Semeru adalah Tempat Wisata

Satu pagi di tepi Ranu Kumbolo

Saya tidak memahami kalimat seorang teman, hiker sejati, saat mengatakan kalimat dalam judul tulisan ini. Saat itu saya baru mengungkapkan bahwa saya ingin naik gunung Semeru. Someday.

Barulah saya ngeh ketika Agustus 2017 naik ke Semeru, bahwa Semeru memang ramai! Ada beberapa hal yang berbeda saat kita menaiki Semeru saat ini.

Pertama sebelum 2012, tidak ada briefing dari relawan bagi setiap pendaki. Hal ini sangat ditekankan keharusannya, terlebih setelah dirilisnya film 5 CM, yang sayangnya bagi sebagian pendaki begitu kurang mendidik.

Kedua, kerusakan Semeru juga dirusak karena ulang tidak bertanggung jawab dari salah satu penyelenggara event. Event tersebut ‘menghadiahkan’ sampah dalam hitungan tidak sedikit. Dan begitu mengotori tubuh Semeru.

Dua hal ini yang masih mengiang dalam ingatan saya betapa briefing ini menjadi begitu perlu untuk diikuti oleh setiap pendaki ke Semeru.

Lalu bagian wisatanya mana? Pecayalah, Semeru benar-benar ramai! Rasanya saya tidak putus mengucapkan “mari, mas.. monggo, hello..” setiap kali berjumpa dengan pendaki lain. Frekuensi saya mengucapkan kalimat sapaan hangat tersebut sangat sering. Tak hanya pada orang Indonesia, melainkan juga pada warga negara asing  yang jumlahnya tidak sedikit.

Kenapa harus menyapa pendaki yang lain? Saya mengikuti saran yang lain, bahwa itu adalah bagian dari sopan santun. Nyatanya pendaki yang lain juga saling menyapa.

Bagian wisata yang lain adalah, maaf agak jorok, WC yang minta ampun baunya. Saya tidak mau meneruskan deskripsi WC ini. Namun hal ini menjadi penanda betapa kita semua jorok. Betapa kotoran kita jauh lebih jorok daripada kebanyakan makhluk. Serius, sangat bau. (hufff).

Inilah beberapa penanda bahwa Semeru adalah tempat wisata. [Afif E.]

Di Tubuh Semeru: Mau Menulis Apa Aku?

Suatu Pagi di Tepi Ranu Kumbolo

 

Catatan ini saya buat untuk bagian dari ringkasan awal perjalanan saya ke Gunung Semeru dalam tanggal 11, 12, 13, dan 14 Agustus 2017. Lazimnya ringkasan, maka belum banyak detail yang akan saya bagikan di sini. Hanya saja, sebagai sebuah perjalanan naik ke gunung untuk kali kedua, tentu rasanya berbeda.

Jika dalam pendakian pertama saya masih benar-benar kaget, maka pada pendakian kedua ini tidak begitu. Meski masih “menyiksa” saya. Yang saya maksud dengan kaget di sini adalah kaget dalam hal persiapan sebelum keberangkatan, berupa persiapan perbekalan hingga persiapan latihan fisik.

Saya masih begitu kaget dalam pendakian ke Semeru ini. Pertama, agenda ini muncul begitu mendadak. Seorang teman bernama Si Mat, sebut saja demikian, menawarkan agenda pendakian kurang lebih seminggu sebelum hari H. Atau bahkan kurang dari seminggu.

Waktu itu saya belum bisa menjawab, karena masih ada keperluan di Sumenep. Barulah saya bisa menjawab IYA, setelah saya mampatkan agenda perjalanan saya ke Sumenep. Dari yang semula tanggal 11 dan 12 Agustus saya ke Sumenep, saya mampatkan menjadi tanggal 9 dan 10 Agustus 2017. Praktis, saya hanya ada waktu persiapan menata perbekalan hanya 1 malam, yakni tanggal 10 Agustus, sesampainya saya di rumah dari Sumenep. Tentu agak bikin gelagapan.

Meski demikian, kaget karena persiapan yang mendadak agak berkurang. Pertama karena sudah pernah merasakan persiapan pendakian sebelumnya (terhitung 3 kali saya melakukan persiapan: Pertama ke Gunung Arjuno; kedua, saat akan ke Gunung Merbabu meski gagal ikut 😦 ; dan Ketiga adalah saat ke Semeru). Faktor kedua yang agak mengurangi kaget persiapan adalah segala logistik dan perlengkapan, banyak sekali disiapkan oleh Si Mat.

Meski demikian, tentu sebagai seorang pendaki amatiran, hal-hal yang saya alami ini sebaiknya jangan ditiru. Beneran, baru kali kedua inilah, saya menderita sakit selama 2 malam di tubuh Semeru. Ceritanya bagaimana kok bisa sakit? Saya simpan untuk artikel berikutnya. 🙂  [Afif E.]

This is New Year’s Eve, eh?

Surabaya last 2013. I rushed to a flight with a friend of mine. We were going to Kuala Lumpur that day. Even though we were late several minutes, thankfully the officers in Bandara Juanda still gave us permission to go to the plane.

By then, that was us, in Kuala Lumpur’s LCCT. Traveling for the first time in a foreign country. Where we went into? We just flew with the crowd flow of people. Later, we stayed at my friend’s brother apartment. He was a migrant worker in Kuala Lumpur.

Second day in Kuala Lumpur. Everyone next to me spoke about party and party. Several people talk about KLCC’s Petronas Tower, but most of them agreed with Dataran Merdeka to go to. What about me? I did not understood at all at those time. Something I really want to do was just travelled around KL!

Still in the second day of mine in Kuala Lumpur. Around by eight at Kuala Lumpur time, we—by group—headed to Dataran Merdeka for some party I did not realised yet. And I did not ask anybody, including to my friend. Once again, the only thing I thought at the time was traveling the KL.

DSC02655

Walking heading to Dataran Merdeka, after we got the road was closed, and can not passed by our taxi

We, the group, headed to Dataran Merdeka by commuter, then taxi. But suddenly our taxi stop at a crossroad. “Why?” my friend’s brother ask the driver. The blockade answer the question: the access road to Dataran Merdeka was closed.

The commuter was crowded, the street was crowded. And of course along the road people getting talks each other. They were also going to the same party, perhaps. By then we walk. Heading to Dataran Merdeka of Kuala Lumpur.

Getting closed to the Dataran Merdeka there were so much crowded people. And then I just realized, in my own head I thought: “this is New Year’s eve, eh?!!”

DSC02664

Reaching the Dataran Merdeka, I just realised the eve 😀 😀 😀

How could I just realized that! that day was a New Year’s eve of 2013 to 2014! #LOL 😀 😀 😀 😀 [Afif E.]

The Philippine Girls I Met

chris and anna: The Philippnine Girls met

Blur Picture of Chris (in white dress and pony tail hair) and Anna (in black dress, brought silver bag). The only picture I had complete both of them 😦 😦 😦

I lost in Singapore! I asked several people surrounding the Bugis Station about my destination did not helped at all. It seems they also blind about the map of Singapore I brought. Okay, let’s just walk the street!
We, I and my cousin, crossing the streets not far away from Bugis Station. At that time, it was fine if we were not found any way to go to our hostel we booked yet. We want to get around Masjid Sultan, and Kampong Glam, not too far from Bugis Station, according to the map. Stuck with average answer of several Singaporean: “I don’t know”, finally I could read map of Singapore, immediately. It was easy, we just need to compared the road and the surrounding building written in the map. Voila! I got it. Then we headed to Kampong Glam.
During walked into Kampong Glam, I saw two girls seems confused read Singapore map. Just like what happened to me. I recognized them as Indonesian. But later I knew I was wrong. Both are the Philippine girls. They are Chris and Anna.
If I was thought both of them as Indonesian, similarly (or oppositely?) they recognized me and my cousin as Philippines! 😀 I don’t know, is there any similarities between Philippine and Indonesian face?
Chris and Anna want to drop in Haji Lane and Arab Street, same destination of ours. So, we headed there together.
Unfortunately, I did not ask for their contact, email, phone number etc. How come… 😦 😦 😦
What if someday I could go to the Philippine? 😦 😦 [Afif E.]

Ucapan Doa dari Warga Kota Singa

Saya dan sepupu saya sedikit berdebat di bawah tanah Singapura. Ah, mungkin kurang tepat kalau dibilang berdebat. Kami hanya sedikit bingung dengan rute perjalanan MRT Singapura. Salah naik MRT bisa salah jalur, dan jauh.

Kami juga hendak bertanya tentang ongkos yang dibutuhkan. Kuberanikan untuk bertanya pada seorang ibu berjilbab. Dari wajahnya ibu tersebut seorang Melayu-Singapura.

Benar, ibu berilbab itu seorang Melayu. Pertanyaan seputar rute dan ongkos sudah terjawab. Ibu itu juga sempat bertanya tujuan kami datang ke kota Singa, serta percakapan ringan lainnya. Kalimat pamungkas ibu itu atas rencana perjalanan kami adalah: Insyaallah dimudahkan. Kami amini, dan mengucap terima kasih.

Apakah lepas itu kami sudah paham dengan rute MRT? Belum! Kami kembali bingung dengan rute MRT. Kali ini dalam perjalanan menuju Johor Bahru, Malaysia.

Tak gampang juga mencari orang yang mau ditanyai, mungkin karena tergesa takut ketinggalan kereta. Sedikit lega saat dua orang bapak mau kami tanyai. Dan… Saat kami mengatakan asal penerbangan kami dari Surabaya, keduanya serempak berseru:
Oww…. SUROBOYO…” dengan berusaha membikin logat medok, tapi bagi saya beliau berdua tetap gagal. 😀 😀 😀

Kebetulan sekali kami menggunakan kereta yang searah. Kami berdua menuju ke Kranji Station, sedangkan kedua bapak itu menuju stasiun sebelumnya. Perjalanan kami masih satu jam lebih.

Selama perjalanan MRT bersama bapak itu, kami bercakap banyak. Dan sekali lagi, sebelum kedua bapak itu turun dari MRT, salah satu bapak berdoa untuk perjalanan kami dengan kalimat: Insyallah dimudahkan. Jadi tenteram mendapat doa untuk perjalanan kami.

Mungkin dengan ucapan doa dari warga kota Singa ini juga yang memperlancar urusan saya saat ditangkap dan dicekal oleh Imigrasi Singapura di Woodland Checkpoint. #BaPeR 😦 😦 😦 😀 😀 😀
Bisa jadi juga doa dari keluarga dan orang tua. Betapa doanya sangat penting bagi seorang yang menempuh perjalanan. Ah, Singapura… Dan ucapan doa dari warga kota Singa. [Afif E.]

Sikap Backpacker yang Kurang Baik

loket MRT

Mesin tiket MRT di Terminal 2 Changi. Tempat saya mengacuhkan orang. 😦 😦 😦

Bandara Changi, April 2016. Pesawat “Macan” yang saya tumpangi mengantarkan sampai di Terminal 2. Pikir saya akan sangat mudah untuk menuju pusat kota Singapura, karena informasi dari berbagai blog yang saya baca, stasiun MRT ada di Terminal 2. #Singapura… Saya datang….!!!! *NORAK! 😀
Masalah muncul. Cara beli tiketnya bagaimana? Saya lihat tidak ada banyak calo yang menjajakan tiket. #PLakKk! (baca tulisan saya tentang calo).
Maka saya mulai mengawasi orang yang beli tiket di mesin tiket. Adalah bapak-bapak India dengan gengnya yang saya awasi cara menggunakan mesin tiket.
“Kamu mau beli tiket juga?” tutur salah seorang bapak pada saya.
Karena hanya sedikit paham, bapak-bapak India yang ternyata bisa bahasa Jawa itu akhirnya menawari untuk membantu. Malah kami diberi tambahan 80 sen! Yayyy! Asyik dong, sudah dibantu menunjukkan cara pembelian tiketnya, diberi uang tambahan pula. *dasar backpacker cari gratisan. Hehehe
Okay. Akhirnya tiket terbeli. Usai ngobrol sedikit dan berterima kasih pada bapak-bapak India tadi, kami saling berpamitan. (tapi nggak pakek cipika-cipiki… 😀 ).
Masih di depan mesin tiket, saya kemasi tas ransel yang sempat amburadul saat mengeluarkan uang.
Di saat itu seseorang menyapa, “dari Indonesia?”
“Oh, iya, mas. Dari Indonesia juga?”
“Iya, dari Bandung,” dan tanpa ba bi bu lagi mas-mas dari Bandung itu menawarkan bantuan.
“Oh, udah beres kok mas.” kalimat pamungkas yang saya sesalkan dalam beberapa menit kemudian.
Yang membuat saya menyesal adalah saat sadar “salah” membeli tiket. Saya dari Surabaya kan sudah membawa kartu EZLink. Kenapa harus beli tiket sekali pakai! Aduh!
Harusnya Kartu EZLink itu yang diisi! Tapi dimana? Apa lewat mesin yang sama? Aaarghhh… Mana mas-mas dari Bandung tadi???!! Huff…
Yah, begini ini backpacker amatiran. Ditawari bantuan oleh sesama orang Indonesia malah diacuhkan. Tidak sempat berkenalan pula! Aduh! Sungguh sikap backpacker yang kurang baik. Punten ya kang… *sambil nada orang Sunda. 😦 [Afif E.]

Mandi Jinabat Bersama

Perasaan lega membuncah di dada saya sepulangnya ke hostel. Apa yang saya cari? WC! 😀
Pertama kali masuk area toilet, suasana begitu sepi. Baik tiga kubikel WC maupun tiga kubikel shower kosong melompong (baca: Kubikel = sekat-sekat). Maka jadilah saya menikmati syahdunya berada di kubikel WC saya sendiri. *Kenapa posting ini malah jadi jorok begini ya! 😀
Keasyikan saya tiba-tiba terusik. Saat was wus bunyi lelaki dan perempuan bule bercakap di luar kubikel WC saya berada. Ah, bisa jadi sudah full ruang toilet. Sehingga mereka berdua pun ngantri di luar. Terlebih memang di tengah saya berada di WC, sudah mulai berbunyi shower, yang artinya kubikel shower sudah ada yang menempati.
Antara sudah tuntas dengan urusan saya, dan juga berpikir pengertian memberikan ruang bagi dua bule yang ngantri di luar kubikel, saya sudahi aktivitas saya di kubikel. Biar mereka bisa gantian memakai kubikel yang barusan saya pakai.
Tapi saya malah melongo saat pintu seret kubikel saya buka. Tak ada siapapun di luar kubikel. Saya garuk-garuk kepala sendiri.
Tapi kok masih ada orang yang bercakap-cakap? Loh, cuma ada satu kubikel shower yang pintu seretnya tertutup! Sementara kubikel yang lain melompong.
Saya perhatikan dan dengarkan betul-betul percakapan yang masih belum berakhir sampai saya di wastafel, masih di ruang toilet yang sama. Sumber suara percakapan lelaki dan perempuan itu dari satu-satunya kubikel shower yang pintuya tertutup itu! Hee??? Jadi shower yang nyala disamping kubikel tempat saya eek tadi pasangan bule itu mandi bareng! Wakwaw…
Tak lama bunyi shower semakin deras. Tapi tidak ada percakapan. Lalu ada bunyi-bunyian. Apa yang kalian lakukan dalam kubikel itu wahai saudara-saudari??? Hemmm…
Eh, tapi mungkin mereka pasangan suami-istri yang lagi mandi jinabat bersama. Mandi yang dilakukan oleh muslim jika memiliki hadats besar, salah satunya sehabis hubungan suami istri. Kan perlu tuh transfer ilmu di antara suami istri.
Emangnya kamu tahu kalo mereka suami istri? Emangnya kamu tau mereka muslim apa, nggak? Eh, nggak tahu juga ding! Sok tahu. Haha 😀
Lalu, apa yang mereka berdua lakukan??? Oh, tidak! Benar kata orang, pikiran bujang memang berefek ngeres begini!
Maka saya pun kembali ke kamar saya. Meninggalkan suara shower yang membasahi mereka berdua. Sedang apa mereka? #PLakkk!!!! *nampar keras [Afif E.]

Harga Tas Plastik di Singapura

tas kresek singapura

Tas Plastik asli Singapura 😀 😀 😀 😀

Jawaban resepsionis hostel tempat saya menginap mengecewakan saya. Katanya, hostel hanya menyediakan air mineral berbayar, tak ada air minum isi ulang. Dan harganya 1,20 dollar Singapura ukuran botol kecil! Apaaaa?! *sambil mulut menganga kaget.
Gila, masak harga air minum botol paling kucrit lebih dari sepuluh ribu. Lama-lama bisa tekor berat. Mengingat saya tidak bisa menahan untuk tidak minum. Apalagi usai bangun tidur.
Namun sedikit agak lega saat rumah makan di lantai bawah hostel jualan air mineral. Sebotol besar seharga 2 dollar Singapura. Ya… Masih mahal sih, tapi lebih mending daripada yang dijual di hostel. Botolnya jauh lebih besar, bisa buat isi ulang beberapa kali.
Tibalah saat membayar. Karena dari tadi saya dengarkan pelayan restoran hanya bercakap bahasa China, saya bertanya dalam bahasa Inggris, “How much is it?” sambil menunjukkan sebotol besar air mineral.
“Tu dolla… Tu dolla…” two dollartwo dollar… Sambil mengacungkan dua jari.
Mata saya langsung mendelik. Ya Allah… Pelayan perempuan di depan saya tidak bisa banyak cakap bahasa Inggris! Sisanya dia tetap was wus ngomong China walau jelas-jelas saya tidak bisa (baca: belum bisa 🙂 ).
Adegan mengkhawatirkan tiba saat kasir bertanya, lagi-lagi tidak dalam bahasa Inggris penuh. Yang jelas dia bertanya, “Plastic?
Ingatan saya langsung menuju ke adegan kasir minimarket di Indonesia: “pakai tas plastik mas?… Kalau iya, nambah 200 rupiah ya…
Saya menelan ludah. Ini berapa dollar harga tas kresek (baca: tas plastik)???
Uang saku bakal amblas kalo sampek harga nih plastik 2 dollar!
Eh, tapi syukur ternyata gratis ding! Asyikkk… 😀 😀 😀
Maka, buat kamu yang bakal ke Singapura, catat baik-baik: harga tas plastik di Singapura nol dollar alias gratis! 😀 [Afif E.]

Situs Giri Kedaton

Banyak yang bertanya, termasuk saya, bagaimana rute menuju situs Giri Kedaton. Situs Giri Kedaton menurut beberapa penelitian merupakan pusat lokasi kediaman Sunan Giri. Agak berbeda dengan makam Sunan Giri, untuk menuju situs Giri Kedaton tak banyak penanda untuk menuju ke tempat tersebut.
Saya harap tulisan ini membantu memberikan informasi mengenai penanda rute untuk menuju ke lokasi situt Giri Kedaton.
Situt ini berada di puncak sebuah bukit, di kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik. Jika anda berasal dari perempatan Kebomas ke arah makam Sunan Giri, maka jalan menuju situs ini di sebelah kiri jalan, sebelum sampai di parkir makam Sunan Giri.
Sebaliknya, jika anda dari arah parkir makam Sunan Giri menuju ke arah kota Gresik, maka jalan masuk menuju situs ini adalah di sebelah kanan jalan.
Saat artikel ini dibuat, terdapat gapura masuk kelurahan sidomukti. Berdiri di samping sebuah minimarket. Masuklah ke jalan dengan gapura itu.
Jalan ini lumayan sempit. Saya sendiri kurang paham apakah mobil bisa masuk dan parkir di jalanan ini.
Sekitar 300 meter dari gapura, akan anda dapati gapura masuk situs Giri Kedaton. Berwarna putih dengan tulisan “Situs Giri Kedaton dan Makam Raden Supeno (Putra Sunan Giri)”.
Gapura bercat putih dengan bubuhan logo Kabupaten Gresik ini menuntun kita pada jalan menanjak. Jika anda membawa sepeda motor, bawa saja naik ke atas. Tak jauh dari gapura putih terdapat parkir. Biaya parkir bisa kita masukkan ke kotak donasi yang disediakan. Ada baiknya pastikan kunci dobel kendaraan, untuk berjaga-jaga.
Dan… Dari lokasi parkir sepeda motor sudah dapat kita lihat deretan anak tangga yang menanjak ke atas. Di puncak anak tangga itulah Situs Giri Kedaton berada. 🙂 [Afif E.]

giri kedaton - dari jalan raya giri-afif1

Gapura Kelurahan Sidomukti. Jalan masuk awal.

 

giri kedaton - gerbang-afif 1

Gapura Kedua – Jalanan menanjak. Sepeda motor bisa masuk.

 

giri kedaton - parkir-afif1

Parkir Sepeda Motor. Sebelah Kanan terlihat anak tangga menanjak menuju situs. (Note: Ojok Lali Ngisi Celengan = Jangan Lupa Mengisi Kotak Donasi Parkir)

 

giri kedaton - naik tangga-afif1

Tangga menanjak.

giri kedaton - kekinian-afif1

Foto Jejak Langkah. Sangat Kekinian. 🙂 😀 😀 😀

giri kedaton - totangga-afif1

Pemandangan dari atas tangga.

 

giri kedaton - kaki 2-afif1

Salah Satu Kaki Bangunan.

giri kedaton view ke bawah 1-afif1

giri kedaton - prasasti-afif1

giri kedaton - view makam giri2-afif1

Pemandangan ke makam Sunan Giri di seberang bukit. Di bawah kaki tower BTS tertinggi adalah tempat tersebut.

Tak Ada Pesta di Dataran Merdeka

Keinginan bertahun baru di seputaran KLCC, menara Petronas, saya urungkan. Karena para pekerja migran yang saya ikuti numpang menginap mengajak ke Dataran Merdeka. Ingin ambil rute berbeda pun, rasa-rasanya saya tidak tau arah ke KLCC dari daerah Kepong.

DSC02562

Berita di koran sehari sebelum acara di Dataran Merdeka

Beberapa jam sebelumnya, seorang teman yang juga pekerja migran di KL sms saya. Mengatakan kalau rencana tahun barunya ke Dataran Merdeka. Lebih ramai, katanya, dan kami bisa bersua disana. Sungguh. Sampai saat saya dikabari Dataran Merdeka, saya tidak tau “dataran” itu apa. 😀
Baru setelah di Indonesia saya mencari tau, “dataran” adalah berarti “square” dalam bahasa Inggris. Atau “alun-alun” dalam bahasa Indonesia. Aduh! Epen… Epen…. 😀

DSC02655

Jalan kaki menuju Dataran Merdeka

Dan… Voila… Jadilah kami berkendara umum menuju ke Dataran Merdeka. Beberapa kilometer mendekati Dataran Merdeka, jalanan sudah diblokir. Maka kami lanjut berjalan kaki. Begitu mendekati Dataran Merdeka, hiruk pikuk mulai terasa.
“Dua singgek… Dua singgek… Dua singgek… (dua seringgit… )” telinga saya menjadi awas dengan kalimat itu, ternyata penjual minuman dingin.

DSC02664

Keriuhan di seputaran Dataran Merdeka

Saat kulihat ke arah Dataran Merdeka, sebuah panggung berdiri megah. Membelakangi tiang dan bendera raksasa Kerajaan Malaysia.
“Awak dimana?” sms dari teman saya. Saya yakin sms itu telat sekian menit. Karena saya juga sms beberapa saat sebelumnya juga delay. Saat itu Najwa Latif sedang tampil. Baru malam itulah saya tau, bahwa Najwa Latif bukan sekedar artis YouTube. 😀 *sorry ya Wawa… 🙂

DSC02670

Panggung utama di bawah tiang raksasa

Niat menelepon teman saya hentikan, begitu gerombolan “pembangkang” merangsek masuk ke area Dataran Merdeka. Yel yel mereka teriakkan.
Seketika lampu panggung dan seputaran Dataran Merdeka dipadamkan oleh panitia. Suasana senyap dan gelap. Pidato seorang pejabat untuk meredamkan amarah massa, tak jua menghasilkan.

DSC02675

Penampilan Najwa Latif

Dalam suasana mencekam seperti ini, sms teman saya masuk lagi. Saya yakin kali ini delay lagi. Tanpa pikir panjang, saya panjat pagar, dan menelepon teman saya itu. Barulah ia bisa melihat saya. Itu pula untuk pertama kali semenjak lulus SMA kami bertemu.
Kami saling bersapa, tak menghiraukan pidato seorang pejabat yang terus berlangsung. Kulihat jam di hape bututku, mendekati 23:50 tahun 2014. Apakah kembang api akan dinyalakan?

DSC02691

Bertemu dengan teman, sesaat setelah lampu dipadamkan oleh panitia

Tak lagi saya ikuti menit-menit pergantian tahun. Tahu-tahu kembang api pecah di langit Kuala Lumpur. Terkecuali Dataran Merdeka! Benar saja. Tidak ada kembang api dalam pergantian tahun 2014! Tak ada pesta di Dataran Merdeka. Tapi saya sudah melihat Wawa. Love you, Wawa… 🙂 [Afif E.]

DSC02693

Salah seorang “Pembangkang” dalam jepretan kamera pocket pinjaman teman. 😀