Semeru adalah Tempat Wisata

Satu pagi di tepi Ranu Kumbolo

Saya tidak memahami kalimat seorang teman, hiker sejati, saat mengatakan kalimat dalam judul tulisan ini. Saat itu saya baru mengungkapkan bahwa saya ingin naik gunung Semeru. Someday.

Barulah saya ngeh ketika Agustus 2017 naik ke Semeru, bahwa Semeru memang ramai! Ada beberapa hal yang berbeda saat kita menaiki Semeru saat ini.

Pertama sebelum 2012, tidak ada briefing dari relawan bagi setiap pendaki. Hal ini sangat ditekankan keharusannya, terlebih setelah dirilisnya film 5 CM, yang sayangnya bagi sebagian pendaki begitu kurang mendidik.

Kedua, kerusakan Semeru juga dirusak karena ulang tidak bertanggung jawab dari salah satu penyelenggara event. Event tersebut ‘menghadiahkan’ sampah dalam hitungan tidak sedikit. Dan begitu mengotori tubuh Semeru.

Dua hal ini yang masih mengiang dalam ingatan saya betapa briefing ini menjadi begitu perlu untuk diikuti oleh setiap pendaki ke Semeru.

Lalu bagian wisatanya mana? Pecayalah, Semeru benar-benar ramai! Rasanya saya tidak putus mengucapkan “mari, mas.. monggo, hello..” setiap kali berjumpa dengan pendaki lain. Frekuensi saya mengucapkan kalimat sapaan hangat tersebut sangat sering. Tak hanya pada orang Indonesia, melainkan juga pada warga negara asing  yang jumlahnya tidak sedikit.

Kenapa harus menyapa pendaki yang lain? Saya mengikuti saran yang lain, bahwa itu adalah bagian dari sopan santun. Nyatanya pendaki yang lain juga saling menyapa.

Bagian wisata yang lain adalah, maaf agak jorok, WC yang minta ampun baunya. Saya tidak mau meneruskan deskripsi WC ini. Namun hal ini menjadi penanda betapa kita semua jorok. Betapa kotoran kita jauh lebih jorok daripada kebanyakan makhluk. Serius, sangat bau. (hufff).

Inilah beberapa penanda bahwa Semeru adalah tempat wisata. [Afif E.]

Di Tubuh Semeru: Mau Menulis Apa Aku?

Suatu Pagi di Tepi Ranu Kumbolo

 

Catatan ini saya buat untuk bagian dari ringkasan awal perjalanan saya ke Gunung Semeru dalam tanggal 11, 12, 13, dan 14 Agustus 2017. Lazimnya ringkasan, maka belum banyak detail yang akan saya bagikan di sini. Hanya saja, sebagai sebuah perjalanan naik ke gunung untuk kali kedua, tentu rasanya berbeda.

Jika dalam pendakian pertama saya masih benar-benar kaget, maka pada pendakian kedua ini tidak begitu. Meski masih “menyiksa” saya. Yang saya maksud dengan kaget di sini adalah kaget dalam hal persiapan sebelum keberangkatan, berupa persiapan perbekalan hingga persiapan latihan fisik.

Saya masih begitu kaget dalam pendakian ke Semeru ini. Pertama, agenda ini muncul begitu mendadak. Seorang teman bernama Si Mat, sebut saja demikian, menawarkan agenda pendakian kurang lebih seminggu sebelum hari H. Atau bahkan kurang dari seminggu.

Waktu itu saya belum bisa menjawab, karena masih ada keperluan di Sumenep. Barulah saya bisa menjawab IYA, setelah saya mampatkan agenda perjalanan saya ke Sumenep. Dari yang semula tanggal 11 dan 12 Agustus saya ke Sumenep, saya mampatkan menjadi tanggal 9 dan 10 Agustus 2017. Praktis, saya hanya ada waktu persiapan menata perbekalan hanya 1 malam, yakni tanggal 10 Agustus, sesampainya saya di rumah dari Sumenep. Tentu agak bikin gelagapan.

Meski demikian, kaget karena persiapan yang mendadak agak berkurang. Pertama karena sudah pernah merasakan persiapan pendakian sebelumnya (terhitung 3 kali saya melakukan persiapan: Pertama ke Gunung Arjuno; kedua, saat akan ke Gunung Merbabu meski gagal ikut 😦 ; dan Ketiga adalah saat ke Semeru). Faktor kedua yang agak mengurangi kaget persiapan adalah segala logistik dan perlengkapan, banyak sekali disiapkan oleh Si Mat.

Meski demikian, tentu sebagai seorang pendaki amatiran, hal-hal yang saya alami ini sebaiknya jangan ditiru. Beneran, baru kali kedua inilah, saya menderita sakit selama 2 malam di tubuh Semeru. Ceritanya bagaimana kok bisa sakit? Saya simpan untuk artikel berikutnya. 🙂  [Afif E.]