Promosi Secara Jujur (2)

Niatan saya kentara betul di dalamnya, yakni promosi Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik. Klimaks dari status Facebook saya adalah saat adik-adik mahasiswa saya melakukan presentasi di FH dan Fasilkom UI.
Saking spartan-nya saya dalam menuliskan status, adik-adik yang ikut lomba sampai bilang pada saya, “Pak… Apakah nanti tidak memalukan kalau kita sering menulis status MTQ lalu tidak dapat juara?”
Saya katakan pada mereka, nawaitu saya menuliskan status bukan untuk menyombongkan diri. Tapi saya hendak memberitahukan perjuangan mereka untuk menuju dan selama hari-hari MTQMN. Perkara hasil, ya kita serahkan pada yang Maha Kuasa. Bukankah KH. M. Iklil Sholih, pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin, sudah memesankan bahwa kita jangan sekedar mencari kemenangan? Maka hilangkan beban-beban itu.
Antiklimaks dari keikutsertaan adik-adik saya memang kemudian tidak mendapatkan juara. Kabar ini saya tuliskan pula dalam status Facebook saya. Bahwa kafilah (kontingen) kami belum mendapatkan juara, karena pialanya masih “dipinjam” oleh perguruan tinggi lain.
Beberapa orang sepertinya kurang setuju dengan status pamungkas saya yang menyatakan bahwa kampus kami belum menang. Karena seperti menjelekkan nama kampus.
Namun bagi saya justru sebaliknya. Informasi yang sebenarnya adalah bagian dari promosi yang jujur. Saya kira tidak ada yang memalukan dari belum dapatnya juara. Justru menutup-nutupi informasi malah memberikan dampak yang tidak baik. Meminjam kalimat ibu saya, malu itu kalau mencuri dan berbuat tidak benar.
Kalaupun ada yang mengejek, tentu saya mafhum ada. Namun logika ilmiah mengatakan bahwa data yang pro dan kontra memanglah selalu ada yang negatif, ada pula yang positif. Namun prosentase-nya berapa? Jangan-jangan yang punya komentar negatif adalah salah satu dari 10 persen dari total yang berkomentar. Sedangkan 90 persen berkomentar positif. Bisakah yang 10 persen dikatakan mayoritas dan banyak? Tentu tidak. Jawabnya adalah bisa jadi memang ada yang berkomentar negatif, namun tidak sedikit yang berkomentar positif. Alangkah bijak jika tidak menyibukkan diri untuk memperhatikan apa yang dikatakan orang tentang promosi itu. Yang saya perhatikan justru adalah hal yang tidak terduga sepulang kafilah dari Jakarta.
Hal yang tidak pernah disangka sebelumnya, walaupun kafilah kami tidak dapat juara, namun tidak sedikit adik-adik yang ingin dirinya diikutsertakan dalam lomba di lain hari. Alhamdulillah… Runtutan informasi yang apa adanya itu malah memotivasi yang lain. Bahwa peserta kafilah yang turut dalam MTQMN adalah para pekerja pabrik juga! Namun dengan segala kecapekan sehabis kerja, mereka masih bisa ikut dalam ajang kompetisi.
Diluar perjalanan yang panjang itu, saya sangat berterima kasih pada bapak saya. Atas contoh promosi secara jujur, secara apa adanya. Bisa jadi ini adalah oleh-oleh yang sangat berarti dan membekas dalam diri ini. Sebuah contoh kebaikan dari masa yang telah bertahun lalu. [Afif E.]

Promosi Secara Jujur (1)

Adalah Bapak saya berdagang kambing qurban saat masa menjelang Hari Raya Idul Adha tiba tiap tahun. Cerita pokok saya bermula bertahun lalu. Malam itu takbir Idul Adha sudah bergema di mana-mana, namun kambing dagangan bapak saya tinggal seekor.
Bapak saya menjajakan kambing beliau yang seekor itu, dengan tak lupa dengan gamblang menyatakan pada tiap calon pembeli bahwa kambing itu punya cacat berupa luka di lutut depan. Informasi tersebut menjadikan tak sedikit orang batal membeli. Hal tersebut berlangsung hingga larut malam, dan si kambing pada akhirnya ada yang membeli, dengan pemahaman bahwa ada cacat luka pada hewan qurban yang dibeli.
Kala itu ada yang mengeluhkan sikap bapak saya, kenapa musti mengatakan cacat yang ada di kambingnya? Namun sepupu saya waktu itu berujar, bahwa memang sudah seharusnya demikian. Agar pembeli tidak merasa tertipu. Saya rasakan peristiwa bertahun lalu ini memiliki pesan dan kesan yang mendalam di masa selanjutnya, khususnya bagi diri saya sendiri. Salah satunya saat saya membantu di institusi.
Saat saya membantu menjadi contact person bagi penerimaan mahasiswa baru (Maba) Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik, tak sedikit calon Maba yang “menawar” hal yang aneh-aneh. Bukan menawar tunjangan biaya pendidikan, tetapi menawar cara kuliah.
Ada calon Maba yang menelepon, mengatakan bahwa dirinya hanya ingin kuliah hari Sabtu-Ahad saja, karena dirinya pekerja di suatu pabrik. Saya katakan baik-baik, tidak bisa. Saya tambahkan juga, banyak juga yang bekerja di pabrik, namun bisa mengatur waktunya. Saya sarankan untuk mengikuti cara mahasiswa yang telah melakoni secara demikian.
Ada pula Maba yang meminta agar dapat kuliah empat bulan sekali. Saya katakan terus terang waktu itu, bahwa tidak bisa kami melayani yang demikian. Walau ia malah mendesak saya, sampai saya beri jawaban terakhir, saya sarankan mencari tempat kuliah yang lain.
Kami sampaikan dalam promosi adalah apa adanya, dan cara kuliah di tempat kami juga sebagaimana peraturan yang ada. Saya harap itu menjadi informasi yang apa adanya, dan jujur.
Kemudian mengenai keikutsertaan adik-adik mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik dalam MTQ Mahasiswa Nasional XIV tahun 2015 pada tanggal 1-8 Agustus 2015 di Universitas Indonesia. Mulai dari awal terbitnya ketetapan panitia seleksi yang menyatakan adik-adik saya masuk dalam 34 besar tingkat nasional untuk kategori Desain Aplikasi Komputer, hingga masa persiapan dan keberangkatan, selalu saya sampaikan di akun Facebook saya, hampir mendekati cara-cara yang menggila, karena baru kali itu saya selama menggunakan Facebook menulis status secara spartan dan runtun selama sebulan terakhir. Bahkan Beranda Facebook saya selama sebulan adalah seputar adik-adik saya yang berangkat MTQ Mahasiswa Nasional! 😀

(bersambung ke tulisan berikutnya)…. [Afif E.]