Yang Sebenarnya di Malam itu

Pemberitahuan dari Facebook cukup menggugah kesadaranku. Paling tidak untuk malam ini. Sebuah pengingat status yang sudah lama. seolah terdapat bayangan Mark Zuckerberg muncul sambil berkata: “Kami perhatian pada anda, mungkin anda ingin membagikan status anda dua tahun lalu”.
“Siapa yang peduli!” tukasku dalam hati. Eits, tunggu dulu. Kuperhatikan betul status yang dimunculkan oleh mesin itu. Itu adalah status pada malam itu!
Kubaca ulang status tertanggal malam ini, dua tahun lalu itu. Bukan. Bukan aku yang menulis status itu. Tapi Hatice, pacarku saat itu, yang menulisnya. Akun Facebook-ku diseret dalam statusnya. Seketika pikiranku menerawang pada kejadian malam itu:
Kuterabas dinginnya malam itu dengan sepeda motor bututku. Tujuannya hanya makan kebab Baba Muzaffer di tepi selat Bosporus. Tak jauh dari Jembatan Bosporus yang menghubungkan Asia dan Eropa itu.
Ah, tunggu. Bukankah itu bibi Ceyda dan paman Hakan?! Kenapa dengan sepeda motor mereka? Paman Hakan menuntun motornya, sedangkan bibi Ceyda berjalan cukup jauh di belakang paman Hakan?
“Kenapa, abla?” tanyaku begitu sampai di samping bibi Ceyda yang sedang berjalan.
Hatiku sejenak berperang sendiri. Si setan berkata: “Hatice sudah menunggu di warung Kebab Baba Muzaffer,” sedangkan si malaikat membantah: “Bukankah membantu mengantar bibi Ceyda sungguh perbuatan yang mulia, wahai anak muda…”. Kubantai habis si setan, dan mengantarkan bibi Ceyda. Sementara paman Hakan menyuruhku berjalan lebih dulu mengantarkan bibi Ceyda di halte bus terdekat. Paman Hakan tetap dengan motornya yang mogok.
Kuperhatikan warung Baba Muzaffer, yang kulewati sambil mengantar bibi Ceyda. Kulihat bayangan Hatice. Kupacu saja cepat motorku, agar segera tuntas mengantar bibi Ceyda, dan menemui Hatice.
Namun kenyataan tak sejalan dengan pikiranku. Hatice sudah pulang saat aku tiba di warung Baba Muzaffer. Lantas muncullah status Facebook milik Hatice itu:

Kalau janjian ketemuan saja kamu sudah tidak peduli, maka kita akhiri saja hubungan kita!

Berangsung sejak malam itu, hubungan kami benar-benar kandas. Berangsur pula aku paham. Hatice mengakhiri hubungan kami bukan karena keterlambatanku di warung Baba Muzaffer.
Seandainya saja kamu, Hatice, tidak terlalu egois dengan jiwa perempuanmu. Dan seandainya kamu tahu kejadian yang sebenarnya di malam itu.
Ah, tapi bukankah itu sudah berlalu. Maka kupilih menghapus pengingat Facebook itu. [Afif E.]

Iklan

One thought on “Yang Sebenarnya di Malam itu

  1. […] “Google Translated” from its Indonesian Version […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s