Madura Trip #3: Al-Faraby Institute

Satu hari saya melihat teman saya membuka sebuah halaman grup Facebook dari akunnya, nama akun Facebook tersebut ialah Al-Faraby Institute. Satu nama yang mengingatkan saya pada ‘institute-institute’ yang lain, macam The Wahid Institute, atau Akbar Tandjung Institute. Bedanya dua institute yang saya sebut terakhir berpusat di Jakarta, sedangkan Al-Faraby Institut berada di Pragaan Sumenep Madura. 🙂

Pagi ini (21/7/14) saya berkesempatan main langsung ke tempat orang-orang kreatif itu, bukan sekedar via laman Facebook. Mereka tengah melangsungkan kursus Bahasa Inggris di sebuah gedung Madrasah Diniyah, tak jauh dari basecamp mereka. Sasaran kegiatan mereka adalah adik-adik pelajar usia sekolah hingga mahasiswa. Kebetulan hari-hari ini kegiatan sekolah sudah mulai libur. (sayangnya saya tidak membawa kamera ke tempat tersebut. 😦 ).

Salah seorang anggota ALFIN (Al-Faraby Institute) berkata pada saya, “Kegiatannya cuma bisa mengumpulkan 30 anak.” Walah… kata-kata “cuma” saya pikir terlalu merendah. Apapun kondisi dan berapapun peserta kursus pagi itu, tidak boleh hanya dibilang “cuma”. Kegiatan yang saya lihat tadi pagi adalah suatu hal yang positif. Dan yang dimaksud positif itu tidak harus dinilai dengan gebyar macam kampanye PILPRES, kan….

Kontribusi nyata mereka disamping memberikan pendidikan secara langsung pada adik-adik di sekitar Pragaan Sumenep, ALFIN juga mempunyai kerjasama langsung dengan salah satu dinas di lingkungan Kabupaten Sumenep. Disamping pendidikan bahasa, seorang anggota juga mengatakan bahwa mereka juga bergerak dalam pendampingan dalam bidang kewirausahaan. Ketika saya menceritakan desa asal saya di Bungah Gresik Jawa Timur yang memproduksi Peci atau Songkok Nasional, mereka berminat untuk mengetahui proses produksinya. Monggo… 🙂 [Afif E.]

Madura Trip #2: Ramuan 3 Pulau

Bagi anda yang sudah menikah, datanglah ke Sumenep. Ada ramuan tiga pulau yang siap menanti anda untuk memberikan kekuatan ekstra. (eh, kekuatan apa ya????? #Mikir! 😀 ).

Ramuan tiga pulau terdiri dari campuran maknyus antara lain kelapa muda yang dibakar, pinang muda, susu, jahe, telur, dan rempah-rempah rahasia (rahasia karena saya tidak tahu apa saja 😀 ).

Dan sebagai seorang perjaka ting ting… saya telah ditipu teman saya untuk meminum ramuan tiga pulau ini. Emaaaaakkkkk…. Anakmu ditipu minum ramuan tiga pulau….

Sayangnya malam ini tidak ada kamera yang dibawa. Sehingga saya tidak dapat menunjukkan pada anda bagaimana maknyusnya ramuan 3 pulau. Oh my god!!!!! Ramuan tiga pulau yang maknyus!!!! *lebaaayyy 😀

Dalam banner yang dipampang oleh si penjual ramuan tiga pulau, tertera tulisan besar-besar “RAMUAN TIGA PULAU MENGATASI EJAKULASI DINI, MENAMBAH STAMINA PRIA DEWASA, DIABETES, MENAMBAH KEKUATAN JADI MAK GRENGG (yang terakhir ini karangan saya 😀 )”.

Ayo, ayo.. come visit Sumenep rek… untuk beli ramuan tiga pulau ini gampang, lalui saja jalur Surabaya-Sumenep. Atau pesan lewat saya. Inbox yaaa…. 😀 [Afif E.]

Madura Trip: Jason’s Story

Makam Asta Tinggi Sumenep siang ini begitu panas cuacanya. Tapi tak menyurutkan langkah seorang Jason Supriyanto untuk mengunjungi makam raja-raja Sumenep itu. Oiya, kenalkan ia, seorang bule warga Negara AS bernama Jason Supriyanto. Kok Supriyanto? Iya, karena saya lupa menanyakan siapa nama belakangnya, jadi saya ngawur aja dia bernama belakang Supriyanto. 😀 😀 😀

Gerbang di Asta Tinggi, Sumenep Madura

Gerbang di Asta Tinggi, Sumenep Madura

Siang itu ia tidak sendiri, ditemani seorang guide cewek, seorang Indonesia. Tapi ia datang dari Amerika ke Indonesia sendirian. Tanpa melebih-lebihkan, saya menangkap antusiasmenya, saat kami bercakap dan saya amati selama ia berburu makam-makam di seputaran Asta Tinggi untuk ia potret. Berbanding terbalik dengan sang guide yang lemes, mungkin karena berpuasa.

Dari percakapan dengannya pula, saya ketahui kalau ia seorang backpacker yang tengah mengunjungi berbagai wilayah di Indonesia. Di sela-sela percakapan kami ia menambahkan, “You have good English” (ayolah mister… jangan terlalu jujur kalo berbohong… nanti puasa nya batal loh… Bahasa Inggris saya mah masih Elementary. Teman saya saja bilang kalo bahasa inggris saya masih logat medhok khas orang Jawa 😀 😀 😀 😀 ).

Dari Surabaya bersepeda motor lebih dari tiga jam, ia berkunjung ke Sumenep ‘cuma’ ingin memotret makam-makam. Dari percakapan siang tadi juga saya pikir pengetahuan Jason seputar Indonesia cukup bagus. Malah-malah ia fasih menyebutkan adanya Walisonggo (wali Sembilan) yang ada di Jawa.

Penulis berpose dengan Jason Supriyanto. (Supriyanto???? :D :D :D )

Penulis berpose dengan Jason Supriyanto. (Supriyanto???? 😀 😀 😀 )

Pada kunjungan kelimanya ke Indonesia kali ini, ia berencana ke beberapa tempat di Indonesia. Saya tambahkan ke dia, “enak ya. Bisa jadi kamu lebih luas berpetualang di wilayah Indonesia daripada saya.” Sambil dalam hati berkata, ‘ya jelas, lah wong kurs uang dollarmu mengalahkan rupiahku.’ :p :p :p [Afif E.]

Warna-warna dalam Kota Blora

Hari kamis, 25 April 2013 saya ditelpon oleh empunya Penerbit Nauka, Surabaya (alias paman saya, hehehe) untuk tandang pada acara bedah buku di Kota Blora. Maka SIAP SEDIA adalah jawaban saya. 😀 (Yuhuiii.. Blora… I’m coming…. 😀 ).

Sebenarnya beberapa kali saya pernah lewat Blora dalam tujuan ke Purwodadi dan Grobogan. Rute yang ditempuh juga sama, yakni Gresik – Lamongan Kota – Babat – Bojonegoro – dan masuklah di Blora setelah sebelumnya melintasi Cepu. Jika dulu untuk kirim songkok (kopyah) maka kali ini lain, dalam rangka acara bedah buku.

Berangkat dari Surabaya dengan mobil pada Sabtu 27 April 2013 pukul 00.39 dinihari. Berjalan perlahan-lahan, disela dengan istirahat beberapa kali, karena yang bisa nyetir dari kami bertiga (plus sepupu saya) dalam mobil itu hanya satu orang, dan itu adalah saya (jangan percaya, 😀 ). Kalau saja berangkatnya siang, maka lagu Band Ungu yang album apa itu, saya lupa, akan mengalun mengiringi perjalanan. Saya suka beat lagunya, walaupun sebenarnya liriknya tentang cinta. Tapi karena malam, maka yang diputar adalah radio dangdut. Indonesia banget… sip… (tarik rek!!!!…. ).

P1030249

Pertama sekali masuk Blora, kami disambut rush hour, serta anak-anak berangkat ke sekolah

Begitu sampai perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah, matahari sudah mulai benderang. Maka masuklah kami dalam Kota Cepu. Paman saya bertanya, “loh, Cepu bukannya Jawa Timur?” dalam benak saya juga demikian, karena Cepu sering disebut berita berada di Bojonegoro. Tapi kemudian saya ingat, itu adalah istilah dari sebuah blok sumber minyak, maka wilayahnya dinamakan Blok Cepu. (benarkah simpulan ini, saudara-saudara? 🙂 ).

Selain itu kami pikir Cepu adalah kabupaten tersendiri, eh, ternyata Cepu juga masuk dalam Kabupaten Blora. Tapi kenapa ada kepikiran begitu ya? Barangkali ada sejarah yang menuliskan RA Kartini Lahir di Cepu, dan meninggal di Rembang. (tuh, kan… dengan penulisan demikian, maka orang akan berpikir Cepu adalah nama sebuah kabupaten).

Ok. Kembali soal Kota Blora. Untuk sampai di Kota Blora, dari Cepu kami masih harus melewati hutan jati, yang entah saya lupa mengukur berapa panjang jaraknya (?). Yang jelas, masuk di Kota Blora kami langsung sarapan. Dan kamera digital pun beraksi…

P1030252

Pernah melihat monumen ini? tepat berada di tengah perempatan jalan, jika kita belok kiri, akan ada sebuh gereja, di belakang monumen, adalah jalan dari Surabaya

Mulai dari anak berangkat sekolah, rush hour kota Blora, beberapa monumen, tidak lepas dari jepret kamera digital. Kesan pertama saya, walaupun ketika kami datang adalah dalam waktu rush hour, rush hour alias jam sibuk kota Blora di pagi hari tidak segila Surabaya. Adem ayem tentrem.

Kami pun ikut ayem, apalagi acara bedah buku masih dilangsungkan pada pukul sembilan pagi. Sedangkan saat masuk kota, baru menujukkan pukul tujuh. Kami menuju gedung yang menjadi tempat acara menjelang pukul sembilan.

P1030266

Nyampek di tempat acara

Acara bedah buku itu rupanya menjadi salah satu agenda dari peringatan hari lahir organisasi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), motornya adalah pengurus cabang PMII Kabupaten Blora. Asyik, asyik, yang hadir cukup banyak. Beberapa perwakilan instansi pemerintah kabupaten, DPRD, hingga wakil bupati datang. Selamat untuk PMII Cabang Blora… 🙂

Usai acara bedah bukunya PMII, ada satu acara lagi yang tak diduga-duga, mendatangi rumah masa kecil Pramoedya Ananta Toer (Pram). 🙂 … sesuatu banget iki rek… karena tanggal 27 April kemarin bersamaan dengan peringatan Haul (peringatan hari wafat) ke 7 dari Pramoedya Ananta Toer. Saya sendiri baru tau kalo Pram adalah asli Blora. Di rumah tersebut kami ditemui Mbah Soes atau yang bernama lengkap Dr. Soesilo Toer, M.Sc., PhD., adik dari Pram, lulusan Sovyet yang berprofesi menjadi pemulung. (Nah, loh… lagi-lagi perkara politik). Mungkin bagian dari Pram akan saya tulis pada artikel berikutnya, karena hari sudah terlalu malam. (??? Apa hubungannya??? 😀 ).

P1030306

Kediaman masa kecil Pramoedya Ananta Toer

Dan ngomong soal malam, selepas dari kediaman Soesilo Toer, mobil kami langsung melaju dan sampai di Kota Pahlawan Surabaya pada pukul 23.30. Atau bisa dibilang, berangkat gelap, pulang kembali gelap. Benar-benar kota Blora yang berwarna. Thanks Penerbit Nauka, for this unforgettable trip. 🙂 [Afif E.]

The Photos

P1030377

Keluar Jawa Tengah, Perjalanan Pulang

P1030378

Masuk Jawa Timur, Perjalan pulang ke Surabaya

P1030307

Perpustakaan PATABA, salah satu bagian dari rumah Soesilo Toer

P1030305

Persiapan acara Haul ke-7 Pramoedya Ananta Toer

P1030290

Penulis yang bukunya dibedah dan empunya Penerbit Naka berfoto dengan panitia

P1030282

Iklan air mineral… 😀 😀 😀

P1030281

Memotret Pemotret

P1030263

Gerbang kantor Bupati Blora

P1030259

Masjid di sekitar alun-alun Blora, satu lokasi dengan kantor bupati

P1030253

Sarapan bubur, nasi kuning, atau krupuk (??? sarapan krupuk? 😀 )