Jembatan Brooklyn serta Mahalnya Sebuah Visi dan Cita-cita

brooklyn bridge“… Our success depends on diligent, sacrifice, and loyalty.” Kutipan dari tokoh Washington Roebling. (Keberhasilan kita bergantung pada kerja keras, pengorbanan, dan keyakinan.)

Menyaksikan film dokumenter buatan BBC, Seven Wonders of Industrial Worlds: The Brooklyn Bridge, masih tak membuat saya bosan sejak pertama menyaksikannya di tahun 2009. Masih membuat saya bergidik dengan kisahnya. Sebuah kisah akan betapa penting visi, cita-cita, dan usaha keras untuk mewujudkannya.

Kisah yang diangkat dalam dokumenter tersebut fokus pada tiga orang, John Augustus Roebling, si ayah; Washington Roebling, si anak; dan Emily Warren Roebling, istri dari Washington Roebling, anak mantu keluarga Roebling. Film ini menekankan betapa pembangunan sebuah jembatan monumental tersebut hampir menghancurkan keluarga Roebling. Namun kegigihan mereka malah menguatkan, dan menciptakan prasasti bagi keluarga Roebling atas jembatan di New York tersebut.

Pembangunan Jembatan Brooklyn merupakan salah satu inovasi dalam dunia Teknik Sipil. Ia menjadi jembatan kabel pertama di dunia yang banyak diragukan (bahkan ditentang) oleh para insinyur Amerika pada masanya. Namun visi Roebling tetap menggerakkannya untuk mempercayai visi dan cita-cita untuk menghubungkan pulau-pulau di seputaran New York. Barangkali bisalah kita sedikit menyamakan New York kala itu seperti Surabaya-Madura sebelum adanya Jembatan Suramadu. Perhubungan bergantung pada kapal penyeberangan.

Si ayah Roebling tidak sempat mewujudkan cita-cita jembatan itu. Melalui sebuah kecelakaan, si ayah Roebling meninggal karenanya. Kala itu pembangunan akan urung dibangun, namun dengan lobby yang dilakukan oleh si anak Roebling, ia diteruskan. Sebuah pertanyaan skeptis waktu itu muncul, “Siapa yang bisa membangun jembatan sebesar itu?”

“Tidak akan ada yang bisa!” Sahut si anak Roebling, “Karena belum ada yang pernah membangun jembatan yang serupa ini sebelumnya.”

Terang saja pertanyaan skeptis itu macam “kisah konyol” bagi orang awam pada tahun 1200-an, tentang Pesawat Terbang. Orang-orang di jaman itu diomongi seribu kali pun tidak akan percaya bahwa perjalanan Surabaya-Singapura hanya sejam, dengan penerbangan. Malah kita yang ngomong yang akan dikatai gila!

Si anak Roebling pada akhirnya mendapatkan persetujuan untuk meneruskan pembangunan Jembatan Brooklyn. Sebuah usaha pembangunan yang menggunakan teknik baru dan belum pernah dicoba sebelumnya. Diantaranya pembangunan dengan menggunakan Compressed Air untuk menancapkan pondasi menara Brooklyn.

Teknik pembangunan yang menembus dasar sungai inilah penyebab sakitnya si anak Roebling. Washington Roebling mengalami pesakitan yang mustahil baginya untuk meneruskan pembangunan. Namun sejarah mencatat lain. Jembatan Brooklyn tegak berdiri 11 tahun setelah jatuh sakitnya Washington Roebling. Bagaimana bisa? Adalah usaha gigih dan dampingan dari Emily, si anak mantu keluarga Roebling. Selama 11 tahun, dengan Emily Roebling sebagai asisten pembangunan, Washington tetap bisa meneruskan pembangunan Brooklyn, dan tetap tegak hingga hari ini.

Menonton kisah dalam film pendek ini, kadang membuat saya berpikir, dalam 49 menit tayangan film ini saja kisah perjuangannya membuat bergidik. Lantas betapa pahit dan panjangnya perjuangan selama 14 tahun! Diwarnai cemoohan, diragukan banyak orang, para koruptor yang mengambil keuntungan, sakit dan perjuangan.

Lantas saya membandingkannya dengan anak-anak mogok. Anak-anak mogok? Iya, anak-anak yang mogok dan ngambek pada orang tuanya. Gondok dan ngambek karena keinginan dan idenya tidak didengarkan oleh orang tuanya. Gondok dan ngambek karena orang tuanya tidak bisa memberi fasilitas baginya untuk menempuh pendidikan dan cita-cita. Lantas berubah menjadi sikap acuh tak acuh, antipati, bersikap destruktif, hingga cemooh berlebihan.

Nak, apakah dipikir dengan sikap gondok dan ngambekmu, orang tuamu akan hancur? Tidak. Kamu salah. Bukan orang tuamu yang akan hancur, tapi masa depanmu yang akan gugur dan hancur lebur. Dunia ini tidak berjalan atas dasar kemauan sikap ngambekmu.

Kisah Keluarga Roebling dalam membangun Jembatan Brooklyn, memberikan salah satu contoh akan mahalnya visi, cita-cita, dan perjuangan dalam mewujudkannya. Walaupun banyaknya cemoohan orang, kondisi keterbatasan, tak adanya fasilitas. Lah, kalau kita ngambek dengan kondisi kita, sebenarnya apa visi dan cita-cita kita? [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s