Purwokerto City Square

Okay, after several times I procrastinate my self to write it, I will now discuss about Purwokerto City Square. Mostly, in Indonesia, city square called Alun-alun.
Back to my trip in Purwokerto City in Central Java Province. This city is the capital city of Banyumas Regency. So, what happened, or what things surrounding the square?
Okay. I could mention several building. The main building is the secretariat of Banyumas Regency, headed to the south. And then, in the western side of the square, there is a Mosque. It is written in its name wall, that this mosque was a Wakaf. A term in Islamic world for given things. Hopefully the term ‘given things’ could be best explain in exact meaning.
Then, facing the mosque, i.e in eastern side of the square is … I truly don’t know what it is. But I still keep it portrait in my smartphone. And the second thing that I didn’t know is a building in the southern side of the square. It is in building process when I took the picture in November 5th 2015. It is look like a mall, or even a governmental building. I don’t know. Maybe you reader could be best explain about this building.
Next to the square, there is a jail of Purwokerto. This jail belongs to Ministry of Law and Human Rights, Republik Indonesia.
When I arrived in this square, several seller was preparing for their groceries. Such as drink, peanuts, instant noodle, etc. I feel it is just like what happen in Gresik City Square. Yes it is a square, but turn to be a ‘shock market’ or Pasar Kaget in the night. Come, and see around Purwokerto City of Central Java Province. [Afif E.]

Alun alun 2

Kantor Bupati Banyumas (The head office of the Bupati of Purwokerto Regency)

Alun alun sisi timur

A building in eastern side of the Square

Alun Alun 3

Once again, a-building-in-progress, that I didn’t know what it is. 😦

penjara

Front of a Jail, next to the square

Jeding Pareg Unduluwug

Kereta Api Logawa, 4 November 2015. Kereta tujuan akhir Purwokerto ini kutumpangi dari Stasiun Gubeng, Surabaya. Mulai berangkat pukul 9 pagi, namun belum juga meninggalkan Jawa Timur, saya sudah mati bosan. Ngantuk melanda, namun tak ada yang dikerjakan. Mata ini berkhianat saat kubuat membaca buku yang kubawa bersamaku, bawaannya ngantuk melulu. Kudengarkan obrolan dua orang ibu yang sebangku denganku.

Natasha

Hanya anak ini yang tidak tertawa gara2 Jeding Pareg Unduluwug 😀

“Sudah lama belum pernah turun hujan ya, Bu?” tutur ibu dengan si cucu.
“inggih, bu. Sudah lama sekali.” sahut ibu tanpa jilbab di sebelahku.
Entah setan dari mana, aku langsung menyahut, “Di tempat saya sudah hujan tiap hari, bu.”
Sontak kedua ibu yang sudah bercucu ini memandangku.
“Loh, nggih? Dimana itu mas?” tanya mereka, serempak.
“Di Gresik, bu.” tukasku.
“Masak, mas?” seorang ibu masih tidak percaya.
“Iya, bu. ten Jeding (di Kamar Mandi).” ucapku, memberikan antiklimaks.
Ibu yang tanpa jilbab tertawa cekikikan, sedangkan ibu yang tanpa cucu menimpali, “kalo itu nggak pakek tiap hari, sehari lebih dari tiga kali…”
Akhirnya obrolan pun mengalir. Mengingat masing-masing kami dari tiga daerah berbeda, maka kami saling bertukar istilah daerah asal.
Dalam dialek Cilacap, kata ibu dengan cucu, tidak dikenal kata “Jeding” untuk menyebut kamar mandi. Mereka menyebut kamar mandi, ya… Dengan sebutan kamar mandi. 😀
Sedangkan dialek Purwokerto mengenal kata “Jeding”, sama halnya seperti dialek Gresik-Suroboyoan. Demikian yang kutangkap dari ungkapan ibu tanpa jilbab, yang orang Purwokerto.
Diriku yang asal Gresik, malah jadi bahan guyonan, setelah kusebutkan satu istilah yang agak aneh bagi mereka, yakni kata “Pareg” yang berarti dekat. Maka istilah tersebut menjadi guyonan sepanjang kereta sampai di Stasiun Kroya, daerah di Cilacap. “Wis Pareg”, sudah dekat, goda ibu dari Cilacap, dengan berusaha menirukan dialek Gresik-Suroboyan.
Namun tunggu dulu, tak kalah kami semua tertawa terpingkal saat si ibu tanpa Jilbab mengatakan istilah “Unduluwug” untuk kali atau sungai kecil. Saya yang dari Gresik, dan ibu dari Cilacap malah menertawakan balik ada istilah macam itu.
Ah, lagi-lagi, sesama kita kadang masih kaget dan merasa lucu dengan dialek orang lain. Padahal sama-sama dari suku Jawa!
Saya rasakan tertawa kami hari itu bukan untuk melecehkan dialek lain. Tapi memang kadang kita merasa geli mendengar istilah yang tidak biasa kita gunakan sehari-hari. Salam Jeding Pareg Unduluwug. 😀 [Afif E.]

Tiga Hari untuk Tiga Jam Saja

Jika Riri Riza punya judul film “3 Hari untuk Selamanya”, maka saya punya judul artikel “Tiga Hari untuk Tiga Jam Saja”. Ciee… 😀
Kalimat ini saya sarikan dari kata-kata ibu saya saat saya katakan, saya ke STT Telematika Telkom, Purwokerto untuk pelatihan, yang hanya berlangsung mulai jam 9.00 sampai jam 12.00 WIB. Yang berarti selama tiga jam. Sedangkan perjalanan dari rumah saya di Gresik, memakan waktu selama tiga hari. 😀 kok bisa?

acara 7

Prof. Ir. Mochamad Ashari, M.Eng, Ph.D, memberikan materi dalam acara pelatihan penulisan di STT Telematika Telkom, Purwokerto, 5 November 2015.

Iya, karena perjalanan kereta api Logawa dari stasiun Gubeng, Surabaya ke Purwokerto kurang lebih 10 jam. Sedangkan dari rumah di Bungah Gresik, ke Surabaya sekitar 1,5 Jam. Praktis, dari tanggal 4 November 2015, saya berangkat meninggalkan rumah. Tanggal 5 November berada di Purwokerto, dan tanggal 6 November, selama seharian penuh dalam perjalanan kereta menuju Surabaya. Maka, total untuk dapat mengikuti pelatihan itu, butuh meluangkan waktu selama tiga hari. 😀
Tapi saya pikir, sebuah perjalanan yang layak lah, dengan pengalaman selama perjalanan. Juga menyegarkan pikiran kembali setelah jenuh dengan rutinitas pekerjaan. Terima kasih ibuk, untuk memberi judul tulisan saya yang satu ini. 🙂 [Afif E.]

Betapa Saya Suka dengan Balkon

Mungkin judul itu dapat menggambarkan sebagian kesukaan saya akan balkon, alias teras di lantai atas rumah atau bangunan. Demikian juga yang saya rasakan saat menginap di PPQ Al-Amin, Pabuaran, Purwokerto.

balkon 1

Balkon di PPQ Al-Amin, dengan semilir angin memasuki musim penghujan.

Di pondok ini, terdapat lantai dua untuk asrama putra. Semilir angin yang mulai basah, mengingat cuaca di kota Purwokerto mulai hujan tiap sore hingga malam. Lama saya mlongo di balkon lantai dua asrama putra. Tak saya pedulikan hilir mudik para santri. Mungkin dalam benak mereka, nih orang ngapain sih ngaplo dekat pagar, mau bunuh diri kali ya! 😀
Sebenarnya dua hari selama di PPQ Al-Amin, ingin sekali saya tidur di asrama lantai dua. Biarlah tidur bersama santri yang lain, daripada di kamar pengurus di lantai satu. Nilai tambahnya, di lantai dua ini ada pemandangan dari balkon!
Namun apa daya, sebagai seorang tamu, saya pun akhirnya nurut pada Mas Anas agar saya tetap tidur di kamar pengurus di lantai satu. 😦

balkon 3

Balkon di PPQ Al-Amin menjelang maghrib

“Masnya tidur dibawah saja, ya.” ujar Mas Anas, dengan logat khas ‘ngapak’nya.
Kadang saya membayangkan sendiri. Nantinya, kalau saya sudah bisa bikin rumah, tetap akan saya bangun sebuah balkon, dengan teras terbuka. Sehingga bisa menikmati suasana sore. Enak, kan, buat nulis atau mengerjakan pekerjaan sambil menikmati semilir angin sore.
Kapan, nih, rumah saya dibangun? Embuh, entahlah. 😀 Mohon bantuan doanya ya… 🙂 [Afif E.]

PPQ Al-Amin Purwokerto

Saya rasa perlu untuk menuliskan artikel tentang PPQ Al-Amin, sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih saya.
Saya mengetahui PPQ Al-Amin dari sebuah Grup Facebook bernama “IPNU-IPPNU Se-Indonesia”. Pencarian saya itu tidak lepas dari keperluan saya untuk pergi ke Purwokerto, namun tidak dapat menemukan tempat kos maupun losmen dengan harga miring di kota Purwokerto. Ada beberapa kemungkinan saya tidak menemukannya di Google.

purwokerto

Brosur yang saya temukan di Grup FB “IPNU-IPPNU Se-Indonesia”

Pertama karena saya kurang jeli. Yang kedua, tidak banyak netizen yang membahas ibukota Kabupaten Banyumas ini. Beberapa kos yang memasang iklan di website jual beli pun, ternyata tidak membikin saya menemukan tempat kos harian yang pas. Wal hasil, atas saran sepupu saya, saya mantapkan untuk tinggal di PPQ Al-Amin, dengan pertimbangan ada seseorang yang tinggal di sana yang bisa saya tuju.

PPQ Al Amin 6

Tampak Depan PPQ Al-Amin Pabuaran Purwokerto

Belakangan saya baru tau beberapa losmen yang ada di kota Purwokerto. Sekali lagi, karena saya tidak menemukannya di Google. Namun saya tetapkan untuk tinggal di PPQ Al-Amin, mengingat saya sudah menghubungi Mas Anas sebelumnya.
Saya mengontak Mas Anas baru dua hari sebelum keberangkatan saya. Namun Alhamdulillah saya bisa diterima dan ditemani dengan sangat baik selama di sana. Dalam SMS terakhirnya, ia memperingatkan pada saya bahwa fasilitas di PPQ Al-Amin sangat minim. Lantas saya katakan, saya tidak masalah dengan itu. Saya pikir tujuan saya ke Purwokerto adalah ikut pelatihan di STT Telematika Telkom, Purwokerto. Tempat menginap tak jadi soal.

PPQ Al Amin 3

Salah satu sudut PPQ Al-Amin Pabuaran Purwokerto

Oiya, PPQ Al-Amin sendiri berada di Pabuaran (ada yang mengejanya dengan Pabuwaran, dengan huruf “W”), Purwokerto Utara. Jika anda pernah ke tempat wisata Baturraden, maka Pondok Pesantren ini ada di seputaran jalan menuju ke sana. Sebuah pondok yang kecil memang.
Namun, saya kira cukup dapat berkembang di masa mendatang. Mengingat pondok ini kebanyakan dihuni oleh mahasiswa, baik STAIN maupun UNSOED. Saya kira mahasiswa baru yang akan berkuliah di Purwokerto baiknya mempertimbangkan Pondok Pesantren ini sebagai tempat tinggal dan belajar.
Pondok ini memperbolehkan santrinya membawa sepeda motor, maupun piranti elektronik. Sehingga kekhawatiran akan dikekang terlalu ketat, saya kira itu hanya ada dalam bayangan saja.
Terakhir, sekali lagi saya ucapkan terima kasih pada warga PPQ Al-Amin, yang sudah menerima saya selama di Purwokerto. 🙂 [Afif E.]