Disruption: Ketika Sebuah Organisasi Harus Merombak Dirinya Sendiri

Membaca buku terbaru Rhenald Kasali berjudul “Disruption”, rasanya akan mendapatkan penekanan kuat, bahwa: Dunia Berubah. Bahwa menjadi “baik” tidaklah cukup. Membutuhkan satu usaha ekstra agar mau berubah. Pilihannya hanya dua: Berubah ataukah mengikuti perubahan. Sederhana.

Contoh yang seakan diulang-ulang dalam buku ini adalah contoh kasus mega perusahaan Nokia. Dalam kutipan buku ini, selalu menyertakan kalimat Stephen Elop (Nokia): “kami tidak melakukan kesalahan apapun; tiba-tiba kami kalah dan punah.”

Jamak kita ketahui bersama, bahwa Nokia yang semula menjadi hape kesayangan semua makhluk bertelepon genggam, kini malah tak banyak yang mengendusnya untuk dibeli. Bukan karena Nokia produk yang jelek (malah sangat bagus), namun Nokia tidak menyadari ada perubahan trend: penggunaan platform Android.

Tak hanya Nokia, Rhenald Kasali kemudian beralih pada topik Kodak dan Fujifilm. Dua raksasa film rol kamera.

Sebagaimana kita ketahui bersama, hanya dalam tempo dekat, beberapa generasi kita sudah tidak mengenal yang namanya negatif film (baca: roll film). Sehingga untuk mengambil dan mencetak gambar harus menunggu roll itu habis dulu (pengalaman pribadi). Tahunya kita saat ini, kita tinggal pose jepret, unggah, atau cetak via komputer di rumah; kalaupun itu ingin mencetak. Kedua perusahaan itu tergerus oleh zaman yang beralih pada kamera digital.

Sumber: Tribunnews.com

Namun tunggu dulu. Apakah Kodak tidak mengetahui adanya produk kamera digital. Jangan salah, dalam keterangan Rhenald Kasali, justru dari dapur Kodak sendirilah kamera digital lahir! Namun bayi kamera digital itu sudah dibredel oleh pimpinan-pimpinan yang tidak membaca arah perubahan zaman.

Saat terjadi perubahan zaman, dan penjualan roll film mulai menurun, bahkan kini sudah sangat-sangat tidak ada, Kodak baru kelabakan. Apa yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin tadi? Menyalahkan orang pemasaran! Helloww!

Langkah berbeda ditempuh oleh Fujifilm, yang mengambil kebijakan merubah diri dengan berkecimpung dalam dunia digital.

Baik, saya rasa ulasan singkat saya mengenai buku setebal 497 halaman ini jelas tidak akan mendalam. Cepat ke toko buku atau penuhi keranjang online mu! Beli dan baca! Semoga menambah wawasan. [Afif E.]

 

 

Identitas Buku:

Judul: Disruption: Tak ada yang tak bisa dirubah sebelum dihadapi. Motivasi saja tidak cukup.

Tebal: 497 halaman

Penerbit: Kompas Gramedia

Tahun terbit: 2017

Iklan

Hillary Clinton’s Hard Choices

JpegHillary Clinton’s Hard Choices. Beside is my first book 🙂

Actually I made a mistake when I took Hillary’s face on a hardcover book entitled: Hard Choices, in a book bazar in Surabaya, Indonesia. I supposed to met another book of hers: Living History. But, it is okay for having the first one.

I heard about Hillary Clinton in my childhood years, when the Monica Lewinsky scandal blewed up by the media around the world, Indonesia’s media included. Even though at that time I did not understand what the scandal is about.

Years then I know that the scandal is more about a woman, a wife, who try to safe his husband (Bill Clinton). It was not an easy choice I thought. How could a wife, whom betrayed by his husband, by had a sexual affair with another woman, but the wife safe the man! Even several media said that Bill Clinton’s savety during those time was in Hillary’s hand, not in Congress or Senate’s hand. I believe that was a hard time for Hillary, a hard choice, as she said in the title of her book.

Another hard choices of her was to do service for her country, USA, as a Secretary of State during Barack Obama’s presidency. How come an ex-rival, become a solid partner then? How powerful this woman to do that. How she built that “rinocheroes’s skin” during her lifetime.

This book, Hard Choices, told us more about her life during her duty as US Secretary of State in 2009- 2013. I want to read it more! And let’s discuss! [Afif E.]

Agama dan Kemajuan Suatu Bangsa Menurut Nurcholish Madjid

Jpeg

Nurcholish Madjid: Cita-cita Politik Islam

Menarik untuk mengikuti pemikiran Nurcholis Madjid (Alm.) terkait kemajuan suatu bangsa. Hingga tulisan ini dibuat, masih ada sebagian pihak yang berpendapat bahwa agama adalah salah satu penghambat bagi kemajuan suatu bangsa. Dalam istilah lebih ‘kuno’, agama bertentangan dengan modernitas, atau segala yang berbau modern ala bangsa Barat.
Sampai pada paragraf pertama saja, sudah banyak tulisan saya yang dipertanyakan. Bangsa Barat mana yang dimaksudkan oleh Cak Nur (catatan: panggilan akrab Nurcholish Madjid)? Apakah semua bangsa-bangsa berkulit putih? Ternyata bukan, tapi secara statistik kekinian, iya.
Cak Nur mengatakan, bahwa bangsa Barat mengalami kemajuannya dengan jalan tidak berhenti untuk melakukan inovasi. Utamanya gejala dan gairah inovasi ini terus berkembang sejak masa Renaissance bagi bangsa Barat, utamanya Eropa. Sedangkan pada umat Islam, terutama pada masa sebelum Renaissance, masa-masa inovasi itu ada!
Nurcholish menyebutkan kemunduran umat Islam, yang bersamaan dengan mulai munculnya Renaissance di Eropa, adalah karena berhentinya inovasi, yang dalam bahasa keislaman disebut dengan Ijtihad.
Sebagai percontohan, Nurcholish menyebutkan bahwa bangsa bukan Barat yang pertama kali menunjukkan keinginannya untuk menjadi modern adalah bangsa Turki, jauh semenjak Turki Utsmani masih berkuasa. Perkembangan menjadi modernnya pelan, sehingga lantas muncullah revolusi yang dipimpin oleh Mustafa Kemal. Dan atas nama modernisasi Turki menghapuskan sistem kekhalifahan.
Sampai di sini Nurcholish menyebutkan kekurangtepatan langkah yang diambil selama proses revolusi di Turki, diantaranya menghapus seluruh hal yang berbau Islam menjadi semua yang berbau Eropa agar menjadi modern (Epen: ataukah agar sekedar disebut modern?). Salah satu ‘unsur’ islam yang dihilangkan adalah penggunaan huruf Arab dalam penulisan bahasa Turki. Menurut Nurcholish ini adalah suatu kerugian besar, karena pada kenyataannya, bangsa Turki yang ada saat ini, adalah bangsa yang kehilangan dan terputus dengan masa lalunya. Karena bangsa Turki yang ada saat ini, adalah bangsa yang tidak bisa membaca khazanah dan kebijaksanaan dari masa Turki Utsmani hanya gara-gara tidak bisa membaca aksara Arab-Turki.
Berbanding terbalik dengan Jepang. Sebagai bangsa bukan Barat yang paling maju, justru tidak ada perubahan massive dengan merubah penggunaan huruf dan budaya asli dalam kehidupan Jepang modern. Nilai-nilai dan keyakinan lama oleh bangsa Jepang tidak membikinnya menjadi bangsa yang terbelakang.
Dua contoh kecil ini menurut Nurcholish menunjukkan bahwa inovasi dari dalam diri suatu bangsa lah yang membikin suatu bangsa menjadi maju. Bukan mengadopsi secara ‘kasar’ kebudayaan dan cara-cara luar agar sebuah bangsa menjadi maju. Sehingga, justru nilai-nilai yang sudah melekat dan ada pada diri tiap individu, termasuk dalam hal ini agama, bukanlah faktor penghambat dalam meraih kemajuan.
Sekali lagi menurut Nurcholish, agama sebagai bagian yang melekat pada diri pribadi haruslah dipandang sebagai sebuah nilai dengan terus melakukan inovasi (baca: ijtihad). Bukan memandang agama sebagai sesuatu yang harus dihafalkan. Karena jika beragama dipandang sebagai sebuah ‘hafalan’ saja, maka kemandegan pemikiran akan terjadi, dan ijtihad pun tidak akan terjadi.
Uraian ini adalah salah satu yang dibahas dalam buku “Cita-cita Politik Islam” karya Nurcholish Madjid. Apa dan bagaimana alur buku ini diuraikan, silakan baca lebih lanjut. Buku ini cocok untuk dibaca semua kalangan, termasuk umat non Islam. [Afif E.]

Identitas Buku:
Judul: Cita-cita Politik Islam
Penulis: Nurcholish Madjid
Penerbit: Penerbit Paramadina

Belajar di Rusia: Antara I’tikad, Semangat, dan Godaan Syahwat

Jpeg

“Merangkul Beruang Merah” karya Ade Irma Elvira

Buku yang kali ini saya bahas adalah buku berjudul Merangkul Beruang Merah. karya Ade Irma Elvira. Gadis berjlbab ini mengisahkan pengalamannya dengan gaya novel serupa dengan seri buku “Negeri 5 Menara” milik Ahmad Fuadi, atau “Laskar Pelangi” milik Andrea Hirata, atau juga seri 99 Cahaya milik Hanum Salsabila.
Saya kurang bisa membedakan secara persis mana yang fiktif, mana yang nyata dari novel ini. Meski begitu, jika dibandingkan dengan seri-seri yang saya sebut di atas, maka novel karya gadis berubuh mungil ini bagi saya lebih ‘kasar’. Dalam artian, masih banyak Ade Irma meninggalkan jejak-jejak pribadinya. Seperti nama teman, nama kampus, hingga tak ketinggalan foto-foto pribadinya selama studi di Rusia.
Bahkan yang bikin saya terkejut adalah foto paman saya juga ikut nampang di halaman 184 dan 186 dalam novel setebal 304 halaman ini. Semula saya kira Ade Irma yang memulai kuliah di tahun 2012, tidak sempat bertemu dengan paman saya yang lulus di tahun 2012. Namun foto itu menjawab lain. Hehehe..
Menjadi catatan tersendiri bagi saya, bagaimana Ade Irma membuat gambaran tentang betapa sulitnya meminta izin orang tua, mencari tambahan biaya hidup karena beasiswa Pemerintah Rusia yang hanya (sangat) sedikit. Namun dengan i’tikad dan semangat yang kuat Ade Irma pada akhirnya mampu menyelesaikan studinya di negara beruang merah itu. Dan gambaran kesulitan itu adalah kalimat paling lugas dari kalimat penyemangat yang diberikan oleh para motivator: bahwa hidup harus seterong! (baca: Strong).
Bagian yang membikin saya bangun adalah saat Ade Irma menceritakan dirinya terjebak dalam asrama dengan teman sekamar yang sekenanya membawa pacar menginap. Bahkan bersetubuh dengan telanjang bulat di depan matanya. Tak kenal waktu, dan tak kenal lelah. Tiap hari, tanpa tirai, dan live ditonton oleh Ade Irma setiap saat dirinya tiba di kamar.
Ade Irma pun sempat mengalami godaan syahwat yang tidak dapat dihindari. Mengingat dirinya juga lajang. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jika saya dalam posisi itu. Mendapati pasangan mendesah di satu kamar mandi di Singapura saja pikiran saya sudah kalang kabut (baca tulisan saya sebelumnya).
Lantas, trik apa yang dilakukan Ade Irma untuk menjaga diri dari intaian seorang lelaki bugil di depan matanya? Serta desahan panas teman sekamarnya saat bermain di ranjang? Jawabannya ada di buku terbitan Elex Media Komputindo ini. Bagus untuk dibaca! Dua jempol buat Ade Irma! [Afif E.]

Informasi tentang buku:
Judul: Merangkul Beruang Merah
Penulis: Ade Irma Elvira
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2016

KH. Sholeh Darat, Syarah Al-Hikam, Kartini, dan Debat Kusir Tentang Agama

sholeh darat

Panjang betul judul artikel ini. Ah, tapi biarlah. Semoga tidak mengurangi pembahasan tentang buku “Syarah Al-Hikam”, sebuah buku terbitan Januari 2016 ini. Dikatakan baru karena buku berbahasa Indonesia ini adalah penerjemahan dari karya KH. Sholeh Darat, seorang ulama Nusantara. Ditulis pada tahun 1868, karya aslinya berbahasa Jawa dengan aksara Arab-Pegon (dalam tradisi pondok yang dikenalkan pada saya, huruf adaptasi ini disebut dengan huruf Pego). Sebuah karya tulis untuk mengejawantahkan Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah.
Kerisauan RA Kartini
KH. Sholeh Darat adalah seorang ulama, yang dalam banyak riwayat dikatakan menjadi guru dari RA. Kartini. Perempuan yang disebut tokoh emansipasi wanita itu. Saya masih ingat saat seorang teman membuat status di Facebook-nya dengan seenaknya memenggal keterangan, dan mengatakan bahwa Kartini memberontak pada agamanya sendiri, yakni Islam. Padahal dalam kelanjutan sejarah, Kartini yang risau atas keinginannya untuk paham makna dari Al-Quran, selanjutnya mencari guru yang paham agama, kemudian menjadi tercerahkan oleh KH. Sholeh Darat.
Tak hanya Kartini yang tercerahkan, selepas dialog dengan istri dari Bupati Rembang itu, mbah Sholeh Darat memiliki tekad kuat untuk menerjemahkan isi kandungan Al-Quran dalam bahasa Jawa. Sesuatu yang pada masa itu belum banyak dilakukan. Demikian penjelasan penerjemah dalam bahasa Indonesia.
Debat Kusir Tentang Agama
Dalam Syarah Hikmah ke-68, KH. Sholeh Darat memberikan penjelasan panjang lebar. Penggalan yang ingin saya sampaikan adalah:

“… Terkadang orang yang taat itu disertai cobaannya seperti ujub dengan amal serta bersandar dengannya, dan MENGHINA-HINA ORANG YANG TIDAK TAAT, dimana kesemuanya menjadi sebab terhalangnya pengabulan amalnya, atau tidak diterimanya amal.” (hal. 109 – 110).

Bagian “menghina” sengaja saya tulis kapital. Untuk menjadi pengingat pada kita semua, betapa gampang kita dalam menyampaikan hujatan, hinaan, pada orang seagama namun dengan pemahaman berbeda.
Pada akhirnya saya setuju dengan kalimat bapak saya yang mengatakan lebih baik bertetangga non Muslim, daripada bertetangga dengan Muslim namun berbeda paham. Karena pada praktiknya perbedaan cara ibadah yang akan selalu dipelintir dan diperdebatkan. Wis lah! (Sudahlah!).
Sangat urgen-kah setiap hari menularkan kebencian atau trik menyerang balik di media sosial tentang agama? Ataukah yang perlu kita tularkan adalah pemahaman akan cara beragama itu sendiri? Apakah kita yang punya kewenangan menilai amal ibadah orang lain? Apakah kita sudah punya kavling di Surga, sehingga berani menuding-nuding pada orang yang berbeda paham? Ataukah sangat perlu “tiap hari” menyerang balik saat dihujat? Silakan baca buku ini. Bisa menjadi salah satu masukan yang bagus. It’s a must to referred. [Afif E.]

Informasi tentang buku:
Judul: Syarah Al-Hikam
Penulis: KH. Sholeh Darat
Penerbit: Sahifa

Athirah, Jusuf Kalla, dan Pergulatan Batin Keluarga Poligami

Athirah, karya Alberthiene Endah sumber gambar Goodreads

Jusuf Kalla tak paham betul ucapan Emma-nya (baca: Emak) tentang perubahan sikap Haji Kalla, bapak dari Jusuf Kalla. Tiba-tiba suka bersisir dan dandan klemis. Jusuf Kalla yang masih remaja tanggung itu akhirnya mendapatkan penjelasan dari Nurani, kakak perempuannya: Bapaknya kawin lagi!
Sungguhpun keluarga Kalla di Makassar di tahun 1950-an masih utuh, namun pergulatan batin anak-anak yang mengalami bapaknya poligami menjadi sangat pahit. Pagi hari saat sarapan bapaknya akan bersama Jusuf Kalla dan saudara kandungnya. Saat maghrib pun demikian. Namun malam-malam panjang adalah kepunyaan istri kedua. Lantas bagaimana dengan kejiwaan Jusuf Kalla saat itu?
Athirah Kalla, istri pertama dari Haji Kalla sudah serapi mungkin membungkus perasaannya sebagai istri yang dimadu. Justru dari situ Jusuf Kalla bisa menangkap betul pergulatan batin Emma-nya. Saat wanita Bone itu mendapati surat cacian sebagai wanita pengganggu rumah tangga orang. Sungguh aneh, harusnya dirinyalah yang merasa rumah tangganya dirusak, namun malah dituding sebagai wanita perusak rumah tangga.
Apakah Jusuf Kalla tidak membela? Atau sekedar bertanya pada bapaknya, mengapa harus ada istri kedua? Hingga beberapa waktu Jusuf Kalla tak sanggup mengatakan itu pada lelaki yang ia hormati itu, Bapaknya, Haji Kalla.
Potongan kisah ini adalah sebagian dari tulisan Alberthiene Endah dalam bukunya, Athirah. Sebuah kisah yang berangkat dari kisah nyata Jusuf Kalla.
Alberthiene piawai dalam menggambarkan pergulatan seorang anak yang mengalami bapaknya memadu ibunya. Meski sejatinya yang sangat sakit adalah Athirah, ibu dari Jusud Kalla, namun kejiwaan anak akan tetap terpengaruh. Mulai dari perasaan kehilangan sosok dalam rumah. Hilangnya perasaan memiliki keluarga yang utuh. Hingga kecamuk seorang remaja tanggung atas nasib poligami yang terjadi. Lalu bagaimana perjuangan Hajah Athirah Kalla dan Jusuf Kalla menghadapi hari-hari dalam kehidupan poligami?
Buku ini akan memberikan jawabannya. Tentang pemahaman dan pengarungan pada kejiwaan seorang anak dan keluarga yang kepala keluarganya melakukan poligami. Ternyata poligami tak sekedar kawin lagi. It’s a must to read! [Afif E.]

Irfan Amalee: Beasiswa di Telapak Kaki Ibu

Irfan Amali

Semula ayahnya begitu menentang keputusannya untuk kuliah di Barat. Disamping khawatir dengan para Yahudi, ayah dari Irfan Amalee memiliki cita-cita agar ada anaknya yang kuliah di Al-Azhar, Mesir. Maka terang saja perjuangan Irfan untuk memperoleh beasiswa dirasakannya begitu berat. Mengingat ketiadaan restu dari kedua orang tua.
Beberapa kali mencoba mendaftar selama bertahun, Irfan pada akhirnya mendapatkan restu dari bapaknya. Dengan asumsi dari si bapak, bahwa di Barat juga adalah bumi Allah juga.
Maka mendaftarlah Irfan Amalee pada salah satu pendonor beasiswa. Namun hanya bisa lolos sampai pada tahap wawancara saja. Ingatlah Irfan, ibunya belum ridlo jika ia sekolah jauh. Dirinya baru mendapat separuh ridlo orang tua!
Maka pulanglah Irfan, menceritakan pada ibunya perihal kegagalan beasiswanya untuk kesekian kali. Kala itu Irfan sambil memijit kaki ibunya. Segala ungkapan diucapkan oleh Irfan pada ibunya mengenai kekecewaannya tidak berhasil mendapatkan beasiswa.
Barangkali karena terenyuh dengan cerita-cerita anaknya itu, ibu dari Irfan Amalee akhirnya memberikan restu bagi Irfan untuk belajar dimanapun belahan dunia. Bahkan jika ujung dunia, jikapun itu ada.
Ajaib. Dalam kurang dari 48 jam, petugas dari Ford Foundation menghubungi Irfan, bahwa salah seorang kandidat yang terpilih menyatakan mengundurkan diri. Dan Irfan dipilih sebagai penerima pengganti. Tak pelak kabar ini menjadi kebahagiaan bagi orang tuanya.
Kisah ini adalah sebagian kecil dari kisah perjuangan Irfan Amalee untuk memperoleh beasiswa untuk studi di Brandeis University, Amerika Serikat. Bagaimana kisah lengkapnya, tentu bisa dirujuk pada bukunya yang berjudul “Beasiswa di Telapak Kaki Ibu” ini.
Uniknya buku ini, karena sifatnya yang 2 in 1 (baca: Two in One). Karena isinya yang sebenarnya penggabungan dari dua buku berbeda. Buku apa itu? Silakan langsung lihat bukunya. Dan bagi anda yang merasa belum mendapatkan beasiswa hingga hari ini, bisa jadi restu orang tua belum anda dapatkan. 🙂 [Afif E.]

Informasi tentang Buku:
Judul: Beasiswa di Telapak Kaki Ibu
Penulis: Irfan Amalee
Penerbit: Mizania