Yang Membikin Semangat Nulis Blog

Apa yang membuat saya semakin semangat dalam menulis blog? Karena ada yang ngutip alamat blog saya! J Berpengaruh betul pada semangat, antara adanya kutipan dengan tidak. Terima kasih banyak buat teman-teman penulis di dunia maya yang mengutip dan mencantumkan blog saya. Meski hingga hari ini blog pribadi tidak boleh dikutip dalam karya tulis ilmiah macam skripsi dan sebangsanya, tapi lebih menggembirakan hati jika yang mengutip adalah sesama penulis dunia maya. 😀 😀 😀 #SorryProf 🙂 🙂 🙂

Perlu saya catat sebagai catatan diri sendiri, beberapa gambar yang saya buat adalah hasil “Piracy” alias pembajakan. Saya sendiri lupa apakah itu saya sengaja atau tidak. Namun saya mesti tulis di sini, bahwa, sebagian gambar di blog saya ini ada yang mengambil langsung (dan saya lupa mengutip #sorry). Mungkin tuhan YME sudah membalasnya melalui beberapa orang yang mengambil gambar di blog saya tanpa mengutip, sama sekali (beneran, sedih banget).

Beberapa gambar ataupun tulisan yang sudah dipakai orang macam gambar Dian Sastro (ini asli saya ngambil punya orang 😦 #SorryBeneranLupaLinknya); foto pendakian selama di gunung Arjuno (yang ini dibajak orang lain tanpa mengutip; Dipakek buat promo jualan pula! #UdahKadung), foto di Singaraja, Bali; foto screen shot film dokumenter TKW di Hong Kong; foto cover buku Ali Sastroamidjojo (hasil scan oleh saya sendiri).

Mungkin ada yang nyinyir dengan berkata: Segitu aja udah bangga??!

Biarkan saja lah. Saya hanya ingin mengungkapkan apa yang membuat saya bersyukur dan bahagia. Utamanya dengan kegiatan menulis. Tidakkah bersyukur itu lebih berarti? 🙂 [Afif E.]

Termos Air Selat Madura

Jpeg

Tremos Air Selat Madura

Ia hanyalah tremos biasa jika berada di rumah kita. Tremos yang hanya untuk menyimpan air panas. Lain lagi jika di tangan para pedagang asongan di atas geladak kapal penyeberangan selat Madura.

Saya selalu kagum sejak awal saya tahu. Saya perhatikan selalu tremos yang sudah bertambah-tambah fungsinya itu.

Sebagai fungsi penyimpan air panas, ia tetap mendapatkan tupoksi utama. Sebagai tempat menempelnya berjajar kemasan sachet minuman yang diseduh dengan air panas. Mulai dari aneka varian kopi hingga minuman sereal. Lalu bagaimana kemasan sachet yang banyak itu bisa “memeluk” tremos tanpa takut jatuh? Inilah inovasi para pedagang tersebut.

Bisa jadi mereka sudah menerapkan konsep daur ulang, jauh hari sebelum para pejuang lingkungan masa kini berteriak terlalu berisik. Para pedagang tersebut memakai plastik bekas kemasan kopi sebagai penempel, cukup ditambahkan stapler. Voila… jadilah kemasan sachet menempel berjibun tanpa takut jatuh lagi.

Belum berhenti di situ, sebagai tempat gunting dan sendok, para pedagang asongan juga menggunakan plastik bekas kemasan sebagai wadah kedua benda tersebut.

Lalu, kalau pembeli mendapat wadah apa? Para pembeli akan membeli dalam cup yang juga ada melekat di seputar tremos. Bagaimana tumpukan tremos bisa melekat?

Rupanya selongsong pipa dirancang sedemikian rupa. Dibikinlah pipa seukuran tinggi kurang dari ketinggian tremos. Salah satu bagian ditutup dan menjadi bagian bawah. Bagian atas dibiarkan terbuka, sebagai wadah tumpukan gelas cup. Keren….

Maka lengkaplah sudah peralatan tempur para pedagang asongan tersebut. Siap menjajakan dagangan dan berteriak: “pi… kopi…”, dan pembeli akan membeli dengan harga 3000 rupiah per cup. Wonderful! [Afif E.]

Ta’limul Mutaallim, Teori Belajar, dan Pengembangan Manusia

Pendidikan pada dasarnya merupakan usaha sadar manusia untuk menyampaikan nilai-nilai tertentu pada keturunannya. Berbagai usaha dan inovasi dilakukan agar manusia generasi berikutnya dapat survive serta dapat menjadi kholifah fil ardl, jika dilihat dari sudut pandang Islam. Dari segi kepentingan ini pula, berbagai teori belajar muncul. Salah satunya adalah teori belajar konstruktivisme.

Tak banyak yang penulis pahami tentang teori belajar konstruktivisme. Sedikit yang penulis ketahui bahwa teori ini mengungkapkan arti penting sikap proaktif pembelajar (baca: siswa) untuk mencari sumber belajar dan menjadi pemeran aktif untuk memahamkan dirinya sendiri. Setelah paham, lantas sebenarnya tujuan belajar oleh pembelajar untuk apa? Ada baiknya kita runut balik adanya hadits: bahwa saat bani Adam meninggal, terputuslah amalannya kecuali tiga hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh[1].

Kita tekankan pada poin kedua: ilmu yang bermanfaat. Terlepas dari uraian para pakar dan ilmuwan mengenai definisi ilmu yang bermanfaat tersebut: sebagian ada yang mengatakan bermanfaat dengan cara mengajarkannya pada orang lain, sebagian lagi berpendapat bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diterapkan bagi kemashlahatan umat. Satu hal yang jelas, tidak ada yang membantah bahwa ilmu haruslah bermanfaat. Lantas, bagaimanakah cara menggapai ilmu yang manfaat itu sendiri?

Syeikh Az-Zarnuji membahasnya dalam karyanya yang berjudul Ta’limul Mutaallim. Syeikh Az-Zarnuji merupakan ahli fiqih, sekaligus filusuf Arab, dengan riwayat hidup yang tidak banyak kepastian, mengingat simpang siurnya catatan tentang beliau[2]. Akan tetapi tentu tidak mengurangi makna dan kandungan karya Ta’limul Mutaallim itu sendiri.

Cetakan kitab yang diketahui paling lama adalah pada tahun 1709 M di Jerman ini, banyak sekali membahas tentang niat belajar, tata cara dan waktu belajar, memilih bidang ilmu yang dipelajari, memilih teman dan guru, hingga sikap wara yang harusnya dimiliki oleh setiap pelajar. Dari uraian di dalamnya, dapatlah kita sedikit menyimpulkan, bahwa Syeikh Az-Zarnuji menekankan peran penting sikap proaktif para pelajar, untuk memahamkan dirinya sendiri. Karena sejatinya pendidikan merupakan tentang membelajarkan dan memahamkan cikal bakal manusia, seperti disinggung di awal tulisan ini. Hal ini juga relevan dengan penerapannya dalam dunia pendidikan tinggi.

Terdapat kekhawatiran semakin meluas, bahwa semakin banyaknya pengangguran di tingkat sarjana. Juga kekhawatiran adanya sebagian mahasiswa atau pelajar yang merasa dengan hanya mengandalkan nama besar tempat belajar (baca: reputasi kampus) dirinya akan survive. Rhenald Kasali mengindikasikan hal ini dalam bukunya[3]. Padahal menurut Kasali, sikap dan pemahaman demikian paling tidak akan mengurangi kemampuan manusia hasil pendidikan tinggi untuk bertarung di dunia. Untuk memanfaatkan ilmunya, ataupun memberikan mashlahat bagi umat melalui ilmu manfaatnya.

Dari yang demikian tadi, lantas bagaimanakah kita harus menyikapi? Paling tidak untuk diri kita sendiri dulu. Apakah salah kurikulum yang selalu berubah? Hemat penulis, tidak dapat hanya menyalahkan satu porsi ini saja. Mengingat perubahan kurikulum merupakan bagian dari antisipasi perubahan zaman. Sebagaimana ungkapan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali: didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena ia akan hidup pada zaman yang sama sekali berbeda dengan zamanmu. Mari berdiskusi! [Afif E.]

Selat Madura, 2 November 2016

[1] (HR. Muslim no. 1631).

[2] H. Aly As’ad, Drs., M.M.. 1978. Terjemah Ta’limul Muta’allim. Kudus: Penerbit Menara Kudus.

[3] Rhenald Kasali. 2014.  Self Driving: Menjadi Driver atau Passenger? Jakarta: Mizan Group.

 

Catatan: Bahan diskusi pada Kajian Pendidikan Forum Studi Islam Ar-Rasyad, Keluarga Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura. Bangkalan, 2 November 2016.

Hillary Clinton’s Hard Choices

JpegHillary Clinton’s Hard Choices. Beside is my first book 🙂

Actually I made a mistake when I took Hillary’s face on a hardcover book entitled: Hard Choices, in a book bazar in Surabaya, Indonesia. I supposed to met another book of hers: Living History. But, it is okay for having the first one.

I heard about Hillary Clinton in my childhood years, when the Monica Lewinsky scandal blewed up by the media around the world, Indonesia’s media included. Even though at that time I did not understand what the scandal is about.

Years then I know that the scandal is more about a woman, a wife, who try to safe his husband (Bill Clinton). It was not an easy choice I thought. How could a wife, whom betrayed by his husband, by had a sexual affair with another woman, but the wife safe the man! Even several media said that Bill Clinton’s savety during those time was in Hillary’s hand, not in Congress or Senate’s hand. I believe that was a hard time for Hillary, a hard choice, as she said in the title of her book.

Another hard choices of her was to do service for her country, USA, as a Secretary of State during Barack Obama’s presidency. How come an ex-rival, become a solid partner then? How powerful this woman to do that. How she built that “rinocheroes’s skin” during her lifetime.

This book, Hard Choices, told us more about her life during her duty as US Secretary of State in 2009- 2013. I want to read it more! And let’s discuss! [Afif E.]

Write Often!

okay, this is my article I proposed to submit, or maybe practice for an online course. The suggestion of the course said that I should write often in order to shaping my writing ability, especially in English.

Before came to the Madura Island today, I saw several phenomena. The rising sun, cold weather, rushing people go to work site, myself include.

The trip hour from my home to my new work place in Madura Island spend about two hours. But, under condition I took the start earlier from home, when the road still quite. I took my start trip today at 5 AM, and arrived in Madura Island at 6.45 AM. About an hour and forty five minutes. Sooner is better. 🙂

That was my day today. I will continue another notes another day. See you tomorrow. [Afif E.]

Nasi Lauk Kecap

“Ah, ayam bakarnya rasanya terlalu manis,” keluhku, “terlalu banyak kecapnya.”

Tak kukira ibuku yang tiduran tak jauh dari tempatku makan, berbicara: “padahal waktu kamu kecil sangat suka dengan nasi pakai lauk kecap, loh.”

Sejenak saya tertegun. Mungkin memang iya, ibu saya tau betul selera saya saat kecil begitu doyan makan nasi dengan lauk kecap. Namun bukan saya bermaksud “menghina”, ataupun tidak bersyukur pada makanan yang dihadirkan-Nya di hadapan saya.

Tapi, benar, ayam bakar yang ada di harapan saya kecapnya terlalu banyak. Terlalu manis, buat ukuran lidah saya.

Sama halnya dengan ayam goreng, yang akhir-akhir ini agak saya kurangi, namun tetap juga saya mau untuk menyantapnya. Karena ya itu tadi, rejeki. Alasan saya mengurangi makan ayam pun bukan karena alasan yang macam-macam. Mungkin lebih karena terlalu sering ditraktir makan lauk ayam goreng. Plus, ayam yang dijadikan lauk adalah ayam ternak yang cara beternaknya diberi berbagai jenis obat mulai dari si ayam menetas sampai disembelih. Faktor (baca: dugaan) penggunaan obat pada ayam ini terbukti. Saat saya memakan masakan olahan ayam buatan ibu saya, saya tidak merasa mual saat memakannya. Karena ayam yang diolah oleh ibu saya adalah ayam peliharaan sendiri di pekarangan belakang rumah.

Kembali lagi ke urusan kecap. Sebagaimana halnya ayam goreng, saya tidak membenci kecap. Terlebih jika yang saya dapati dihadapan adalah rejeki saya. Hanya saja, dalam kadarnya yang berlebihan saya kurang begitu suka. Terlalu manis, pun saya kurang begitu suka. Sederhana, kan? 🙂

Kata pembaca: Terus, tulisan ini tentang apa????

Epen: Ya, itu tadi. Tentang nasi lauk kecap. 😀 😀 😀 😀 [Afif E.]

Apa Definisi Laboratorium?

Bagi pembaca mungkin sudah akrab dengan istilah Laboratorium. Ya, laboratorium adalah tempat preparat-preparat dan berbagai jenis botol “Jin dan Jun”. 😀 #Ngawur

Dalam isian di borang akreditasi, isian Laboratorium juga ada. Hal ini kurang lebih memberikan penekanan arti penting keberadaan sebuah laboratorium bagi kelangsungan pembelajaran di tingkat perguruan tinggi. Laboratorium menjadi sarana bagi mahasiswa untuk membuktikan, melakukan ujicoba, dan melakukan praktikum untuk mengalami langsung fenomena keilmuan di tiap-tiap bidang ilmu.

Permasalahan muncul (seharusnya tidak dinamai masalah mungkin, ya. Toh cuma hal begini saja 😀 ). Sejalan dengan diikutsertakannya saya dalam kepanitian akreditasi. Ternyata ada dua pendapat berbeda tentang definisi laboratorium!

Pertama, laboratorium adalah tempat mahasiswa melakukan kegiatan pembelajaran. Layaknya yang sudah kita kenal. Macam laboratorium komputer, laboratorium bahasa, laboratorium kimia, dan berbagai jenis laboratorium lainnya.

Pendapat kedua, menyatakan bahwa, laboratorium adalah laboratorium penelitian. Yakni tempat dimana kumpulan ilmuwan dalam satu bidang membentuk kelompok penelitian, dan berada dalam satu payung laboratorium. Bagi pendapat Kedua, ‘laboratorium’ dalam definisi tempat belajar mahasiswa disebut sebagai Workshop atau bengkel.

Laboratorium yang merupakan komunitas penelitian dalam suatu program studi, masih menurut pendapat kedua, akan menelurkan beberapa produk. Produk pertama adalah publikasi penelitian. Produk kedua adalah kurikulum, yakni materi-materi apa saja yang dipandang perlu untuk dipelajari oleh calon ilmuwan dan cendekiawan masa depan, baik itu dilaksanakan di kelas maupun di workshop (yang bagi pendapat pertama disebut sebagai Laboratorium).

Baik pendapat pertama, maupun pendapat kedua, merupakan uraian yang saya dengar langsung dari dua asesor akreditasi yang berbeda orang. Nhah loh, kalo pada tingkat asesor saja ada silang pendapat begini, lantas apa definisi laboratorium yang sebenarnya? Monggo coret-coret di kolom komentar. 🙂 [Afif E.]