Komang dan Komang

Sebagaimana yang saya tulis pada artikel saya sebelumnya, ada begitu banyak orang Bali yang namanya sama. Paling tidak hingga pen-ciri tertentu. (eh, PEN-CIRI itu Bahasa Indonesia EYD?).

Malam ini Komang, gadis kecil anaknya Pak Komang berulang tahun. Undangan lebih banyak pada teman-temannya sekampung. Saya dengar ada yang bernama Gusti Ngurah, ada yang bernama Santi, dan ada yang bernama Komang—bisa jadi ada beberapa anak bernama Komang dalam daftar undangan! Okelah, biar tidak bingung akan saya bedakan. Pertama Komang yang anaknya Pak Komang saya beri julukan Komang-yang-ulang-tahun, sedangkan Komang yang undangan saya sebut sebagai Komang-yang-diundang. Sedangkan Pak Komang akan tetap saya sebut sebagai Pak Komang. Ada lagi Komang yang belum masuk bahasan? 😀

Komang-yang-ulang-tahun dari tadi wara-wiri keluar masuk rumah, tampaknya gadis kecil itu ingin memastikan undangannya datang semua. Sebagian anak yang sudah hadir berujar bahwa si A—kita sebut saja sebagai Komang-A—sedang sembahyang, sehingga dia datang telat.

Sebagai yang paling boncel dalam pesta ulang tahun sederhana itu, agak weleh-weleh (apaan tuh: “boncel”, “weleh-weleh”???? :D). Saya jadi membayangkan yang tidak-tidak. Gimana seandainya semua anak-anak kecil ini adalah anak yang lahir pada urutan ketiga. Maka dalam ruangan ini setidaknya ada sepuluh anak yang bernama Komang atau Nyoman. Dan semenjak undangan datang dan pada ngobrol (terutama orang tua dari anak-anak tersebut), memanggil anaknya dengan sebutan kelahiran tersebut! Yang satu manggil Komang, yang lain juga memanggil Komang. Aduh! Ini ngomongin Komang yang mana?????

Walaupun kata Kadek—anaknya Pak Komang yang tertua (baca tulisan saya sebelumnya)—anak-anak Bali sekarang kebanyakan memanggil dengan nama belakang—akan tetapi di pesta ini tidak saya temui demikian. Semua anak ya dipanggil dengan nama urutan lahir. Yang agak membingungkan saya lagi adalah saat momen pamitan. Komang-yang-ulang-tahun mendapat ucapan dari beberapa Komang-yang-diundang. Wew, Komang dan Komang saling meng-Komang-kan. “Selamat ulang tahun ya, Komang…” 😀

Yang beginian cuma kepunyaan orang Bali. Hebat ya. Kok bisa ya orang Bali nggak bingung dengan Komang-komang yang ada. Ich Liebe Mein Indonesia. 🙂 [Afif E.]

NB: kok nggak ada foto???? emang. karena nggak ada card reader. 😀 😀 😀

Dari Wayan Hingga Nyoman: Nama-nama yang Bali Sekali

Ketika suatu malam anak perempuan Pak Komang yang kecil bertutur “Komang siapa?”, barulah saya sadar, tentu ada begitu banyak orang bernama “Komang”, “Wayan” atau nama tertentu lainnya di pulau ini. Pak Komang dan keluarga adalah keluarga Bali asli yang saya tempati beberapa hari terakhir. Supaya tidak menjadi ganjalan hati karena penasaran, saya tanyakan pada Kadek, anak perempuan Pak Komang yang tertua. Jawaban singkat Kadek mengenai nama orang Bali adalah urutan kelahiran.

Nama Wayan atau Putu atau Gede adalah nama awalan untuk anak kelahiran pertama. Nama wayan bisa diberikan pada nama anak laki-laki maupun anak perempuan, begitu juga dengan nama Putu. Sedangkan nama Gede khusus diberikan pada anak laki-laki. Berarti saya juga adalah seorang Wayan! 😀

Anak kedua dalam keluarga Bali diberi nama Made atau Kadek. Kedua nama anak kedua ini dapat diberikan baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan. Lalu anak ketiga diberi nama apa?

Anak yang lahir pada urutan ketiga diberi nama Nyoman atau Komang (yang memiliki panggilan sayang “Koming” atau “Omang”). Kedua nama ini dapat dberikan pada anak laki-laki maupun perempuan. Hal serupa juga berlaku bagi anak keempat dalam keluarga Bali yang diberi nama Ketut.

Kadek—anak perempuan dari Pak Komang-yang-saya-tempati—mengatakan terdapat nama “Nengah” yang diperuntukkan bagi anak kelima.

“Lalu nama untuk anak keenam?” Tanya saya pada Kadek-anaknya-Pak-Komang-yang-saya-tempati.

Pertanyaan saya itu ditertawakan oleh Kadek. Ujarnya, “orang sini kalo punya anak gak banyak….” Eh, begitu ya? Wow, hehe…baru tau 🙂 . Kata Pak Komang juga demikian. Hanya ada empat nama yang secara umum digunakan di Bali, ya… itu tadi, Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut. Lalu untuk anak yang lahir setelah hitungan itu, kembali lagi menggunakan urutan nama Wayan, Made, Nyoman,dan Ketut.

Hal ini juga dibahas oleh Elizabeth Gilberth dalam bukunya Eat, Pray, Love yang sudah difilmkan dengan judul yang sama. Filmnya sendiri langsung membuat aktris Julia Roberts harus berpanas ria di Pulau Bali.

Beneran cuma empat? Lalu nama-nama lainnya? Tenang sob…. Ternyata nggak bener-bener cuma itu kok. Misal saja ada nama “I Wayan” atau “Ni Wayan”. Mungkin untuk yang ini sudah pembaca kenali. Bahwa “I” untuk laki-laki dan “Ni” untuk perempuan, meskipun tidak semua nama memakai awalan ini. Masih ada nama lain macam “Luh” bagi anak perempuan. Serta nama yang digunakan kalangan tertentu macam “I Gusti Ngurah”, “Anak Agung”, “Gusti Ayu Agung” dan setunggalannya. (SETUNGGALANNYA ini bahasa apa ya??? 😀 ).

Lalu kalo untuk urusan pencatatan gimana? Misal absensi. Ada “teknik” untuk mengakali ini. Salah satunya dengan membalik nama. Misal nama aslinya “Ni Luh Sari Asih” maka dibalik menjadi “Sari Asih Ni Luh”, atau “I Made Bagus Sanjaya” maka dibalik menjadi “Bagus Sanjaya I Made”. Dan urutan abjadnya mengikuti alfabet awal dari nama yang sudah dibalik. Apa tujuan pembalikan ini? kata Pak Komang untuk alasan kepraktisan saja. Karena misal tetap ditulis “I Made” di depan, maka bisa dibayangkan betapa banyak awalan “I Made” dalam lembar absensi itu, yang berujung pada kesulitan mencari ‘I Made’ yang tertentu.

Tapi sob, kata Kadek sih, banyak anak-anak Bali asli yang sudah tidak lagi diberi nama demikian oleh orang tuanya. Bahkan cenderung aneh-aneh. Kalo kata Pak Boediono, “Begitu, ya?”, yang kemudian dibantah oleh Najwa Shihab dengan ucapan, “Iya, Pak….” hehehe… 🙂

Valid nggak sih artikel ini? valid dong… kalo ada yang salah, salahnya si Kadek. 😀

Kata Kadek: Awas ya…..!!!!!

Kata Epen: Ampun DJ!!!!!! 😀 😀 😀 😀 [Afif E.]