Tak Ada Salahnya Jokowi Berbahasa Indonesia dalam KAA

Helatan Konferensi Asia Afrika (KAA) mungkin sudah usai saat saya menulis artikel ini. Namun kegelisahan saya muncul ketika ada satu “postingan opini dangkal” di media sosial dari salah seorang pengguna, yang mengatakan bahwa betapa Joko Widodo memiliki kemampuan dangkal dalam berbahasa Inggris, walaupun itu hanya dalam berpidato di forum internasional setingkat KAA. Saya pikir, apa salahnya berbahasa Indonesia?
Perlu dicermati, ketika dibuka pertama kali pada tahun 1955, Sukarno membuka forum KAA secara resmi menggunakan bahasa Inggris. Tapi apa tanggapan media barat waktu itu? Mereka menulis bahwa pidato bahasa Inggris Sukarno memiliki rasa (baca: logat) khas Jawa! (kisah lengkap mengenai KAA tahun 1955, baca “Tonggak-tonggak di Perjalananku” karya Ali Sastroamidjojo). Maka ketika muncul opini berbungkus postingan di media sosial tersebut muncul, saya malah tertawa tergelak dan tergulung-gulung. 😀 loh, kenapa? Ya iyalah, itu menandakan, sampai kapanpun Presiden Indonesia, siapapun penjabatnya, akan selalu di-bully kemampuan bahasanya saat berpidato di forum KAA.
But come on baby, it is a politic stage! Forum KAA yang baru dihelat adalah panggung politik. Maka pilihan penggunaan bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa pengantar dalam tiap pidatonya adalah juga bagian dari strategi politik, minimal dari segi penggunaan bahasa pengantar.
Kenapa tidak boleh menggunakan bahasa Indonesia, toh setiap delegasi negara memiliki fasilitas interpreter. Fasilitas Interpreter ini sejak tahun 1955 sudah selalu ada dalam forum ini.
Malah menurut saya pribadi, pidato bahasa Indonesia milik Jokowi lebih Ok ketimbang pidato bahasa Inggrisnya Nurhayati Ali Assegaf, anggota DPR, di forum antar parlemen di forum KAA pula, yang banyak ‘gratul-gratul’nya (baca: kurang fasih dan lancar).
Mungkin bahasa Inggris penting, namun mari kita lihat konteks acaranya. Tidakkah kita juga perlu mengenalkan bahasa Indonesia. Mari kita tanyakan pada Pak Ompi Soedjarwo. Loh, siapa Pak Ompi Soejarwo? Sudah, cari di Google sana! 😀 [Afif E.]

Membedakan Ejaan Indonesia Dan Malais

Screenshot from 2014-09-22 17:00:04

Screen Shot Gambar “InsHaAllah”

beberapa waktu saya sempat mencari salah satu posting di Facebook tentang gambar yang menyatakan tulisan “InsyaAllah” seharusnya ditulis dengan “InshaAllah”. Perhatikan penggunaan ejaan SY dan SH. Lantas gambar tersebut dikomentari dengan beragam macam pikiran aneh-aneh.

Lantas saya mikir, lah… itu kan ejaan Malais… (saya bikin versi untuk menyebut Malay). Mungkin dalam konteks Malais SH itu benar, tapi dalam konteks Bahasa Indonesia kan sudah jelas, huruf (Syin) ditransliterasikan dalam Bahasa Indonesia menjadi SY.

Wah wah.. kudu teliti ya rek… mana yang ejaan Indonesia dan mana yang ejaan Malais… [Afif E.]