Zaman Jahiliyah

Tulisan saya berikut ini adalah rangkuman dari ceramah K.H. Mukhtar Jamil dari Kota Gresik dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Besar Kiai Gede Bungah, pada tanggal 3 Januari 2015.
Tema ceramah dari K.H. Mukhtar Jamil pada malam tanggal tiga tersebut sebenarnya mengalir begitu saja. Namun dalam tulisan ini saya pilih satu yang menarik untuk diulas, yakni keberadaan zaman Jahiliyah. Semoga ulasan yang saya tulis berikut ini tidak memelintir, mengingat malam itu saya tidak membawa catatan, hanya merekamnya saja dalam memori ingatan.
Sebagaimana yang kita ketahui, zaman jahiliyah adalah satu jaman dimana nabi Muhammad dilahirkan. Jahiliyah secara harfiah berarti kebodohan. Berarti, zaman jahiliyah adalah zaman kebodohan. Namun hal ini tidak berarti zaman ini orang-orangnya bodoh. Salah besar. Justru, pada zamannya warga Makkah adalah warga yang unggul dalam bidang perdagangan antar bangsa, sastra, dan tentu keunggulan lain pada masanya.
Lantas, apa yang membuatnya dinamakan zaman jahiliyah? Rupanya kelakuan atau akhlak dari warganya. Pak Mukhtar (demikian beliau akrab disapa) menuturkan bahwa jika keseharian kita dituntun oleh nafsu, maka jangan berharap akan ada kebaikan didalamnya. Hal inilah yang menuntun warga Mekkah pada jaman itu, nafsu.
Tidak ada tuntunan agama yang berjalan pada masa itu. Perjudian, minum-minuman keras, hingga main perempuan atau perzinahan.
Namun demikian, bodohnya orang masa itu masih ‘bagus’ jika dibandingkan dengan bodohnya orang zaman sekarang. Dahulu, warga Mekkah jika medapati anak yang lahir adalah laki-laki, mereka akan bersuka cita. Akan tetapi jika yang lahir adalah perempuan, maka bayi tersebut akan dikubur hidup-hidup.
Bandingkan dengan jaman sekarang. Makin marak berita menyiarkan pembuangan, penelantaran, pembunuhan bayi hasil hubungan gelap, tanpa memandang jenis kelamin bayi yang dilahirkan. Contoh ini yang ditekankan bagaimana lebih jahat dan bodohnya zaman jahiliyah masa kini.
Mafhum, kyai… Saya pikir saya menuliskan artikel ini juga tidak berarti saya sudah baik. Bukankah nasihat yang baik wajib disebarluaskan? Maka lewat tulisan ini saya usahakan itu. Nasihat bukanlah sesuatu yang harus baru, namun suatu nilai luhur yang disampaikan berulangkali pada manusia agar ingat. Bukankah kita makhluk yang lebih sering lupa? [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s