Lebaran: Hari-hari Bergelimang Angpau dan Pertanyaan

Okay. Saya tidak bisa lagi menahan jari saya untuk tidak mengetik artikel ini. Diluar subyektivitas bahwa diri saya sendiri akan tersangkut dalam bahasan tulisan ini. Isitilah kerennya, conflict of interest. Tapi yo wis lah. Maka jadilah artikel ini berusaha objektif, namun tetap satir. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€
Lebaran, hari raya, atau istilah โ€˜kerenโ€™ yang dipakai di sosmed teman-teman Eid Mubarak (biar ala-ala Turki), akhirnya datang juga. Pada tahun 1437 Hijriah, 1 Syawal bertepatan dengan 6 Juli 2016, untuk di Indonesia. Hari dimana kita saling memohon maaf. Hari menggairahkan bagi anak kecil, karena amplop-amplop berisi uang (mengadopsi istilah Tionghoa, baca: Angpau). Serta hari berjuta pertanyaan. Pertanyaan bagi sebagian pihak.
Sebut saja bagi para bujang dan perawan, alias jomblowan dan jomblowati. Pertanyaan: Kapan Nikah? Akan menjadi โ€œsedikitโ€ bagaimana begitu rasanya. ๐Ÿ˜€
Kedua, pertanyaan bagi yang sudah menikah: Kapan punya momongan? Yakin, pertanyaan kedua ini dari pengamatan secara pribadi โ€œagak menyengatโ€ dan membuat beberapa orang sangat sesak di dada. Terutama bagi pasangan suami-istri yang baru maupun lama telah menikah.
Jika ada teman yang mendapat pertanyaan pertama (baca: kapan nikah?), kemudian curcol di media sosial, masih sekian banyak yang tidak segan mem-bully.
Agak berkebalikan dengan teman yang mendapat pertanyaan kedua (baca: kapan punya momongan?), asli, saya sudah tidak bisa komentar lagi. Antara belum bisa berkomentar, tidak berani berkomentar, hingga kasihan.
Ah, lebaran, penanda usainya bulan Ramadhan. Bagaimanapun tetap tiba. Dan sebagaimana ajaran yang juga saya yakini: semoga tahun depan masih mendapati bulan Ramadhan. Dan… Kembali mendapati lebaran. Hari-hari bergelimang angpau dan pertanyaan. Pertanyaan: Kapan Nikah? ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ [Afif E.]