Bertualang Saat Listrik Padam

Tanggal 28 Oktober 2015 pukul 17.00 – 19.00 WIB di seputaran Desa Bungah, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, terjadi pemadaman listrik. Mungkin ada pemadaman bergilir, atau gangguan pada jalur. Masih syukur hanya padam sesekali. Coba bayangkan dan bandingkan dengan saudara kita yang ada di Pontianak, Kalimantan. Mereka mengalami “nyala bergilir”, karena saking jarangnya listrik nyala. Namun tulisan saya ini tidak fokus pada pemadaman bergilir tersebut.
Kisah saya ini adalah nostalgia saya pada ingatan masa kecil. Yang saya pikir bahwa masa kecil saya adalah masa lalu yang tidak terlalu jauh. The not too far past.
Listrik padam bagi anak-anak seusia Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD), sebenarnya sesuatu yang bikin penasaran. Malah-malah menakjubkan. Tentu sebagai generasi dimana listrik adalah hal yang lumrah dan menerangi seluruh sudut kampung, membikin kondisi listrik padam sesuatu yang sangat ‘luar biasa’. Maka jadilah kami, saya dan sepupu serta teman sekampung, berkeliling kampung-kampung yang lain. Melakukan penjelajahan dengan sensasi gelap gulita tanpa listrik dan penerangan.
Walaupun ada larangan dari orang-orang tua yang mengatakan bahwa jangan main dalam gelap karena akan diculik Wewe Gombel (sebangsa Kuntilanak, Kuntilayah, dan Kuntilteman 😀 yang suka menculik anak). Alih-alih percaya dengan ungkapan itu, bagi anak-anak malah sebuah tantangan untuk dapat bertemu dengan si Wewe Gombel. Hahahaha … Barangkali tabiat ini juga yang menjalari setiap manusia. Semakin dilarang, semakin penasaran. 😀
Kini, saat saya mengahadapi laptop saya dan menulis artikel ini, bertahun kemudian semenjak petualangan listrik padam terakhir saya, ternyata saat ini masih ada!
Tengok saja. Semalam, di saat hiruk pikuknya saya mencari jalan dengan penerangan dari sepeda motor, tak kurang gerombolan anak-anak dalam geng mereka masing-masing bertualang. Berusaha menemukan sosok misterius, si Wewe Gombel. 😀
Selamat menemukan Wewe Gombel, Dek… 😀 [Afif E.]

Zaman Jahiliyah

Tulisan saya berikut ini adalah rangkuman dari ceramah K.H. Mukhtar Jamil dari Kota Gresik dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Besar Kiai Gede Bungah, pada tanggal 3 Januari 2015.
Tema ceramah dari K.H. Mukhtar Jamil pada malam tanggal tiga tersebut sebenarnya mengalir begitu saja. Namun dalam tulisan ini saya pilih satu yang menarik untuk diulas, yakni keberadaan zaman Jahiliyah. Semoga ulasan yang saya tulis berikut ini tidak memelintir, mengingat malam itu saya tidak membawa catatan, hanya merekamnya saja dalam memori ingatan.
Sebagaimana yang kita ketahui, zaman jahiliyah adalah satu jaman dimana nabi Muhammad dilahirkan. Jahiliyah secara harfiah berarti kebodohan. Berarti, zaman jahiliyah adalah zaman kebodohan. Namun hal ini tidak berarti zaman ini orang-orangnya bodoh. Salah besar. Justru, pada zamannya warga Makkah adalah warga yang unggul dalam bidang perdagangan antar bangsa, sastra, dan tentu keunggulan lain pada masanya.
Lantas, apa yang membuatnya dinamakan zaman jahiliyah? Rupanya kelakuan atau akhlak dari warganya. Pak Mukhtar (demikian beliau akrab disapa) menuturkan bahwa jika keseharian kita dituntun oleh nafsu, maka jangan berharap akan ada kebaikan didalamnya. Hal inilah yang menuntun warga Mekkah pada jaman itu, nafsu.
Tidak ada tuntunan agama yang berjalan pada masa itu. Perjudian, minum-minuman keras, hingga main perempuan atau perzinahan.
Namun demikian, bodohnya orang masa itu masih ‘bagus’ jika dibandingkan dengan bodohnya orang zaman sekarang. Dahulu, warga Mekkah jika medapati anak yang lahir adalah laki-laki, mereka akan bersuka cita. Akan tetapi jika yang lahir adalah perempuan, maka bayi tersebut akan dikubur hidup-hidup.
Bandingkan dengan jaman sekarang. Makin marak berita menyiarkan pembuangan, penelantaran, pembunuhan bayi hasil hubungan gelap, tanpa memandang jenis kelamin bayi yang dilahirkan. Contoh ini yang ditekankan bagaimana lebih jahat dan bodohnya zaman jahiliyah masa kini.
Mafhum, kyai… Saya pikir saya menuliskan artikel ini juga tidak berarti saya sudah baik. Bukankah nasihat yang baik wajib disebarluaskan? Maka lewat tulisan ini saya usahakan itu. Nasihat bukanlah sesuatu yang harus baru, namun suatu nilai luhur yang disampaikan berulangkali pada manusia agar ingat. Bukankah kita makhluk yang lebih sering lupa? [Afif E.]