Plengkungan Nirboyo Namanya

Alkid

Alun-Alun Kidul a.k.a Alkid

Tak banyak yang saya ingat dari Jogja, selepas ke kota Sultan tersebut di tahun 2002. Saat itu bersama rombingan keluarga mengantar paman saya yang wisuda di UGM. Beberapa bangunan yang masih saya ingat betul pernah melihat dan mengunjunginya adalah Masjid Kauman di Alun-alun utara, yang kedua adalah Sasono Hinggil di Alun-alun kidul (saya baru tau kalau nama ‘kerennya’ adalah ALKID).

Sasono Hinggil

Sasono Hinggil

Waktu itu di tahun 2002 saya kira Sasono Hinggil adalah bangunan utama Kraton dimana sultan dan keluarganya tinggal. Nama bangunan itu ‘Sasono Hinggil’ pun baru saya tau pada tanggal 5 Desember 2015 karena tertera tulisan ‘dwi abad’ di jidat bangunan. Baru saya tau juga kalau ternyata bukan itu bangunan inti kraton. 😀

Plengkungan Nirboyo1

Plengkungan Nirboyo 2Plengkungan Nirboyo (a.k.a Plengkungan Gading)

Lanjut saya berjalan, karena waktu saya di Jogja hanya hari itu saja. Kereta besok pagi akan membawa saya pulang.
Jalanan di selatan Alkid menuntun saya terus, menuju sebuah bangunan yang akrab di ingatan. Akrab bukan karena saya pernah ke bangunan itu pada tahun 2002. Melainkan lebih karena bangunan tersebut sering disorot di berbagai acara televisi dan iklan. Ternyata Plengkungan Nirboyo namanya. Atau bernama alias Plengkungan Gading.
Ragu-ragu semula, apakah bangunan gerbang itu boleh dinaiki atau tidak. Namun melihat serombongan turis lokal juga naik dan selfie di sana, maka saya pun naik.
Owh, ini toh, plengkungan yang terkenal itu. Plengkungan Nirboyo namanya. [Afif E.]

Dicurigai Membuntuti Mahasiswi

Gontai langkahku saat menuruni shelter bus Trans Jogja di dekat Kampus UIN Sunan Kalijaga, 5 Desember 2015. Rasa kantuk dan lelah setelah berjalan kaki di sepanjang Malioboro, Gedung Agung, Benteng Vredeburg, Alun-alun Kidul Kraton Jogja, hingga Plengkungan Nirboyo. Inginku segera tepar dan tidur di kosan teman-teman IKBAL (Ikatan Keluarga Besar Alumni) Qomaruddin di daerah Sapen, Yogyakarta.
Kususuri trotoar sisi barat jalan dimana kampus UIN bersisian. Malam itu pukul 9, sudah lumayan gelap. Kupercepat jalanku, karena memang mata ini sudah mengantuk sekali, ingin segera sampai. Tak kuhiraukan betul, ada dua mahasiswi di depanku.
Barangkali karena terkejut dengan seorang lelaki berjalan di belakang mereka di gelapnya trotoar, mereka malah ikut berjalan semakin cepat. Kali ini sesekali mereka tengok ke belakang, ke arahku. Suasana paranoid menyergap di gelapnya trotoar malam itu.
Alih-alih hanya dua mahasiswi itu yang takut karena curiga dibuntuti, aku sendiri juga paranoid dengan semakin takutnya mereka. Jangan-jangan mereka teriak “maling” padaku, dikeroyok orang mampuslah aku!

“Mbak… Permisi, saya duluan saja, supaya mbak berdua tidak takut…” kataku.
Keduanya terdiam, lalu memberikan jalan padaku.

Tapi tunggu dulu, jangan bayangkan adegan saya memanggil kedua mahasiswi itu benar-benar ada. Itu hanya hayalan saya saja! Hahaha 😀
Alih-alih bertindak ‘heroik’ seperti dalam hayalan saya itu, pikiran usil saya muncul. Semakin mereka berjalan cepat, saya percepat juga langkah saya. Dan gandengan tangan mereka juga semakin erat! Alamak… Macam di sinetron Turki saja. 😀
Adegan kejar-kejaran ini berakhir begitu mereka berdua sampai di depan gerbang kampus sisi barat yang memang benderang dengan lampu di gerbangnya. Banyak orang juga di situ. Sehingga saya tak jadi menculik mereka. 😀 😀 😀
Aduh… Ada-ada saja. Orang manis macam saya kok sampeyan curigai mbuntuti toh mbak… Mbak… 😀 [Afif E.]