Be Original

Artikel ini saya tulis segera setelah saya menghadiri peluncuran bukunya LPM Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura (7 Desember 2017). Sedikit tersentil dengan kalimatnya pemateri, ibu Sirikit Syah, mantan wartawan yang saat ini ganti cangkul menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.

Apa yang membuat saya tersentil, yakni kalimat bu Sirikit yang menyatakan agar kita menulis secara asli, secara original. Jangan mengekor dengan topik tulisan penulis yang lain. Menurut Sirikit, dengan jalan menulis original inilah maka tulisan kita akan semakin menjadi acuan dan tak lekang. Sirikit lantas memberikan nama-nama penulis seperti Habiburrahman El-Shirazy dan Andrea Hirata yang menuliskan buku mereka dengan topik yang berbeda dari tulisan yang beredar saat itu. Sedangkan saat ini banyak tulisan yang mengekor dengan tema mereka.

Lalu saya bagaimana? Ah, masih banyak mengekor (tepok jidat). Hehehe. Next step, ya… Afif… jangan mengekor lagi. Kudu orisinil (original). [Afif E.]

Iklan

Semeru adalah Tempat Wisata

Satu pagi di tepi Ranu Kumbolo

Saya tidak memahami kalimat seorang teman, hiker sejati, saat mengatakan kalimat dalam judul tulisan ini. Saat itu saya baru mengungkapkan bahwa saya ingin naik gunung Semeru. Someday.

Barulah saya ngeh ketika Agustus 2017 naik ke Semeru, bahwa Semeru memang ramai! Ada beberapa hal yang berbeda saat kita menaiki Semeru saat ini.

Pertama sebelum 2012, tidak ada briefing dari relawan bagi setiap pendaki. Hal ini sangat ditekankan keharusannya, terlebih setelah dirilisnya film 5 CM, yang sayangnya bagi sebagian pendaki begitu kurang mendidik.

Kedua, kerusakan Semeru juga dirusak karena ulang tidak bertanggung jawab dari salah satu penyelenggara event. Event tersebut ‘menghadiahkan’ sampah dalam hitungan tidak sedikit. Dan begitu mengotori tubuh Semeru.

Dua hal ini yang masih mengiang dalam ingatan saya betapa briefing ini menjadi begitu perlu untuk diikuti oleh setiap pendaki ke Semeru.

Lalu bagian wisatanya mana? Pecayalah, Semeru benar-benar ramai! Rasanya saya tidak putus mengucapkan “mari, mas.. monggo, hello..” setiap kali berjumpa dengan pendaki lain. Frekuensi saya mengucapkan kalimat sapaan hangat tersebut sangat sering. Tak hanya pada orang Indonesia, melainkan juga pada warga negara asing  yang jumlahnya tidak sedikit.

Kenapa harus menyapa pendaki yang lain? Saya mengikuti saran yang lain, bahwa itu adalah bagian dari sopan santun. Nyatanya pendaki yang lain juga saling menyapa.

Bagian wisata yang lain adalah, maaf agak jorok, WC yang minta ampun baunya. Saya tidak mau meneruskan deskripsi WC ini. Namun hal ini menjadi penanda betapa kita semua jorok. Betapa kotoran kita jauh lebih jorok daripada kebanyakan makhluk. Serius, sangat bau. (hufff).

Inilah beberapa penanda bahwa Semeru adalah tempat wisata. [Afif E.]

Tiang Listrik dan Mahalnya Memiliki Teman yang Jujur

Entah bakal puluh atau ratusan akun media sosial yang akan digugat oleh pengacara Setya Novanto. Koran Jawa Pos pagi ini (19 November 2017) juga kembali mengulas drama tiang listrik dan tingkah polah Setnov dalam berkelit. Seolah kembali mengukuhkan betapa teman-teman sekeliling si Bapak adalah teman yang kurang baik dan jujur dalam berteman.

Teman yang mahal dan patut dipertahankan adalah teman-teman yang jujur, yang menerima kita apa adanya, yang akan selalu menjadi tameng saat kita jatuh, namun jujur mengingatkan kita saat kita melakukan kesalahan.

Nalar awam saya sendiri mengatakan betapa Setnov sudah sejauh itu berkelit. Hanya yang berkelit sedemikian jauh yang memang bersalah sedemikian berat. Meski nalar hukum mengatakan bahwa harus ada pembuktian, yang sampai hari akhir pun akan selalu dikatakan salah oleh pengacara Setnov.

Namun saya yakin akal orang Indonesia kebanyakan masih sehat. Kebenaran hakiki bukan ditentukan oleh hakim. Dan alhamdulillah memang demikian. Saya mengatakan demikian dengan masih banyaknya ujaran-ujaran positif di tiap sudut warung kopi di tempat saya tinggal. Orang kebanyakan masih mengatakan bahwa Setnov memang bersalah. Ratusan dalih Pengacara Setnov sama sekali tidak masuk kamus akal orang sehat, begitu yang saya tangkap dari pembicaraan orang di warung.

Sudah, saya tidak mau membahas terlalu jauh, jangan-jangan saya akan menjadi 200 juta penduduk Indonesia yang akan diperkarakan oleh Pengacara Setnov. Saya hanya menekankan bahwa teman yang mahal dan layak dipertahankan adalah teman yang berani mengingatkan kita saat kita salah. Jangan menjadi teman yang selalu membenarkan.

Sejarah yang akan membuktikan, anak cucu siapa yang akan malu memiliki orang tua yang tak punya malu. [Afif E.]

Sangat Edukatif

Azrul Ananda menjadi presiden Persebaya? Saya tergolong yang telat mengetahuinya. Bisa jadi karena saya yang kurang memberi perhatian pada berbagai berita akhir-akhir ini. Disamping bisa jadi juga karena saya-nya yang kurang ngeh dengan sepak bola. Hehehe

Saya kemudian kepo, penasaran, terobosan apa saja yang akan dilakukan oleh anak Dahlan Iskan ini. Selepas DBL nya, akan dibentuk seperti apa Persebaya yang sedang terpuruk berat itu. Terpuruk hanya karena ego beberapa orang.

Keyboard saya lantas menuntun ke laman YouTube dan mencari nama Azrul Ananda. Saya temukan laman resmi Persebaya di YouTube. Lengkap dengan berbagai video penjelasan dengan Azrul sebagai pembicara tunggal di sana.

Apa arti video tersebut buat saya? Sangat edukatif. Bayangkan saja, pada satu sesi yang membahas mengenai “tiket” pertandingan, bisa saja supporter akan berpikir dua atau banyak kali jika akan berbuat rusuh. Nyatanya perbuatan rusuh hanya akan merugikan tim yang katanya dicintai oleh para perusuh itu. Sangat edukatif.

Saya pribadi belum melihat perbandiangan lain, sehingga penilaian saya belum dapat dikatakan valid. But, just take a look pada video nya. Selamat mengikuti. [Afif E.]

Di Tubuh Semeru: Mau Menulis Apa Aku?

Suatu Pagi di Tepi Ranu Kumbolo

 

Catatan ini saya buat untuk bagian dari ringkasan awal perjalanan saya ke Gunung Semeru dalam tanggal 11, 12, 13, dan 14 Agustus 2017. Lazimnya ringkasan, maka belum banyak detail yang akan saya bagikan di sini. Hanya saja, sebagai sebuah perjalanan naik ke gunung untuk kali kedua, tentu rasanya berbeda.

Jika dalam pendakian pertama saya masih benar-benar kaget, maka pada pendakian kedua ini tidak begitu. Meski masih “menyiksa” saya. Yang saya maksud dengan kaget di sini adalah kaget dalam hal persiapan sebelum keberangkatan, berupa persiapan perbekalan hingga persiapan latihan fisik.

Saya masih begitu kaget dalam pendakian ke Semeru ini. Pertama, agenda ini muncul begitu mendadak. Seorang teman bernama Si Mat, sebut saja demikian, menawarkan agenda pendakian kurang lebih seminggu sebelum hari H. Atau bahkan kurang dari seminggu.

Waktu itu saya belum bisa menjawab, karena masih ada keperluan di Sumenep. Barulah saya bisa menjawab IYA, setelah saya mampatkan agenda perjalanan saya ke Sumenep. Dari yang semula tanggal 11 dan 12 Agustus saya ke Sumenep, saya mampatkan menjadi tanggal 9 dan 10 Agustus 2017. Praktis, saya hanya ada waktu persiapan menata perbekalan hanya 1 malam, yakni tanggal 10 Agustus, sesampainya saya di rumah dari Sumenep. Tentu agak bikin gelagapan.

Meski demikian, kaget karena persiapan yang mendadak agak berkurang. Pertama karena sudah pernah merasakan persiapan pendakian sebelumnya (terhitung 3 kali saya melakukan persiapan: Pertama ke Gunung Arjuno; kedua, saat akan ke Gunung Merbabu meski gagal ikut 😦 ; dan Ketiga adalah saat ke Semeru). Faktor kedua yang agak mengurangi kaget persiapan adalah segala logistik dan perlengkapan, banyak sekali disiapkan oleh Si Mat.

Meski demikian, tentu sebagai seorang pendaki amatiran, hal-hal yang saya alami ini sebaiknya jangan ditiru. Beneran, baru kali kedua inilah, saya menderita sakit selama 2 malam di tubuh Semeru. Ceritanya bagaimana kok bisa sakit? Saya simpan untuk artikel berikutnya. 🙂  [Afif E.]

Disruption: Ketika Sebuah Organisasi Harus Merombak Dirinya Sendiri

Membaca buku terbaru Rhenald Kasali berjudul “Disruption”, rasanya akan mendapatkan penekanan kuat, bahwa: Dunia Berubah. Bahwa menjadi “baik” tidaklah cukup. Membutuhkan satu usaha ekstra agar mau berubah. Pilihannya hanya dua: Berubah ataukah mengikuti perubahan. Sederhana.

Contoh yang seakan diulang-ulang dalam buku ini adalah contoh kasus mega perusahaan Nokia. Dalam kutipan buku ini, selalu menyertakan kalimat Stephen Elop (Nokia): “kami tidak melakukan kesalahan apapun; tiba-tiba kami kalah dan punah.”

Jamak kita ketahui bersama, bahwa Nokia yang semula menjadi hape kesayangan semua makhluk bertelepon genggam, kini malah tak banyak yang mengendusnya untuk dibeli. Bukan karena Nokia produk yang jelek (malah sangat bagus), namun Nokia tidak menyadari ada perubahan trend: penggunaan platform Android.

Tak hanya Nokia, Rhenald Kasali kemudian beralih pada topik Kodak dan Fujifilm. Dua raksasa film rol kamera.

Sebagaimana kita ketahui bersama, hanya dalam tempo dekat, beberapa generasi kita sudah tidak mengenal yang namanya negatif film (baca: roll film). Sehingga untuk mengambil dan mencetak gambar harus menunggu roll itu habis dulu (pengalaman pribadi). Tahunya kita saat ini, kita tinggal pose jepret, unggah, atau cetak via komputer di rumah; kalaupun itu ingin mencetak. Kedua perusahaan itu tergerus oleh zaman yang beralih pada kamera digital.

Sumber: Tribunnews.com

Namun tunggu dulu. Apakah Kodak tidak mengetahui adanya produk kamera digital. Jangan salah, dalam keterangan Rhenald Kasali, justru dari dapur Kodak sendirilah kamera digital lahir! Namun bayi kamera digital itu sudah dibredel oleh pimpinan-pimpinan yang tidak membaca arah perubahan zaman.

Saat terjadi perubahan zaman, dan penjualan roll film mulai menurun, bahkan kini sudah sangat-sangat tidak ada, Kodak baru kelabakan. Apa yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin tadi? Menyalahkan orang pemasaran! Helloww!

Langkah berbeda ditempuh oleh Fujifilm, yang mengambil kebijakan merubah diri dengan berkecimpung dalam dunia digital.

Baik, saya rasa ulasan singkat saya mengenai buku setebal 497 halaman ini jelas tidak akan mendalam. Cepat ke toko buku atau penuhi keranjang online mu! Beli dan baca! Semoga menambah wawasan. [Afif E.]

 

 

Identitas Buku:

Judul: Disruption: Tak ada yang tak bisa dirubah sebelum dihadapi. Motivasi saja tidak cukup.

Tebal: 497 halaman

Penerbit: Kompas Gramedia

Tahun terbit: 2017

I Lost February

This is my own target that I wanna have at least an article a month for my blog post. But I lost February 2017! Since I did not wrote any article for the blog last month.
Huff, how come. Is it because of my routine agenda? I don’t think so. It is seems more about I did not spend any time just for write! Even for an article.
Actually there were so much incident, moment, and even days that I could tell and write for the blog. For example how I suppose that February had another day after its 28th! Another was my arm which was hurt, I didn’t knew by what, but after I did medical check up, it was because muscle acid in my arm. (am I right by using “muscle acid” term?).
But I can’t repaid the time, right? So, let it be my notice, that I should write, eventhough only an article in a month. [Afif E.]