Di Tubuh Semeru: Mau Menulis Apa Aku?

Suatu Pagi di Tepi Ranu Kumbolo

 

Catatan ini saya buat untuk bagian dari ringkasan awal perjalanan saya ke Gunung Semeru dalam tanggal 11, 12, 13, dan 14 Agustus 2017. Lazimnya ringkasan, maka belum banyak detail yang akan saya bagikan di sini. Hanya saja, sebagai sebuah perjalanan naik ke gunung untuk kali kedua, tentu rasanya berbeda.

Jika dalam pendakian pertama saya masih benar-benar kaget, maka pada pendakian kedua ini tidak begitu. Meski masih “menyiksa” saya. Yang saya maksud dengan kaget di sini adalah kaget dalam hal persiapan sebelum keberangkatan, berupa persiapan perbekalan hingga persiapan latihan fisik.

Saya masih begitu kaget dalam pendakian ke Semeru ini. Pertama, agenda ini muncul begitu mendadak. Seorang teman bernama Si Mat, sebut saja demikian, menawarkan agenda pendakian kurang lebih seminggu sebelum hari H. Atau bahkan kurang dari seminggu.

Waktu itu saya belum bisa menjawab, karena masih ada keperluan di Sumenep. Barulah saya bisa menjawab IYA, setelah saya mampatkan agenda perjalanan saya ke Sumenep. Dari yang semula tanggal 11 dan 12 Agustus saya ke Sumenep, saya mampatkan menjadi tanggal 9 dan 10 Agustus 2017. Praktis, saya hanya ada waktu persiapan menata perbekalan hanya 1 malam, yakni tanggal 10 Agustus, sesampainya saya di rumah dari Sumenep. Tentu agak bikin gelagapan.

Meski demikian, kaget karena persiapan yang mendadak agak berkurang. Pertama karena sudah pernah merasakan persiapan pendakian sebelumnya (terhitung 3 kali saya melakukan persiapan: Pertama ke Gunung Arjuno; kedua, saat akan ke Gunung Merbabu meski gagal ikut 😦 ; dan Ketiga adalah saat ke Semeru). Faktor kedua yang agak mengurangi kaget persiapan adalah segala logistik dan perlengkapan, banyak sekali disiapkan oleh Si Mat.

Meski demikian, tentu sebagai seorang pendaki amatiran, hal-hal yang saya alami ini sebaiknya jangan ditiru. Beneran, baru kali kedua inilah, saya menderita sakit selama 2 malam di tubuh Semeru. Ceritanya bagaimana kok bisa sakit? Saya simpan untuk artikel berikutnya. 🙂  [Afif E.]

Iklan

Disruption: Ketika Sebuah Organisasi Harus Merombak Dirinya Sendiri

Membaca buku terbaru Rhenald Kasali berjudul “Disruption”, rasanya akan mendapatkan penekanan kuat, bahwa: Dunia Berubah. Bahwa menjadi “baik” tidaklah cukup. Membutuhkan satu usaha ekstra agar mau berubah. Pilihannya hanya dua: Berubah ataukah mengikuti perubahan. Sederhana.

Contoh yang seakan diulang-ulang dalam buku ini adalah contoh kasus mega perusahaan Nokia. Dalam kutipan buku ini, selalu menyertakan kalimat Stephen Elop (Nokia): “kami tidak melakukan kesalahan apapun; tiba-tiba kami kalah dan punah.”

Jamak kita ketahui bersama, bahwa Nokia yang semula menjadi hape kesayangan semua makhluk bertelepon genggam, kini malah tak banyak yang mengendusnya untuk dibeli. Bukan karena Nokia produk yang jelek (malah sangat bagus), namun Nokia tidak menyadari ada perubahan trend: penggunaan platform Android.

Tak hanya Nokia, Rhenald Kasali kemudian beralih pada topik Kodak dan Fujifilm. Dua raksasa film rol kamera.

Sebagaimana kita ketahui bersama, hanya dalam tempo dekat, beberapa generasi kita sudah tidak mengenal yang namanya negatif film (baca: roll film). Sehingga untuk mengambil dan mencetak gambar harus menunggu roll itu habis dulu (pengalaman pribadi). Tahunya kita saat ini, kita tinggal pose jepret, unggah, atau cetak via komputer di rumah; kalaupun itu ingin mencetak. Kedua perusahaan itu tergerus oleh zaman yang beralih pada kamera digital.

Sumber: Tribunnews.com

Namun tunggu dulu. Apakah Kodak tidak mengetahui adanya produk kamera digital. Jangan salah, dalam keterangan Rhenald Kasali, justru dari dapur Kodak sendirilah kamera digital lahir! Namun bayi kamera digital itu sudah dibredel oleh pimpinan-pimpinan yang tidak membaca arah perubahan zaman.

Saat terjadi perubahan zaman, dan penjualan roll film mulai menurun, bahkan kini sudah sangat-sangat tidak ada, Kodak baru kelabakan. Apa yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin tadi? Menyalahkan orang pemasaran! Helloww!

Langkah berbeda ditempuh oleh Fujifilm, yang mengambil kebijakan merubah diri dengan berkecimpung dalam dunia digital.

Baik, saya rasa ulasan singkat saya mengenai buku setebal 497 halaman ini jelas tidak akan mendalam. Cepat ke toko buku atau penuhi keranjang online mu! Beli dan baca! Semoga menambah wawasan. [Afif E.]

 

 

Identitas Buku:

Judul: Disruption: Tak ada yang tak bisa dirubah sebelum dihadapi. Motivasi saja tidak cukup.

Tebal: 497 halaman

Penerbit: Kompas Gramedia

Tahun terbit: 2017

I Lost February

This is my own target that I wanna have at least an article a month for my blog post. But I lost February 2017! Since I did not wrote any article for the blog last month.
Huff, how come. Is it because of my routine agenda? I don’t think so. It is seems more about I did not spend any time just for write! Even for an article.
Actually there were so much incident, moment, and even days that I could tell and write for the blog. For example how I suppose that February had another day after its 28th! Another was my arm which was hurt, I didn’t knew by what, but after I did medical check up, it was because muscle acid in my arm. (am I right by using “muscle acid” term?).
But I can’t repaid the time, right? So, let it be my notice, that I should write, eventhough only an article in a month. [Afif E.]

Who Will Be the Next Indonesian Farmers?

Instead of having an article which is concise and full of progression, this my article is full of questions. Especially the question of mine.

Having a trip, in every near located area, I always saw the wonderful agriculture landscape of Indonesian farmers. Enlisted the richness of Indonesian soil. But when I saw the farmers, averagely I met only old people. Where is the youth farmers? If these old people died, as a nature consequences, who will be the next Indonesian farmers?

Beside industries growth, information technology advancement, trading and business with high value of money, is it only enough for supporting Indonesia in the future? I don’t think so. Agriculture is one of basic need of Indonesian people. So, it is still have to be enhanced.

I still remember a quotation a grasp from a 2013 general lecture session by PT. Petrokimia Gresik (one of the biggest fertilizer factory of Indonesia). The lecture session held in Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik, Indonesia. The speaker said that the competitor of Petrokimia is not another fertilizer factory. Its competitor is internet providers! How come?

Yes, it is come real! Since the farmers’ kids nowadays are addicted with the internet, social media, an so on. The consequence is the money for buying fertilizer being reduced for buying cellphone credits. I think this phenomenon was part of global phenomenon, which is people nowadays always keep looking at their cellphone of smartphone. But affecting the agriculture world.

From these condition, once again I keep my question: who will be the next Indonesian farmers? Is it really important for having those advancement, while we left the agriculture behind? [Afif E.]

Are We in the Right Path?

I started questioning ideas of mine. It is happened when a group of student came to me, talk about a writing program proposed in one of academic program of Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin (sometimes I called the institution as: Qomaruddin School of Engineering) Gresik, Indonesia. Their main (and bold) concern about the writing program was: “doesn’t it too ambitious for requiring all the students with the writing program, does it?” Maybe their words not this, but I caught and paraphrased as it is.

Instead of constantly answering the students’ question, I quite and ask to my self: Are we in the right path? I mean, is the writing program is too ambitious program? Since the ability of lots of students were in average condition (not to mentioned that they didn’t able to write).

By then I remembering the relatively near past, back in 2012. During 2012, I met several students whom had a bigger passion than I had ever expected before. Gratefully, and thank to them, for gave me such a believe that the students of Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin have their own chance, to be recognized, be competitive, even in national stages, in this context in writing program. Since the kitchen which was boiled by the students of 2012 meeting. Several years later, Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin could achieve more and more papers for a competition. By remembering these moments, then I gave my answer to them (and to my self): no, this is not too ambitious.

We only need to devise the idea, to get the idea done. By this words doesn’t mean I underestimate the challenge, instead I want to learn and grasp the faith together with the students of Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin. Together we say “Bismillah” and the challenge will be answered: We can! And We are in the Right Path! [Afif E.]

Dalam Rapat, yang Harus Beretika Siapa?

Dalam benak awam saya, salah satu kesepakatan tidak tertulis mengapa sekumpulan orang duduk bersama dalam rangka rapat, diskusi, ataupun musyawarah, adalah untuk dapat secara bergantian peserta menyuarakan pendapatnya dalam forum. Agar tidak saling tumpang tindih dan saling bersahutan secara bersamaan, maka etika berikutnya yang muncul adalah mendengarkan saat orang lain sedang berbicara. Barangkali ini perbedaan jelas antara kumpulan orang di stasiun dengan kumpulan orang yang sedang rapat.

Contoh serupa adalah saat pembelajaran berlangsung di kelas: setiap yang menjelaskan di depan kelas, akan diberi kesempatan bicara, yang lain mendengarkan dengan seksama. Tak peduli guru ataupun siswa, siapa yang sedang mendapat giliran bicara, maka yang lain mendengarkan. Sesederhana itu kan sebenarnya?

Tapi praktiknya ternyata tidak demikian. Dan tidak sesederhana demikian.

Kondisi pertama: Ada kalanya rapat dipimpin para tetua: maka anak-anak muda (dan baru) pun takdlim mendengarkan. Pada kondisi demikian teori etika tadi berjalan dengan benar. Kondisi kedua: secara berkebalikan akan terjadi jika si anak-anak muda (dan baru) memimpin rapat, para tetua akan berbicara sendiri (membuat forum dalam forum). Pertanyaan: kalau anjuran diam berkali sudah tidak digubris, dan (dalam kondisi terburuk) akhirnya si anak-anak muda menggebrak (meja maupun dengan kalimat), yang tidak beretika siapa?

Ah, biar tulisan saya ini tidak saya selesaikan sampai akhir. Biar pembaca menyelesaikan sendiri. [Afif E.]

Saya Tidak Ingin Mengunci Diri Sendiri

Sumber: Surya.co.id (catatan: saya ragu apakah ini gambar pada saat saya mengalami kemacetan. Namun di area inilah saya mengalami kemacetan dalam cerita artikel ini)

Sumber: Surya.co.id (catatan: gambar sebagai ilustrasi. Namun di area inilah saya mengalami kemacetan dalam cerita artikel ini)

Salah satu kondisi macet ‘terburuk’ di Surabaya adalah saat Desember 2016 lalu. Saat satu truk mogok di tengah Jembatan Branjangan yang sempit itu. Entah mulai mogok jam berapa, namun bisa ditebak: dalam hitungan menit jalanan macet total.

Saat kendaraan dari arah Tambak Osowilangun ke Kalianak, “bertabrakan” dengan kendaraan yang juga tidak mau mengalah dari arah Kalianak ke arah Tambak Osowilangun. Sementara truk masih teronggok di atas jembatan. Tak bergerak, tak juga diperbaiki. Jalan sepanjang area Branjangan itu macet, sejak ketibaan saya di area itu sekitar pukul 16.30 WIB, dan saya baru bisa lepas dari kemacetan pada pukul 19.30 WIB. Hampir 3 jam! Dan pada saat itu pengendara truk dan sepeda motor, mungkin karena sudah saking lelahnya, semua sama mematikan mesin kendaraan. Tak ada yang mengalah, tak ada yang berjalan. Dan semua sama sunyi senyap. Barangkali itulah salah satu kemacetan paling senyap yang pernah saya alami.

Di tengah kemacetan yang saya alami itu, saya berpikir, bahwa kemacetan ini “kita” yang membikin sendiri, saat kita saling mengunci sesama pengedara lain. Dan stagnansi yang sedang saya alami, bisa jadi karena saya mengunci diri sendiri! Saya tidak ingin mengunci diri sendiri!

Bukankah rejeki saya bisa kuliah hingga tingkat magister, karena saya tidak mengunci diri sendiri! Saat itu Saya tidak berpikir menanti kondisi saya dan atau orang tua berpunya dulu baru agar saya kuliah lanjut. Dan Tuhan menggantinya lebih dari perkiraan saya.  Maka masihkah saya meragukan kuasa dari sang Maha Kuasa? Saya tidak ingin mengunci diri sendiri!

Tapi kita harus tahu diri. Sekali lagi, saya tidak ingin mengunci diri sendiri! [Afif E.]