Gunung Kita Bisa Jadi Tempat Sampah ?

Berangkat tanggal 5 April 2013, saya mbuntut mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik untuk naik ke puncak Gunung Arjuno, Jawa Timur.

Sebenarnya agak lama saya ingin menulis artikel dengan topik sampah gunung ini, tapi belum pernah lihat langsung. Dan baru kali ini saya melihat sendiri betapa banyaknya sampah gunung. Bukan sampah alam, tapi sampah manusia. Manusia pendaki gunung, yang beberapa diantara mereka menggunakan simbol-simbol kelompok pecinta alam.

Tidak mungkin kan para monyet gunung makan mie instan sebanyak itu? Gak mungkin juga kan para nyamuk dan serangga menghangatkan diri dengan berbotol-botol minuman penambah tenaga dan penghangat tubuh? Dan memang nyata-nyata manusia lah yang membawa sampah plastik, mulai dari bungkus permen, punting rokok (yang lumayan lama tidak terurai. Apa emang sulit diuraikan alam?), ada juga botol-botol plastik, tali rafia, sisa jas hujan yang sudah sobek-sobek, sampai sisa sampah yang dibakar dengan tidak sempurna. Dan hasil dari pembakaran tetap saja akan menghasilkan sampah.

DSC03623

Yang menjadi perbandingan saya adalah, ketika saya mengikuti kemah di sebuah lapangan selama dua hari, sampah yang dihasilkan oleh peserta mencapai dua bak besar. Lah, tuh gunung kan gak disinggahi satu dua orang, atau disinggahi dalam satu-dua tahun terakhir saja kan? Maka bisa dibayangkan jadi berapa ton tuh sampah yang menutupi?

Saya masih ingat ucapan seorang teman yang mengatakan bahwa sampah gunung akan menjadi jejak bagi pendaki berikutnya. Dengan adanya sampah-sampah seperti plastik dan botol-botol menjadi pertanda bahwa suatu area di gunung sudah pernah dilewati atau dijamah oleh pendaki sebelumnya. Dan memang bagi pendaki amatir memang efektif. Kami serombongan bisa menjejak arah puncak dengan beberapa tanda dari plastik.

Tapi apa iya harus sebanyak itu ? dan berceceran macam itu ? rasa-rasanya kok hanya pembetulan dari sikap kita saja yang terlalu cuek dengan kebersihan gunung kita(kata anak Alay: gunung kita ? Loe aja kalee gue nggak.. 😀).

Gunung dan hutan bisa mereduksi dan mendaur sampah mereka sendiri, tapi manusia tidak boleh mengandalkan kemampuan hutan yang memang jelas tidak dapat mendaur ulang sampah non-organik milik kita (manusia).

Mengutip pedoman cantik yang dijadikan stiker dan tertempel di pos jaga pendakian gunung Arjuno (saya lupa stiker dari kelompok mana), kurang lebih sebagai berikut :

Jangan meninggalkan apapun selain jejak,

jangan mengambil apapun selain foto,

jangan memburu apapun selain waktu.

DSC02831

Di belakang saya adalah papan yang berisi stiker, dimana saya ngambil kutipan. NB: foto orang hilang… 😀 😀 😀 😀

Cakep kan pedomannya? Tinggal kita bertanya dalam hati dan mempraktekkan pertanyaan ini, apakah gunung kita bisa jadi tempat sampah kita? [Afif E.]

Iklan

3 thoughts on “Gunung Kita Bisa Jadi Tempat Sampah ?

  1. sbnrx bagus,,, tp ada yg mmbwt jd gg bagus… 😀

  2. Muhammad Afif Effendi berkata:

    apa itu yg membuat jadi gak bagus ??? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s