MMM Jos!: Bagaimana Hukum Mengikutinya?

Suatu sore seorang rekan saya yang cantik bertanya pada saya tentang hukum MMM. Saya jawab, saya tidak tahu bagaimana hukum MMM, baik secara hukum tata kenegaraan maupun hukum agama. Saya sendiri saja tidak tau apa kepanjangan dari MMM.

Saya jawab pada rekan saya yang cantik itu, bahwa saya kurang begitu setuju dengan MMM. Berangkat dari situ saya tidak turut dengan program MMM yang katanya dari Rusia itu. Paling tidak hingga saya menulis artikel ini. (Wow???? Berarti besok-besok bisa jadi ikut???? Saya jawab, siapa yang tau jalan tuhan.) 😀

Saya sendiri diyakinkan oleh seorang teman yang lain. Kata teman saya, “ikutlah MMM, uang kita akan berlipat ganda.” Kurang lebih demikian kata teman saya itu. Agar tidak membingungkan, teman saya yang kedua ini kita sebut sebagai B.

Teman saya si B ini meyakinkan saya bahwa MMM memiliki sistem yang otomatis dan diacak oleh sistem komputer. Sebagai contoh, dihari ini oleh sistem kita diminta untuk transfer sejumlah uang ke fulan. Keesokan harinya, kita dikirimi oleh another fulan sejumlah uang. Demikian “transaksi” MMM ini terus berjalan. Dan dalam waktu tertentu uang kita akan kembali dengan lebih banyak.

Saya katakan pada teman saya si B, “Lalu apa bedanya dengan arisan? Kan sistem yang kamu ceritakan kita hanya saling ‘bertukar’ uang…”

Jawab teman saya si B, “Sistemnya saling membantu. Kita membantu orang, kita akan dibantu.”

Tanya saya lagi, “Lalu katamu uang kita akan bertambah, dari mana sumber tambahan itu? Toh kita hanya saling ‘bertukar’ uang…”

Sampai disitu teman saya si B hanya menjawab, “Itulah yang saya tidak tau.” Aduh! Hehehe…

Tulisan saya ini awalnya saya stop sampai paragraf di atas. Namun, tiba-tiba seorang guru saya menanyakan topik diskusi antara saya dan rekan saya yang cantik. Saya jawab, bahwa kami berdiskusi tentang MMM. Maka nyeletuklah uraian dari guru saya tersebut tentang MMM. Dan saya tambahkan saja untuk melengkapi informasi dalam tulisan ini.

Guru saya tersebut bercerita, bahwa beliau mengetahui betul nasib malang seorang yang ikut MMM. Dengan kata kasar, korban dari MMM. Sampai jatuh miskin.

Sampai di sini saya terbelalak. Loh? Bukannya MMM barusan saja ada, kok sudah ada korban???? Ternyata saya salah, MMM sudah ada beberapa tahun terakhir. Guru saya sendiri juga heran, kok MMM kembali berkibar di dunia pertemanan biru (baca: Facebook). Guru saya juga mengatakan, ia juga dulunya dibujuk orang yang menjadi korban tersebut agar ikut MMM, dengan berbagai iming-iming. Tapi sekarang kenyataannya??? Kok malah ia jatuh miskin. Benar-benar miskin teman-teman, tandas guru saya itu.

Sebagai penutup tulisan ini, saya sekali lagi tidak bermaksud apa-apa. Tidak bermaksud membenci, tidak ada niatan menggurui, tidak ada niatan menghalang-halangi orang untuk mencari rejeki. Saya hanya teringat kisah para korban MLM, korban Amalilah (untuk yang ini saya kurang tau ejaannya, Amalilah atau Amalillah, anda bisa searching), begitu menggebu-gebu mereka mengikuti program, meyakinkan orang agar turut pula, tapi mereka menjadi korban jua. Mungkin di belakang sana ada yang menyanggah, “Loh, MMM itu gak sama dengan MLM… benar-benar beda….” Jawaban saya, iya, monggo. Whatever you say, apapun katamu, saya iyakan saja. Akan tetapi, tuh, buktinya cerita dari guru saya.

Apakah saya terlalu tidak butuh duit? Sehingga kayaknya saya sok suci dan sok gak mau ikut MMM? Saya jawab, saya butuh. Tapi sekali lagi, saya ragu dengan cara yang demikian itu (MMM, red). Dan dalam satu nasihat yang pernah saya pelajari di bangku sekolah, “YANG MENIMBULKAN RAGU WAJIB DITINGGALKAN.” Bukankah demikian? [Afif E.]

Iklan

One thought on “MMM Jos!: Bagaimana Hukum Mengikutinya?

  1. abeltoru berkata:

    Perenungan yang menarik, dengan ulasan yang mengena namun tetap ringan. Argumen para PH’ers (Provide Help) dan GH’ers (Get Help) adalah MMM bukan money game , MMM bukan MLM , MMM bukan arisan etc bahkan ada yang entah latah atau tidak mengerti mengatakan MMM adalah BISNIS !

    Sungguhkah bahwa MMM merupakan produk yang bisa membuat semua orang di dunia ini bahagia , sumringah , tak berkekurangan dengan perbandingan dengan fractional banking (printing money out of nothing). MMM’ers kerap memarjinalkan merendahkan dunia perbankan sebagai produk kekuasaan , produk neo-liberal , produk oligarkhi yang hanya menguntungkan pihak-pihak elit dan penguasa (dalam hal ini ada benarnya hehe) namun mereka lupa bahwa tanpa Perbankan , tanpa sistem fractional banking, kebutuhan kredit (money or debt) akan berkurang , likuiditas menurun dan dengan sendirinya pertumbuhan akan terhambat karena kekurangan kapital, seperti orang yang kekurangan darah , ya lemas.

    MMM’ers dalam agitasinya menekankan bahwa “manusia-manusia penolong” ini dikucilkan dan dimarjinalisasi oleh media yang dikuasai oleh Asing , aseng dan asong. Direndahkan karena takut akan mengganggu dunia perbankan….STOP ! sebelum melangkah lebih jauh saya akan tunjukkan paradox sistem pemikiran MMM’ers ini.
    MMM’ers menghina dunia perbankan , merendahkan sistem fraktional dan merasa dimusuhi dunia perbankan, namun seperti kita tahu bersama, MEREKA MELAKUKAN TRANSAKSI (transfer) MELALUI PRODUK PERBANKAN (nomor rekening..hehe, bukankah mereka-mereka ini barisan hipokrit ?)

    30% – 50% setiap bulan (bahkan lebih , ini hanya gambaran) dikatakan bisa diraup dengan aksi TOLONG MENOLONG. Pertanyaan-nya , dari mana keuntungan tercipta ? Dalam 1 video di youtube ada MMM’ers yang meng-compare dengan pedagang makanan yang berjualan dan mendapat keuntungan ! WAIT ! pedagang makanan butuh kerja dan menjual produk , MMM apa ? tidak jual apa-apa , hanya jual TRUST (luar biasa) duduk-duduk dan mendapat untung. Lalu uang mengalir darimana ? Ya dari anggota baru dan anggota lama yang terus menyetorkan dana ke dalam sistem (selanjutnya disebut PH) , kepada siapa ? kepada anggota baru dan lama yang sudah menunaikan kewajibannya.

    #Dengan kata lain tidak ada usaha atau jasa atau produk dari MMM ? BETUL .
    #Dengan kata lain uang itu didapat dari uang setoran anggota ? BETUL.
    #Lalu bagaimana bila anggota yang lama tidak menyetorkan dananya kembali ke dalam sistem ?
    Sistem Macet , kesulitan likuiditas (seperti perbankan yang mengalami rush) bila berkelanjutan akan default (Gagal)
    #Kesimpulannya tidak ada jaminan bahwa sistem akan sustainable (terus berjalan) ?
    JELAS TIDAK
    #Apa ini namanya bukan Ponzi (arisan piramida) ?
    Dalam argumen mereka Bukan , namun bagi orang yang waras dan sadar YA , karena prinsip dan standar-nya adalah sama namun dikemas lebih apik dan abu-abu, sehingga OJK-pun merasa ini bukan “binatang” yang harus mereka asuh !
    #Bila saya menanamkan 10 juta dan mendapat bunga 30% per-bulan dan terus melipatkan uang di dalam sistem , berapa penghasilan yang saya dapat pada akhir tahun ?
    Pertanyaannya seperti ulangan anak SD , tapi tak apa. Secara total uang yang semula hanya 10 juta menjelma jadi +/- 350 juta pada akhir tahun. Atau memperoleh HELP 340 juta ….
    # Wow ! jadi selama sistem berjalan , ada orang yang terus menyetor uang , keuntungan luar biasa ada di depan mata ? Bukankah dengan resiko 1:30 , peluang ini tidak boleh di sia-siakan ?
    Selama ada orang baru , uang baru yang jumlahnya setidaknya mencukupi untuk membayar PH , maka sistem akan terus berjalan tanpa rintangan, namun semua ada batasnya, karena jumlah orang dan uang pada dasarnya terbatas.
    Dalam sudut pandang oportunistik , memang PONZI jenis apapun adalah menarik , menggiurkan , terutama bila saudara melek finansial , tahu apa itu resiko , tahu bagaimana uang bekerja. Namun , apakah manusia hidup hanya untuk uang ? Apakah manusia menciptakan uang untuk digunakan sebagai alat atau uang diciptakan untuk memperalat manusia ?
    Untuk mendapat gain di sistem PONZI tidaklah sulit ,bahkan anda sendiri bisa membuat sistem ini dengan teman-teman anda dan bersama-sama mencari untung dari teman-temannya teman-teman anda , dengan sendirinya , mereka yang berada di posisi antrian awal , pertama adalah yang diuntungkan dan selama ada jaringan baru maka sistem akan terus bekerja dan hidup. Orang-orang yang berada di atas sudah tidak lagi menggunakan modalnya sendiri bahkan mungkin sudah mengurangi posisi bila tidak sebagian besar ditarik.

    Sebut saya naif , sebut saya bodoh , sebut saya manusia purbakala, tak apa. Karena saya tahu bagaimana sistem berjalan , karena saya melek finansial namun tidak ikut meng-eksploitasi. Alasan saya adalah karena tanggung jawab sebagai orang yang paham untuk memberikan edukasi pada mereka yang kurang paham , bukan memanfaatkan kebodohan massa untuk keuntungan pribadi.

    Sistem ini tidak sustainable , keruntuhan adalah absolut , hanya masalah waktu. Bila saudara paham supply and demand , maka saudara akan paham mengapa PONZI system tidak akan bertahan , bila saudara paham supply and demand , maka saudara paham mengapa pertumbuhan uang yang cepat dan besar akan menciptakan bubble , yang tinggal menunggu waktu untuk pecah.

    PS :
    Bayangkan bila setiap insan berpesta pora dalam MMM , akankah tukang bakso masih berjualan ? dan bila ya akankah harganya masih seperti hari ini ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s