hati, di tengah menonton film berdurasi dalam bilangan dua jam ini, “masak gitu ya kehidupan pesantren?” atau pertanyaannya, “apa pesantren dulu kayak begitu?”.

Ah, hati saya kok berontak. Bagaimanapun kehidupan pesantren yang dikenalkan pada saya tidak demikian adanya. Ada begitu banyak pemikiran dan pendobrakan budaya yang dapat dikatakan progresif, hadirnya dari dalam keluarga pesantren. Sebut saja budaya pengajian, pendidikan untuk perempuan, bahkan hingga kepemimpinan dan peran aktif perempuan dalam perempuan.

anisa yang galau

Anisa yang galau dengan penjelasan yang kurang memuaskan

Barangkali dalam memandang dan melihat film ini musti dilihat dari perspektif sutradaranya saja, dan bukan harus kita men-generalisir segala sesuatu, termasuk dalam urusan budaya dari sekian banyak pesantren di negeri ini. Barangkali memang demikian cara penulis dan sutradanya, Hanung,  memandang dunia pesantren dengan perspektif hasil pencariannya sendiri. Entah lagi kalo gitu.

Selamat menonton film, untuk memperkaya pandangan. Ingat, movie is movie. Keep your own opinion.  🙂  [Afif E.]

Referensi lebih lanjut:

http://id.wikipedia.org/wiki/Perempuan_Berkalung_Sorban

Gunung Kita Bisa Jadi Tempat Sampah ?

Berangkat tanggal 5 April 2013, saya mbuntut mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik untuk naik ke puncak Gunung Arjuno, Jawa Timur.

Sebenarnya agak lama saya ingin menulis artikel dengan topik sampah gunung ini, tapi belum pernah lihat langsung. Dan baru kali ini saya melihat sendiri betapa banyaknya sampah gunung. Bukan sampah alam, tapi sampah manusia. Manusia pendaki gunung, yang beberapa diantara mereka menggunakan simbol-simbol kelompok pecinta alam.

Tidak mungkin kan para monyet gunung makan mie instan sebanyak itu? Gak mungkin juga kan para nyamuk dan serangga menghangatkan diri dengan berbotol-botol minuman penambah tenaga dan penghangat tubuh? Dan memang nyata-nyata manusia lah yang membawa sampah plastik, mulai dari bungkus permen, punting rokok (yang lumayan lama tidak terurai. Apa emang sulit diuraikan alam?), ada juga botol-botol plastik, tali rafia, sisa jas hujan yang sudah sobek-sobek, sampai sisa sampah yang dibakar dengan tidak sempurna. Dan hasil dari pembakaran tetap saja akan menghasilkan sampah.

DSC03623

Yang menjadi perbandingan saya adalah, ketika saya mengikuti kemah di sebuah lapangan selama dua hari, sampah yang dihasilkan oleh peserta mencapai dua bak besar. Lah, tuh gunung kan gak disinggahi satu dua orang, atau disinggahi dalam satu-dua tahun terakhir saja kan? Maka bisa dibayangkan jadi berapa ton tuh sampah yang menutupi?

Saya masih ingat ucapan seorang teman yang mengatakan bahwa sampah gunung akan menjadi jejak bagi pendaki berikutnya. Dengan adanya sampah-sampah seperti plastik dan botol-botol menjadi pertanda bahwa suatu area di gunung sudah pernah dilewati atau dijamah oleh pendaki sebelumnya. Dan memang bagi pendaki amatir memang efektif. Kami serombongan bisa menjejak arah puncak dengan beberapa tanda dari plastik.

Tapi apa iya harus sebanyak itu ? dan berceceran macam itu ? rasa-rasanya kok hanya pembetulan dari sikap kita saja yang terlalu cuek dengan kebersihan gunung kita(kata anak Alay: gunung kita ? Loe aja kalee gue nggak.. 😀).

Gunung dan hutan bisa mereduksi dan mendaur sampah mereka sendiri, tapi manusia tidak boleh mengandalkan kemampuan hutan yang memang jelas tidak dapat mendaur ulang sampah non-organik milik kita (manusia).

Mengutip pedoman cantik yang dijadikan stiker dan tertempel di pos jaga pendakian gunung Arjuno (saya lupa stiker dari kelompok mana), kurang lebih sebagai berikut :

Jangan meninggalkan apapun selain jejak,

jangan mengambil apapun selain foto,

jangan memburu apapun selain waktu.

DSC02831

Di belakang saya adalah papan yang berisi stiker, dimana saya ngambil kutipan. NB: foto orang hilang… 😀 😀 😀 😀

Cakep kan pedomannya? Tinggal kita bertanya dalam hati dan mempraktekkan pertanyaan ini, apakah gunung kita bisa jadi tempat sampah kita? [Afif E.]

(Mungkin) Karena Desa Drajat Bukan di Bali

Mengunjungi makam wali sembilan serasa mengembalikan memori saya saat pertama kali tour ketika masih duduk di kelas enam Madrasah Ibtidaiyah (SD). Makam wali merupakan salah satu jujugan yang pasti akan diambil oleh pihak sekolah. Setahu saya hingga hari ini masih memasukkan ziarah makam wali sebagai jujugan tour.

45494071

Namun tulisan yang satu ini tidak saya buat untuk mengenang hal itu. Saya buat tulisan ini setelah sepulang saya dari Wisata Sunan Drajat (ngapain? Mmmm…. Kasih tau nggak ya… 😀 ).

makam-sunan-drajatpsd

Kenapa Namanya Museum “Khusus” ya? Hemmm, aneh, 😀

3265454493_42b0f406d0_o

Salah satu sudut pasar di Wisata Sunan Drajat

images

Pintu Masuk ke Makam.

Siangnya sebelum menulis ini saya termenung di pelataran Museum “Khusus” Sunan Drajat. Kok tempat seunik ini gak begitu ‘makmur’ ya? Bayangkan saja, dengan aset wisata arkeologi, maka tempat ini harusnya sudah sekelas Borobudur, atau malah seperti makam raja-raja Mataram di Imogiri. Dekat pantai, malah harusnya menjadikan jujugan wisata yang bagus. Malah harusnya ada satu lagi wahana wisata murah untuk wisatawan yang berkunjung.

3265221145_278d6374e2_o

Ketika saya berjalan di pasar (benarkah dapat disebut pasar?) di bawah Museum, saya membayangkan ada di Pasar Sukawati, Bali. Wow, keren… harusnya pedagang di tempat ini bisa semakmur pedagang di Pasar Sukawati…! Tapi kenapa ya? Kok pasar di wisata Sunan Drajat ini begitu lesu?

Ketika saya bertanya ke pedagang batik, “darimana batik yang dijual di sini?” jawabnya, “PEKALONGAN.” Ketika saya bertanya pada pedagang makanan legit tentang asal jualannya, jawabnya, “KUDUS, SOLO… blab la bla”. Pertanyaannya, terus makanan atau yang khas Lamongan itu mana???? Kalo saya jadi orang Pekalongan, dan ketika ke Jawa Timur ketemu oleh-oleh tapi khasnya Pekalongan, Lah buat apa jauh-jauh ke Lamongan? Beli aja batik di pojok jalan kota Pekalongan! Atau sebagai orang Kudus, saya akan bilang… “walah Mas… lah wong jenang ngunu pangananku saben dinane, piye toh…” (walah mas… orang Jenang itu makan saya setiap hari)—doyan banget sama jenang! 😀

Harusnya Lamongan menjual apa yang khas dari Lamongan. Kalaupun tidak ada yang khas, maka tak usahlah diberi cap Pekalongan, atau Madiun dan sebagainya. Tapi tulis saja disitu Jenang Lamongan, ataupun Batik Lamongan.

 Bayangan saya kok mengatakan, masak sih orang jepang jauh-jauh ke Bali cuma mau beli Kimono! Wong harga murah dan ragam corak Kebaya Bali di depan mata. Maka menurut saya terjadi demikian pada peziarah di Sunan Drajat. We want something so Lamongan. (atau only what I want? Hehehe…)

Kebersihan dan Kerindangan

Satu lagi yang saya soroti, kebersihan dan Kerindangan yang masih kurang terjaga. Saya pikir masyarakat desa setempat, dan juga Pemerintahan harus bahu membahu menjaga kebersihan dan kerindangan, menjaga keramahan dan rasa saling yang lain, agar peziarah tak bosan untuk terus, lagi dan lagi berziarah ke Wisata Sunan Drajat.

Apakah terlalu muluk-muluk? Ah, atau mungkin saya tidak boleh membayangkan lokasi Wisata Sunan Drajat bisa senyaman di Bali,atau  mungkin karena Desa Drajat bukan di Bali? Sehingga ‘haram’ membayangkan kenyamanan wisata di Bali akan hadir di Wisata Sunan Drajat. ataukah karena berita ini? (Klik di sini) [Afif E.]

*Foto dari berbagai sumber online.