Dalam Rapat, yang Harus Beretika Siapa?

Dalam benak awam saya, salah satu kesepakatan tidak tertulis mengapa sekumpulan orang duduk bersama dalam rangka rapat, diskusi, ataupun musyawarah, adalah untuk dapat secara bergantian peserta menyuarakan pendapatnya dalam forum. Agar tidak saling tumpang tindih dan saling bersahutan secara bersamaan, maka etika berikutnya yang muncul adalah mendengarkan saat orang lain sedang berbicara. Barangkali ini perbedaan jelas antara kumpulan orang di stasiun dengan kumpulan orang yang sedang rapat.

Contoh serupa adalah saat pembelajaran berlangsung di kelas: setiap yang menjelaskan di depan kelas, akan diberi kesempatan bicara, yang lain mendengarkan dengan seksama. Tak peduli guru ataupun siswa, siapa yang sedang mendapat giliran bicara, maka yang lain mendengarkan. Sesederhana itu kan sebenarnya?

Tapi praktiknya ternyata tidak demikian. Dan tidak sesederhana demikian.

Kondisi pertama: Ada kalanya rapat dipimpin para tetua: maka anak-anak muda (dan baru) pun takdlim mendengarkan. Pada kondisi demikian teori etika tadi berjalan dengan benar. Kondisi kedua: secara berkebalikan akan terjadi jika si anak-anak muda (dan baru) memimpin rapat, para tetua akan berbicara sendiri (membuat forum dalam forum). Pertanyaan: kalau anjuran diam berkali sudah tidak digubris, dan (dalam kondisi terburuk) akhirnya si anak-anak muda menggebrak (meja maupun dengan kalimat), yang tidak beretika siapa?

Ah, biar tulisan saya ini tidak saya selesaikan sampai akhir. Biar pembaca menyelesaikan sendiri. [Afif E.]

Iklan