Dimana Masjid Salman? Ini Masjid Salman

gerbang ITB

Ber-norak-ria di Depan Gerbang ITB. Saya melewatkan Masjid Salman. Padahal berada di depan seberang jalan tempat saya foto. 😀

Bandung, April 2015. Saya tidak punya rencana atau tujuan kemana di kota ini, selain turut teman saya yang bepergian dalam rangka penelitiannya. Usai dengan agenda, teman saya berujar mengenai tujuan plesir berikutnya. Ini kan di Bandung, maka kami ke ITB! Institut Teknologi Bandung. Gak akan dibilang ke Bandung kalo belum ke ITB. Kata siapa? Kata saya. 😀
Tertulis dalam banyak literatur sastra, berbagai kisah yang terjadi di seputaran kampus Jalan Ganesha nomor sepuluh itu. Sebut saja ada A. Fuadi dengan trilogi 5 Menaranya. Berulang kali Fuadi menuliskan impian tokoh Alif yang ingin sekali kuliah di ITB agar menjadi seperti BJ Habibie.
And… Here I am. Saya di ITB, setelah mampir sebentar belanja buku di seputaran kampus Unpad. Tiba-tiba saya menjadi orang ndeso (yang sejatinya memang iya 😀 ), berfoto di depan gerbang ITB, berkeliling di seputaran kampus. Melihat STEI ITB (baca: Sekolah Teknik Elektro dan Informatika), yang ternyata “bertumpukan” dengan fakultas lain dalam satu gedung.
Duduk-duduk sejenak di belakang gedung STEI, diam-diam mengawasi si eneng-eneng wara-wiri. Lalu saya ingat, saya ingin sekali melihat Masjid Salman! Tanya sana-sini tentang rute ke Masjid Salman.
Menyeberangi jalan Ganesha, saya masih bertanya ke mahasiswa yang lalu lalang, “dimana Masjid Salman?” tanya saya.
“ini Masjid Salman.” jawab mahasiswa itu sambil menunjuk sebuah tembok. Tembok belakang Masjid Salman!
Saya ternyata sudah berada di belakang Masjid Salman! Subhanallah…
Saya mengabaikan masjid ini, karena memang pola arsitekturnya yang ‘lepas’ dari pola Timur Tengah ataupun pola masjid ala Nusantara di Jawa. Saya melewatkannya karena itu.
Tak mau berlama-lama dengan mulut menganga, saya segera masuk ke Masjid Salman. Baru saya tau hari itu juga, lantai hitam dingin itu. Gambaran dari beberapa penulis tentang masjid itu. Sore itu Masjid Salman penuh dengan mahasiswa yang menggelar tugas mereka. Beberapa menggelar belajar bersama. Pemandangan yang menenteramkan.
Kesan saya yang lain tentang Masjid Salman adalah ukurannya lebih kecil jika dibandingkan dengan Masjid Manarul Ilmi di ITS Surabaya. Entah cuma perasaan saya saja yang awam akan ukur-mengukur atau memang demikian adanya. Jadi, kemanakah tujuan wajib jika sudah di Bandung? Ke Masjid Salman dan Institut Teknologi Bandung! 😀 [Afif E.]

Tak Ada Salahnya Jokowi Berbahasa Indonesia dalam KAA

Helatan Konferensi Asia Afrika (KAA) mungkin sudah usai saat saya menulis artikel ini. Namun kegelisahan saya muncul ketika ada satu “postingan opini dangkal” di media sosial dari salah seorang pengguna, yang mengatakan bahwa betapa Joko Widodo memiliki kemampuan dangkal dalam berbahasa Inggris, walaupun itu hanya dalam berpidato di forum internasional setingkat KAA. Saya pikir, apa salahnya berbahasa Indonesia?
Perlu dicermati, ketika dibuka pertama kali pada tahun 1955, Sukarno membuka forum KAA secara resmi menggunakan bahasa Inggris. Tapi apa tanggapan media barat waktu itu? Mereka menulis bahwa pidato bahasa Inggris Sukarno memiliki rasa (baca: logat) khas Jawa! (kisah lengkap mengenai KAA tahun 1955, baca “Tonggak-tonggak di Perjalananku” karya Ali Sastroamidjojo). Maka ketika muncul opini berbungkus postingan di media sosial tersebut muncul, saya malah tertawa tergelak dan tergulung-gulung. 😀 loh, kenapa? Ya iyalah, itu menandakan, sampai kapanpun Presiden Indonesia, siapapun penjabatnya, akan selalu di-bully kemampuan bahasanya saat berpidato di forum KAA.
But come on baby, it is a politic stage! Forum KAA yang baru dihelat adalah panggung politik. Maka pilihan penggunaan bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa pengantar dalam tiap pidatonya adalah juga bagian dari strategi politik, minimal dari segi penggunaan bahasa pengantar.
Kenapa tidak boleh menggunakan bahasa Indonesia, toh setiap delegasi negara memiliki fasilitas interpreter. Fasilitas Interpreter ini sejak tahun 1955 sudah selalu ada dalam forum ini.
Malah menurut saya pribadi, pidato bahasa Indonesia milik Jokowi lebih Ok ketimbang pidato bahasa Inggrisnya Nurhayati Ali Assegaf, anggota DPR, di forum antar parlemen di forum KAA pula, yang banyak ‘gratul-gratul’nya (baca: kurang fasih dan lancar).
Mungkin bahasa Inggris penting, namun mari kita lihat konteks acaranya. Tidakkah kita juga perlu mengenalkan bahasa Indonesia. Mari kita tanyakan pada Pak Ompi Soedjarwo. Loh, siapa Pak Ompi Soejarwo? Sudah, cari di Google sana! 😀 [Afif E.]