Perkara Teknis dan Non-Teknis dalam Urusan Administrasi

Perkara Teknis dan Non-Teknis dalam Urusan Administrasi.

Iklan

Ketika yang Bermimpi Seorang Fir’aun

Fir’aun alias Pharaoh alias penguasa Mesir pada masa kuna (kuna??? Kata apaan tuh? 😀 ). Jika anda pernah mendengar kisah Nabi Yusuf AS, baik dari Al-Quran maupun dari Kitab Perjanjian, barangkali akan anda temui kisah tentang seorang Fir’aun yang galau dengan mimpinya. Dalam film Yuzarsif (pernah saya tulis sebelumnya), dikisahkan bahwa Amunhatep IV (Fir’aun pada masa Nabi Yusuf) tengah dibikin galau dengan mimpinya.

Yuzarsif yang memberikan penjelasan arti mimpi (takwil mimpi) yang memuaskan Amunhatep IV, lantas membebaskannya dari penjara. Dalam episode 19 dari sinema ini digambarkan bahwa pembebasan dilakukan di tahun kesepuluh Yuzarsif dipenjara karena keberingasan Zulaikha (wus, hiperbola banget bahasanya: keberingasan). Tak cuma membebaskan dirinya, Amunhatep lantas memberinya jabatan yang cukup tinggi di lingkungan kerajaan mesir kuna. Jabatan itu terkait erat dengan mimpi sang Fir’aun. Emang mimpi apaan sih tuh Fir’aun,sampek-sampek membuat satu negeri gerah?

Dikisahkan bahwa Amunhatep IV bermimpi selama dua malam. Malam pertama ia bermimpi ada tujuh sapi gemuk-gemuk yang keluar dari sungai Nil, tapi kemudian ketujuh sapi ini dimakan oleh tujuh sapi kurus-kurus. Di malam kedua, selain memimpikan tentang sapi, si doi (Amunhatep IV) juga memimpikan tujuh tangkai gandum yang subur dan sehat, menjadi rusak karena tujuh tangkai gandum yang kering. Yuzarsif lantas mentakwil mimpi itu, bahwa Mesir akan menghadapi tujuh tahun masa panen yang berlimpah. Sedangkan tujuh tahun setelahnya, Mesir akan dihadang oleh masa kekeringan dan paceklik.

Dengan bertaruh bahwa sang Fir’aun akan mempertaruhkan empat belas tahun nyawa sebuah bangsa, maka keputusan penting diambil berdasar takwil sebuah mimpi. Selama tujuh tahun masa panen, kerajaan menyimpan hasil panen. Dan benar saja, dikisahkan dalam kitab suci memang tujuh tahun berikutnya Mesir mengalami paceklik, sehingga simpanan panen yang dilakukan selama tujuh tahun dapat dimanfaatkan. Dan siapa yang ditugaskan oleh Amunhatep IV untuk mengawasi proses tersebut? Ialah Yuzarsif alias Nabi Yusuf yang mendapat mandat itu. Saya jadi mikir, sampek segitunya ya?

Apanya yang ‘sampek segitunya?’? itu tuh, kalo yang mimpi seorang Fir’aun, ada kebijakan yang diambil dari makna mimpinya. Ow…. Begono ya. Ck ck ck. Ya wes lah, selamat menyaksikan sinemanya. [Afif E.]

 

 

Arti Cinta dalam Kamus Pecinta

Beberapa waktu lalu hape saya mendapatkan inbox dari salah satu pembaca blog ini. Kurang lebih SMS itu berbunyi, “…. Saya tunggu untuk menulis apa arti cinta menurut sampeyan (saya, Epen).” Sejenak setelah membaca SMS itu saya duduk termenung dan mikir, mau nulis apaan???! I’m just an ordinary person, with only a little experience about love. Saya tergolong awam untuk menuliskan itu. Tapi nggak apalah, coba saya tuliskan.

sms 3

Screen Shot SMS yang saya maksud. (kurang kerjaan banget hape dipotret. 😀 😀 😀 )

Barangkali saya mulai dari kisah saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Satu hari sebagai seorang anak lugu, innocent, ingusan tapi pintar dan suka menabung :D, saya lagi asyik-asyiknya tuh, entah lihat Donald bebek, atau kartun apa gitu saya lupa… tapi kita anggap saja Donald bebek. (belum jamannya Spongebob Squarepants sama Naruto 😀 ).

Ok, kembali ke Donald bebek saudara-saudara, di saat tengah asyik menyaksikan teve, masuklah dua sejoli. Seorang gadis, adik dari pemilik rumah, dan seorang lagi lelaki, saya masih ingat, adalah teman kuliahnya. Maka percakapan pun dimulai. Saya yang masih lugu, innocent, ingusan, tapi pintar dan suka menabung, tetap aja asyik dengan kartun Donald bebek. Ogah keluar dan awas aja kalo disuruh keluar, pikir saya sebagai anak-anak.

Di tengah melihat kartun, antara mendengarkan dan tidak dari percakapan mereka berdua, namun percakapan yang masih saya ingat secara kabur adalah berikut ini.

“sebenarnya saya tuh suka kamu,” ucap si lelaki.

“gitu ya?” timpal si gadis, asal jawab.

‘dan sebenarnya juga aku sedang bersaing dengan si X, Y dan Z.’ (saya lupa siapa aja mereka. 😀 )

Percakapan berikutnya saya lupa, tapi kalimat pamungkas dari si gadis lah yang paling ‘menghujam’ dan menutup percakapan mereka adalah,

‘buat apa sih pakek pacaran segala… udah lah, kita temenan aja… “ (owh… so sweet… 😀 )

Akhir-akhir ini saja saya baru sadar kalo ternyata macam yang dilakukan oleh si lelaki adalah yang disebut sebagai nembak :D. Romantis banget…. (eh, romantisnya dimana?)

Dari anak-anak, menuju masa percintaan remaja, hingga kita memasuki masa pernikahan. Dalam percakapan saya dengan Neng Pipit, sepupu saya, kita manusia itu aneh. Anehnya dimana? Saat kita kecil, kita pernah mengalami masa sangat terkekang oleh aturan dari orang dewasa dan merasa diri kita diikat sebagai bagian dari mereka. Beranjak tahun saat kita remaja hingga menjelang dewasa, kita diberi kebebasan untuk tidak terikat. Namun saat kita menemukan arti cinta, kita malah berusaha untuk mengikatkan diri kita dengan orang yang kita cintai, terlebih dengan ikatan yang lebih sakral, yakni pernikahan. Dengan ikatan itu kita berusaha untuk meng-include-kan diri orang lain dalam bagian hidup kita. Ya… itulah manusia, kata Neng Pipit.

Dalam teori dasar saat kita belajar bahasa pemrograman PHP, kalimat include biasa digunakan untuk menghubungkan dua script dimana keduanya akan bermanfaat bagi programmer dengan adanya include tersebut. Maka di sisi kita sebagai pribadi, include dapat dimaknai kita menghubungkan orang lain dalam kehidupan nyata kita. Memasukkannya sebagai bagian dari riwayat hidup kita.

Dari perasaan include tersebut, maka muncul beragam kata yang menggambarkan perasaan sebagai ekses dari perasaan include itu sendiri. Misal saja senang saat bersama, gundah saat berpisah, agresif, pasif, posesif, rindu, cemburu, hingga galau. Mengenai sumber-sumber perasaan? Ah, barangkali bisa beragam. Namun kata orang jawa, witing tresno jalaran songko kulino. Cinta tumbuh dari kebiasaan.

Maka, pesan saya untuk pemesan artikel ini, arti cinta bisa kita artikan seperti konsep include dalam bahasa PHP. Apaan sih include? Belajar dulu bahasa PHP! Hahahaha 😀 😀 😀 [Afif E.]

Mind the Gap: Game tentang Gender dan Persebaran Pendidikan

Jika kalian membuka halaman website milik UIS alias the UNESCO Institute for Statistics, kalian akan menemukan satu posting menarik. Bertanggal posting sekitar sebulan lalu, atau lebih tepatnya tanggal 6 Maret 2013, UIS memajang permainan atau game untuk menandai International Women’s Day alias Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2013. Game tersebut diberi nama MIND THE GAP: Gender & Education. Seperti nama mainannya, game ini akan mengantarkan kalian untuk belajar dan mengetahui persebaran dan pemerataan pendidikan bagi individu wa bilkhusus(khususnya) berdasar gender.

Saya sendiri tergolong awam dengan konsep gender dan lain-lainnya, tapi secara umum dapat saya katakan game ini berusaha menyajikan data-data mengenai persebaran pendidikan dari semua negara yang dibagi per wilayah regional. Sayangnya, ketika saya mencoba pilihan menu negara Indonesia, data mengenai persebaran pendidikan bagi penduduk Indonesia tidak tersedia. Mungkin ke depan game ini tinggal melengkapi data dari tiap-tiap negara.

Keunggulan lain dari game ini adalah sifatnya yang online, sehingga bisa dimainkan dimana saja. Ketidakunggulannya adalah sidat dari game ini yang online, sehingga teman-teman yang tidak punya akses internet tidak bisa menikmatinya. (Mbulet.com :D).

Selain itu, game ini juga disediakan dalam fasilitas tiga bahasa, yakni Bahasa Inggris, Bahasa Prancis dan Bahasa Spanyol. Jadi untuk kalian yang terbatas dalam masalah Bahasa Inggris, tenang aja, masih ada dua pilihan bahasa yang lain. Berikut ini saya sajikan gambar dari langkah-langkah saat bermain Mind the Gap. Coba dan rasakan sendiri game nya di laman UIS. Dan sebagai gambaran di bawah ini saya coba berikan screen shot dari game tersebut. [Afif E.]

01

Halaman Awal dari permainan, kita tinggal pilih tombol Let’s Start!

02

Langkah dua, kita memasukkan data umur kita. Lingkaran hitam bertepi biru bisa kita geser

03

Langkah 3, kita memasukkan informasi asal kita

04

Langkah 4, kita masukkan data jenis kelamin kita

05

Langkah 5, kita masukkan data pendidikan kita

06

Langkah 6, kita masukkan data studi kita

07

Langkah 7, kalo menurut saya, bagian ini untuk membuat avatar kita jadi ciamik

08

Langkah 8, proses membaca masukan kita

09

Langkah 9, halaman ini muncul saat saya memilih Indonesia sebagai negara asal. sayangnya, data pendidikan oleh game ini belum mencakup Indonesia.

10

Langkah 10, barangkali pada langkah ini kita dapat memperoleh informasi mengenai data pendidikan di tiap negara

11

Langkah 11, jika pada langkah 10 kita ditunjukkan data pada negara pilihan kita, maka pada langkah 11 kita ditunjukkan bagaimana kondisi di negara lain yang cukup memprihatinkan.

12

Langkah 12, langkah penyelesaian game. Silakan mencoba teman-teman… 🙂

2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 2.500 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 4 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

The Colorful India

Sebuah klaim dari guru kesenian SMA saya menyebut bahwa pusat perfilman dunia ada tiga. Pertama Hollywood, dengan kekuatan produksi dan mengguritanya. Kedua Hong Kong, dengan aksi battle-nya. Ketiga adalah India, dengan warna lagu dan kesemarakan festival–yang bagi guru saya tersebut, Hollywood belum bisa menghadirkan kemeriahan a la Bollywood.

Sebuah kuil hindu tampak di belakang sana

Shakh Rukh di depan sebuah kuil hindu

Barangkali begitu acuhnya saya waktu itu, sehingga saya kurang memperhatikan klaim guru saya tersebut, baru akhir-akhir ini saja saya pikir, memang iya. 🙂

Mencomot film “Rab Ne Bana Di Jodi”, menunjukkan kelihaian sutradara (dan industri film India secara umum), bagaimana ramuan judul “tuhan” dapat dikemas sedemikian cantik. Saya baru menyaksikan film ini setelah seorang teman bercerita panjang lebar soal plot film ini.

Film yang dibintangi Shakh Rukh Khan(sebagai Surinder Sahni) dan Anushka Sharma (sebagai Taani Gupta) ini membuat saya harus memutar berulang-ulang lagu tema nya yang berjudul “Tujh Mein Rab Dikhta Hai”. gak tau apa artinya… hehehe 😀

Namun dari alur lagunya mengenai cinta dan kuasa tuhan lewat cinta (bener kah??? hehehe), cerita beralih dari simbol-simbol beberapa agama besar. Sebut saja adanya scene awal saat Suri dan Taani memasuki sebuah kuil Hindu. Pada scene ini ditampilkan Taani berdoa secara hindustani.

Simbol Yesus di belakang aktris

Pada scene kedua setelah Taani diberi kejutan oleh Suri berupa siraman bunga, scene beralih ke adegan dimana Suri dan Taani berada dalam sebuah gereja. Penuh dengan simbol-simbol Kristiani.

Dan dalam satu scene, digambarkan Suri dan Taani memasuki areal sebuah makam. Dan saya kira berdoa secara Islam. Sebuah peralihan scene yang indah, tapi juga membingungkan. Sebenarnya si tokoh dalam film ini beragama apa?

Scene berdoa di sebuah makam

Karena dalam lagu yang lain “Tujh Mein Rab Dikhta Hai” versi kedua, ditampilkan Golden Temple di Amritsar. Sebuah kuil lambang dari agama Sikh.

Sebenarnya juga tidak perlu diambil pusing, toh sutradara berusaha mengarahkan penonton dalam sebuah situasi ritual-ritual agama saja, sebagai bumbu dari judul film ini.

Scene di Golden Temple, Amritsar

Terlepas dari itu, saya suka warnanya. Sutradara benar-benar berusaha menggambarkan kondisi masyarakat India dengan tetap menyentuh nilai universal melalui simbol agama-agama besar dunia.

Dan menonton berulang kali scene dari lagu-lagu tersebut terasa betul nuansa festival ataupun pesta-pesta yang oleh Hollywood tidak begitu meriah dalam penyuguhannya. Bener-bener India yang penuh warna. [Afif E.]

“The Not Sensitive” Seoul

Today was reading an article entitled “Bendera Jadi Target Latihan Perang, Korut Marah“, one of articles on Yahoo! Indonesia page. Makes me so angry and having a statement in my head, “how South Korea is not sensitive at all!” The article is about the use of North Korean Flag in “War Game” by USA and South Korea, in a military war simulation.

The reconsiliation among two Korea was always become a hot issue among people who want peace in Korean Peninsula. But I guest that the use of North Korea Flag in those ‘game’ was a high expensive price that must paid by Both Korea. How Seoul was not sensitive?! Making the Stubborn North Korea angry!

The reason that wrote in those article was to makes South Korean soldiers. What! just about that reason! Why not Seoul use their popular drama to make their soldier having spirit to war…

 

 

Didn’t Seoul and PyongYang was too sick with their war? Germany and Vietnam has proving that the reconsiliation was the best way to make peace.

United States must to be left behind them! Who is America today? Nothing, but only Hollywood, friends.. [Afif E.]