The Philippine Girls I Met

chris and anna: The Philippnine Girls met

Blur Picture of Chris (in white dress and pony tail hair) and Anna (in black dress, brought silver bag). The only picture I had complete both of them 😦 😦 😦

I lost in Singapore! I asked several people surrounding the Bugis Station about my destination did not helped at all. It seems they also blind about the map of Singapore I brought. Okay, let’s just walk the street!
We, I and my cousin, crossing the streets not far away from Bugis Station. At that time, it was fine if we were not found any way to go to our hostel we booked yet. We want to get around Masjid Sultan, and Kampong Glam, not too far from Bugis Station, according to the map. Stuck with average answer of several Singaporean: β€œI don’t know”, finally I could read map of Singapore, immediately. It was easy, we just need to compared the road and the surrounding building written in the map. Voila! I got it. Then we headed to Kampong Glam.
During walked into Kampong Glam, I saw two girls seems confused read Singapore map. Just like what happened to me. I recognized them as Indonesian. But later I knew I was wrong. Both are the Philippine girls. They are Chris and Anna.
If I was thought both of them as Indonesian, similarly (or oppositely?) they recognized me and my cousin as Philippines! πŸ˜€ I don’t know, is there any similarities between Philippine and Indonesian face?
Chris and Anna want to drop in Haji Lane and Arab Street, same destination of ours. So, we headed there together.
Unfortunately, I did not ask for their contact, email, phone number etc. How come… 😦 😦 😦
What if someday I could go to the Philippine? 😦 😦 [Afif E.]

Sentosa Island Tidak Lagi Gratis

pintu Sentosa Island

Pintu Masuk-Keluar Sentosa Island (Jalur Pejalan Kaki) – abaikan tas plastik πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Bagi para pelancong barangkali sudah paham betul apa itu Sentosa Island. Atau mungkin pembaca pernah mendengar nama Sentosa Island disebut-sebut dalam media.
Ya, Sentosa Island adalah salah satu andalan pariwisata Singapura. Berlokasi di salah satu pulau kecil di selatan negara kecil tersebut, Sentosa Island menawarkan beragam jenis wahana permainan. Konsepnya barangkali sama dengan Dunia Fantasi atau Taman Mini Indonesia Indah.
Yang agak beda, di Sentosa Island terdapat banyak wahana, salah satunya adalah Universal Studio. Kita bisa masuk bebas dan gratis! Tentu yang gratis itu masuknya. Kan seneng kan kalo dengar yang serba gratis. πŸ˜€
Memang masuk ke Sentosa gratis. Kecuali kalau kita mau masuk ke wahana tertentu. Baru di situ kita bayar.
Untuk menuju ke Sentosa setidaknya ada 4 jalan. Pertama menggunakan LRT atau MRT, kedua menggunakan bus, ketiga dengan kereta gantung, keempat adalah dengan jalan kaki. Dan… Yang paling murah dari keempat cara tersebut adalah dengan berjalan kaki! Gratis pula! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€
Kurang lebih berjalan kaki menyebrangi jembatan yang melintas di atas sebuah selat, bukan berarti kita berpanas ria. Jembatan lebih dari 500 meter ini sudah didesain sangat nyaman bagi pejalan kaki. Bahkan ditulis dalam papan: Paling nyaman ke Sentosa dengan jalan kaki.
Tapi, berdasarkan peta panduan yang disediakan, per tahun 2017 besok masuk ke Sentosa tidak lagi gratis bagi pejalan kaki. Akan ada fee untuk masuk. Tidak dituliskan di brosur biayanya nanti berapa.
Kalau melihat ongkos yang ada sekarang, bisa saja masih dibawah 4 dollar Singapura (anggap saja senilai dengan 40 ribu rupiah). Angka 4 dollar darimana? Dari ongkos naik kereta gantung. πŸ™‚ Masih murah lah. Daripada harga tiket masuk kolam renang di Gresik yang di atas itu, hanya untuk masuk ke area kolam saja.
Bagus ya di Sentosa? Mmm… Bagus sih, tapi kok ya 11-12 sama Dufan ataupun TMII. Tapi, kayaknya perlu belajar memberikan yang murah (tapi tidak murahan), agar banyak wisatawan yang tertarik melancong, macam di Sentosa. [Afif E.]

Ucapan Doa dari Warga Kota Singa

Saya dan sepupu saya sedikit berdebat di bawah tanah Singapura. Ah, mungkin kurang tepat kalau dibilang berdebat. Kami hanya sedikit bingung dengan rute perjalanan MRT Singapura. Salah naik MRT bisa salah jalur, dan jauh.

Kami juga hendak bertanya tentang ongkos yang dibutuhkan. Kuberanikan untuk bertanya pada seorang ibu berjilbab. Dari wajahnya ibu tersebut seorang Melayu-Singapura.

Benar, ibu berilbab itu seorang Melayu. Pertanyaan seputar rute dan ongkos sudah terjawab. Ibu itu juga sempat bertanya tujuan kami datang ke kota Singa, serta percakapan ringan lainnya. Kalimat pamungkas ibu itu atas rencana perjalanan kami adalah: Insyaallah dimudahkan. Kami amini, dan mengucap terima kasih.

Apakah lepas itu kami sudah paham dengan rute MRT? Belum! Kami kembali bingung dengan rute MRT. Kali ini dalam perjalanan menuju Johor Bahru, Malaysia.

Tak gampang juga mencari orang yang mau ditanyai, mungkin karena tergesa takut ketinggalan kereta. Sedikit lega saat dua orang bapak mau kami tanyai. Dan… Saat kami mengatakan asal penerbangan kami dari Surabaya, keduanya serempak berseru:
β€œOww…. SUROBOYO…” dengan berusaha membikin logat medok, tapi bagi saya beliau berdua tetap gagal. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Kebetulan sekali kami menggunakan kereta yang searah. Kami berdua menuju ke Kranji Station, sedangkan kedua bapak itu menuju stasiun sebelumnya. Perjalanan kami masih satu jam lebih.

Selama perjalanan MRT bersama bapak itu, kami bercakap banyak. Dan sekali lagi, sebelum kedua bapak itu turun dari MRT, salah satu bapak berdoa untuk perjalanan kami dengan kalimat: Insyallah dimudahkan. Jadi tenteram mendapat doa untuk perjalanan kami.

Mungkin dengan ucapan doa dari warga kota Singa ini juga yang memperlancar urusan saya saat ditangkap dan dicekal oleh Imigrasi Singapura di Woodland Checkpoint. #BaPeR 😦 😦 😦 πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€
Bisa jadi juga doa dari keluarga dan orang tua. Betapa doanya sangat penting bagi seorang yang menempuh perjalanan. Ah, Singapura… Dan ucapan doa dari warga kota Singa. [Afif E.]

Sikap Backpacker yang Kurang Baik

loket MRT

Mesin tiket MRT di Terminal 2 Changi. Tempat saya mengacuhkan orang. 😦 😦 😦

Bandara Changi, April 2016. Pesawat β€œMacan” yang saya tumpangi mengantarkan sampai di Terminal 2. Pikir saya akan sangat mudah untuk menuju pusat kota Singapura, karena informasi dari berbagai blog yang saya baca, stasiun MRT ada di Terminal 2. #Singapura… Saya datang….!!!! *NORAK! πŸ˜€
Masalah muncul. Cara beli tiketnya bagaimana? Saya lihat tidak ada banyak calo yang menjajakan tiket. #PLakKk! (baca tulisan saya tentang calo).
Maka saya mulai mengawasi orang yang beli tiket di mesin tiket. Adalah bapak-bapak India dengan gengnya yang saya awasi cara menggunakan mesin tiket.
β€œKamu mau beli tiket juga?” tutur salah seorang bapak pada saya.
Karena hanya sedikit paham, bapak-bapak India yang ternyata bisa bahasa Jawa itu akhirnya menawari untuk membantu. Malah kami diberi tambahan 80 sen! Yayyy! Asyik dong, sudah dibantu menunjukkan cara pembelian tiketnya, diberi uang tambahan pula. *dasar backpacker cari gratisan. Hehehe
Okay. Akhirnya tiket terbeli. Usai ngobrol sedikit dan berterima kasih pada bapak-bapak India tadi, kami saling berpamitan. (tapi nggak pakek cipika-cipiki… πŸ˜€ ).
Masih di depan mesin tiket, saya kemasi tas ransel yang sempat amburadul saat mengeluarkan uang.
Di saat itu seseorang menyapa, β€œdari Indonesia?”
β€œOh, iya, mas. Dari Indonesia juga?”
β€œIya, dari Bandung,” dan tanpa ba bi bu lagi mas-mas dari Bandung itu menawarkan bantuan.
β€œOh, udah beres kok mas.” kalimat pamungkas yang saya sesalkan dalam beberapa menit kemudian.
Yang membuat saya menyesal adalah saat sadar β€œsalah” membeli tiket. Saya dari Surabaya kan sudah membawa kartu EZLink. Kenapa harus beli tiket sekali pakai! Aduh!
Harusnya Kartu EZLink itu yang diisi! Tapi dimana? Apa lewat mesin yang sama? Aaarghhh… Mana mas-mas dari Bandung tadi???!! Huff…
Yah, begini ini backpacker amatiran. Ditawari bantuan oleh sesama orang Indonesia malah diacuhkan. Tidak sempat berkenalan pula! Aduh! Sungguh sikap backpacker yang kurang baik. Punten ya kang… *sambil nada orang Sunda. 😦 [Afif E.]

Mandi Jinabat Bersama

Perasaan lega membuncah di dada saya sepulangnya ke hostel. Apa yang saya cari? WC! πŸ˜€
Pertama kali masuk area toilet, suasana begitu sepi. Baik tiga kubikel WC maupun tiga kubikel shower kosong melompong (baca: Kubikel = sekat-sekat). Maka jadilah saya menikmati syahdunya berada di kubikel WC saya sendiri. *Kenapa posting ini malah jadi jorok begini ya! πŸ˜€
Keasyikan saya tiba-tiba terusik. Saat was wus bunyi lelaki dan perempuan bule bercakap di luar kubikel WC saya berada. Ah, bisa jadi sudah full ruang toilet. Sehingga mereka berdua pun ngantri di luar. Terlebih memang di tengah saya berada di WC, sudah mulai berbunyi shower, yang artinya kubikel shower sudah ada yang menempati.
Antara sudah tuntas dengan urusan saya, dan juga berpikir pengertian memberikan ruang bagi dua bule yang ngantri di luar kubikel, saya sudahi aktivitas saya di kubikel. Biar mereka bisa gantian memakai kubikel yang barusan saya pakai.
Tapi saya malah melongo saat pintu seret kubikel saya buka. Tak ada siapapun di luar kubikel. Saya garuk-garuk kepala sendiri.
Tapi kok masih ada orang yang bercakap-cakap? Loh, cuma ada satu kubikel shower yang pintu seretnya tertutup! Sementara kubikel yang lain melompong.
Saya perhatikan dan dengarkan betul-betul percakapan yang masih belum berakhir sampai saya di wastafel, masih di ruang toilet yang sama. Sumber suara percakapan lelaki dan perempuan itu dari satu-satunya kubikel shower yang pintuya tertutup itu! Hee??? Jadi shower yang nyala disamping kubikel tempat saya eek tadi pasangan bule itu mandi bareng! Wakwaw…
Tak lama bunyi shower semakin deras. Tapi tidak ada percakapan. Lalu ada bunyi-bunyian. Apa yang kalian lakukan dalam kubikel itu wahai saudara-saudari??? Hemmm…
Eh, tapi mungkin mereka pasangan suami-istri yang lagi mandi jinabat bersama. Mandi yang dilakukan oleh muslim jika memiliki hadats besar, salah satunya sehabis hubungan suami istri. Kan perlu tuh transfer ilmu di antara suami istri.
Emangnya kamu tahu kalo mereka suami istri? Emangnya kamu tau mereka muslim apa, nggak? Eh, nggak tahu juga ding! Sok tahu. Haha πŸ˜€
Lalu, apa yang mereka berdua lakukan??? Oh, tidak! Benar kata orang, pikiran bujang memang berefek ngeres begini!
Maka saya pun kembali ke kamar saya. Meninggalkan suara shower yang membasahi mereka berdua. Sedang apa mereka? #PLakkk!!!! *nampar keras [Afif E.]

Harga Tas Plastik di Singapura

tas kresek singapura

Tas Plastik asli Singapura πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Jawaban resepsionis hostel tempat saya menginap mengecewakan saya. Katanya, hostel hanya menyediakan air mineral berbayar, tak ada air minum isi ulang. Dan harganya 1,20 dollar Singapura ukuran botol kecil! Apaaaa?! *sambil mulut menganga kaget.
Gila, masak harga air minum botol paling kucrit lebih dari sepuluh ribu. Lama-lama bisa tekor berat. Mengingat saya tidak bisa menahan untuk tidak minum. Apalagi usai bangun tidur.
Namun sedikit agak lega saat rumah makan di lantai bawah hostel jualan air mineral. Sebotol besar seharga 2 dollar Singapura. Ya… Masih mahal sih, tapi lebih mending daripada yang dijual di hostel. Botolnya jauh lebih besar, bisa buat isi ulang beberapa kali.
Tibalah saat membayar. Karena dari tadi saya dengarkan pelayan restoran hanya bercakap bahasa China, saya bertanya dalam bahasa Inggris, β€œHow much is it?” sambil menunjukkan sebotol besar air mineral.
β€œTu dolla… Tu dolla…” two dollartwo dollar… Sambil mengacungkan dua jari.
Mata saya langsung mendelik. Ya Allah… Pelayan perempuan di depan saya tidak bisa banyak cakap bahasa Inggris! Sisanya dia tetap was wus ngomong China walau jelas-jelas saya tidak bisa (baca: belum bisa πŸ™‚ ).
Adegan mengkhawatirkan tiba saat kasir bertanya, lagi-lagi tidak dalam bahasa Inggris penuh. Yang jelas dia bertanya, β€œPlastic?”
Ingatan saya langsung menuju ke adegan kasir minimarket di Indonesia: β€œpakai tas plastik mas?… Kalau iya, nambah 200 rupiah ya…”
Saya menelan ludah. Ini berapa dollar harga tas kresek (baca: tas plastik)???
Uang saku bakal amblas kalo sampek harga nih plastik 2 dollar!
Eh, tapi syukur ternyata gratis ding! Asyikkk… πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€
Maka, buat kamu yang bakal ke Singapura, catat baik-baik: harga tas plastik di Singapura nol dollar alias gratis! πŸ˜€ [Afif E.]