Semester Gila!!!

SLAMET KEBELET

Soal cewek, Slamet termasuk orang yang kurang fleksibel, kalo ngga mau dibilang kaku. Bayangin aja, terakhir kali ia ngomong ama cewek adalah sama Ibunya. Yah… kalo itu sih semua individu bernyawa pasti pernah interaksi sama Emaknya! Tapi gimana juga Slamet is the best buat gue. Eh, ngomong-ngomong Slamet di mana nih ya…

Sejak tadi pagi, kita pisahan. Gue sama Anita, sedangkan si Slamet sama Lila. Wuih, suasana pantai siang ini mendukung. Ngga mendung juga ngga kelewat panas. Pas.

“Din, Kalo elo marah jangan dijawab ya?” tiba-tiba Anita memulai pembicaraan.

“bentar, gue mau marah dulu, supaya abis elo cerita gue ngga marah lagi.” Sahutku.

“ah… Ardin!” rengek Anita.

“Iya, Iya… mau ngomong apaan sih, kayak serius banget.”

“elo pernah punya pacar ngga?”

Haaa…” LALU???”, aku heran, nanya gitu aja pake permisi segala.

“Jawab dong, Din!” tukas Anita sambil melayangkan pukulan di bahuku. ”masa jawabnya LALU doing!”

“ya abis, kirain nanya apaan, ngga taunya nanya gitu doang..”

“jawab dong, Din!” Anita makin gontot.

“Iya, Bu…” kemudian pertanyaan itu kujawab, “ Gue ngga pernah punya pacar tuh. Apaan tuh pacaran!”

“Ih, sok suci, maksudnya???” Anita ngga percaya.

“ maksudnya, Gue ngga pernah sekalipun pacaran sekali.” Bohong. Cuma aku Cuma pacaran sekali, yang resmi. Sementara dengan pacar keduaku, it was just by accident. Melihat semua teman punya pacar waktu itu, Aku jadi keki dan aneh karena sendirian terus. Jadinya ya… yang kedua kuanggap sebagai kecelakaan.

WHAT!!! Itu artinya pacarannya ngga Cuma sekali dong, berarti berkali-kali!”

“ Huahaa…glkk,” Aku sedikit tersedak dengan minumanku.

“Ih, dasar buaya Lo!” Anita menimpali.

“Salah kalian kenapa jadi cewek mau aja diBUAYAI, hahaha…” tawaku makin menjadi.

“yeee, … maksudnya…..” Anita ngga mau kalah.

“eh, Lila sama si Slamet ke mana, ya? Kok dari tadi belom nongol,” akhirnya pertanyaan itu keluar juga.

“iya loh, ini kan udah sore benget. Kalo kemaleman Gue bisa kena semprot bokap nih.” Anita menggerutu.

Suara melengking seorang cewek menyebut nama Lila dari arah belakang Kami. Aku menoleh, diikuti Anita, itu Lila. Ngapain dia datang dari ujung sana. Sesampainya di depan Kami, dia kami interogasi.

“ngapain lari-lari Lo?” Anita duluan bertanya.

“lah terus si Slamet Lo tinggal di mana?” tanyaku. “anak orang tuh, kalo sampek ilang bisa rame satu kampung nyarinya entar.”

“yee.. biarin aja kale..” sahut Lila. “ si Slamet perutnya sakit. Dari tadi keluar kamar kecil terus.”

Aku dan Anita diam, saling pandang kemudian tawa Kami meledak ngga keruan lagi.

“kok bisa sih, Jeng… emangnya abis makan apa barusan?” Tanya Anita.

“Itu,…kita makan Bakso, terus dia salah masukin cabe kebanyakan, dia ngiranya saus tomat…” ucap Lila, menerangkan.

Jelas aja tawa Kami makin menjadi. Sementara Lila kebingungan sendiri.

“eh, kalian kok malah ketawa terus seh… gimana nih…” ucap Lila, lagi. Sementara Kami masih menenangkan diri dari tertawa kami.

Akhirnya Kami bersepakat agar Anita dan Lila nyari obat sakit perut, sementara Aku menuju kamar kecil yang dimaksud Lila, tempat Slamet sekarang berada.

“Met, elo di dalem?” teriakku pada tiga kamar kecil yang ada di ponten. Dengan suara yang kurang jelas, Slamet menjawab, ”Iya Gue ada di dalam sini. Duh… elo ada obat sakit perut ngga?…mules banget nih…”

Semua pintu kamar kecil itu tertutup. Dari mana suara Slamet berasal, Aku juga ngga tau.

Sekali lagi Aku berteriak, entah pada penghuni kamar kecil yang mana, yang jelas kepada Slamet. “Met, Lo masih lama apa udah selesai? Ntar lagi ada Anita ma Lila bawa obat sakit perut ni..” kemudian terdengar dobrakan pintu kamar kecil, pintu yang tengah.

“Mas, Kalo teriak jangan di sini dong!!!” suara itu kedengaran aneh, garang, marah tapi dengan campuran suara hasil dari hidung yang dipegang. “ganggu konsentrasi Gue aja Lo! Ngga tau ada orang lagi berak ya?!”

Hihihi.. kalo itu Aku udah tau Oom…

“eh, Iya Oom. Nih Gue juga mau pindah.” Ucapku. Dan sebelum menjauh dari ketiga pintu kamar kecil itu Aku sempatkan berkata, “ SELAMAT KONSENTRASI BERAK YA, OOM… hahaha” dan Aku berlari cepat, disusul siraman air dari dalam kamar kecil yang tengah, untung aja ngga kena.

Anita dan Lila terlihat berjalan mendekati ponten. Sudah dapat obat sakit perutnya mungkin, pikirku.

“Slamet belom keluar?” Tanya Anita.

“belom..,” jawabku pendek.

“Waduh… kasian banget ya?…” ucap Lila, spontan.

“maksudnya apaan tuh, Bu….?” Sahut Anita.

“ANITA!!!” tukas Lila.

Slamet terlihat keluar kamar kecil saat ucapan anita yang terakhir. Ia kelihatan kesakitan dan tengah memegang perutnya. Pintu kamar kecil yang tengah juga dibuka oleh penghuninya, udah selesai juga kali.

Betapa terkejutnya Aku, yang keluar dari kamar tengah itu adalah sosok berparas cantik! Rambut menjuntai terurai alami. Dengan setelan pink, dan bawahan di atas lutut. Bajunya tak berlengan. Kemudian melihat lengannya berotot besar, kakinya juga demikian, dan ketika orang itu berbalik ke arah Kami bertiga, hihihi… ternyata seorang Mas mas cantik alias bencong.

Pria cantik tadi berjalan mendahului Slamet. Dan keusilan Slamet pun muncul. Sambil terus berjalan di belakang pria cantik itu, dia menirukan gaya berjalannya yang aduhai.

Kami tertawa. Sang pria cantik alias si bencong tiba-tiba berhenti, Kami pun ikut berhenti tertawa. Slamet pun demikian, dia berhenti menirukan gaya berjalan si bencong.

Tiba-tiba si bencong menoleh ke belakang, kea rah Slamet. Slamet pun gelagapan mencari posisi yang normal. Sejenak si bencong menatap Slamet dengan tajam, barangkali merasa kalo dirinya tengah diintimidasi orang di belakangnya. Yang aneh, Slamet malah melayangkan senyum pada bencong itu. Kami bertiga yang melihat masih menahan tawa.

Tak lama akhirnya si bencong pergi meninggalkan Slamet yang kemudian mengelus dadanya. Akhirnya tawa Kami semua lepas juga ketika si bencong sudah agak jauh.

Obat sakit perut yang dibelikan Anita dan Lila tadi tetap diberikan pada Slamet. Tapi dia ngomong kalo perutnya ngga sakit lagi gara-gara ngetawain bencong tadi. Aneh!

Kami bertiga pulang. Rencanaku gagal total. Ternyata Aku ngga bisa bonceng Anita. Slamet ngga mau bonceng Lila. Ya, jelas lah. Dia ngga mau gugup gara-gara bonceng cewek terus kecelakaan, gimana ngga, makan bakso aja sampek ketuker antara samba lama saus tomat!

Berarti harus ada renacana lain agar Aku bisa deketan ama Anita. Harus. Dan ini masih langkah awal.

Bungah, 28 April 2009

M. Afif Effendi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s