Situs Giri Kedaton

Banyak yang bertanya, termasuk saya, bagaimana rute menuju situs Giri Kedaton. Situs Giri Kedaton menurut beberapa penelitian merupakan pusat lokasi kediaman Sunan Giri. Agak berbeda dengan makam Sunan Giri, untuk menuju situs Giri Kedaton tak banyak penanda untuk menuju ke tempat tersebut.
Saya harap tulisan ini membantu memberikan informasi mengenai penanda rute untuk menuju ke lokasi situt Giri Kedaton.
Situt ini berada di puncak sebuah bukit, di kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik. Jika anda berasal dari perempatan Kebomas ke arah makam Sunan Giri, maka jalan menuju situs ini di sebelah kiri jalan, sebelum sampai di parkir makam Sunan Giri.
Sebaliknya, jika anda dari arah parkir makam Sunan Giri menuju ke arah kota Gresik, maka jalan masuk menuju situs ini adalah di sebelah kanan jalan.
Saat artikel ini dibuat, terdapat gapura masuk kelurahan sidomukti. Berdiri di samping sebuah minimarket. Masuklah ke jalan dengan gapura itu.
Jalan ini lumayan sempit. Saya sendiri kurang paham apakah mobil bisa masuk dan parkir di jalanan ini.
Sekitar 300 meter dari gapura, akan anda dapati gapura masuk situs Giri Kedaton. Berwarna putih dengan tulisan “Situs Giri Kedaton dan Makam Raden Supeno (Putra Sunan Giri)”.
Gapura bercat putih dengan bubuhan logo Kabupaten Gresik ini menuntun kita pada jalan menanjak. Jika anda membawa sepeda motor, bawa saja naik ke atas. Tak jauh dari gapura putih terdapat parkir. Biaya parkir bisa kita masukkan ke kotak donasi yang disediakan. Ada baiknya pastikan kunci dobel kendaraan, untuk berjaga-jaga.
Dan… Dari lokasi parkir sepeda motor sudah dapat kita lihat deretan anak tangga yang menanjak ke atas. Di puncak anak tangga itulah Situs Giri Kedaton berada. 🙂 [Afif E.]

giri kedaton - dari jalan raya giri-afif1

Gapura Kelurahan Sidomukti. Jalan masuk awal.

 

giri kedaton - gerbang-afif 1

Gapura Kedua – Jalanan menanjak. Sepeda motor bisa masuk.

 

giri kedaton - parkir-afif1

Parkir Sepeda Motor. Sebelah Kanan terlihat anak tangga menanjak menuju situs. (Note: Ojok Lali Ngisi Celengan = Jangan Lupa Mengisi Kotak Donasi Parkir)

 

giri kedaton - naik tangga-afif1

Tangga menanjak.

giri kedaton - kekinian-afif1

Foto Jejak Langkah. Sangat Kekinian. 🙂 😀 😀 😀

giri kedaton - totangga-afif1

Pemandangan dari atas tangga.

 

giri kedaton - kaki 2-afif1

Salah Satu Kaki Bangunan.

giri kedaton view ke bawah 1-afif1

giri kedaton - prasasti-afif1

giri kedaton - view makam giri2-afif1

Pemandangan ke makam Sunan Giri di seberang bukit. Di bawah kaki tower BTS tertinggi adalah tempat tersebut.

A Simple Special Gift

the old photograph of the gate of the Tomb of Sunan Giri

Sopo sing juara, mene tak ajak nang ngGresik (Javanese in Gresik-Surabaya accent, in English: whom will be the best rank in the class, I will took into a trip to Gresik).” that was a saying of one of my female cousin. My dear cousin that I will difficulty forget.
I didn’t realize exactly was that statement which was made me motivated, or any other else, but by the end of that Caturwulan, I became the second place in the class. That was happened when I was in the fifth grade of Madrasah Ibtidaiyah (equal to Elementary School), and those years Indonesian school used a Caturwulan Curriculum. The caturwulan curriculum held exam in every four months every academic year.
Shortly, finally my cousin took us into Gresik City. Fulfilled her statement. She took I myself and two other of my cousins of the same age of me. The other destination of the trip was the Tomb of Sunan Giri. It was a tomb of Muslim from early Islamic era of nowadays Indonesia.
Actually Gresik city, East Java, Indonesia, is only took a half of hour using motorcycle from our neighborhood. But for a boy of fifth grade, it was a very special trip. Since my parents are rarely took me to those kind of trip at that time.
I hardly could forget that trip. A very special trip, from my cousin. Somehow, I want to ask her again today, is she want to take me to another trip? 🙂 [Afif E.]

Hadiah Sederhana yang Istimewa

Sopo sing juara, mene tak ajak nang ngGresik (Bahasa Jawa logat Gresik-Surabaya: siapa yang juara, besok saya ajak ke Gresik).” kurang lebih demikian kalimat sepupu saya, yang diberikan pada kami adik-adik sepupunya.
Saya tidak tau, apakah benar karena dorongan kalimat sepupu saya yang terpaut jauh umurnya dengan saya itu ataukah ada faktor semangat yang lain, namun akhirnya saya pada caturwulan kedua mendapat juara kelas peringkat dua. Waktu itu saya masih kelas lima Madrasah Ibtidaiyah, dan masih menggunakan kurikulum sistem caturwulan.
Singkat kata kemudian sepupu saya itu memenuhi ucapannya. Diajaklah kami bertiga ke Gresik, kemudian ke Makam Sunan Giri.
Saya masih sangat mengingat hadiah jalan-jalan itu. Sebuah hadiah yang teringat hingga masa-masa kemudian. Betapa saya sangat berterima kasih pada sepupu saya tersayang itu. Sungguh bukan hadiah yang istimewa. Walau sebenarnya kemudian di tahun-tahun selanjutnya saya tau bahwa Gresik ‘hanyalah sejengkal’ perjalanan dari rumah, namun bagi seorang anak kelas lima Madrasah Ibtidaiyah, hal tersebut sangat membahagiakan. Sangat.
Saya tidak ingat detil yang lain, misalnya apakah waktu itu kami dibelikan kaos atau barang lainnya. Namun perjalanan itu saja buat saya pribadi sangat menyenangkan. Diluar kenyataan bahwa saya sejak kecil hingga menjelang usia dewasa sangat mudah mabuk saat naik kendaraan.
Hari-hari belakangan saya mau bertanya lagi kepada sepupu saya itu, apakah ia pengen ngajak saya jalan-jalan lagi. 😀 [Afif E.]

Transportasi dari Gresik ke Malang

Jika anda ingin bepergian ke Malang, dari Gresik jalur Pantura, mungkin pilihan cara menuju ke sana dengan moda berikut bisa anda pilih. Alternatif yang saya tuliskan berikut ini adalah saat anda bepergian saat pagi hari. Karena saat siang hari, sangat jarang ada kendaraan umum.
Jika anda berada dari jalur Pantura sepanjang Paciran, Lamongan, hingga Manyar Gresik (sebelum gerbang Tol Gresik-Surabaya) anda dapat menggunakan bis Armada Sakti. Kendaraan ini berwarna hijau, dengan tulisan “Armada Sakti” di jidat depan bis. Seperti yang saya tuliskan, bis ini beroperasi dengan rute awal kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
Jika anda sudah melihat bis ini, segera saja anda naik, walaupun penuh. Karena bis selanjutnya bisa berjarak satu jam!
Mengenai tarif, kisaran 5.000 – 10.000 rupiah. Pada tanggal 25 November 2015, saya bertiga, dengan teman saya, ditarik oleh kernet (baca: kondektur bis) dengan tarif sebesar 28.000 rupiah. Nah loh, berapa tuh? Kalo kita hitung betul, per orang dikenakan tarif 9.333,33 rupiah. 😀
Tarif yang dikenakan pada saya dan teman-teman itu dengan rute Kecamatan Bungah-Terminal Tambakosowilangun.
Oiya, saya belum cerita rute bis ini ya? 😀 baik, rute bis ini adalah Paciran Lamongan, dengan tujuan akhir Terminal Tambakosowilangun di Surabaya, melewati tol, tidak sampai masuk kota Gresik.
Pilihan kedua, jika anda berada di jalur antara Kecamatan Dukun-Pantura Bungah- Pantura Manyar-Jalur Gresik-Lamongan Tengah, anda juga bisa menggunakan colt berwarna coklat agak marun agak luntur (?). Tarif kurang lebih sama. Colt coklat ini juga akan turun di Terminal Tambakosowilangun, dengan rute melewati kota. Namun untuk colt coklat ini juga agak jarang,
Okay. Begitu kita sampai di Terminal Tambakosowilangun, segera cari bis dengan tujuan akhir Malang. Saat saya bepergian pada tanggal 24 November 2015, saya menumpang bis Dali Prima. Bis ini nantinya akan turun di Terminal Arjosari, Malang. Soal tarif, saya bertiga dengan teman, dikenakan tarif 51.000 rupiah. Atau per orang kena biaya 17.000 rupiah.
Baiklah, semoga bermanfaat. Oiya, jika pembaca mendapati ada yang salah dengan info ini, mohon diberi masukan di komentar. 🙂 [Afif E.]

Zaman Jahiliyah

Tulisan saya berikut ini adalah rangkuman dari ceramah K.H. Mukhtar Jamil dari Kota Gresik dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Besar Kiai Gede Bungah, pada tanggal 3 Januari 2015.
Tema ceramah dari K.H. Mukhtar Jamil pada malam tanggal tiga tersebut sebenarnya mengalir begitu saja. Namun dalam tulisan ini saya pilih satu yang menarik untuk diulas, yakni keberadaan zaman Jahiliyah. Semoga ulasan yang saya tulis berikut ini tidak memelintir, mengingat malam itu saya tidak membawa catatan, hanya merekamnya saja dalam memori ingatan.
Sebagaimana yang kita ketahui, zaman jahiliyah adalah satu jaman dimana nabi Muhammad dilahirkan. Jahiliyah secara harfiah berarti kebodohan. Berarti, zaman jahiliyah adalah zaman kebodohan. Namun hal ini tidak berarti zaman ini orang-orangnya bodoh. Salah besar. Justru, pada zamannya warga Makkah adalah warga yang unggul dalam bidang perdagangan antar bangsa, sastra, dan tentu keunggulan lain pada masanya.
Lantas, apa yang membuatnya dinamakan zaman jahiliyah? Rupanya kelakuan atau akhlak dari warganya. Pak Mukhtar (demikian beliau akrab disapa) menuturkan bahwa jika keseharian kita dituntun oleh nafsu, maka jangan berharap akan ada kebaikan didalamnya. Hal inilah yang menuntun warga Mekkah pada jaman itu, nafsu.
Tidak ada tuntunan agama yang berjalan pada masa itu. Perjudian, minum-minuman keras, hingga main perempuan atau perzinahan.
Namun demikian, bodohnya orang masa itu masih ‘bagus’ jika dibandingkan dengan bodohnya orang zaman sekarang. Dahulu, warga Mekkah jika medapati anak yang lahir adalah laki-laki, mereka akan bersuka cita. Akan tetapi jika yang lahir adalah perempuan, maka bayi tersebut akan dikubur hidup-hidup.
Bandingkan dengan jaman sekarang. Makin marak berita menyiarkan pembuangan, penelantaran, pembunuhan bayi hasil hubungan gelap, tanpa memandang jenis kelamin bayi yang dilahirkan. Contoh ini yang ditekankan bagaimana lebih jahat dan bodohnya zaman jahiliyah masa kini.
Mafhum, kyai… Saya pikir saya menuliskan artikel ini juga tidak berarti saya sudah baik. Bukankah nasihat yang baik wajib disebarluaskan? Maka lewat tulisan ini saya usahakan itu. Nasihat bukanlah sesuatu yang harus baru, namun suatu nilai luhur yang disampaikan berulangkali pada manusia agar ingat. Bukankah kita makhluk yang lebih sering lupa? [Afif E.]

Pasar Bandeng Kota Gresik

Memasuki halaman grup Facebook Gresik Sumpek, ada satu foto yang diunggah oleh Cak War. Foto tersebut dipasang dengan judul PASAR BANDENG GRESIK 1952. Hemmm, jadi pengen cepet2 berangkat. 😀

berawal dari status inilah... hahaha

Ini foto beneran dari tahun 1952 gak sih? hemm, siapa yang tau hayo...

Berangkat dari situ saya mencari-cari artikel tentang pasar bandeng. hemm, ternyata cukup banyak yang mengulas tentang pasar tahunan tersebut(eh, betul tahunan ya? :D). Dan dari kata pencarian “pasar bandeng,” saya baru tau kalo ada situs resmi Visit Gresik. hehehe…dasar telmi.

Berikut ini saya pengen menuliskan beberapa hal tentang pasar bandeng, yang sudah dituliskan dari beberapa halaman. Ceritanya “sedikit” mengutip. 😀 Itung-itung persiapan jalan-jalan ke pasar bandeng tahun ini.

Apa Pasar Bandeng itu? (barangkali mau tanya. hehehe)

kata Visit Gresik, pasar bandeng itu biasanya diadakan dua hari menjelang malam takbiran Idul Fitri. Untuk menyambut lebaran idul fitri, di pasar kota Gresik dijual ikan bandeng segar yang baru dientas (diambil) dari tambak. Dari bandeng ukuran sedang hingga bandeng besar atau kawak. Khusus bandeng kawak diberi tempat khusus yaitu panggung lelang. Bandeng kawak satu ekor beratnya bisa mencapai 10 kg lebih. Dan karena di lelang maka harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Sejak Kapan Pasar Bandeng Ada?

Tradisi ini pertama kali diadakan oleh Sunan Giri untuk mengangkat perekonomian rakyat setempat(Gresik, Pen). Ini kalo kata halaman Jelajah Budaya. Wow, berarti nih pasar sudah ‘menggejala’ dan berumur hampir sama dengan umur kota Gresik itu sendiri. Masih kata om Jelajah Budaya, Kala itu, di abad 15 Sunan Giri mulai membantu perekonomian masyarakat dengan cara mengolah dan memasarkan hasil bumi. Hingga kini, masyarakat Gresik masih melestarikan warisan Sunan Giri yaitu  dengan membuat dan menjual kue Pudak dan penyelenggaraan Pasar Bandeng.

Wow, hebat.. hebat… siapkah anda menyambut pasar bandeng tahun ini? 🙂 [Afif E.]