60 Tahun UNHAS: Menumbuhkan Pusat-Pusat Indonesia

Logo Universitas Hasanuddin (sumber: Wikipedia)

Tahun 2016 masuk. Sivitas akademika Universitas Hasanuddin atau yang dikenal sebagai UNHAS akan merayakan enam dekade berdirinya universitas yang menisbatkan namanya pada sang Ayam Jantan dari Timur (baca: Sultan Hasanuddin). Terdapat ungkapan, menua itu sudah pasti, namun menjadi bijaksana belum tentu.
Ungkapan itu mengingatkan betapa angka enam dekade bagi keberadaan UNHAS sudah tertanam dalam benak masyarakat Indonesia. Namun sejatinya, keberadaan UNHAS dan kiprahnya selalu dinantikan seluruh anak bangsa. Tidak berarti kalimat terakhir ungkapan tersebut adalah miliki UNHAS. Sejatinya ungkapan itu untuk kita semua.
Dengan kata lain, UNHAS sudah mampu menunjukkan kiprahnya selama enam puluh tahun terakhir, namun tidak boleh berhenti sampai di situ. Tantangan ke depan justru menjadi pekerjaan rumah yang perlu digarap bersama. Sebut saja keberadaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang hadir dalam tahun ini dan tahun-tahun ke depan.
MEA hadir dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun sebagian masyarakat malah merasa keberadaannya tak akan mungkin bersentuhan dengan keseharian mereka. Mengingat mereka tidak berada di seputaran ibukota Jakarta. Apakah MEA hanya berlaku di Jakarta, saja? Tentu tidak.
MEA berlaku bagi setiap manusia Indonesia yang utuh. Berarti setiap masyarakat Indonesia harus ‘memaksakan’ dirinya untuk siap dengan pergaulan antarbangsa tersebut. Namun tampaknya tidak demikian yang terjadi.
Baca saja betapa tidak siapnya kita dengan gempuran produk luar negeri yang membanjiri pasar-pasar di seluruh negeri. MEA yang semula dimaksudkan bagi keuntungan bangsa Indonesia agar dapat kompetitif dan bebas dalam menjual produk untuk dijual ke luar negeri, khawatirnya yang terjadi malah sebaliknya. Dimana posisi Indonesia?
Jangan-jangan dengan bermodalkan jumlah penduduk terbesar se-ASEAN, kita malah menjadi jumawa dan tenang tanpa persiapan. Jangan-jangan justru kita hanya menjadi konsumen dan sasaran empuk pasar bernama MEA? Mengingat pembeli dari bangsa kita sangat banyak. Masihkah kukuh pendapat bahwa MEA hanya berlaku dan terjadi di Jakarta?
Rasanya tidak. Saat aliran barang masuk ke Indonesia, bukan hanya Pasar Abang di Jakarta yang mendapat pasokan. Bukan pula hanya Pasar Turi di Surabaya yang kedatangan bakul (baca: penjual) kerajian asal negara-negara Jiran. Karena saat barang komoditas masuk ke Indonesia, maka Pasar Mardika di kota Ambon akan dengan cepat menyebarkan pasokan dagangan ke pulau-pulau di sekitarnya. Pembeli di pasar-pasar seputaran Jayapura akan menjual kembali barang yang dibeli pada warga di Pegunungan Jayawijaya. Tak lupa para pedagang apung di Kalimantan akan membawa apa yang mereka beli di Pasar Terapung hingga ke hilir sungai di pedalaman suku Dayak. Masihkah kukuh pendapat bahwa MEA hanya berlaku dan terjadi di Jakarta? Tentu tidak seharunya demikian.
Keberadaan UNHAS dalam keberadaannya di dekade keenam ini, musti memberikan kontribusi yang tepat sasaran. Keberadaan UNHAS yang secara resmi telah ditetapkan menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) tentu tidak boleh berakhir hanya menjadi sekedar status belaka. UNHAS dan segenap Alumni UNHAS harus turut pula mengembangkan Pusat-pusat Indonesia. Karena Indonesia bukan hanya di Jakarta.
Berbekal status PTN-BH pula, kemandirian dalam hal akademik di UNHAS perlu juga menjadi cikal-bakal kemandirian bagi daerah-daerah di Indonesia. Jika Amerika Serikat memilki Washington DC sebagai ibukota, maka New York menjadi pusat yang lain yang tetap menjadi acuan. Turis pun tetap mencari pusat yang lain jika ingin melihat industri hiburan Amerika, Hollywood dan Las Vegas di seputaran pantai barat Amerika. Begitu pula yang akan terjadi pada Indonesia dengan peran serta UNHAS di dalamnya.
Melalui sebaran pulau dari Sabang sampai Merauke, masyarakat Indonesia akan memiliki pusat-pusat Indonesia. Jakarta sebagai ibukota. Surabaya di ujung timur Jawa. Banda Aceh, Medan, Palembang, dan pusat-pusat di pulau Sumatera. Jayapura menjadi pusat di ujung timur Indonesia. Terletak di tengah bentangan Nusantara, Makassar menjadi pusat di tengah Indonesia. Dan yang membanggakan UNHAS menjadi bagian dari pengembangan pusat-pusat Indonesia. [Afif E.]

Tautan terkait:
(http://www.unhas.ac.id/)
(http://www.alumniunhas.com)

Iklan

2 thoughts on “60 Tahun UNHAS: Menumbuhkan Pusat-Pusat Indonesia

  1. Amril TG berkata:

    Mampir yaa…kunjungan juri 🙂

  2. Muhammad Afif Effendi berkata:

    terima kasih atas kunjungannya, daeng… 🙂 🙂 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s